
Arkana pulang ke rumah dengan perasaan yang campur aduk, dia merasa sangat marah pada Tsania jika memang dia terbukti melakukan semua ini. Tiba-tiba saja Arkana terpikirkan dengan ucapan Qania bahwa Tsania selalu mengirimkan sesuatu lewat social medianya yang membuat Jingga sempat cemburu.
Ponsel Jingga selalu Arkana bawa kemana-mana, dia menepi sebentar untuk mengecek isi ponsel Jingga. Selama ini dia tidak pernah kepo dengan isi ponsel Jingga, tapi kali ini semua sudah terlalu mengganggu sehingga dia harus melakukannya.
Arkana mencari nama akun instagram Tsania di list pertemanan Jingga, namun dia tidak menemukannya. Dan ketika melihat isi DM, disanalah dia dapat menemukan satu akun yang telah di blokir yang membuat Arkana langsung membaca isi percakapannya.
Isi pesan yang selama ini di kirim oleh Tsania ternyata tidak pernah di balas oleh Jingga, dan dari pesan tersebut cukup membuat Arkana kesal padanya. Tak heran jika kondisi Jingga saat itu tiba-tiba drop, ternyata penyebab utamanya ada pada Tsania.
Tapi sayang Arkana belum bisa melakukan apapun, sebab dia sudah membuat rencana bersama yang lainnya. Dia tidak boleh gegabah hanya karena terbawa emosi saat ini.
“ Lebih baik aku segera pulang.” Gumam Arkana yang kembali melajukan mobilnya.
**
Arkana telah kembali ke rumah dengan membawa makanan kesukaan Jingga meskipun dia tidak mendapat pesan darinya bahwa dia ingin apa, semua itu dia lakukan berdasarkan keinginan hatinya saja.
“ Jingga mana bi.?”Tanya Arkana pada Bi Inah saat dia menyerahkan makanan Jingga untuk segera di hidangkan.
“ Di kamar dedek bayi tuan.” Jawabnya kemudian membuat Arkana langsung menuju ke kamar tersebut.
Pelan-pelan Arkana membuka pintu kamar tersebut, dia melihat istrinya sedang terlelap di tempat tidur. Dinding kamar sudah di ganti dan di pasang oleh wallpaper dinding sesuai keinginan Jingga, nampaknya Jingga kelelahan setelah memantau renovasi kamar sehingga membuatnya tidur di kamar itu.
“ Hey, bangun.., Jangan tidur disini.” Bisik Arkana sambil mengusap kepala Jingga dengan penuh kelembutan.
“ Mas Arka, udah pulang.” Ucap Jingga yang kini membuka kedua matanya.
“ Kamu capek ya makanya tidur disini.?” Tanya Arkana.
“ Nggak mas, aku Cuma ketiduran aja kok.” Jawab Jingga.
“ Aku bawain makanan kesukaan kamu, yuk kita makan bareng.” Ajak Arkana langsung di balas anggukan pelan dari Jingga.
__ADS_1
Arkana membantu Jingga berjalan sambil menggenggam tangannya dan melingkarkan tangan kanannya di pinggang istrinya itu, keduanya berjalan menuju ruang makan dimana bibi sudah menghidangkan makanan itu di atas meja.
“ Besok kayaknya aku harus ke rumah sakit, kamu nggak apa-apa kan kalau aku tinggal? “
“ Nggak apa-apa mas, kan ada bi Inah sama bi Salma di rumah.”
“ Maafin aku ya.”
“ Kenapa harus minta maaf sih, aku nggak apa-apa kok.”
Arkana tidak bermaksud meminta maaf karena besok dia harus pergi, tapi dia meminta maaf atas ketidakpekaannya selama ini tentang Tsania yang diam-diam menghasut istrinya.
**
Jingga sedang sibuk memantau orang-orang yang sedang merenovasi kamar bayinya, sampai bi Inah datang dan memberitahu Jingga bahwa ada tamu untuknya.
Saat Jingga menoleh, dia di buat terkejut dengan kedatangan Qania dan Diana. Keduanya datang tanpa memberitahu apapun, dan saat itu juga dia ingat kalau dia sedang tidak memegang ponselnya sehingga bagaimana mungkin dia tahu kapan keduanya akan datang.
“ Ya, aku juga kaget pas dia datang ke butik dan minta tolong untuk datang menemani kamu. Saat sampai di depan, nggak tahunya Qania juga datang atas suruhan dia.” Sambung Diana.
“ Kalian nggak perlu datang kalau lagi sibuk, aku jadi nggak enak.” Balas Jingga.
“ Kita nggak sibuk kok, lagi pula sudah lama juga kan kita nggak ngumpul bertiga kaya gini.” Ucap Qania di sambung anggukan pelan dari Diana.
“ Btw ini ada apa kok rame-rame?” Tanya Diana yang mulai penasaran melihat kamar di belakang Jingga di penuhi oleh beberapa orang yang tidak di kenalnya.
“ Aku sama mas Arka memutuskan mengubah kamar ini jadi kamar bayi, masih ada waktu sampai bayinya lahir ya walaupun agak telat banget.” Jawab Jingga kemudian.
“ Oh iya, katanya kamu hamil. Selamat ya, aku nggak sempat bilang waktu itu.” Ucap Jingga sambil mendekati Qania dan mengelus perutnya yang belum terlihat bahwa dia sedang mengandung.
“ Kamu hamil juga? Wah aku baru tahu, selamat juga ya.” Seru Diana ikut senang mendengarnya.
“ Iya, terima kasih ucapannya.” Balas Qania tersenyum malu-malu.
__ADS_1
Ketiganya memutuskan untuk melanjutkan obrolan mereka di halaman belakang, tak lupa Jingga menyuruh kedua pembantunya untuk menyiapkan minuman dan cemilan segera mungkin.
**
Pria itu sudah tiba di rumah sakit sejak beberapa menit yang lalu, sudah dua hari dia tidak ke tempat itu dan dia masih bisa merasakan bagaimana tatapan orang-orang kepadanya.
Di pintu lift dia bertemu dengan Tsania yang terlihat seperti tidak melakukan kesalahan apapun, Arkana berusaha untuk sabar dan tetap memainkan rencananya seperti yang telah di rencanakan kemarin.
“ Dokter akhirnya masuk kerja lagi, kami benar-benar nggak tahu harus melakukan apa selama dokter nggak ada. Apalagi kak Nisa juga sudah di pecat, kami benar-benar kehilangan arah dok.” Ucap Tsania masih belum mendapat respon apapun dari Arkana.
“ Dokter udah makan belum? Saya kebetulan buat sandwitch, buat dokter Arka aja nih.” Tsania menyodorkan kotak bekal berisi sandwitch untuk Arkana dan tidak menyangka bahwa Arkana akan menerimanya saat itu.
Pintu lift baru saja terbuka, Tsania mengikuti langkah Arkana yang keluar dari tempat itu. Tapi tiba-tiba saja dia melihat Arkana berhenti di dekat tempat sampah, kemudian dia melihat Arkana membuang isi dari kotak bekal itu ke dalam tempat sampah.
“ Kok di buang dok.?” Tanya Tsania menatapnya bingung.
“ Saya nggak suka sandwitch.” Balasnya dengan tatapan datar.
“ Kenapa baru bilang sekarang? Kemari-kemarin waktu saya kasih,”
“ Saya kasih ke orang lain.” Balas Arkana sebelum Tsania menyelesaikan ucapannya.
“ Jadi selama ini semua yang saya kasih ke dokter nggak pernah di makan sama sekali.?”
“ Apa yang kamu harapkan memangnya? Saya menerimanya dan menikmati makanan itu dengan bahagia? Bahkan saya lebih senang kalau yang melakukannya adalah istri saya sendiri.”
Tsania benar-benar tidak pernah menduga akan mendapatkan kata-kata yang menusuk seperti itu dari Arkana, dia mengira kalau selama ini sikap Arkana baik kepadanya adalah sikap yang sesungguhnya yang dia tampakkan.
“ Berhenti mengikutiku seperti seekor anak anjing.” Lanjut Arkana yang melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan Tsania sama sekali.
Tsania menoleh menatap kepergian Arkana dengan tatapan yang sama, dia masih kaget dan tidak bisa berkata-kata untuk saat ini. Namun semua itu tidak membuat perasaannya pada Arkana berubah, dia masih menyukai Arkana sama seperti pertama kali dia melihat pria itu.
__ADS_1