
Widya melangkah ke tengah-tengah dan berdiri di hadapan Arkana dengan tatapan yang tajam, Widya menahan emosinya untuk tidak menampar Arkana di hadapan semua orang dengan mengajaknya pergi dari tempat itu.
“ Ikut mama pulang, kamu nggak harus berbohong di depan semua orang seperti ini.” ucap mama Widya sambil menarik lengan Arkana.
“ Nggak ma, Arkana nggak berbohong kali ini. Arkana mau semua orang tahu siapa Arkana yang sebenarnya, dan menyelesaikan semua masalah ini dengan cepat.” Balas Arkana menarik lengannya dari Widya.
Kemudian Arkana melirik Tsania yang sejak tadi ketakutan menunggu waktu kapan Arkana mulai membuatnya malu, Arkana dengan kasar menarik tubuh Tsania dan mendorongnya ke lantai.
“ Dia adalah pelaku yang membuat Nisa di tuduh melakukan penyebaran postingan itu, kalian seharusnya bisa percaya kalau Nisa yang sudah bekerja cukup lama dengan saya nggak akan pernah melakukan hal kotor seperti ini.” Ucap Arkana lagi-lagi membuat semuanya terkejut.
“ Dan dia juga yang telah menukar obat istri saya sehingga Jingga sempat mengalami medication error, dia adalah orang yang hampir membunuh istri dan anak saya. Dia yang telah melakukan hal kotor ini dan menuduh orang lain yang melakukannya.” Sambung Arkana terlihat berusaha menahan air matanya.
Di samping itu terlihat mama Widya yang terkejut mendengarnya, selama ini dia telah di permainkan oleh Tsania tapi justru Arkana lah yang membantunya menyingkirkan gadis itu.
“ Semua orang harus tahu kejahatanmu, dan aku sengaja melakukannya untuk membuat nama Nisa dan Qania tidak buruk di mata orang-orang. Dan kamu yang seharusnya menanggung semua ini, kamu ngerti kan.???” Gertak Arkana di akhir.
Tsania sudah sangat ketakutan hingga membuatnya menangis dengan tubuh yang bergetar hebat, dia sempat melirik Widya namun kali ini pandangan Widya tertuju ke arah lain seakan tak ingin melihatnya lebih lama.
“ Aku akan bawa masalah ini ke pengadilan khususnya atas obat yang kamu tukar waktu itu, jadi sampai jumpa di meja hijau.” Kata Arkana dengan nada yang dingin dan beranjak meninggalkan tempat itu.
Kepergian Arkana membuat semua orang mulai menyoroti Tsania, tidak sedikit yang menuduhnya sebagai seseorang yang sangat manipulatif. Semua yang di sampaikan Arkana barusan tidak menyebutkan bahwa motif Tsania melakukan ini karena masalah perasaan, hal itu hanya tidak ingin di lakukan Arkana karena dia tidak ingin disukai oleh seseorang seperti Tsania.
Semua orang yang masih berkumpul di tempat itu di suruh bubar oleh Widya, dia memerintahkan keamanan untuk bantu membubarkan. Widya terlihat bingung sekarang, beberapa orang ada yang menatapnya dengan tatapan yang aneh dan membuatnya sedikit kesal.
Widya ikut keluar dari rumah sakit dan mencari keberadaan Arkana, Hendra yang berdiri di belakang Widya memberitahu Widya bahwa Arkana sudah meninggalkan rumah sakit.
__ADS_1
Widya yang tidak terima dengan kepergian Arkana yang sudah membuat masalah semakin rumit, menyuruh dua asisten pribadinya untuk segera mencari Arkana dan membawanya pulang ke rumah tanpa TAPI.
**
Wanita itu sudah menunggu sekitar dua jam di kediamannya, dia duduk di atas sebuah sofa berwarna coklat muda dengan tatapan yang di penuhi oleh emosi yang di tahannya sejak tadi.
“ Lepaskan aku. Aku bisa jalan sendiri.”
Suara yang barusan ia dengar membuatnya langsung melirik pintu besar yang ada di hadapannya, seorang pria baru saja membuka pintu tersebut dan menyeret Arkana ke hadapannya.
Widya memberi intsruksi kepada mereka untuk tetap berdiri di belakang Arkana, sementara itu Widya beranjak dari sofa menghampiri Arkana dan langsung menampar wajahnya dengan sangat keras.
“ Kau puas dengan apa yang kau lakukan? Sekarang semua orang sudah tahu masalahnya, dan kamu menyeret nama mama di hadapan semua orang yang membuat mereka akan berpikiran buruk tentang keluarga kita.” Sahut mama Widya kesal.
“ Sejak awal kau tidak harus di lahirkan, kau selalu membuat masalah, mau sampai kapan mama melihatmu dengan kekuranganmu yang seperti ini?”
“ Apa katamu? Dasar anak kurang ajar.?” Saat Widya hendak menampar Arkana lagi, dengan cepat Arkana menahannya dengan tangannya.
“ Aku nggak mau jadi anak mama lagi, itu kan yang mama inginkan? Kenapa mama jadi marah saat aku bilang kita akhiri saja hubungan keluarga ini? kita bisa hidup masing-masing, dan aku nggak akan pernah menemui mama lagi setelah ini.”
“ Anak kurang ajar.” Widya memukul Arkana dengan tangan kirinya dan kali ini berhasil.
Arkana tidak terjatuh akibat pukulan barusan, dia hanya terdiam sejenak sambil menyentuh wajahnya dengan rasa khawatir jika sampai meninggalkan bekas. Jika wajahnya terluka sedikit maka itu akan membuat Jingga khawatir, dia tidak ingin sampai melukai dirinya kali ini.
“ Kau pikir siapa yang memberikan uang padamu? Siapa yang memberikan rumah untukmu tinggal? Siapa yang membiayaimu sekolah selama ini? kau yang menghasilkan uang selama ini? uang siapa hah.?” Teriak Widya dengan penuh emosi.
“ Aku akan mengembalikan semua uang yang pernah ku pakai selama ini, kalau semua hanya karena uang maka aku nggak masalah kalau memberikannya dua kali lipat untuk mama.”
__ADS_1
Di saat Widya kembali ingin memukul Arkana, dengan cepat Arkana menahannya sambil berteriak di hadapan mamanya.
“ Udah cukup ma, cukup.!!!!”
“ Anak yang dulu ketakutan setelah dipukul sama mama sudah lama mati, sekarang aku nggak akan tinggal diam kalau mama bersikap seperti ini ke aku. “ Lanjut Arkana sambil melepaskan tangan mamanya dengan kasar.
Widya terlihat melirik dua asistennya dengan memberikan sebuah kode, tak lama setelah itu salah satu dari mereka keluar. Arkana sudah sangat menghafal situasi ini, sekeras apapun dia mencoba untuk menghindari pukulan di wajah tapi pada akhirnya dia akan mendapat pukulan yang lebih kuat.
Beberapa saat kemudian datang beberapa pria yang mengenakan kemeja serba hitam, tubuhnya besar dan menakutkan. Widya berjalan melewati Arkana dan menyuruh mereka dalam sekali kode.
“ Lakukan seperti biasa.” Titah Widya sebelum meninggalkan ruangan itu.
**
Sebuah mobil sport berwarna merah baru saja memasuki pelataran rumah, dia turun dari mobilnya sambil melihat beberapa orang keluar dari rumah dan meninggalkan pelataran dengan dua buah mobil jeep di halaman depan.
“ Mereka siapa.?” Ucap Bima bertanya-tanya.
Bima mengangkat pundak dengan ekspresi tidak peduli kemudian melangkah masuk ke dalam, tampaknya rumah orang tuanya sedang sepi melihat tidak ada mobil yang biasa di gunakan oleh mereka di tempat parkir.
Bima kembali di buat bingung dengan dua orang pria yang keluar dari sebuah ruangan di rumah itu, Bima heran melihat mereka yang pergi tanpa basa-basi. Namun yang lebih membuatnya heran lagi adalah ruangan yang tidak pernah dia masuki sebelumnya terlihat sangat mencurigakan.
Untuk menghilangkan rasa penasarannya, dia pun berjalan mendekati ruangan tersebut. Pelan-pelan dia membuka pintu dan tidak mendapati ada siapapun di dalam sana.
Ketika Bima hendak menutup pintunya kembali dia tanpa sengaja melihat ada seseorang yang tergeletak di lantai, Bima pun kembali membuka pintu dengan lebar dan masuk ke dalam ruangan itu.
“ Arkana?” ucapnya sangat terkejut melihat yang tergeletak dengan darah dan luka dimana-mana ternyata adalah adiknya sendiri.
__ADS_1