
Jingga tiba di sebuah hotel tempat dimana Diana bermalam, dia mendapat alamat hotel itu dari Diana tentunya. Karena hari ini Arkana sedang free, alhasil Arkana yang datang menemaninya. Selagi Jingga naik menemui Diana, tampak Arkana yang akan mengajak Keenan berkeliling di lobby sambil menunggu Jingga kembali.
Kini Jingga sudah tiba di depan pintu kamar Diana, terlihat pintu terbuka sedikit demi sedikit dan memunculkan sosok Diana dengan mata sembabnya.
“ Hey, kamu kenapa? kok matanya bengkak gitu? Ayo cerita sama aku kalau ada masalah.” Kata Jingga yang langsung memperhatikan wajah Diana.
Diana mengajak Jingga masuk ke dalam kamarnya terlebih dulu, kemudian mereka berdua duduk di atas sofa secara bersamaan. Diana mencoba untuk tenang dan memilih kata yang tepat untuk di sampaikan kepada Jingga.
“ Semalam Erwin menelpon, dan dia nyariin kamu.”
“ Apa? Kok bisa? Aku kan udah blokir nomor dia di hp kamu.”
“ Oh jadi benar kalau kamu yang ngeblok nomor dia kemarin, nggak heran kalau kamu tiba-tiba mau pinjam hp aku.”
“ Aku nggak ada pilihan lain, aku terpaksa bohong ke kamu.”
Jingga meraih wajah Diana agar mereka saling bertatapan, Jingga sekarang mengerti bagaimana perasaan Diana dulu terhadap hubungannya dengan Arkana. Sekarang adalah giliran dia yang akan selalu ada untuk sahabatnya itu.
“ Kamu ceritain semuanya ke aku, barang kali aku bisa bantu kamu.”
Diana tak bisa menahan air matanya lagi, dia kembali menangis tersedu-sedu. Jingga langsung meraihnya ke dalam pelukan dan membiarkan sahabatnya itu untuk tetap menangis sampai dia puas.
Setelah beberapa saat kemudian, kini Diana sudah mulai tenang dan dapat menceritakan masalahnya kepada Jingga. Terlihat Jingga yang sudah memasang telinga dengan baik dan bersiap mendengarkan segalanya.
**
Pintu lift baru saja terbuka dan membuat Jingga harus keluar dari tempat itu, dia masih terlihat sangat terkejut dan juga bingung. Setelah mendengar cerita dari Diana, dia pun tidak tahu harus berkata apalagi. Semuanya sangat rumit, dan Jingga butuh waktu untuk memikirkan langkah apa yang harus dia ambil dalam masalah Diana kali ini.
Langkah Jingga mendadak terhenti ketika dia melihat Arkana dan Keenan di kelilingi beberapa gadis muda, mereka terlihat gemas dengan Keenan namun ada beberapa dari mereka yang tampak terpesona dengan ketampanan suaminya.
“ Eeehmmm.”
Suara Jingga berhasil membuat semuanya menoleh termasuk Arkana, kemudian dengan cepat Arkana menghampiri Jingga dan merangkulnya.
“ She is my wife.” Ucap Arkana yang ternyata memperkenalkan Jingga di hadapan semua gadis-gadis itu.
__ADS_1
Para gadis-gadis itu segera pergi setelah kedatangan Jingga, namun tetap saja tak membuat perubahan suasana hati Jingga berubah. Dia melirik Arkana dengan tatapan yang tajam.
“ Kayaknya kamu senang banget di kelilingin sama mereka.?”
“ Kata siapa? Nggak kok.”
“ Buktinya tadi kamu sempat ketawa di depan mereka.”
“ Aku ketawa soalnya mereka gemas dengan tingkah Keenan.”
“ Alasan, mulai hari ini jangan tunjukin senyuman kamu ke cewek lain selain aku.”
Arkana sampai malu dan salah tingkah mendengarnya, dia pun berjalan meraih tangan Jingga dengan Keenan yang berada di tangan satunya. Ketiganya berjalan keluar meninggalkan hotel untuk segera pulang ke rumah.
**
“ Diana mau di jodohin.?” Sahut Arkana terkejut setelah mendengar cerita Jingga hari ini.
“ Iya mas, orang tuanya Diana nggak setuju kalau Diana menikah dengan Erwin. Kamu tahu sendiri kan masa lalunya Erwin kaya gimana. Sementara orang tuanya Diana itu super ketat, papanya itu sersan mayor. Dan dia ngejodohin Diana dengan salah satu kenalan papanya.” Balas Jingga.
“ Itu dia mas, aku bingung kalau udah bawa urusan orang tua. Aku kenal papa Diana yang tegas banget, Diana memang anak satu-satunya dan semua keinginannya pasti di kasih, tapi kali ini kayaknya nggak ada harapan apa-apa.”
“ Terus gimana dengan Erwin? Udah kamu kasih tahu belum.?”
“ Diana ngelarang aku kasih tahu dia soal keberadaannya sekarang, nggak ada yang tahu kemana dia pergi selain kita. Mungkin kita harus membiarkan Diana tetap disini sampai masalahnya sedikit teratasi.”
“ Kamu tahu nggak dia mau di jodohin dengan siapa.?” Tanya Arkana.
“ Katanya sih dia seorang CEO di perusahaan yang ada di Jakarta, dan dia seorang duda beranak satu.”
“ Kok orang tuanya tega banget nikahin anak satu-satunya dengan duda beranak satu? Nggak mungkin karena harta kan? Orang tua Diana bukannya orang berada.?”
“ Diana orang berada mas, kamu nggak lihat dia sukses di usia muda begitu. Kayaknya bukan karena harta deh, mungkin karena masalah lain.”
“ Kasihan banget Diana, dia pasti nggak mau sama duda beranak satu itu.”
“ Besok aku mau ketemu sama dia lagi, dia pasti sedih mikirin ini sendirian.”
__ADS_1
“ Besok aku kerja, aku siapin supir aja ya buat nganter kamu sama Keenan kesana.” Tawar Arkana langsung di balas anggukan pelan dari Jingga.
**
Selama satu minggu Diana berada di Singapura dan di temani oleh Jingga dan Keenan, kehadiran keduanya benar-benar membuat Diana tidak merasa kesepian. Masalah yang di milikinya masih belum selesai, dia memang sengaja memutuskan kontak pada semua orang yang ada di Indonesia agar bisa menenangkan diri.
“ Erwin masih sering kabarin kamu.?” Tanya Diana penasaran.
“ Nggak, udah lama dia nggak pernah ngabarin aku.” Jawab Jingga.
“ Kalau kamu penasaran dengan kabar dia, coba kamu hubungin dia dulu. Dia pasti sangat khawatir sekarang.” Lanjut Jingga menyarankan.
“ Nggak mau, aku juga sebal sama dia. Setelah tahu aku mau di jodohin sama papa, dia bukannya berusaha tapi malah menyerah.”
“ Jadi kamu mau gimana sekarang? Melarikan diri nggak akan menyelesaikan semuanya.” Sahut Jingga.
“ Aku bingung, di satu sisi aku mau Erwin berusaha buat perjuangin aku ke papa. Tapi di sisi lain, aku akhhh…nyebelin.” Keluh Diana yang tidak dapat merangkai kata lagi dengan benar.
“ Kalau seandainya kamu sama Erwin berhasil bersama, kamu yakin bisa menerima masa lalu dia yang begitu.?” Tanya Jingga.
“ Awalnya aku kaget, tapi karena dia udah berubah dan pekerjaan itu di lakukan karena terpaksa. Ya aku memaafkannya, aku terima dia apa adanya kok.” Balas Diana.
“ Cinta memang buta, Diana yang selama ini sulit jatuh cinta akhirnya menemukan cintanya. Tapi sayang, nasibnya tidak semulus itu.” Benak Jingga merasa sedih.
Di sela-sela obrolan mereka, tiba-tiba saja Jingga mendapat panggilan dari bi Salma. Jarang-jarang wanita itu menghubungi Jingga seperti ini, karena penasaran dia pun menjawabnya dengan cepat.
“ Halo bi, ada apa telpon saya.?”
“ Non, mas Erwin masuk rumah sakit. Badannya babak belur, wajahnya bonyok, saya nggak tahu karena apa, tapi kayaknya di pukulin sama orang jahat non.”
Jingga langsung terkejut mendengarnya, dia pun melirik Diana yang bingung dengan tatapan Jingga saat ini.
“ Ada apa? Kok kamu ngeliatin aku kaya gitu.?” Tanya Diana penasaran.
“ Erwin masuk rumah sakit.” Jawab Jingga kemudian.
__ADS_1