
Arkana baru saja masuk ke dalam ruangannya setelah dia selesai memeriksa keadaan pasiennya, dia segera mencari ponselnya untuk mengetahui kabar Jingga hari ini.
Terakhir kali mereka saling mengirim kabar sekitar pukul 10:00 pagi, dan sekarang sudah hampir masuk jam 9:00 malam. Arkana berhasil mendapatkan ponselnya namun dia sedikit kecewa karena ternyata tidak mendapat pesan dari Jingga.
“ Dia nggak mungkin tidur di jam begini. Aku jadi ingin cepat-cepat pulang sekarang.” Arkana menjatuhkan tubuhnya sambil mencoba untuk menghubungi Jingga.
Panggilan berhasil terhubung, saat itu yang menjawab bukanlah Jingga melainkan bi Inah. Arkana kemudian mencari Jingga tapi bi Inah tiba-tiba berkata sesuatu.
“ Tuan, non Jingga pingsan kayaknya. Tadi saya coba bangunin buat makan malam, tapi nggak tahu kenapa non Jingga nggak mau bangun.”
“ Tunggu saya disana bi, saya ke rumah sekarang.” Arkana langsung menarik kunci mobilnya dan segera keluar dari ruangan itu.
Di jalan keluar ruangan tiba-tiba saja dia berpapasan dengan Tsania, tampak Tsania berusaha menahan Arkana tapi sayangnya Arkana dengan cepat berlari meninggalkannya.
“ Kok jadi begini sih, semua ini gara-gara Nisa. Dia pasti bohong kalau dokter Arkana yang nyuruh aku lihat pasien nyebelin itu.” Gerutu Tsania dengan kesal.
**
Arkana telah tiba di rumah sekitar pukul 10:00 malam karena dia harus terjebak macet sebelumnya, Arkana melihat ada satu mobil asing telah memarkir tepat di sebelah mobilnya. Dia memang sudah menghubungi dokter Nala sebelumnya untuk datang memeriksa keadaan Jingga, tapi mobil itu jelas bukan milik dokter Nala.
Tak ada waktu lagi untuk memikirkan hal itu, Arkana langsung masuk ke dalam dengan langkah yang tergesa-gesa. Saat dia tiba di kamarnya, sontak Arkana di buat terkejut dengan kehadiran Bima disana.
“ Siapa yang menyuruhmu masuk ke rumahku.? " Ucap Arkana dengan tatapan yang tak suka.
“ Lupakan soal itu, sebaiknya kau periksa keadaan Jingga dulu.” Balas Bima seketika membuat Arkana langsung memeriksa keadaannya.
“ Jekaskn apa yang terjadi sebelumnya.?” Tanya Arkana pada kedua pembantunya.
Bi Inah menjelaskan bahwa sebelumnya Jingga tidak keluar kamar sejak tadi sore, terakhir kali dia hanya meminta di buatkan bubur sum sum dan setelah itu dia tidak pernah keluar dan meminta apapun lagi.
Kemudian saat makan malam tiba, ketika bi Salma hendak memanggil Jingga untuk makan ternyata Jingga sudah tak sadarkan diri di tempat tidurnya.
__ADS_1
Arkana memeriksa keadaan denyut nadinya dan detak jantung Jingga yang terdengar normal, dia membutuhkan bantuan dokter Nala dan dokter umum untuk mengetahui kondisinya saat ini.
Setelah beberapa saat kemudian dokter Nala pun datang, dia langsung memeriksa keadaan Jingga saat itu juga. Dan dokter Gunawan yang merupakan dokter umum di rumah sakit bintang Harapan juga sudah datang memenuhi panggilan Arkana malam itu.
Arkana menyuruh kedua pembantunya untuk membawa Bima keluar dari kamar itu, melihatnya berada di dekat Jingga tentu membuat Arkana kesal. Dia bahkan belum tahu kenapa Bima ada disini, dan sejak kapan dia datang? Apakah ketika dia berada di rumah sakit Bima sering datang menemui Jingga, Arkana tidak tahu dan dia semakin frustasi di buatnya.
“ Bagaimana dok.?” Tanya Arkana saat dia melihat dua dokter itu baru saja selesai memeriksa Jingga.
“ Jangan khawatir, ini hanya perubahan hormone saja. Ibu hamil akan mengalami perubahan hormon dalam tubuhnya sejak awal kehamilan sampai menjelang masa persalinan, tekanan darahnya turun sehingga membuatnya mudah pingsan.” Jelas dokter Nala.
“ Seperti yang di jelaskan dokter Nala, kadar gula dalam tubuh Jingga juga menurun. Untuk itu sebaiknya kita memberikan bantuan infus untuknya, biar saya persiapkan dulu.” Sambung dokter Gunawan yang mulai bersiap untuk memasang infus pada tangan Jingga.
Dokter Nala bisa melihat raut wajah Arkana yang begitu panik, untuk seorang calon papa muda tentu saja hal ini akan sangat menakutkan untuk di lihat. Terlebih lagi kondisi Jingga yang mengalami begitu banyak resiko dalam persalinannya nanti, untuk menghibur Arkana tampak dokter Nala memberikan dukungan penuh agar dia bisa tetap menjadi suami yang siap siaga ke depannya.
Setelah dokter itu selesai menangani Jingga, sekarang Arkana sudah bisa duduk di samping Jingga sambil menatap wajah cantik istrinya yang masih belum sadarkan diri.
Arkana meraih tangan Jingga yang telah terpasang oleh infus, melihat bagaimana jarum infus menusuk tangannya ikut membuatnya merasa sakit. Kemudian dia mencium punggung tangan mungil itu cukup lama, Arkana hanya berharap Jingga segera siuman agar dia bisa merasa jauh lebih tenang dari sekarang.
“ Aku tidak pernah merasa mengundangmu datang kemari, dan bukannya aku sudah pernah bilang kalau kamu tidak boleh menginjakkan kaki di rumah ini lagi.” Sahut Arkana menatap Bima dengan serius.
Seperti biasa Bima akan selalu menghadapi Arkana dengan sikap tenangnya, hal itu membuat bi Inah dan bi Salma yang menyaksikannya membuat mereka tak percaya bahwa keduanya adalah saudara kandung.
“ Aku datang kemari untuk bertemu dengan adik iparku.” Ujar Bima semakin membuat Arkana kesal.
“ Untuk apa? Sejak kapan kalian dekat? Jingga nggak butuh kenal sama kamu.”
“ Aku hanya penasaran dengannya saja, waktu itu dia mengira aku adalah Nawa. Jadi aku ingin tahu siapa Nawa itu dan kenapa dia mengira aku sebagai Nawa?”
Arkana tak bisa berkata-kata lagi, dia adalah satu-satunya yang tahu kenapa Jingga menganggap Bima sebagai Nawa. Tapi apakah memberitahu Bima adalah pilihan yang tepat untuk membuat mereka berhenti bertemu lagi? Arkana tidak tahu harus berbuat apa sekarang.
“ Dia baik-baik aja kan.?” Tanya Bima membuat Arkana kembali tersadar.
__ADS_1
“ Bukan urusanmu, sekarang pergi dari rumah ini.” Tunjuk Arkana pada arah pintu masuk.
“ Baiklah kalau kau menyuruhku terus pergi dari rumah ini, tapi ingat. Aku akan terus berusaha untuk bertemu dengan adik iparku.”
Arkana mengepal kedua tangannya dengan kuat, dia menatap kepergian Bima yang perlahan menghilang dari pandangannya. Dia diam sejenak memikirkan bagaimana dia harus bersikap ke depannya, melarang Jingga bertemu dengan Bima hanya akan membuatnya terlihat jahat karena berusaha mengatur kehidupannya lagi.
“ Ah sial, kenapa jadi begini.?” Ucap Arkana sambil menyentuh kepalanya yang terasa pusing.
**
Jingga membuka kedua matanya dan menyadari ada seseorang yang terlelap di sebelahnya, dia bisa melihat Arkana sedang tidur di sampingnya dengan tangan yang menggenggam tangannya.
“ Aku kenapa.?” Jingga bertanya-tanya pada dirinya sendiri karena tidak mengingat apa yang sudah terjadi padanya hari ini.
Melihat terpasang tali infus di tangannya membuatnya sadar bahwa dirinya mungkin sedang tidak baik-baik saja, jam sudah menunjukkan pukul 3:00 dini hari dan Jingga terbangun setelah pingsan cukup lama.
“ Kamu udah bangun?” Arkana ikut bangun setelah merasakan gerakan tangan Jingga saat itu.
Arkana duduk di tempat tidur dan mengecek keadaan Jingga dengan penuh teliti, dia memastikan cairan infus mengalir dengan benar kemudian memastikan keadaan Jingga yang sudah membaik setelah ini.
Jingga ingin duduk dengan posisi bersandar, kemudian Arkana membantunya yang membuat mereka berdua berada di posisi yang begitu dekat.
“ Aku takut banget sesuatu terjadi sama kamu, pas tahu kamu pingsan hampir buat aku mati di tempat tahu nggak.” Ucap Arkana sambil memeluk tubuh Jingga.
“ Maaf ya udah buat kamu khawatir.”
“ Lain kali kalau ada apa-apa kamu bilang sama aku, kapan pun kamu merasa kurang sehat cepat kasih tahu aku.”
“ Iya mas.”
“ Sekarang kamu tidur lagi ya, kata dokter kamu harus lebih banyak istirahat.”
Jingga mengangguk pelan yang kemudian Arkana membantunya kembali berbaring, saat itu Arkana tidak mau melepaskan tangan Jingga dan membuat Jingga merasa begitu di lindungi oleh sikap Arkana saat ini.
__ADS_1