
Saat ini Jingga terlihat sedang berada di dapur untuk membuat suatu cemilan, tiba-tiba saja dia sangat ingin makan pie apel dan membuatnya harus turun ke dapur untuk membuatnya sendiri.
Biasanya jika seorang istri ingin makan sesuatu saat sedang hamil, sudah pasti suami adalah orang pertama yang harus di beritahu dan wajib mengabulkan keinginan sang istri.
Namun sayangnya hal itu tidak berlaku dengan Jingga, untuk menghubungi Arkana saja membuatnya takut. Membuat cemilan dengan bahan yang sudah ada adalah pilihan terakhir untuknya.
“ Non Jingga ngapain ada di dapur.” Sahut bi Salma yang kaget ketika hendak mengambil air ke dapur dan melihat Jingga sedang sibuk membuat kue sendirian.
“ Mau bikin pie apel bi, kebetulan ada bahan-bahannya di kulkas.”
“ Kan bisa suruh saya atau Inah, udah sana non. Biar saya aja yang buat pie apelnya, non Jingga kan lagi hamil jadi nggak boleh capek-capek.” Bi Salma menarik Jingga dengan lembut menjauh dari dapur, namun Jingga menolak dan ingin ikut membantunya.
“ Memangnya tahu buat pie apel.?” Lontar Jingga sedikit meragukan bi Salma.
“ Dengar ya non, saya sama Inah itu bukan sembarang pembantu. Kami di latih sama perusahaan untuk bisa membuat menu apa aja, jadi non Jingga tinggal bilang mau apa nanti kita bikinin.” Seru bi Salma sukses membuat Jingga tertawa pelan.
“ Terus aku harus ngapain dong sekarang.?” Jingga terlihat memelas di depan bi Salma saat ini.
“ Apa aja non, main hp kek, nonton tv, atau dengar musik. Urusan dapur biar saya yang atur.” Sambung bi Salma.
“ Ya udah kalau gitu saya mau kembali ke kamar, kalau udah jadi panggil saya ya bi.”
“ Siap non.”
**
Malam harinya Jingga kembali harus makan malam sendiri di ruang makan, Arkana belum pulang yang biasanya pulang sore kini belum juga kembali dari rumah sakit.
Jingga sudah mencoba menghubunginya namun tidak ada jawaban sama sekali. Karena akhirnya Jingga harus makan sendirian, dia pun memanggil bi Salma dan bi Inah serta pak Hasan untuk menemaninya makan malam.
“ Nggak usah non, kita biar makan di belakang aja.” Sahut Bi Inah merasa tidak enak.
“ Kalian tega ya biarin aku makan sendirian disini.” Ucapan Jingga yang terdengar sangat memelas akhirnya membuat mereka bertiga join menikmati makan malam bersama di meja makan.
Jingga merasa sangat senang sekarang, keberadaan mereka mampu menghilangkan rasa sepi dalam hatinya untuk sesaat. Apalagi ketika pak Hasan menggoda bi Salma kalau masakannya keasinan yang konon katanya masakan asin yang di buat oleh seseorang menandakan bahwa orang itu akan menikah lagi.
Di tengah-tengah mereka makan malam, Arkana pun kembali dari rumah sakit. Sontak mereka bertiga langsung beranjak dari kursi saat mendapati tatapan mata Arkana yang terlihat sangat aneh.
__ADS_1
“ Aku yang ajak mereka makan, habisnya kamu pulangnya telat.” Sahut Jingga berusaha membela mereka agar tidak mendapat omelan dari Arkana.
“ Terserah, aku nggak peduli.” Jawab Arkana kembali beranjak dari tempatnya menuju kamar.
“ Duh gimana dong, tuan pasti marah nanti sama kita.” Keluh bi Inah.
“ Tenang aja, kalian nggak akan kena masalah kok soal itu. Saya ucapin terima kasih ya karena sudah menemani saya makan malam.”
“ kami yang berterima kasih non, senang bisa punya majikan yang baik hati kaya non Jingga.”
“ Bisa aja, kalau begitu saya balik ke kamar ya.” Lontar Jingga setelah menyudahi makan malamnya.
**
Suara ketukan pintu diluar sana baru saja membuat Jingga beranjak dari tempat tidurnya, saat dia membuka pintu rupanya yang datang adalah Arkana.
Arkana kemudian masuk ke dalam kamar Jingga yang membuat wanita itu menatapnya dengan bingung, sangat aneh melihat Arkana yang tenang seperti itu.
“ Mana hp kamu.” Kata Arkana langsung membuat Jingga segera menyerahkan ponselnya.
Sekarang Arkana sedang sibuk mengotak atik ponsel Jingga, sementara wanita itu terlihat tidak menunjukkan reaksi apapun. Sampai beberapa saat kemudian Arkana kembali menyerahkan ponselnya.
“ Kamu nggak usah tahu, intinya sekarang kamu nggak akan bisa kemana-mana lagi.” Balas Arkana terlihat mulai meninggalkan kamar Jingga.
“ Tunggu mas.” Jingga menarik tangan Arkana yang membuat pria itu kembali menoleh padanya.
“ Aku boleh minta sesuatu nggak sama kamu.?”
Terlebih dahulu Jingga melepaskan tangannya pada Arkana setelah mendapat sorotan mata tajam, terlihat Arkana yang memberikan kesempatan pada Jingga untuk menyebutkan permintaannya.
“ Aku mau menjahit di rumah, boleh beliin aku mesin jahit nggak? Aku cukup merasa bosan kalau terus berada di kamar, dan juga.”
“ Boleh, kamu boleh apapun yang kamu mau.” Sambung Arkana sukses membuat Jingga terkejut mendengarnya.
“ Kamu serius?”
“ Kirim nomor rekening kamu, aku akan transfer uangnya. Sisanya kamu sendiri yang pesan apa yang kamu mau, dengan satu syarat. Jangan keluar dari rumah ini.”
“ Baik mas, terima kasih sebelumnya mas.” Seru Jingga yang kemudian membuat Arkana keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Jingga merasa sangat senang saat ini, sikap Arkana memang tidak sejahat dulu. Apakah karena dia sedang mengandung? Namun Arkana bahkan tidak tahu bahwa anak itu adalah anaknya sendiri.
“ Nggak apa-apa. Selama dia bisa memperlakukan aku dengan baik, aku yakin semuanya akan baik-baik saja.” Ucap Jingga tersenyum dengan manis.
**
Tengah malam Jingga merasa ingin makan mangga muda, dia pun mencoba untuk melihat di dapur apakah ada mangga di dalam lemari es. Dia sudah sangat ingin memakannya sampai merasa air liur dalam mulutnya sudah begitu banyak keluar.
“ Nggak ada mangga muda.” Keluhnya setelah mencari sampai ke dalam-dalam dan tidak menemukan apapun.
“ Kenapa juga sih aku ngidam di jam segini, dimana mau carinya.?” Jingga kemudian terduduk di lantai dapur dengan pasrah, hingga seseorang datang menegurnya.
“ Kamu ngapain disitu.?”
“ Mas Arka.?”
“ Aku tanya, kamu ngapain disitu.?”
“ Oh ini, aku haus mas. Mau ambil minum, mas sendiri kenapa bangun tengah malam? Aku ganggu kamu ya.?”
“ Sok tahu, aku lapar mau makan.”
“ Ngindomi yuk.”
“ Apa itu? “
“ Maksud aku makan indomie bareng, mau nggak? Aku yang masak.”
“ Ya udah buru, aku tunggu di ruang keluarga.”
“ Siap mas.”
Tiba-tiba saja rasa ingin makan mangga muda tergantikan dengan indomie, dan malam itu dia bisa menikmatinya bersama Arkana yang dalam keadaan mood yang bagus.
Tak menunggu waktu lama, dua mangkok indomie kuah dengan toping telur setengah matang dan potongan cabai telah selesai di buat oleh Jingga. Keduanya pun menikmati indomie itu bersama-sama, meskipun tidak ada percakapan di antara mereka sampai keduanya selesai tetap membuat Jingga merasa lebih baik.
“ Bekasnya nggak usah kamu cuci, taro aja di wastafel biar pembantu yang cuci.” Sahut Arkana sebelum meninggalkan Jingga.
Jingga pun menurut apa kata Arkana, dia meletakkan mangkok kotor mereka di wastafel kemudian dia kembali ke kamarnya dengan perasaan yang lebih baik.
__ADS_1