Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Bunga Terakhir


__ADS_3


Malam harinya Jingga dan Arkana sedang duduk bersebelahan, keduanya baru saja kembali dari kamar Keenan setelah mereka menidurkan bayi mereka.


Arkana meraih tubuh Jingga dengan lembut dan membiarkannya bersandar di dadanya. Kemudian Arkana memberitahu Jingga tentang rencana yang sebelumnya mereka buat.


“ Minggu ini aku, kamu, dan Keenan akan segera ke Singapur. Semua persiapan sudah selesai ku lakukan, dan sekarang sudah waktunya aku kasih tahu ke kamu.”


“ Ke Singapur? Minggu ini? kamu yakin secepat ini kita pergi.?” Jingga terdengar sangat terkejut ketika Arkana memberitahunya tentang rencana yang telah dia buat.


“ Kita sudah membicarakan hal ini sebelumnya sebelum Keenan lahir, jadi ku pikir kita harus segera melakukannya. “


“ Kalau memang itu yang kamu mau, aku nurut apa kata kamu aja mas.”


“ Aku minta maaf ya.”


“ Kok minta maaf? Kamu nggak salah kok mas.”


“ Aku minta maaf karena sudah banyak merubah hidup kamu.”


“ Selama aku senang, dan selama ada kamu dan Keenan, semua sudah cukup. Aku terserah mau di ajak kemana aja sama kamu.”


Arkana merasa sangat senang sampai tidak bisa menutupi kebahagiaannya lagi, dia memeluk Jingga dengan penuh cinta. Dan kemudian ekspresi wajahnya berubah saat dia teringat akan sesuatu.


Arkana tiba-tiba melepas pelukannya dan terlihat beranjak dari tempat tidur, Jingga meliriknya dengan heran dan terus mengikuti kemana Arkana bergerak.


Arkana sudah kembali ke tempat tidur lagi dan menunjukkan sebuah dokumen kepada Jingga, melihat hal tersebut semakin membuat Jingga bingung dan penasaran.


“ Aset keluarga kamu yang telah mama rebut, semua sudah kembali dan menjadi nama kamu lagi.” Ucap Arkana sambil menyerahkannya kepada Jingga.


“ Kok bisa? Mama yang melakukannya?”


“ Bukan, Nawa yang melakukan semua ini untuk kamu. Sejak awal dia sudah tahu kalau mama akan merebut warisan dari orang tua kamu, untuk itu dia mengambil semua aset dan merubahnya kembali atas nama kamu.”


“ Ya ampun, dia sampai melakukan hal itu untukku.” Benak Jingga benar-benar tidak menyangkanya.


“ Aku mau ketemu sama Nawa sebelum kita ke Singapur, aku mau ucapin terima kasih ke dia.”

__ADS_1


“ Dia nggak ada di Jakarta.” Sahut Arkana.


“ Kemana? Dia ke Bandung? “


“ Bukan.”


“ Terus kemana.?”


“ Besok, aku akan bawa kamu menemui dia.”


“ Ya udah kalau gitu, kamu janji kan sama aku.”


“ Iya, aku janji.”


**


Sesuai janji yang di ucapkan Arkana semalam, mereka pergi menemui Nawa hari itu juga. Mereka bahkan mengajak Keenan bersama mereka, dan terlihat sepanjang perjalanan Jingga mengajak Keenan bicara dan menceritakan sosok Nawa kepada Keenan sebagai seorang paman yang begitu baik.


Sekitar satu jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di satu tempat yang membuat Jingga sempat bertanya-tanya. Sebelum tiba di tempat itu, Arkana singgah di sebuah toko bunga dan membeli sebuket bunga mawar yang entah buat apa.


Keenan sudah berada di gendongan Arkana, dan Jingga baru saja turun dari mobil. Melihat sebuah palang yang tertulis di depannya lantas membuat Jingga bingung, dia bahkan tidak melanjutkan langkahnya saat itu.


“ Kenapa kita kesini mas.?” Tanya Jingga bingung.


“ Kamu mau ketemu sama Nawa kan.?”


“ Iya mau, tapi nggak harus ke pemakaman kan? “


“ Nawa ada disini.”


Jingga terkejut saat mendengarnya, dia tidak mau membayangkan apa yang di takutinya terjadi. Namun Arkana sudah berkata demikian dengan ekspresi serius, kemudian mereka bertiga memasuki tempat itu bersama-sama.


Langkah mereka berhenti tepat di depan sebuah pusara yang masih baru dengan begitu banyaknya bunga-bunga yang tertera di atasnya, yang lebih mengejutkan lagi adalah sebuah nama yang ada disana dengan tulisan Abimana Raharjo.


“ Ini apa maksudnya sih mas? Kamu bilang Nawa udah keluar dari rumah sakit, terus kenapa kamu ajak aku kesini? Seharusnya kamu ajak aku ke rumah dia.”


“ Nawa udah nggak ada, dia udah meninggal.”

__ADS_1


Jingga sangat syok mendengarnya, dia tidak bisa berkata-kata saat itu juga dan tubuhnya bergetar dengan sangat hebat. Sekali lagi dia menatap wajah Arkana dan tidak terlihat kebohongan disana.


“ Bentar, kamu bilang.”


“ Aku hanya bilang kalau Nawa udah nggak di rumah sakit lagi, dia sudah meninggal.”


“ Jantung? Jantung yang di donorkan ke aku? Jangan bilang kalau ini jantung Nawa.?” Jingga tiba-tiba teringat dengan hal itu dan mulai curiga dengan semuanya.


“ Kamu benar, Nawa mendonorkan jantungnya buat kamu.” Jawab Arkana.


“ Kenapa mas? Kenapa kamu terima? Dia mungkin masih bisa hidup sampai sekarang, kenapa aku yang menerima donor jantung dari dia? Kamu mau aku hidup karena sudah merebut kehidupan Nawa.?”


“ Jingga tenang, tolong dengarkan aku dulu. Semua ini bukan karena keinginanku. Bukan aku yang meminta untuk Nawa memberikan jantungnya ke kamu. Jauh sebelum itu, Nawa sudah menulis wasiat untuk memberikan jantungnya ke kamu kalau kondisinya sudah kritis dan tidak bisa di selamatkan lagi.”


“ Seharusnya kamu tolak, aku nggak mau hidup dengan jantung Nawa.”


“ Kamu pikir aku mau? Aku juga takut kamu nggak selamat, saat itu aku bingung sampai berusaha mencari pendonor lain. Tapi waktunya sangat mepet, kalau kamu tidak segera di operasi, kamu akan meninggalkan aku sama Keenan. “


Jingga tak kuasa lagi menahan air matanya, dia menangis sesegukan. Hal itu membuat keenan jadi ikut menangis, alhasil Arkana harus menenangkannya terlebih dulu.


“ Kenapa harus jadi gini sih? Aku nggak bisa menerima jantung kamu, aku akan terus merasa bersalah nantinya.” Benak Jingga menatap pusara Nawa dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.


Jingga mencoba untuk tenang dan berpikir waras, kemudian dia menyeka air matanya dan berdiri dari sana. Dia menghampiri Arkana yang sedang menenangkan Keenan, kemudian dia meminta Keenan kepada Arkana.


Arkana memberikan Keenan kepadanya, dan setelah itu terlihat Jingga yang menghampiri pusara Nawa kembali. Arkana menatapnya dengan penasaran, emosi Jingga sudah lebih tenang dari sebelumnya.


“ Aku sekarang tahu, seberapa besar rasa cintamu ke aku. Dulu kamu sering bilang, “ Aku cinta dan sayang ke kamu, aku rela memberikan jantung sekalipun buat kamu” dan sekarang, kamu beneran kasih jantung kamu ke aku. “


“ Kamu bilang kebahagiaanku adalah kebahagiaanmu juga kan? Kamu suka lihat aku tersenyum, kamu paling benci lihat aku nangis kaya tadi. Semua yang kamu lakukan ke aku dari awal sampai akhir udah buat aku bahagia, terima kasih ya Nawa.”


Jingga meraih tangan Arkana sehingga mereka bisa berdiri bersebelahan di depan makam Nawa.


“ Dan sekarang aku sudah punya mas Arka dan Keenan, mereka akan buat aku terus bahagia dan senyumku nggak akan pudar. Jadi kamu tenang aja, semoga kamu tenang disana ya Nawa, dan terima kasih.”


Arkana meraih Jingga ke dalam pelukannya, dia tidak menyangka Jingga akan kembali setegar itu dalam waktu yang singkat. Dan tanpa di minta pun oleh Nawa sebelumnya, Arkana pasti akan menjaga dan melindungi istri dan anaknya sampai mau memisahkan mereka.


__ADS_1


__ADS_2