
Jingga baru saja keluar dari ruangan Qania, dan tiba-tiba saja dia bertemu dengan mama Widya. Tampak wanita itu melirik pintu ruangan Qania sebentar sebelum akhirnya menatap wajah menantunya.
“ Kamu baru saja keluar dari ruangan itu kan.?” Tanya mama Widya sontak membuat Jingga panik.
“ Iya ma, tadi aku bawa sesuatu buat Qania.” Jingga terpaksa berbohong pada mam Widya agar membuat wanita itu tidak curiga dengan kondisinya saat ini.
“ Bisa ikut mama sebentar.? ” Ajak mama Widya di balas anggukan pelan dari Jingga.
Kini mereka berdua sudah berada di ruangan mama Widya, terlihat ruangan itu kosong dan tak ada papa Hendra di dalam. Kemudian Jingga di persilahkan duduk untuk memulai obrolan mereka.
“ Mama mau minta kejujuran kamu, selama ini mama diam bukan berarti mama nggak tahu apa-apa. Dan mama juga sudah menunggu cukup lama untuk kamu yang langsung datang memberitahu mama, sebelumnya kamu berani mengaku ke mama tentang sikap Arkana yang tidak baik ke kamu. Tapi kenapa sekarang kamu menyembunyikan kondisi kamu ke mama? Memangnya kamu mau menyembunyikannya terus menerus.?”
Jingga sudah menduga kalau hal ini pasti akan di ketahui oleh mama Widya, sekuat apapun dia menutupi rahasia tentang penyakitnya, pasti akan di ketahui oleh mertuanya cepat atau lambat.
Sebelumnya Jingga menutupi rahasia penyakitnya dari mama Widya untuk membuat Arkana tidak di salahkan, tapi sekarang situasinya sudah berbeda dan Arkana berjanji akan membantu Jingga sembuh nantinya.
“ Maafin aku ma kalau selama ini aku merahasiakan tentang penyakitku, memang benar kalau jantungku sedang tidak sehat. Dokter Qania sebagai dokter pribadiku saat ini bilang kalau kondisi jantungku baik-baik saja, aku harus lebih banyak menjaga pola makan dan waktu istirahat saja.”
“ Arkana yang menyuruhmu untuk merahasiakannya dari mama kan.?”
“ Nggak kok ma, aku yang sengaja merahasiakannya. Bahkan awalnya aku juga merahasiakannya dari mas Arka, tapi saat itu dia nggak sengaja tahu dan aku pun terpaksa jujur sama dia.”
“ Anak itu, dia selalu saja menempatkan kamu dalam bahaya. Padahal kalau kalian memberitahu mama lebih awal mungkin kita bisa mengambil tindakan cepat, mama nggak mau kalau kamu dan bayi kamu sampai kenapa-napa.”
“ Mama jangan khawatir, sekarang aku bisa menjaga diri lebih baik. Dan mas Arka juga udah janji nggak akan biarin sakitnya makin parah, jadi jangan salahin mas Arka ya ma.”
“ Tetap saja, semua ini terjadi karena ulah dia. Sikap dia ke kamu yang buat kamu menderita, mama nggak bisa bayangin gimana jadi kamu yang menghadapi sikap suami seperti dia.”
Entah mengapa Jingga merasa sangat kesal dengan ucapan mama Widya, dia memang tahu kalau Arkana dulu bersikap sangat kasar padanya. Tapi tentang penyakit jantung yang dia alami, semua itu tidak ada kaitannya dengan Arkana karena memang itu adalah penyakit keturunan dari mendiang papanya.
__ADS_1
“ Bagaimana kalau kamu keluar dari rumah itu? mama akan kasih kamu tempat tinggal yang lebih baik, mama hanya nggak mau kamu hidup sama Arkana dengan sikapnya yang sangat buruk itu.” Usul mama Widya.
“ Terima kasih atas perhatian mama, tapi sekarang aku nggak mau pergi dari rumah itu. Aku sudah memutuskan untuk tetap bersama mas Arka.”
“ Jadi sekarang kamu sudah mencintai Arkana ya.?” Tanya mama Widya membuat Jingga mengulum senyum.
“ Dia ayah dari anak ini ma, bagaimana mungkin aku nggak punya perasaan sama dia.” Kata Jingga sambil menyentuh perutnya.
“ Tapi anak itu.?” Mama Widya menggantung ucapannya karena tak ingin sampai salah bicara.
“ Ada apa ma.?”
“ Nggak ada apa-apa, kamu boleh pulang sekarang. Mama banyak pekerjaan yang harus di selesaikan.”
“ Baik ma, kalau gitu aku pergi dulu.”
Jingga pun keluar dari ruangan itu dengan ekspresi yang bingung, dia tidak tahu apa yang ingin di katakan oleh mama Widya barusan. Obrolan hari ini cukup membuatnya sedikit emosional, untuk pertama kalinya dia merasa kesal mendengar Arkana terus di salahkan atas perbuatannya.
Saat ini Jingga berjalan sendirian menuju ruangan Arkana, dia mendapat pesan dari Arkana untuk menyuruhnya menunggu disana selagi dia mengurus urusannya.
“ Kak Jingga.” Panggil Wulan terlebih dulu.
“ Bisa minta waktunya sebentar.? ” Pinta Wulan lagi.
“ Boleh.” Jawab Jingga pelan.
“ Kami mau minta maaf waktu itu sudah mengatakan kata-kata yang tidak sopan, kami menyesal.” Lanjut Wulan sambil menundukkan pandangannya.
“ Kami benar-benar minta maaf kak.” Sambung Gabriel.
“ Nggak apa-apa, saya maafin kok. Mungkin waktu itu kalian salah paham aja, lagi pula suami saya dan teman kalian tidak ada hubungan apa-apa kan.” Lontar Jingga.
__ADS_1
“ Benar kak, dokter Arkana sama Tsania nggak ada hubungan apa-apa kok.” Balas Wulan cepat.
“ Kalau begitu selesai ya masalahnya, kalian nggak perlu minta maaf lagi dan anggap aja saya nggak dengar apa-apa waktu itu.” Kata Jingga membuat Gabriel dan Wulan merasa tersentuh dengan kebaikan hati Jingga.
Setelah urusannya dengan Gabriel dan Wulan terselesaikan, kini Jingga kembali melangkahkan kaki menuju ruangan Arkana. Tapi lagi-lagi dia menghentikan langkahnya saat melihat di ujung sana tampak sosok Arkana dan Tsania yang berjalan berdampingan.
“ Perasaan nggak enak ini nggak mungkin aku cemburu kan.?” Benak Jingga sambil menyentuh dadanya.
“ Kak Jingga.?” Suara yang tak asing kembali membuat Jingga menoleh, dan ternyata dia adalah Nisa.
“ Mau ke ruangan dokter ya.?” Lanjut Nisa yang sekarang sudah berdiri di samping Jingga.
Jingga sempat mengangguk sebentar, kemudian Nisa melirik lurus ke depan dimana dia juga bisa melihat Arkana dan Tsania sedang bersama. Nisa yang ikut kesal langsung menarik tangan Jingga untuk segera menghampiri Arkana.
“ Dok, istrinya nyariin nih.” Seru Nisa sukses membuat Arkana akhirnya menoleh dengan cepat.
Nisa dapat melihat raut wajah Tsania yang kesal karena kebersamaannya dengan Arkana terganggu, tampak Arkana langsung menghampiri Jingga dengan senyuman yang merekah.
“ Gimana pemeriksaannya udah selesai.?” Tanya Arkana.
“ Udah mas.” Jawab Jingga lirih.
“ Hmm dok, Tsania saya pinjam dulu ya. Ada pasien yang harus di cek kedadannya.” Sahut Nisa yang ingin memberikan waktu untuk Jingga dan Arkana bisa bersama.
“ Silahkan.” Jawab Arkana kemudian.
Nisa langsung menarik Tsania menjauh dari pasangan suami istri yang ingin berduaan itu, terlihat Jingga yang terus memperhatikan Tsania yang pergi dari pandangannya. Sebelumnya dia bisa melihat tatapan kebencian dari sorot mata Tsania yang di tujukan kepadanya, sebagai seorang wanita tentu saja dia tahu apa arti tatapan itu.
“ Kamu kenapa.?” tegur Arkana melihat Jingga dengan tatapan yang kosong.
“ Nggak ada apa-apa, btw mas, aku laper.” Kata Jingga terus mengusap perutnya.
__ADS_1
Arkana melirik arlojinya yang sudah menunjukkan waktu pulang, dia pun bergegas ke ruangannya untuk mengambil barang-barang dan segera mengajak Jingga makan sebelum mereka pulang ke rumah.