Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Selamat


__ADS_3


Cuaca diluar terlihat begitu mendung yang membuat Qania terlihat ingin bersantai, akhir-akhir ini dia merasa kurang enak badan yang membuatnya harus terus minum vitamin daya tahan tubuh agar staminanya tetap sempurna di tengah-tengah kesibukannya ini.


Felisa yang merupakan asisten perawat yang bekerja di bawah Qania baru saja masuk sambil membawakan segelas teh untuknya, Felisa menambahkan bahwa teh itu di buat langsung oleh dokter Hendra dan karena beliau sibuk jadinya Felisa yang harus membawakan teh tersebut.


“ Dokter kelihatan pucat, yakin baik-baik aja.?” Tanya Felisa.


“ I’m okay, cuma sedikit pusing mungkin karena kerjaan.” Balas Qania setelah menyeruput tehnya.


“ Oh iya Fel, pasien yang kemarin ada datang lagi nggak.?”


“ Pasien yang marah-marah karena menerobos antrian dok.?”


“ Iya, kemarin saya kasih resep obat ke farmasi tapi kata mereka pasiennya nggak ada datang ambil obatnya.”


“ Nanti saya cek lagi dok.”


“ Ya sudah, kasian kalau dia sampai lupa ambil obatnya.”


Karena tidak ada jadwal lagi, Qania merasa harus pergi ke ruangan Jingga untuk menengoknya. Sejak hari itu dia belum pernah bertemu lagi, meskipun dia sudah menyelesaikan masalah Tsania tapi masalah dia dan Jingga belum selesai.


Jadi Qania berpikir akan jujur pada Jingga hari ini, supaya Jingga juga bisa tenang dan tidak memikirkan apapun. Setelah minumannya habis, Qania pun meninggalkan ruangannya.


**


Semua mata tertuju pada layar monitor yang memperlihatkan gambaran di dalam perut Jingga, hari ini usia kandungannya sudah memasuki usia 30 minggu. Dia dan Arkana akan mendengarkan detak jantung anak mereka lagi setelah lama sudah tidak pernah mendengarnya lagi.


Saat itu dokter Nala menjelaskan bahwa kondisi janin masih sehat dan dekatk jantungnya normal, untuk itu Jingga dan Arkana akan di perdengarkan dengan suara detak jantung si kecil.


“ Syukurlah, janinnya tumbuh dengan normal. Sekarang mari kita dengarkan suara detak jantungnya.” Ucap dokter Nala yang mulai menempelkan sebuah alat di perut Jingga.


Pada layar menampilkan bentuk detak naik turun yang mengeluarkan suara yang terdengar sangat indah di telinga Jingga dan Arkana, setiap kali mendengarnya pasti akan selalu membuat Jingga menangis bahagia.


“ Detak jantungnya normal, semoga sampai waktu persalinan tiba kalian berdua di berikan kesehatan sama yang maha kuasa.” Ungkap dokter Nala setelah selesai mendengarkan detak jantung si bayi.


Sekarang tiba waktunya dokter Nala menunjukkan gambar USG 4D pada layar monitor, usia 30 minggu menjadi waktu yang sempurna untuk melihat bentuk si bayi yang hampir terbentuk dengan sempurna.



“ Bisa kalian lihat, wajah bayi terlihat lebih jelas dengan metode USG 4D ini, Wajahnya terlihat sangat tampan ya, persis seperti dokter Arka.” Seru dokter Nala.

__ADS_1


“ Ini benar bayi yang ada di dalam perut Jingga dok.?” Arkana tampak tak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini.


“ Iya dok, bayinya sangat sehat. Dia benar-benar anak yang hebat, tidak menyusahkan ibunya sama sekali.” Jelas dokter Nala kemudian.


“ Jadi kapan perkiraan bayinya lahir dok.?” Tanya Jingga penasaran.


“ Perkiraan melahirkan sekitar tanggal 20, 21,dan 22 bulan November.” Jawab dokter Nala.


“ Pastikan kamu selalu dalam kondisi yang baik ya, mengingat gejala lemah jantungnya sudah mulai berkurang dan kembali normal. Jangan sampai keadaan kamu ngedrop di dekat-dekat waktu melahirkan.”


“ Baik dok, saya akan selalu menjaga diri dengan baik.”


**


Jingga bersama Arkana kembali ke kamar Jingga setelah mereka selesai melakukan pemeriksaan kandungan, Arkana mendorong kursi roda yang di gunakan oleh Jingga dengan sangat hati-hati sambil mengajaknya mengobrol seputar keinginan Jingga hari ini.


“ Sudah tiga minggu aku di rawat di rumah sakit mas, aku boleh pulang ke rumah nggak sih.?”


“ Kalau itu aku nggak bisa jawab, kamu harus bisa dapat persetujuan dari semua dokter yang menangani kamu.”


“ Kalau gitu ajak aku jalan-jalan keluar, sekaliii aja mas.”


“ Bukan ke taman rumah sakit, tapi keluar. Ke tempat yang indah, biar aku nggak bosan.”


“ Iya..iya, nanti aku tanya ke dokter kamu dulu.”


“ Kamu kan juga dokter, masa bawa aku keluar sebentar nggak boleh.”


“ Aku nggak mau ambil resiko, kali ini aku nggak mau berpihak sama kamu.”


“ Jahat.”


Arkana tersenyum simpul mendengarnya, meskipun Jingga memohon sekalipun dia tidak akan membawanya pergi dari rumah sakit tanpa izin dari para dokter.


Tatapan Jingga dan Arkana saat ini terfokus pada seorang wanita yang baru saja keluar dari kamar Jingga, mereka heran karena wanita itu tampak pucat dan terlihat tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.


“ Kalian ada diluar? Padahal aku…” Belum sempat Qania melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba saja dia jatuh pingsan tepat di depan Jingga dan Arkana.


“ Qania.?”


Arkana langsung menghampirinya dan mengecek keadaan Qania, Jingga juga merasa khawatir dan hendak turun dari kursi rodanya tapi di larang oleh Arkana.

__ADS_1


Kebetulan saat itu ada perawat yang lewat, Arkana meminta izin pada Jingga untuk membawa Qania ke UGD. Jingga mengizinkannya dan setelah itu Arkana meminta Jingga untuk tetap di kamarnya, dia akan kembali setelah urusannya selesai.


“ Ya ampun Qania kenapa.?” Benak Jingga terlihat sangat khawatir saat melihat Arkana menggendong Qania pergi menuju ruang UGD.


**


Aizen baru saja keluar dari ruang operasi bersama para dokter lainnya, hari ini operasi berjalan sedikit lambat karena suatu masalah. Dan tepat saat Aizen melepaskan atributnya, tiba-tiba saja Dinda yang merupakan asistennya datang dan memberitahu Aizen bahwa Qania di larikan ke UGD hari ini.


Aizen yang khawatir pun langsung berlari menuju ruang UGD yang ada di lantai satu, dia sudah menduga sejak tadi pagi saat melihat wajah Qania yang sangat pucat. Namun Qania terus berkata bahwa dia baik-baik saja, dan sekarang yang terjadi justru sesuai dengan dugaannya.


Setibanya di ruang UGD, Aizen melihat Arkana sudah menunggunya sejak tadi. Arkana beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Aizen sambil menepuk pundak pria itu.


“ Selamat ya.” Ucap Arkana yang berniat untuk pergi setelah Aizen datang menggantikannya.


Aizen bingung dengan ucapan Arkana, kemudian dia melangkah lebih dalam dan melihat yang menangani Qania bukanlah dokter umum melainkan dokter Nala.


“ Kamu kenapa? “ Tanya Aizen sambil meraih tangan Qania dengan khawatir.


“ Selamat ya dok, istrinya hamil 3 minggu.” Lontar dokter Nala sontak membuat Aizen terkejut bukan main.


“ Qania hamil.?”


“ Iya, barusan dokter Qania pingsan karena kondisinya sekarang belum bisa dia terima. Tapi itu gejala normal, bayinya pun dalam keadaan sehat setelah saya periksa.”


“ Terima kasih banyak dok.”


“ Saya tinggal dulu kalau begitu.” Dokter Nala pun memberikan kesempatan untuk keduanya mengobrol bersama.


Aizen memeluk tubuh Qania yang masih berbaring dengan penuh kelembutan, dia tidak bisa mengatakan apa-apa lagi saking senangnya mengetahui istrinya tengah mengandung.


“ Selamat ya, kamu akan jadi ayah.”


“ Terima kasih, terima kasih.”


“ Kamu nangis.?”


“ Nggak, aku nggak nangis.”


Qania tersenyum haru mendengar jawaban Aizen, dia tahu kalau saat ini Aizen menangis bahagia tapi masih tidak mau mengakuinya.


__ADS_1


__ADS_2