
“ K-kamu kenapa sih mas, ini tempat umum tahu.” Jingga mendoroang Arkana setelah merasa canggung di buatnya sampai dia kembali memalingkan wajah dari pria itu.
“ Jawab aku, setelah ciuman barusan, Apa yang kamu rasakan.?” Tanya Arkana membuat Jingga merasa tidak bisa berkata-kata karena masih syok.
Jingga menyentuh bibirnya yang masih terasa bekas ciuman Arkana, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Bisa di katakan ini adalah ciuman pertama dia dan Arkana di saat Arkana sadar sepenuhnya, dia tidak bisa berpikir dengan jernih dan menjawab dengan baik.
“ Kamu pasti ada perasaan ke aku walaupun hanya sedikit kan.?” Sahut Arkana.
“ Sok tahu kamu mas, yang punya perasaan itu aku. Jadi kalau aku bilang nggak ya jawabannya tetap nggak.” Ketus Jingga.
“ Tapi aku ada.” Lontar Arkana sontak membuat Jingga terkejut hingga dia sampai menoleh pada Arkana.
“ Aku cinta sama kamu.” Lanjutnya dengan ekspresi yang serius.
“ Kenapa kamu tiba-tiba ngomong gitu? Jangan bercanda, aku nggak suka sama orang yang seenaknya bilang cinta tapi ternyata itu semua hanya kepalsuan.”
“ Aku serius, aku sudah mulai jatuh cinta sama kamu. Aku sadar kalau aku yang membuat aturan jangan sampai jatuh cinta, tapi aku sendiri yang merasakannya duluan. Aku benar-benar cinta sama kamu Jingga, aku nggak bisa hidup tanpa kamu.”
Tetap saja, Jingga terlihat tidak mempercayai Arkana meskipun raut wajahnya menunjukkan bahwa dia sangat serius dalam mengatakannya. Dan saat ini Jingga bingung harus berkata apa, meskipun Arkana berkata bahwa dia sudah mencintainya bukan berarti perasaannya sama dengan Arkana.
“ Kamu nggak usah bicara omong kosong lagi, aku mau janji kamu tetap sama dan jangan ada cinta di antara kita mas.”
Arkana mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan kontrak yang dulu di tanda tangani oleh Jingga, saat itu juga Arkana menghapus file kontrak di ponselnya dan berkata.
“ Aku nggak mau kita bercerai, aku mau memperbaiki semuanya. Aku nggak peduli kalau anak itu bukan anakku, aku akan tetap menerimanya sebagai anakku. Jadi kita bisa membangun keluarga kecil kita setelah anak itu lahir, aku janji akan menjaga kamu dan anak itu.”
“ Dasar bodoh, aku nggak suka kamu kaya gini.” Benak Jingga merasa semakin kesal di buatnya.
“ Aku nggak peduli, aku mau pulang.” Jingga melangkah meninggalkan Arkana dengan cepat, tak semudah itu untuk Arkana melepaskan Jingga sampai akhirnya dia ikut mengejar wanita itu.
“ Jingga.” Panggil seseorang yang baru saja turun dari mobilnya.
Jingga berlari ke arah Diana dan langsung bersembunyi di belakangnya, Arkana sudah tiba di hadapan mereka dan sekarang dia berhadapan dengan Diana.
__ADS_1
“ Dia udah ngapain ke kamu?” tanya Diana penasaran.
“ Bawa aku pergi dari sini.” Balas Jingga.
“ Kamu masuk ke mobilku, biar aku bicara sama dia.” Ujar Diana.
Jingga mendengar perintah Diana dan segera masuk ke dalam mobil, ketika Arkana berusaha mengejar Jingga saat itulah Diana langsung menutup jalan untuk mendekati Jingga.
“ Kamu nggak lihat kalau dia nggak mau ketemu sama kamu.” Lontar Diana menatap Arkana dengan tatapan tajam,
“ Minggir, aku nggak ada urusan sama kamu.” Balas Arkana.
“ Urusan Jingga adalah urusan aku juga, jadi aku peringatkan untuk berhenti mengejar atau.”
“ Atau apa.?” Arkana mulai terbawa emosi karena Diana.
“ Atau aku akan teriak kalau kamu bukan suami yang baik, kamu nyuruh istri kamu sendiri hamil sama pria lain. Aku yakin hal itu pasti akan jadi berita besar kalau sampai di tahu oleh semua orang, benar kan.?” Ancam Diana.
Arkana terlihat melirik ke arah mobil sebentar, kemudian dia kembali melirik Diana dengan penuh kebencian. Tak lama setelah itu dia pun pergi, Diana masih menatap Arkana sampai pria itu benar-benar pergi dari hadapannya.
“ Hanya sedikit ancaman, jangan khawatir.” Balas Diana tersenyum simpul.
“ Untung saja kamu datang, aku nggak tahu bagaimana jadinya menjauh dari mas Arka.”
“ Urusanku sudah selesai, dan Qania juga barusan telepon kalau kamu lagi ngobrol sama Arkana. Mendengar hal itu tentu saja buat aku emosi, jadi aku langsung kemari secepat kilat.”
“ Terima kasih.”
Jingga kini bisa bernafas dengan lega, namun baying-bayang tentang ciuman barusan masih menguasai pikirannya. Dan ucapan cinta Arkana yang seakan tak bisa hilang di kepalanya, dia bingung dan sedikit frustasi sekarang ini.
**
Jingga baru saja keluar dari kamarnya ketika bi Juju datang menemuinya, dia membawakan sebuah paket untuk Jingga. Bi Juju tidak tahu dari siapa paket itu berasal sebab dia hanya menerimanya dari kurir dan katanya paket itu untuk Jingga.
“ Terima kasih ya bi.” Jingga menerimanya dengan ekspresi bingung, dia tidak ingat pernah memesan barang online.
__ADS_1
Karena penasaran Jingga pun kembali masuk ke dalam kamarnya, dia mencari cutter untuk memudahkannya membuka paket itu. Ukurannya tidak besar dan tidak kecil, alih-alih isinya dia lebih penasaran dengan pengirim paket itu.
Hal pertama yang di dapat oleh Jingga adalah sebuah surat, masih belum ada nama pengirimnya. Dan Jingga melihat isi dari paket itu ternyata adalah sebuah aroma terapi, dari beberapa aroma terdapat aroma kesukaan Jingga yaitu lavender.
“ Dari siapa sih.?” Akhirnya Jingga membuka surat itu dan mulai membacanya.
“ Aku tahu kamu suka aroma terapi terutama lavender, di rumah nggak ada aroma terapi kaya begini. Aku tahu karena mama nggak pake aroma terapi disana, jadi aku beliin buat kamu. Semoga kamu suka, dan satu lagi. Nanti malam tolong keluar, ada sesuatu yang ingin ku tunjukkan sama kamu. “ ARKANA.
“ Kenapa dia tiba-tiba jadi begini sih?” Keluh Jingga menatap semua itu dengan tatapan malas.
**
Malam harinya Jingga masih berada di dalam kamar, dia mengabaikan permintaan Arkana untuk keluar di jam segitu. Saat ini Jingga menyibukkan dirinya dengan membaca sebuah buku, sampai pada akhirnya dia mendengar ketukan pintu dari luar.
“ Masuk.” Sahut Jingga kemudian.
Pintu baru saja terkuak, dan ternyata yang datang adalah bi Ijah. Dia memberitahu Jingga untuk ke balkon lantai dua, dan karena bi Ijah tidak memberitahu Jingga ada apa, akhirnya Jingga bangkit dan bergegas menuju balkon.
Jingga di kejutkan dengan sebuah truck LED yang bertuliskan permintaan maaf Arkana di bawah sana, dia bahkan bisa melihat Arkana yang berdiri di atas truck sambil meneriakkan nama Jingga dengan lantang.
“ JINGGA, AKU MINTA MAAF. PLEASE, BALIK LAGI SAMA AKU.” Teriak Arkana yang cukup melengking.
Beruntung di kompleks itu hanya ada rumah mama Widya saja, jadi tidak ada yang terganggu dengan teriakan Arkana dan aksi gilanya malam ini.
“ Dia apa-apaan sih.?” Jingga sampai malu di buatnya.
“ AKU NGGAK AKAN PERGI SEBELUM KAMU MAU MAAFIN AKU.” Lanjut Arkana lagi.
“ Aku nggak peduli, tolong jangan panggil aku lagi bi.” Pinta Jingga dan segera masuk ke dalam dengan cepat.
Sementara itu di bagian balkon kamar mama Widya, tampak wanita itu sedang memperhatikan tingkah putranya sambil menyilangkan kedua tangannya.
Tampaknya mama Widya juga tidak peduli dengan apa yang di lakukan Arkana, pintu keamanan masih di jaga ketat dan tidak membiarkan Arkana masuk dengan mudah.
“ Lakukan sesukamu saja, hal bodoh itu tidak akan berguna.” Ucap mama Widya.
__ADS_1