Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Being Rude


__ADS_3


Arkana sedang tidak dalam pikirannya saat ini, ketika mahasiswa koas sedang mempresentasikan hasil kerja kemarin dirinya tampak tidak fokus dan cenderung melamun dalam diam.


“ Dok, are you okey.?” Tanya Tsania yang saat itu duduk di sebelah Arkana.


“ Oh maaf, sampai mana tadi.?” Arkana melirik Gabriel yang telah selesai menjelaskan sejak beberapa saat yang lalu.


“ Sudah selesai dok, saya sudah menjelaskan semuanya.” Balas Gabriel.


“ Sorry.., saya nggak fokus. Selagi tidak ada kendala yang kamu temukan semuanya sudah baik, dan karena semua sudah selesai maka kita akhiri pertemuan hari ini. “ Lanjut Arkana segera beranjak dari tempatnya.


Arkana baru saja keluar dari ruangan itu, dia masih larut dalam pikirannya sejak kemarin. Langkahnya tiba-tiba saja terhenti saat melihat sosok yang taka sing baru saja keluar dari suatu ruangan.


Arkana melirik sekitar untuk memastikan tidak ada siapapun, kemudian dia menarik tangan wanita itu menuju tempat tangga darurat berada. Hanya tempat itu yang jarang di lalui oleh orang-orang sehingga dia bisa bebas membahas apapun yang dia inginkan.


“ Arka, kamu apa-apaan sih.?” Tegur Qania setelah dia berhasil melepaskan diri dari Arkana.


“ Kamu serius melupakan aku begitu aja? Apa-apaan dengan lamaran itu? kalian bahkan baru kenal beberapa bulan, kenapa sudah ingin menjalin hubungan yang lebih serius.?” Sahut Arkana terlihat menahan emosinya.


“ Apa urusannya dengan kamu? Kita sudah putus, dan aku berhak mencari pasanganku juga.” Balas Qania tak kalah ketus.


“ Kamu sengaja kan melakukan ini supaya kamu bisa lupain aku.?”


“ Aku sudah lupain kamu sejak awal kita putus, dan sekarang aku memilih Aizen bukan karena kamu tapi karena keinginan ku sendiri.”


“ Bohong, kamu pasti bohong kan Nia.?” Arkana mencengkram pundak Qania dengan sangat kuat yang membuatnya meringis kesakitan.


“ Lepas, jangan mengatur aku sesuka hati kamu.” Qania kembali melepaskan Arkana dan sedikit menjauh darinya.


“ Aku dan Jingga akan segera berpisah jika anak itu lahir, jadi kita bisa kembali bersama setelah ini.” Ucap Arkana lagi.


“ Terserah kamu mau berpisah atau tidak, aku akan tetap memilih keputusanku sendiri. “


“ Kumohon Nia, jangan seperti ini. Aku bisa pisah dari Jingga sekarang juga kalau kamu mau, kita bahkan bisa pergi dari Indonesia dan memulai kehidupan yang baru.”

__ADS_1


“ Arkana, kamu seharusnya sadar. Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah, bagaimana bisa kamu mengakhiri hubunganmu dengan Jingga setelah kalian berdua menjadi orang tua.?”


“ Anak yang di kandung Jingga itu bukan anak aku.” Kata Arkana dengan emosi yang mencuat.


“ Apa katamu? Dia bukan anakmu.?” Qania tampak tak percaya mendengarnya.


“ Dia melakukannya dengan pria lain, jadi aku tidak ada kewajiban untuk mengakui anak itu sebagai darah dagingku sendiri.”


Di bawah anak tangga yang lain, ada Jingga dan Erwin yang sudah mendengar semua percakapan mereka berdua. Terlihat Jingga yang memasang wajah datar namun seperti ada begitu banyak pikiran di dalam kepalanya, ketika Erwin hendak ke atas dan menegur mereka, dia langsung di tahan oleh Jingga.


“ Jangan ganggu mereka, kita pergi saja sebelum mereka tahu.” Ajak Jingga yang menarik Erwin untuk turun lebih jauh ke lantai paling bawah.


Qania masih terlihat sangat syok, dia bisa melihat raut wajah Arkana yang tidak menunjukkan kebohongan sama sekali. Dia memang tahu seperti apa hubungan Jingga dan Arkana, tapi dia tidak pernah menyangka akan sejauh ini rusaknya hubungan pernikahan mereka.


“ Maaf Ar, aku harus pergi. Aku nggak ada alasan buat mengetahui semua itu, urusan rumah tangga mu adalah urusanmu sendiri. “ Qania pun membuka pintu dan segera meninggalkan Arkana meskipun saat itu Arkana masih berusaha untuk mengejarnya.


“ Dokter.” Panggil seseorang di belakang Arkana.


Arkana terkejut melihat Tsania yang berdiri tak jauh dari pintu tempatnya keluar, dia kemudian khawatir jika Tsania mendengar semua percakapannya bersama Qania tadi.


“ Baru saja, kenapa dokter keluar dari pintu itu? memangnya lift sedang rusak.?” Lirik Tsania pada pintu tersebut.


“ Oh nggak, saya Cuma ingin naik tangga saja.” Jawab Arkana terpaksa berbohong.


“ Kamu ada apa panggil saya barusan.?” Tanya Arkana lagi.


“ Oh ini dok, pasien di kamar mawar barusan sudah siuman. Kak Nisa bilang saya harus memanggil dokter buat periksa keadaan pasien.” Lanjutnya.


“ Maaf, tapi kamu bisa kan periksa sendiri. Hari ini istri saya sedang check up dan saya harus melihatnya.” Kemudian Arkana kembali memberi arahan bagaimana menangani pasien siuman pasca operasi pada Tsania, setelah itu Tsania pun mengerti dan akan mengambil alih dalam menanganinya dan Arkana pun segera pergi ke ruangan dokter Nala.


**


Tok…tok…tok…


Arkana langsung membuka pintu setelah dia mengetuknya sebanyak tiga kali, ketika pintu itu terbuka dia bisa melihat seorang dokter setengah baya sedang menatapnya bingung.

__ADS_1


“ Loh, kok kamu datang sendirian? Jingga mana.?” Tanya dokter Nala bingung.


“ Memangnya dia belum kesini.?” Arkana jauh lebih bingung sekarang.


“ Hari ini katanya dia check up ke dokter Qania dulu, tapi itu sudah satu jam yang lalu dan dia belum juga datang menemuiku.” Balas dokter Nala.


“ Kalau gitu biar saya hubungi dulu dok.” Lanjut Arkana segera keluar dari ruangan itu.


Arkana kemudian merogoh ponselnya, dia sedikit kesulitan mencari nomor Jingga karena selama ini dia tidak pernah menyimpan nomor wanita itu di ponselnya.


“ Nomor yang ada tuju sedang sibuk, cobalah untuk beberapa saat lagi.”


Hampir sebanyak lima kali Arkana mencoba menghubungi nomor Jingga, tapi sampai sekarang dia tidak berhasil melakukannya. Deretan pesan singkat pun di lakukan oleh Arkana, dan melihat dua centang pada pesan itu menandakan bahwa dia sedang dalam keadaan aktif.


“ Kamu dimana?”


“ Hari ini ada check up di dokter Nala kan? Hasil dari pemeriksaan dengan Qania gimana?”


“ Kamu balas atau aku sita HP kamu.”


“ Jingga? Jawab telepon aku, SEKARANG.”


Arkana di buat frustasi olehnya, kemudian dia mencoba membuka GPS yang dia sematkan pada ponsel Jingga waktu itu. Hal ini dia lakukan setelah sebelumnya Jingga melarikan diri darinya, dan dengan GPS itu kini dia bisa tahu kemana wanita itu pergi.


Arkana melihat titik lokasi Jingga yang masih berada di rumah sakit, tepatnya di luar rumah sakit. Kemudian Arkana berlari keluar untuk mengecek, dia bingung kenapa Jingga saat ini berada di luar sedangkan pemeriksaan kandungannya belum dia lakukan.


Arkana semakin berlari dengan tergesa-gesa ketika dia melihat titik itu sudah meninggalkan rumah sakit, Arkana kesal dan menggerutu dalam hatinya.


Jingga tidak membalas pesan darinya bahkan tidak menjawab panggilannya, kesabarannya sudah mulai habis. Dan saat dia mencoba menghubungi Jefri, ternyata pria itu masih berada di lobby rumah sakit menunggu Jingga selesai check up.


“ Kemana Jingga? Kenapa kamu ada disini.?” Tanya Arkana heran.


“ Nyonya sedang check up, saya di suruh tunggu di lobby.” Jawab Pak Jefri namaun tak memberikan jawaban yang memuaskan untuk Arkana.


“ Kemana sih kamu? Awas aja kalau kamu sampai kabur lagi.” Benak Arkana mencengkram ponselnya dengan kuat.

__ADS_1


__ADS_2