Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Arkana Menghilang


__ADS_3


Jingga berada di sisi Arkana sejak semalam hingga pagi menjelang tanpa pernah meninggalkannya sama sekali, sejak semalam juga Arkana belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Hal itu membuatnya cemas, meskipun dokter berkata tidak ada yang serius terjadi pada Arkana.


Semalam Jingga sudah menghubungi mama Widya tentang Arkana yang masuk rumah sakit, dan katanya beliau akan datang bersama putra pertamanya nanti sekitar pukul 10:00.


Saat itu Jingga merasa mengantuk sebab semalam dia tidak bisa tidur dengan pulas, dia hanya tidur satu sampai dua jam yang kemudian fokus menjaga Arkana.


Pintu baru saja terkuak, Jingga menoleh dengan penasaran dan rupanya yang datang adalah mama Widya. Beliau datang lebih awal dari yang dia katakan, tidak heran jika mama Widya mencemaskan putra bungsunya tersebut.


“ Kenapa dia bisa tiba-tiba sakit? “ Tanya mama Widya membuat Jingga bingung mendengar pertanyaannya.


“ Bukannya mama harusnya bilang bagaimana keadaan mas Arka? Soal kenapa dia bisa sakit semua orang nggak ada yang tahu ma, mas Arka kelelahan bekerja mungkin makanya dia sakit.” Ucap Jingga dengan nada yang sedikit ketus.


“ Arka itu seorang dokter, seharusnya dia tahu cara menjaga dirinya dengan baik, dia tahu kapan dia harus istirahat dan kapan dia merasa tidak enak badan seharusnya dia minum obat sebelumnya.” Keluh mama Widya.


Arkana mulai membuka kedua matanya secara perlahan setelah dia mendengar suara mamanya, melihat suasana yang terlihat berbeda dari biasanya sontak membuat kesadaran Arkana kembali dengan seutuhnya.


“ Kenapa aku bisa disini.?” Tanya Arkana menatap tali infus yang terhubung di tangannya.


Jingga kemudian angkat bicara menjelaskan semuanya kepada Arkana, mendengar penjelasan Jingga tampak ekspresi Arkana langsung berubah. Jingga tahu jika tidak ada mama Widya saat ini, mungkin dia sudah mendapat amarah dari Arkana.


“ Kamu boleh pulang ke rumah dulu, soal Arkana biar mama yang jaga.” Ucap mama Widya tiba-tiba.


“ Nggak apa-apa kok ma, aku bisa jagain mas Arkana.” Sahut Jingga menolak.


“ Kamu belum mandi kan? Ada bagusnya kamu pulang bersih-bersih dulu, nanti balik lagi kesini.” Balas mama Widya tegas.


“ Ya udah, kalau gitu aku titip mas Arkana ya ma.” Ucap Jingga dan akhirnya meninggalkan ruangan itu.


**

__ADS_1


Seorang pria baru saja melangkahkan kakinya menuju satu ruangan yang ada di lantai lima rumah sakit, di tangannya ada sebuket bunga dan paper bag berisi makanan sehat yang dia siapkan khusus untuk seseorang yang dia sayangi.


Kini pria itu sudah berdiri di depan pintu ruangan, dia membuka knop pintu sedikit dan mendadak menghentikan aksinya setelah mendengar suara amarah seseorang dari dalam sana.


“ Kamu benar-benar lemah, mama pikir kamu sudah banyak berubah setelah menjadi dokter. Ternyata mama salah, hanya karena kecapekan kamu bisa sakit dan di rawat seperti ini. Nggak malu kamu? Kamu dokter loh.” Sahut mama Widya yang memarahi Arkana beberapa saat setelah Jingga pergi dari ruangan itu.


“ Dokter juga bisa sakit ma, bisa mati. Aku Cuma nggak nyangka aja kalau ternyata Jingga bawa aku ke rumah sakit.” Ucap Arkana hanya dapat menundukkan wajahnya.


“ Itu karena kamu lemah, pingsan di kamar mandi udah kaya cewek aja kamu. Mama benar-benar malu ya, kamu masih sama aja kaya dulu sulit untuk di andalkan.” Protesnya tanpa henti yang membuat Arkana lelah mendengarnya.


“ Terus mama mau aku kaya gimana lagi? Aku turutin semua kata mama. Aku menikah dengan wanita pilihan mama aku terima dan bahkan menjadi dokter pun udah aku turutin semuanya karena mama.”


“ Mama mau cucu dari kamu sama istri kamu, pernikahan kalian sudah satu bulan lebih dan mama masih menunggu kabar kehamilan istri kamu itu.”


“ Sabar ma, aku juga lagi berusaha. Nggak semudah itu, semua ada waktunya.”


“ Kenapa dengan nada bicara kamu itu? udah merasa paling benar aja kamu.” Balas mama Widya menatap Arkana sedikit kesal.


Pintu pun terbuka dengan lebar dan memunculkan sosok Bima yang langsung dengan mudahnya menunjukkan keceriaan sehingga membuat suasana di ruangan itu langsung berubah.


“ Keluar, aku nggak butuh kamu ada disini.” Ketus Arkana tak berselera melirik kakaknya.


“ Jangan ngomong kasar gitu dong, aku datang baik-baik kesini dan aku bawain kamu bunga dan makanan loh, jangan lupa di cicipi ya.” Balas Bima sambil meletakkan semua yang dia bawa di atas sebuah meja.


“ Nggak akan. Aku nggak sudi menerima pemberian darimu.” Tolak Arkana sekali lagi.


“ Bima.” Sahut mama Widya membuat Bima menoleh.


“ Biarin aja, kamu jangan terlalu memanjakan adikmu itu. Sekarang ikut mama, kita harus mengurus perusahaan kita.” Ajak mama Widya pada Bima.


“ Tapi ma.” Bima tampak belum ingin keluar dari ruangan itu, tapi mama Widya langsung memberikan tatapan tajam yang membuat Bima akhirnya menuruti apa kata mamanya.

__ADS_1


Saat itu mama Widya telah keluar terlebih dulu, Bima masih melirik adiknya yang menatap lurus keluar jendela. Dia mencari adik iparnya sekali lagi, dan rupanya hari ini pun dia masih belum bisa bertemu dengannya.


“ Aku akan datang lagi, jadi kamu harus cepat sembuh. Bye adik.” Sahut Bima dengan penuh keceriaan sementara Arkana terlihat di selimuti oleh awan kelabu.


Arkana menghempaskan buket yang di berikan Bima ke lantai, dia tidak peduli dengan pemberian kakaknya itu. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam dirinya sudah sangat membenci Bima, dan sampai kapan pun perasaan itu tidak akan pernah hilang.


**


Siangnya Jingga kembali ke rumah sakit dengan membawakan bubur buatannya untuk Arkana, dia berjalan begitu senang dan tak sabar untuk segera bertemu dengan suaminya.


Ketika dia hendak menuju kamar Arkana, beberapa perawat datang menghampirinya. Mereka mengajak Jingga berkenalan sekaligus menanyakan kabar Arkana, Jingga bingung kenapa mereka harus bertanya sedangkan mereka bisa langsung mengeceknya sendiri.


“ Kak, aku boleh nitip sesuatu nggak buat dokter Arkana.?” Sahut salah satu perawat kepada Jingga.


“ Mau nitip apa.?” Tanya Jingga penasaran.


“ Dokter Arkana suka banget sama sandwitch, jadi aku buatin khusus buat dia. Nggak apa-apa kan kak? Kakak nggak marah kan.?”


Jingga terdiam sejenak mengingat dimana waktu itu Arkana pernah menolak sandwitch buatannya dengan alasan dia tidak suka dengan sandwitch.


“ Tapi bukannya dia nggak suka sandwitch ya.?” Ucap Jingga bukan bermaksud untuk menolak.


“ Kata siapa kak? Dokter Arkana suka banget malahan, kebetulan kakaku itu punya toko roti dan dia sering kok pesan sandwitch kaya gini.”


“ Iya kak, beliau suka banget sama sandwitch. Apalagi yang double cheese, dia bisa nambah sampai empat potong.”


Jingga mungkin pengecualian untuk Arkana, dia bisa menolak apapun yang dia buat tapi tidak dengan pemberian mereka. Alhasil Jingga menerima titipan perawat tadi dan segera membawanya ke ruangan Arkana.


Setibanya di ruangan itu, Jingga tidak melihat keberadaan Arkana dimana-mana. Dia sudah mengecek ke kamar mandi namun tidak berhasil menemukannya.


“ Mas, kamu dimana.?” Ucap Jingga yang mulai kebingungan.

__ADS_1


Jingga menyimpan semua barang-barangnya di kamar, kemudian dia keluar mencari Arkana. Dia juga bertanya kepada beberapa perawat dan dokter namun mereka juga tidak menemukan Arkana dimana-mana.


“ Duh, dia kan masih sakit. Kenapa harus pergi-pergi dulu sih.” Jingga tidak mau menyerah mencarinya, dia juga meminta bantuan orang-orang untuk segera mencari keberadaannya.


__ADS_2