
Side Story Lingga
“ Aku suka sama kamu.” Ucap gadis bermata coklat dengan senyuman manis ke arah Lingga.
Lingga terlihat bingung dengan pengakuan gadis itu, dia hanya mengerjap sebentar dan kembali fokus pada tugas sekolahnya. Saat ini Lingga sedang berada di perpustakaan sekolah, dan gadis yang mengakui perasaannya barusan adalah teman kelasnya yang bernama Sabrina.
“ Kok di cuekin? Aku udah bilang suka sama kamu. Jawaban kamu apa.?” Tanya Sabrina masih menunggu jawaban dari Lingga.
“ Aku nggak suka.” Jawab Lingga kemudian.
“ Kenapa? aku kurang cantik ya? Atau aku kurang imut.?”
“ Kamu bukan tipeku.” Balas Lingga sukses membuat Sabrina membeku di tempatnya.
“ Oke, kalau begitu aku akan berusaha menjadi tipemu mulai dari sekarang. Jadi katakan, tipemu seperti apa.?” Tanya Sabrina seakan tak mau menyerah dengan Lingga.
“ Tipeku hanya satu, harus mirip dengan mamaku.” Jawab Lingga sambil menutup buku dan kemudian berlalu meninggalkan Sabrina.
Sebenarnya kemana pun Lingga pergi, pasti dia akan selalu bertemu dengan Sabrina. Bahkan jarak kursi mereka hanya beberapa senti meter saja, Sabrina termasuk satu dari sekian banyak gadis yang menyukainya.
Tapi anehnya hanya Sabrina yang terlihat gigih dan bersih keras, dia akan selalu mencari cara agar bisa dekat dengan Lingga. Bahkan diam-diam mencaritahu kesukaan Lingga, hingga selama satu bulan ini dia sudah mengetahui banyak tentang Lingga.
**
Keesokan harinya, Lingga di buat terkejut dengan kemunculan Sabrina yang memiliki penampilan sangat berbeda dari sebelumnya. Lingga kaget karena penampilan Sabrina persis dengan mamanya waktu SMA.
“ Kenapa dia terlihat sama dengan mama.?” Benak Lingga heran.
Sabrina berdiri di hadapan Lingga dengan senyum yang merekah, kemudian dia menunjukkan sebuah foto yang tak lain adalah foto mamanya.
“ Gimana? Aku udah mirip nggak sama mama kamu.?” Tanya Sabrina menatap Lingga dengan pede.
“ Dari mana kau mendapatkan foto mamaku.?” Lingga hendak merebut foto itu dari Sabrina, tapi gagal.
“ Rahasia. Sekarang aku akan berusaha menjadi tipemu, jadi kamu harus berpikir untuk menerimaku, oke.” Lanjut Sabrina dengan senyuman.
Lingga tidak tahu harus berkata apalagi, saat ini dia hanya bisa diam memperhatikan Sabrina dengan pesonanya yang benar-bernar membuat Lingga seperti melihat mamanya.
“ Penampilan boleh sama, tapi sifat tentu saja berbeda. Mama tidak seperti dia yang banyak tingkah.” Benak Lingga berusaha menghilangkan pikiran anehnya di kepala.
**
Sekolah mengadakan festival olahraga dan seni, semua kelas di minta membuat kedai yang dapat menjual makanan hingga aksesoris untuk menambah dana festival tersebut.
Lingga termasuk salah satu di antara murid yang ikut lomba, dan Lingga ikut basket bersama teman-teman kelasnya. Banyak yang mendadak jadi pendukung Lingga meskipun mereka berada di kelas lain.
Hari ini adalah hari pertandingan basket kelas Lingga melawan kelas lain, semua penonton bersorak untuk Lingga. Dan di antara para pendukung tentu saja ada Sabrina.
Saat itu Sabrina yang paling mencolok dari yang lain, pasalnya gadis itu datang dengan membawa selogan besar dengan tulisan yang membuat Lingga malu.
“ SEMANGAT LINGGA GANTENG, KAMU PASTI BISA MENANG.!!!”
Para gadis yang juga terpesona dengan Lingga tampak menatap sinis ke arah Sabrina. Sebenarnya bukan hal baru lagi jika Sabrina menjadi sorotan mereka, bahkan tak sedikit dari mereka yang menganggap bahwa Sabrina adalah orang yang sangat aneh.
__ADS_1
“ Dia nggak malu apa.”
“ Tahu tuh, padahal Lingga nggak suka sama dia.”
“ Bikin malu aja.”
Sabrina jelas mendengar omongan mereka, tapi dia mencoba untuk mengabaikannya. Sampai pada akhirnya ada seseorang yang berdiri di sampingnya, dan Sabrina mengenal siapa gadis itu.
“ AYO LINGGA, KAMU HARUS MENANG.” Seru Shanum ikut memegang slogan yang di pegang oleh Sabrina.
“ Kak Shanum.?” Ucap Sabrina tak menyangka kalau kakaknya Lingga akan berdiri di sampingnya dan bersama-sama mendukung Lingga.
“ Jangan dengar kata mereka, Lingga bukan milik siapa-siapa jadi kamu bebas mendukungnya. Dan juga aku lebih suka kamu dari pada mereka yang hanya menyukai Lingga sebatas itu.” Bisik Shanum yang entah mengapa membuat Sabrina terharu mendengarnya.
Alhasil ada dua orang yang bersorak menyemangati Lingga paling keras dan heboh, Lingga hampir kalah jika seandainya dia terus memperhatikan kakaknya dan gadis yang menyukainya bertingkah seperti itu.
Dan setelah beberapa saat, kelas Lingga akhirnya menang. Lingga mencetak poin paling banyak dari pemain lainnya, lagi-lagi aksi Lingga yang keren di lapangan menjadi pusat perhatian paling banyak dari yang lainnya.
Lingga yang telah selesai bertanding pun langsung menghampiri Shanum, dan Sabrina yang berada di sampingnya merasa puas dan bangga bisa melihat Lingga dengan penuh keringat berdiri di hadapannya.
“ Kamu keren.” Ucap Shanum memberikan jempol pada adiknya.
“ Kamu nggak bawain aku minum.?” Tanya Lingga pada Shanum.
“ Ada dia, kenapa harus aku.?” Balas Shanum dan membuat Sabrina bergerak cepat membukakan penutup botol air untuk Lingga.
“ Aku nggak mau.” Lingga menolak dan beranjak dari sana.
“ Dasar anak nakal, kenapa tidak kau terima saja.” Keluh Shanum kesal.
“ Nggak bisa di biarin, pokoknya dia nggak boleh bersikap begitu lagi.” Shanum segera pergi menghampiri Lingga, sedangkan Sabrina hanya bisa diam di tempatnya dengan menatap botol air di tangannya.
“ Hei, Sabrina.” Sahut seseorang membuat fokus Sabrina tertuju kepadanya.
**
Setelah semua perlombaan selesai di lakukan, dan waktu pulang sudah tiba, Lingga tidak melihat keberadaan Sabrina. Padahal sejak di lapangan dia dan Shanum berteriak paling heboh, dan biasanya dia akan terus membuntutinya sampai di kelas.
" Zan, kamu lihat Sabrina nggak.? " Tanya Lingga pada ketua kelasnya.
" Nggak, aku belum lihat dia dari tadi. " Balas Izan si ketua kelas.
" Aneh, tasnya masih ada tapi kenapa orangnya nggak ada.? " Benak Lingga benar-benar penasaran.
Lingga meraih tas Sabrina, dia berpikir akan mencari gadis itu di sekitar sekolah sebelum pulang ke rumah.
Selama mencari Sabrina, Lingga terus bertanya pada siapapun yang dia temui. Tapi sayang tak ada satu pun dari mereka yang melihatnya.
Tanpa terasa Lingga sudah mencari ke berbagai tempat disekolah, dia bahkan sudah mengecek satu persatu ruang kelas tapi masih belum menemukannya.
Lingga sadar bahwa dia tidak memiliki nomor ponsel Sabrina, sampai akhirnya dia meminta nomor Sabrina pada salah satu teman kelasnya.
Butuh waktu beberapa saat sampai akhirnya Lingga mendapat nomor ponsel Sabrina. Dia pun segera menghubungi nomor itu, ponselnya aktif tapi tidak di jawab.
Kini sekolah sudah sepi, hanya ada petugas sekolah yang tersisa. Lingga mendengar suara dering ponsel di halaman belakang dekat toilet tua yang tak terpakai.
__ADS_1
Lingga yang penasaran pun segera kesana, dia hanya ingin memastikan apakah Sabrina ada disana atau tidak.
Langkah Lingga terhenti tepat di depan sebuah toilet tua yang bertuliskan tak terpakai. Terlihat jelas bahwa toilet itu sudah lama di tinggalkan.
Lingga kembali menghubungi nomor Sabrina, kemudian terdengar dering ponselnya dari dalam bilik toilet yang ada di hadapan Lingga saat ini.
" Sabrina? Kau di dalam sana.?? " Ucap Lingga sambil menggedor pintu toilet dengan keras.
Saat hendak di buka ternyata pintu tersebut terkunci, Lingga harus merusak pintu itu dulu agar dia bisa melihat ke dalam sana.
Pintu berhasil di buka, Lingga dapat melihat sosok Sabrina yang tak sadarkan diri entah sudah berapa lama.
Lingga sangat khawatir dan langsung masuk mengecek keadaan gadis itu. Tubuhnya dingin dan mengigil, dia bahkan tidak bisa membuka kedua matanya lagi.
" Aku akan membawamu ke rumah sakit sekarang, jadi bertahanlah. " Lingga berusaha menggendong tubuh Sabrina keluar dari kamar mandi.
Dengan perasaan yang campur aduk dan emosi karena marah pada seseorang yang telah melakukan ini pada Sabrina, terlihat Sabrina yang perlahan membuka matanya dan mendapati wajah Lingga yang sangat khawatir.
" Kok aku senang sih? Padahal kondisiku lagi nggak baik, apa karena lihat kamu khawatir sama aku, makanya perasaanku ini hampir meledak di buatnya. " Batin Sabrina.
**
Di rumah sakit bintang harapan, Lingga membawa Sabrina untuk segera di rawat disana. Dia bahkan meminta bantuan Arkana untuk memberikan perawatan terbaik kepada Sabrina.
Selama di lakukannya pemeriksaan, Lingga hanya duduk di ruang tunggu dengan rasa penasaran yang tinggi atas pelaku yang mengurung Sabrina di toilet sekolah.
" Siapa yang melakukannya? Memangnya selama ini dia punya musuh.?"
Dokter baru saja keluar dari ruangan tempat Sabrina di periksa, dokter itu menjelaskan bahwa kondisi Sabrina terpantau baik-baik saja dan hanya demam biasa.
" Sebaiknya kamu beritahu orang tuanya, mungkin mereka khawatir dengan keadaan anak mereka sekarang." Saran dokter.
" Baik dok, terima kasih sebelumnya." Balas Lingga merasa sedikit lega.
Lingga pun segera menghubungi wali kelasnya agar beliau yang menyampaikan keadaan Sabrina kepada kedua orang tuanya. Setelah selesai, Lingga pun bergerak menuju kamar inap Sabrina untuk mengecek keadaannya sebelum dia pulang.
Kini Lingga sudah berada di kamar Sabrina, menyaksikan gadis cerewet yang setiap harinya selalu mengutarakan perasaannya kini menjadi diam dan merasakan sakit sendirian.
Lingga membayangkan bagaimana jadinya jika dia tidak menyadari bahwa Sabrina menghilang sejak tadi pagi. Dia kembali marah pada dirinya sendiri, hingga kemudian dia berpikir untuk tidak membiarkan Sabrina tahu bahwa dialah yang telah menyelamatkannya.
**
Perlahan namun pasti Sabrina mulai membuka kedua matanya, dia bingung melihat suasana yang berbeda dari kamarnya. Kemudian ada rasa sakit yang dia rasakan pada tangan kirinya, sampai akhirnya dia sadar bahwa dirinya sedang berada di rumah sakit.
" Sabrina, " Panggil seseorang yang membuat Sabrina mengenali suara tersebut.
" Mama? "
Terlihat mamanya yang begitu khawatir hingga menangis di sampingnya, saat itu juga Sabrina semakin tersadar dan bayangan wajah Lingga saat datang menolongnya ikut terlintas.
" Ma, siala yang bawa aku ke rumah sakit.? " Tanya Sabrina penasaran.
" Wali kelas kamu nak, dia juga yang memberitahu mama kalau kamu masuk rumah sakit. "
Sabrina merasa sedikit kecewa mendengarnya, padahal dia sangat yakin bahwa yang datang menyelamatkannya bukanlah wali kelasnya.
__ADS_1