Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Perjanjian Jingga & Arkana


__ADS_3


Jingga dan Arkana masuk ke satu tempat dimana mereka bisa menyaksikan pameran lukisan kelas dunia yang kebetulan saat itu sedang di adakan oleh pemilik galeri.


Mereka berdua di kenalkan salah satu lukisan yang memiliki harga nilai paling mahal, satu lukisan itu dapat membeli dua rumah mewah sekaligus. Bahan untuk membuat lukisan itu yang membuatnya menjadi mahal, dan juga pelukisnya adalah Pablo Picasso yang merupakan seniman terkenal pada abad ke 20.


Dan itu merupakan lukisan terakhir sebelum akhirnya dia meninggal dunia, dan lukisannya abadi di galeri itu dan di jaga sangat baik oleh pemilik galeri, tak heran jika nilai jualnya akan sangat tinggi.


Setelah cukup melihat-lihat, kini mereka berdua tiba di ruang melukis yang di sediakan khusus untuk para pengunjung. Jingga tertarik untuk melukis Arkana, dan dia juga meminta Arkana untuk melukisnya.


“ Aku nggak tahu melukis.” Ujar Arkana lirih.


“ Kalau gitu kita menggambar aja yang lebih mudah, melukis memang sedikit sulit apalagi untuk pemula.”


“ Aku juga nggak tahu gambar.”


“ Nggak apa-apa, kamu coba gambar sesuai kemampuan kamu aja mas.” Jawab Jingga.


Arkana pun menurut dan kini mereka berdua sudah duduk saling berhadapan agar dapat melihat wajah satu sama lain, Jingga mulai serius dengan gambarannya dengan tatapan yang sesekali melirik Arkana.


“ Kamu jangan banyak goyang dong.” Sahut Arkana kesal.


“ Iya..iya.” Balas Jingga sambil tersenyum kecil di buatnya.


Selama tiga puluh menit mereka mencoba menggambar diri mereka satu sama lain, sampai pada akhirnya Arkana menyerah dan melepaskan alat gambarnya begitu saja.


“ Sudah ku bilang aku nggak bisa.” Keluhnya sekali lagi.


Arkana melirik Jingga yang masih serius dalam menggambar, sampai pada akhirnya Arkana bangkit dari tempatnya dan mencoba menghampiri Jingga. Dengan cepat Jingga melarangnya untuk mendekat sampai gambar buatannya selesai di buat.


Arkana kembali harus menunggu selama kurang lebih dua puluh menit hingga gambarnya jadi dengan sempurna, dan setelah itu Jingga menyuruh Arkana untuk menunjukkan hasil gambarnya terlebih dulu.

__ADS_1


“ Gambarku jelek, kamu nggak usah lihat.” Kata Arkana dengan ekspresi yang malas.


“ Aku mau lihat, nggak apa-apa kok dengan hasilnya jelek atau bagus.” Sahut Jingga.


Arkana pun mengangkat hasilnya dan menunjukkannya kepada Jingga, dia berpikir kalau Jingga akan menertawakan hasilnya namun ternyata tidak. Jingga memuji gambar Arkana yang sudah bagus, dan dia menambahkan bahwa Arkana bisa menghasilkan gambar yang lebih bagus lagi jika dia banyak berlatih.


“ Sekarang giliran kamu.” Lontar Arkana tak sabar untuk melihat hasil gambaran Jingga.


“ Aku nggak yakin hasilnya mirip sama kamu, kayaknya nggak usah di lihat deh.” Kata Jingga berusaha menutupi hasil gambarnya dengan kertas lain.


Kemudian Arkana berdiri dari tempatnya dan menghampiri Jingga, dia merebut hasil gambar Jingga dan seketika membuatnya langsung terkejut. Hasilnya benar-benar sangat mirip dengan wajah Arkana, dan dia masih berkata kalau hasilnya tidak bagus.


“ Aku mau simpan gambarnya.” Ucap Arkana dan menyimpan gambar tersebut di dalam sebuah amplop.


“ Kamu yakin mau simpan gambarnya.?” Tanya Jingga menatapnya tak percaya.


“ Kenapa nggak? Ayo pergi, sudah waktunya makan siang.” Ajak Arkana memimpin jalan.


**



“ Untuk kejutan kemarin, terima kasih ya mas. Aku senang.” Ucap Jingga lirih.


“ Aku melakukan semua ini karena aku nggak hutang budi sama kamu, kamu duluan yang kasih aku kejutan ulang tahun dan sekarang kamu yang bawa aku ke tempat ini. Jadi aku Cuma bisa balas dengan hal sederhana seperti ini.”


“ Sederhana katamu? Ini sudah cukup luar biasa untukku, kalau kamu nggak ada mungkin ulang tahun kali ini aku Cuma bisa merayakannya sendirian di rumah.”


Arkana menjatuhkan tubuhnya di atas pasir kemudian menepuk tempat di sebelahnya agar Jingga juga ikut duduk bersamanya, pelan-pelan Jingga pun duduk dan mereka menyaksikan bagaimana matahari di depan mereka perlahan mulai tenggelam.


“ Aku sudah memikirkan ini sebelumnya, pernikahan kita dan masa depan kita berdua nanti. Kamu tahu aku menikah karena terpaksa, selama ini aku belum memiliki perasaan apapun ke kamu. Dan mungkin sikapku selama ini sudah banyak membuatmu terluka, aku sadar akan kesalahanku. Dan aku ingin memperbaikinya.” Ucap Arkana sontak membuat Jingga menatapnya dengan tatapan yang terkejut.

__ADS_1


“ Maksud kamu mas.?”


“ Tujuan mama menikahi aku dan kamu adalah karena mama hanya ingin memiliki seorang cucu dari pernikahan kita. Dan aku berpikir kalau anak itu lahir nanti, mungkin tujuannya sudah selesai dengan begitu kita bisa berpisah.” Lanjut Arkana.


“ Tapi anak ini.”


“ Aku tidak akan keberatan kalau kamu membawa anak itu, lagi pula dia bukan anakku. Dan aku juga tidak peduli apapun tentang anak itu, kita penuhi saja tujuan mamaku dan akhiri semua hubungan palsu ini.”


Jingga terdiam sambil menyentuh perutnya, kalaupun dia berkata bahwa anak itu adalah anak Arkana pasti dia tidak akan percaya. Namun, apakah dengan mengikuti rencana Arkana ini akan membuatnya merasa puas, Jingga benar-benar bingung sekarang.


“ Jadi ku harap kamu nggak akan jatuh cinta sama aku sampai perceraian kita tiba.” Lanjut Arkana kemudian.


“ Baik kalau memang itu adalah kemauanmu, setelah anak ini lahir kita akan resmi bercerai.” Lontar Jingga yang terlihat menatap Arkana dengan tatapan serius.


“ Oke, untuk membuat kesepakatan kita lebih jelas. Kamu tanda tangan di sini.” Arkana mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan file digital untuk menyepakati perjanjian mereka hari ini.


Jingga pun memberikan tanda tangannya, dengan begitu janji mereka untuk berpisah setelah anak itu lahir dimulai saat itu juga. Dan sore itu mereka berdua melanjutkan menikmati sunset dengan tenang, Jingga merasa senang saat melihat warna jingga di langit sore yang selalu membuat perasaannya menjadi lebih tenang.


Arkana tak sengaja melirik Jingga yang saat itu tersenyum seperti merasakan kebebasan, tiba-tiba saja dia mulai merasa gerah dan beranjak dari sana. Kemudian Arkana berlari sambil berteriak, Jingga bingung dengan sikapnya yang seperti itu.


“ Kamu mau kemana mas.?” Tanya Jingga.


“ Lari-lari sore biar syaraf ku nggak tegang.” Kata Arkana mempercepat larinya meninggalkan Jingga.


“ Ada-ada saja.” Ucap Jingga sambil geleng-geleng kepala.


Jingga kemudian kembali melamun sambil menatap langit yang semakin gelap, perjanjian barusan membuat Jingga tidak tidak merasa keberatan sama sekali. Namun yang di pikirkan adalah bagaimana nasib anaknya nanti, Jingga bingung sampai membuatnya cukup frutasi sekarang.


“ Mas Arka.” Sahut Jingga yang sudah bangkit dari sana dan memanggil Arkana dengan suara yang cukup keras.


Arkana menoleh dan langsung berlari kembali ke arah Jingga, saat dia sudah berdiri di hadapan wanita itu, Jingga pun berkata dengan lantang.

__ADS_1


“ Selama aku masih resmi menjadi istri kamu, aku mau melayani kamu sebagaimana menjadi seorang istri yang sesungguhnya. Aku nggak butuh balasan kasih sayang dari kamu kalau memang kamu nggak mau, tapi aku akan tetap menjadi istri yang baik untuk kamu.” Ujar Jingga sungguh-sungguh.


“ Oh, oke…, terserah kamu saja.” Balas Arkana terlihat malu-malu.


__ADS_2