Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Arkana Mulai Jinak


__ADS_3


Hari terakhir di Thailand benar-benar di nikmati oleh Jingga dan Arkana dengan baik, mereka sudah mengunjungi beberapa tempat yang di sukai oleh Arkana yang membuatnya terlihat sangat senang.


Mereka juga sudah membeli beberapa oleh-oleh yang akan di berikan khusus pada teman-teman mereka di Indonesia, saat itu Jingga memilih gelang sebagai oleh-oleh yang akan di berikan kepada Diana dan Qania tentunya.


Arkana juga sedang memilih-milih beberapa aksesoris, katanya dia akan memberikan oleh-oleh itu pada orang-orang di rumah sakit. Setelah mereka cukup memilih, keduanya pun memutuskan untuk beli minum sambil duduk santai sebelum kembali ke Bandara.


Mereka duduk di bangku kayu yang terdapat di sepanjang jalan, ada sungai kecil di depan mereka yang menampilkan airnya yang sangat jernih hingga dasarnya dapat terlihat dengan jelas.



“ Terima kasih karena sudah ajak aku kesini.” Lontar Arkana yang saat itu berdiri di depan Jingga sambil menatap ke arah sungai.


“ Sama-sama mas, aku ikut senang kalau kamu happy selama disini.” Balas Jingga lirih.


Saat itu ada seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun baru saja terjatuh di dekat Arkana, terlihat Arkana yang langsung membantu anak itu berdiri.


“ Are you okey.?” Tanya Arkana pada si anak namun sayang anak itu tidak paham dengan bahasanya.


Kemudian ada seorang wanita yang menghampiri mereka, wanita itu menggunakan bahasa Thailand yang membuat Jingga dan Arkana juga tidak mengerti apa yang di katakan olehnya.


Wanita yang tak lain adalah ibu dari si anak laki-laki itu baru saja menarik anaknya meninggalkan mereka, terlihat dari nada bicaranya bahwa dia sedang memarahi anaknya yang sudah nakal karena terus berlarian kemana-mana.


Jingga melihat eskpresi Arkana yang berubah saat melihat wanita itu memarahi putranya sendiri, kedua tangan Arkana bahkan terkepal sangat kuat yang membuktikan bahwa dia sangat kesal sekarang.


“ Mas, kamu nggak apa-apa.?” Tanya Jingga menyentuh lengan Arkana.


“ Ayo pergi, aku capek.” Arkana memutar tubuhnya dan berjalan duluan.


Jingga ikut melangkahkan kakinya mengikuti Arkana kemana dia pergi, dan secara tidak sengaja mereka mendapati satu kejadian yang tak di duga. Salah seorang pejalan kaki di dekat mereka tiba-tiba mengalami kejang, orang-orang hanya menyaksikan tanpa memberikan pertolongan.

__ADS_1


Sampai pada akhirnya Arkana adalah orang pertama yang mendekati pria tersebut, dia mengecek keadaannya dengan baik lalu setelah itu menyuruh seseorang untuk segera memanggil ambulans.


Orang-orang terlihat khawatir setelah Arkana menanganinya, kemudian Jingga menjelaskan kepada mereka bahwa Arkana adalah seorang dokter. Dengan begitu mereka pun langsung lega, dan Arkana melakukan pertolongan pertama pada seseorang yang mengalami kejang dengan sangat baik sampai ambulans datang ke tempat itu.


Begitu semua teratasi dengan baik, orang-orang disana memuji Arkana atas tindakan yang dia lakukan. Tak sedikit dari mereka juga yang meminta maaf karena sebelumnya mengira dia hanya melakukannya secara asal.


“ Kamu emang hebat mas, sesuai yang di harapkan oleh seorang dokter.” Lontar Jingga membuat Arkana terlihat malu saat itu.


Sudah waktunya mereka ke bandara, sebentar lagi pesawat yang akan membawa mereka akan segera berangkat. Kali ini mereka menolak pesawat pribadi yang di berikan oleh mama Widya karena suatu alasan, dan keduanya memilih naik pesawat biasa seperti yang di lakukan oleh orang-orang.


**


Satu minggu setelah kembali dari Thailand nyatanya berhasil membuat Jingga dapat menjalin komunikasi yang cukup baik dengan Arkana, dia tidak lagi emosian dan main tangan seperti dulu.


Dari yang Jingga lihat, Arkana memang dapat mengontrol emosinya jika dia tidak bertemu dengan mama Widya. Dan terbukti selama satu minggu ini mereka belum saling bertemu, Jingga sangat yakin jika akar permasalahan memang ada pada mama Widya.


Waktu itu Jingga pernah mengobrol dengan mama Widya tentang Arkana, dari cerita yang di jelaskan olehnya tak ada satu pun yang benar sesuai fakta yang ada. Entah mama Widya yang tidak tahu apa-apa tentang putranya atau Arkana yang menutup diri dari mamanya sendiri.


“ Buat apa.?” Tanya Arkana heran.


“ Aku bosan di rumah terus.”


“ Kalau bosan itu jalan-jalan bukan ke rumah sakit.”


“ Memangnya kamu ngizinin aku buat keluar jalan-jalan.?”


“ Mau apa sih di rumah sakit? Nggak ada apa-apa disana.”


“ Nanti siang aku mau bawain kamu makanan, aku beli deh di restoran kalau kamu nggak mau makan masakan aku.” Lontar Jingga masih dengan penuh semangat.


“ Ya udah terserah kamu, nanti Jefri yang jemput kamu.” Balas Arkana akhirnya.

__ADS_1


“ Terima kasih ya mas.”


**


Jingga sudah berada di rumah sakit siang itu, dia terlihat sangat bersemangat berjalan menuju ruangan Arkana. Dia sudah di kenal sebagai istri Arkana oleh orang-orang di rumah sakit, sehingga semua orang yang berpapasan dengannya langsung menyapa Jingga dengan ramah.


Sayangnya saat Jingga sampai, dia mendapat kabar kalau Arkana sedang berada di ruang operasi. Alhasil Jingga meletakkan makan siang Arkana di ruangan pria itu, kemudian dia mulai berniat untuk naik ke lantai atas dimana dia ingin menemui seseorang untuk saat ini.


Kini Jingga sudah tiba di depan ruangan direktur utama rumah sakit, dia sudah lama ingin bertemu dengan papa Hendra sejak hari itu. Dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk bertemu dengannya, ada banyak hal yang ingin di sampaikan Jingga pada papa Hendra saat ini.


“ Ada yang bisa saya bantu bu.” Salah seorang sekretaris papa Hendra baru saja menghampiri Jingga.


“ Saya Jingga, menantu pak Hendra.” Ucapnya sambil tersenyum.


“ Maaf bu saya nggak kenal tadi, pak Hendra ada di dalam.” Jawabnya kemudian.


Pintu baru saja terketuk dan membuat Jingga masuk ke dalam ruangan itu, dia melihat ekspresi papa Hendra yang terkejut ketika melihat menantunya tiba-tiba saja datang tanpa mengabarinya terlebih dulu.


“ Papa sibuk ya.?”


“ Nggak kok, papa nggak sibuk.”


“ Ada waktu sebentar nggak? Jingga mau ngobrol sama papa.”


“ Bisa kita ngobrol di tempat lain.?”


“ Boleh pa, dimana pun itu asal papa ada waktu.”


Papa Hendra kemudian meraih ponselnya dan segera keluar dari ruangannya, dia memberitahu Hana sekretarisnya untuk tidak memberitahu Widya kalau dia keluar dengan Jingga.


Jingga tidak tahu apa yang baru saja di bahas papa Hendra kepada Hana, dia berdiri cukup jauh sehingga tidak mendengar apa yang baru saja mereka bahas.

__ADS_1


Setelah itu mereka berdua pergi ke satu tempat di rumah sakit itu, bagi papa Hendra ruangan itu cukup aman untuk membahas apa saja. Dan sepertinya dia sudah tahu kalau Jingga pasti akan membahas sesuatu yang menjurus pada masalah keluarga mereka.


__ADS_2