
Jingga menatap isi dari brangkas yang telah berhasil dia buka menggunakan tanggal jadian Arkana dan Qania, di dalamnya menyimpan begitu banyak buku dan benda tajam seperti pisau, gunting, dan cutter.
Semua benda tajam itu merupakan benda yang di gunakan Arkana untuk melakukan self harm pada dirinya, papa Hendra pernah memberitahu hal itu pada Jingga sebelumnya.
Setelah di periksa lebih dalam, Jingga menemukan beberapa lembar hasil pemeriksaan di sebuah klinik kejiwaan. Jingga tidak pernah tahu kalau Arkana pernah melakukan pemeriksaan seperti itu, hal ini bahkan tidak di ceritakan oleh papa Hendra waktu itu.
Ada sekitar sepuluh lembar hasil pemeriksaan yang menyatakan bahwa Arkana mengalami depresi yang cukup parah, tingkat keparahannya sampai membuatnya sering melakukan percobaan bunuh diri. Dari semua hasilnya tidak menunjukkan ada perubahan, dan dia melakukan pemeriksaan terakhirnya di tahun 2016.
“ Sekarang dia mulai melakukan pemeriksaan lagi, aku penasaran bagaimana hasilnya? Tapi aku juga tidak ingin terlalu terlibat dengannya lagi, atau aku biarkan saja sampai dia selesai melakukannya? Benar, aku hanya perlu meminta Gilang untuk memberitahukan hasilnya.” Gumam Jingga.
Kemudian Jingga menemukan buku harian Arkana, ada begitu banyak buku dengan sampul yang sama. Di sampul tertulis untuk meluapkan segala emosi, dan saat itu juga Jingga mengirimkan Gilang pesan yang berbunyi.
Jingga : Lang, barusan aku ke kamar mas Arka. Aku barusan nemu hasil pemeriksaan dia di klinik kejiwaan, nama dokternya Sarah Hartono. Aku lihat ada sepuluh lembar hasil pemeriksaan, dan mas Arka memulai pemeriksaan dari tahun 2015 sampai 2016.
Gilang : Boleh tolong fotokan hasilnya? Aku butuh untuk mengetahui masalah yang di alami suami kamu selama ini.
Jingga mengirimkan semua hasil pemeriksaan itu kepada Gilang, dengan begitu Gilang akan semakin lebih tahu kondisi Arkana dulu dan sekarang.
Jingga : Aku juga menemukan beberapa buku harian, kira-kira ini untuk apa.?
Gilang : Buku harian untuk meluapkan emosi, biasanya kami psikolog menyarankan pasien untuk mengutarakan semuanya ke dalam tulisan, mereka yang mengalami gangguan depresi akan cenderung menutup diri dari semua orang. Itu sebabnya dengan metode itu bisa sedikit mengurangi emosi yang sedang di rasakan oleh pasien.
Sekarang Jingga paham, sejak dulu Arkana hanya meluapkan emosinya sendirian. Dan buku-buku itu merupakan isi hati Arkana, Jingga berpikir ingin membaca semuanya, tapi di satu sisi dia merasa takut untuk mengetahui masa lalu Arkana yang dia tulis sendiri dari lubuk hatinya.
__ADS_1
“ Maaf mas, aku penasaran. Aku izin baca semuanya.” Gumam Jingga mengambil semua buku itu dan segera membawanya ke kamar.
**
20 Juli 2015
Sejak usiaku sepuluh tahun, kedua orang tuaku berpisah. Papa memutuskan bercerai dengan mama entah karena masalah apa? Kakak laki-lakiku ikut bersama papa, dan aku ikut bersama mama sampai saat ini. Dan sejak saat itu mama menyalahkan aku atas apa yang terjadi pada perceraian mereka, dan yang selalu menjadi kebanggannya hanyalah Bima kakakku.
Menjadi kebanggaan mama sudah sering aku coba lakukan, tapi mama tidak pernah mengakuinya, aku tetap salah di mata mama. Sampai aku mengira apa benar aku ini anaknya? Bahkan sedikit pun mama tidak pernah menunjukkan rasa cintanya padaku setelah dia berpisah dengan papa.
Aku lelah terus di salahkan, di remehkan, di anggap pembawa sial, aku juga ingin mendengar pujian dari mama, mendapatkan kasih sayang yang tidak pernah ku rasakan sejak saat itu, dan aku ingin kebahagiaan tetap ada untukku. Tapi semua itu tidak akan pernah bisa ku dapatkan, mungkin memang aku hanyalah anak yang tidak berhak mendapat kebahagiaan.
6 Agustus 2015
Ma, kalau boleh jujur aku sudah sangat lelah. Mentalku tidak membaik, pikiranku selalu buntu, hatiku sakit. Di satu sisi aku pengen banget pergi jauh dari mama, tapi aku nggak bisa. Aku Cuma punya mama, dan mama Cuma punya aku. Ini berat ma, aku nggak tahu harus berbuat apalagi? Mama tolong sekali aja peduli sama perasaan aku, aku Cuma mau itu aja ma.
Sudah hampir lima bulan aku datang ke psikolog untuk menyembuhkan mentalku yang terus di rusak sama mama, tapi sampai sekarang kenapa rasanya semakin parah? Dokter selalu menyarankan ini dan itu, aku melakukannya tapi rasanya masih sama.
Yang aku butuh bukan terapi, tapi mama. Aku butuh mama, sampai kapan pun aku butuh mama dalam hidupku. Walaupun mama yang sudah membuat aku bisa sampai disini, tapi aku nggak akan pernah sekalipun membenci mama.
Jingga sudah selesai membaca semua isi buku harian milik Arkana, namun ada beberapa yang membekas di kepalanya sampai saat ini. Dia menangis mengetahui Arkana telah menulis semua itu dengan segala perasaan yang dia raskaan di masa lalu.
Jingga merasa cukup kasihan pada Arkana yang memendam semuanya sendirian, tidak banyak orang yang dia kenal dapat membuatnya nyaman dan bisa membuatnya menunjukkan sisi sebenarnya dalam diri Arkana.
Meski begitu Jingga pun tidak bisa memaafkan apa yang telah di alaminya selama ini, mungkin Arkana melakukannya secara sadar karena dia menanggung beban yang sangat berat dan membuatnya tidak tahu harus mengekspresikannya seperti apa.
__ADS_1
“ Semoga dengan niat kamu bertemu Gilang bisa membuat kamu jadi lebih baik lagi, kamu bisa menerima semuanya dan hidup dengan bahagia mas.” Ucap Jingga sambil menutup buku itu dan berniat untuk mengembalikan semuanya ke brangkas milik Arkana.
**
Arkana melirik arloji di tangannya yang menunjukkan waktu untuk segera pulang, dia membereskan meja kerjanya kemudian melepas jas dokternya dan menggantungnya di gantungan khusus jas tersebut.
Ketika Arkana keluar, dia di sambut dengan kemunculan Tsania. Gadis itu memberikan sebuah kotak makanan untuk Arkana, dia berkata bahwa dia membuatnya sebelum datang ke rumah sakit hari ini.
“ Saya tahu kalau dokter sedang tinggal sendirian karena kak Jingga tidak di rumah, jadi saya iseng buat makanan ini untuk dokter.” Ucapnya sambil menyodorkan kotak makanan tersebut.
“ Tapi kamu tahu dari mana kalau saya sama Jingga nggak tinggal serumah.?” Arkana tidak ingat pernah memberitahu Tsania tentang itu, dia hanya memberitahu Nisa karena dia percaya pada wanita itu.
“ Kak Nisa yang bilang ke aku.”
“ Nisa bilang ke kamu?”
“ Iya dok, maaf kalau saya lancang. Tapi saya nggak akan kasih tahu siapa-siapa.”
“ Ya sudah, tolong rahasiakan hal itu. Saya terima makanan kamu, saya pamit dulu.” Arkana pun berlalu meninggalkan Tsania yang masih berdiri menatap kepergiannya.
“ Berhenti mendekati dokter Arkana, kamu tahu kan dia sudah menikah.” Sahut seseorang sontak membuat ekspresi wajah Tsania langsung berubah.
“ Kenapa kamu jadi suka ikut campur urusan orang lain.?” Tsania melirik Gabriel dengan tatapan sinis sekarang.
“ Kita datang kesini untuk belajar, perjalanan kita masih panjang untuk bisa jadi dokter. Kalau kamu terus bersikap begitu dengan suami orang, kamu akan mendapat masalah besar nantinya.” Ucap Gabriel.
__ADS_1
“ Urus urusan kamu sendiri.” Tsania melangkah pergi meninggalkan Gabriel dengan emosi yang meluap, sedangkan Gabriel hanya dapat geleng-geleng kepala melihat tingkah mantannya itu.