
Selama beberapa bulan terakhir ini, Shanum hanya fokus dengan sekolahnya saja. Setelah mengetahui bahwa Adera sudah memiliki pacar, dia tak lagi menyimpan harapan apapun untuk pria itu.
Shanum pun sudah menjaga jarak dari Adera dengan berbagai cara yang dia lakukan, awalnya Adera terus bertanya-tanya mengapa Shanum seakan menghindar darinya. Dan Shanum dengan tegas menjawab bahwa dia hanya ingin fokus belajar saja.
Tanpa terasa waktu berlalu cukup cepat, Shanum telah di nyatakan lulus dari SMA nya. Dan dia tetap akan melanjutkan pendidikannya di Universitas Indonesia dengan mengambil jurusan fashion designer.
Seperti takdir yang mungkin sengaja terjadi, Shanum dan Adera kembali di pertemukan di hari pertama penerimaan mahasiswa baru UI. Padahal sudah cukup lama Shanum menjauh dan tidak melihatnya, dan sekarang rasa rindu itu kembali muncul.
" Hai, selamat ya sudah di terima di sini." Ucap Adera sambil menyodorkan tangan.
Sayangnya Shanum tidak menerima jabatan tangan dari Adera, dia hanya tersenyum simpul dan berkata.
" Sama-sama kak. "
" Kamu apa kabar.? " Tanya Adera lagi.
" Baik, " Jawab Shanum tanpa adanya umpan balik.
" Aku gabung sama teman-temanku dulu ya kak. " Sambung Shanum yang merasa sudah harus mengakhiri pertemuannya dengan Adera.
" Oh, iya. Have fun kalo gitu. " Balas Adera hanya bisa menatap kepergian Shanum saat itu.
Ketika Shanum baru saja beranjak, dia meihat seorang wanita cantik menghampiri Adera. Shanum memang belum pernah bertemu secara lamgsung dengan wanita itu, tapi dia mengenalinya. Dia adalah Gea, pacar Adera yang di katakan oleh Kikan waktu itu.
**
Sekitar pukul 4 sore Shanum baru saja selesai dengan kegiatannya sebagai mahasiswa baru, sudah waktunya untuk dia pulang ke rumah. Sore itu Shanum tidak di jemput oleh siapapun sebab dia ingin pulang sendiri dengan menggunakan jasa taksi online.
Di perjalanan menuju rumah, tiba-tiba saja dia ingin ke pantai untuk sekali lagi melihat sunset. Alhasil Shanum mmeminta supir taksi untuk merubah rute tujuan mereka.
Setibanya di pantai, Shanum akan selalu melepas sepatunya dan menjinjingnya dengan tangan. Kemudian dia mulai menelusuri bibir pantai dengan bertelanjang kaki, membiarkan air laut menyapu kedua kakinya yang sedang berjalan dengan santai.
Senja mulai menampakkan keindahannya, langit seketika berubah menjadi warna jingga yang cerah. Matahari perlahan masuk ke bumi bagian lain, dan Shanum berdiri diam menatap kepergian sang mentari.
Shanum menepi sejenak dan meletakkan sepatunya di atas pasir, kemudian kedua tangannya sibuk mencari ponsel untuk memotret pemandangan yang di lihatnya sekarang.
Shanum berhasil mengabadikan satu gambat senja yang terlihat begitu indah, kemudian dia terpikirkan untuk mengirimkan gambar itu pada seseorang.
Ya benar, dia adalah Adera. Alasan mengapa Shanum ingin mengirimkan gambar senja pada Adera adalah karena dia ingin benar-benar mengakhiri perasaannya pada Adera, dia ingin move on dari perasaan yang masih mengganggunya itu.
Dalam gambar yang di kirimnya untuk Adera, Shanum meninggalkan satu kalimat yang berbunyi.
" The sunset is beautiful, isn't it.? "
Katanya, kalimat yang barusan di kirim Shanum pada Adera adalah sebuah kalimat yang mengandung makna merelakan seseorang yang kita cintai untuk bahagia bersama yang lain.
Shanum yakin bahwa Adera tidak akan mengerti maksudnya, dengan begitu dia bisa mengatakan perpisahan tanpa harus mengatakannya dengan jelas.
" Semoga ke depannya kita nggak ketemu lagi ya kak. " Benak Shanum sambil tersenyum simpul.
Shanum pun menonaktifkan ponselnya kembali, dia ingin tetap berada di pantai sampai dirinya merasa puas. Orang-orang rumah pun sudah di beritahu sehingga tidak ada yang perlu khawatir tentang keberadaannya.
" Shanuuummm. " Teriak seseorang yang berhasil membuat Shanum menoleh dengan kaget.
Shanum tidak menyangka pada apa yang di lihatnya saat ini, sosok Adera yang muncul dengan keadaan tersengal-sengal berusaha mengatur nafasnya sebelum akhirnya menghampiri Shanum.
" Kak Dera ngapain disini.? " Tanya Shanum dengan penasaran.
" Akhirnya ketemu juga, maksud kamu apa.? " Adera menunjukkan foto yang di kirim oleh Shanum sebelumnya.
" Aku cuma mau kirim foto senja ke kak Dera aja. " Balas Shanum lirih.
" Kamu pikir aku nggak tahu artinya? Aku juga baca buku yang dulu kamu baca soal senja. Sekarang aku minta kejelasan dari foto ini, maksud kamu apa.? "
Shanum terlalu malu untuk menjelaskannya, dia bahkan sampai menoleh ke arah lain demi menghindari tatapan Adera yang sangat serius.
__ADS_1
" Kamu nggak benar-benar merelakan aku kan.?" Sahut Adera seketika membuat Shanum terkejut.
" Maksud kak Dera apa.?"
" Aku juga suka sama kamu Shanum." Ungkap Adera dengan tatapan yang sangat serius.
" Jangan bercanda kak, bagaimana dengan kak Gea.?" Balas Shanum.
" Gea? Kenapa kamu tiba-tiba sebut nama dia.?"
" Kak Gea pacarnya kak Dera kan.?"
" Kata siapa.?"
" Kak Kikan."
Adera terlihat frustasi mendengarnya, Shanum sendiri menatapnya bingung. Kemudian Adera menghubungi dua orang sekaligus yaitu Kikan dan Gea, kemudian saat panggilan berhasil terhubung, barulah Adera meminta kepada kedua wanita itu untuk menjelaskan kepada Shanum bahwa antara Adera dan Gea tidak ada hubungan apapun.
" Aku bercanda waktu itu, Gea dan Dera nggak ada hubungan apa-apa. " Sahut Kikan di seberang sana.
" Iya, aku sama Dera cuma temenan kok. " Sambung Gea.
Setelah semua jelas, Adera mengakhiri panggilan tersebut dan kembali menatap Shanum meminta tanggapannya lagi.
" Jadi ini alasan kamu menghindar? Selama ini kamu juga punya perasaan sama aku, tapi kamu diam dan memilih pergi setelah mendengar kebohongan Kikan.?" Tanya Adera.
Selama sepuluh bulan lamanya Shanum menjauhi Adera dan ternyata semua itu karena kebohongan Kikan, dan bodohnya lagi dia tidak mencaritahu kebenarannya lebih jelas lantaran takut dengan kenyataan yang akan dia terima.
" Kak Dera sendiri kenapa nggak pernah bilang kalau kak Dera juga suka sama aku ? Kan aku perempuan, mana mungkin mengungkapkannya duluan." Ketus Shanum.
" Munafik kalau aku bilang aku nggak suka sama kamu, sejak awal kamu sudah berhasil membuatku jatuh hati. Tapi sayang, aku sudah bukan anak remaja lagi, yang ingin memberi cinta hanya dari rayuan gombal. Karena ada satu hal yang pasti, bahwa kepastian seorang laki-laki ada pada harga dirinya. Jadi alasanku tidak mengatakannya, karena aku merasa ini bukan waktu yang tepat. "
" Saat kamu tiba-tiba menjauh, rasanya sangat menyedihkan. Aku nggak tahu harus berbuat apa, aku cuma bisa menunggu tapi penantianku berujung sia-sia. "
" Sekarang aku sudah tahu perasaan kamu, dan kamu juga sudah tahu perasaan aku. Jadi, kita jalani saja kedepannya. Kita harus lebih banyak mengenal satu sama lain sebelum menjalani hubungan yang serius, kamu mau kan.? " Tanya Adera yang setiap ucapannya membuat Shanum kesulitan untuk berkata-kata.
Tiba-tiba saja air mata Shanum mengalir di pelupuk matanya, tak ingin Adera melihatnya menangis lantas membuat Shanum langsung memutar tubuhnya menghadap belakang.
Shanum hanya menggelengkan kepala dengan pelan.
" Terus kenapa? Kalau kamu nggak jawab, aku nggak akan tahu. " Sahut Adera berusaha melihat wajah Shanum.
Kini Adera sudah berdiri di hadapan Shanum, dia melihat bagaimana gadis itu menangis di hadapannya.
" Kamu jangan nangis. " Ucap Adera merasa tidak enak padanya.
" Aku nangis bahagia kak, ku pikir perasaanku ini hanya sepihak. Ternyata kak Dera juga memiliki perasaan yang sama. " Ungkap Shanum terdengar pelan.
Adera kemudian tersenyum yang di sambut tawa yang membuat Shanum kebingungan.
" Kok ketawa.? " Tanya Shanum menatapnya penasaran.
" Soalnya kamu gemesin. " Balas Adera yang berhasil membuat Shanum akhirnya berhenti menangis.
" Yuk pulang, papa dan mama kamu pasti khawatir. " Ajak Adera yang kemudian di balas anggukan pelan dari Shanum.
**
4 Tahun Kemudian
Di bawah sebuah pohon rindang yang menyimpan cukup banyak kenangan, seorang pria baru saja datang dengan potongan rambut yang sangat rapih dengan pakaian yang membuatnya tampak sangat mempesona.
Tampak di sebelah pohon yang rindang itu tengah berdiri seseorang yang sudah di nantinya sejak dulu, seorang gadis cantik yang sedang menunggunya dengan sabar.
" Kayaknya aku gagal romantis. " Sahut Lingga yang membuat gadis itu menoleh dengan senyum yang merekah.
" Aku datang lebih awal, soalnya nggak sabar mau ketemu kamu. " Jawab Sabrina.
__ADS_1
Sudah empat tahun lamanya mereka berpisah, dan sekarang adalah waktunya mereka menepati janji yang telah lama mereka buat.
Di bawah pohon itu terdapat surat masa depan yang waktu itu mereka tulis. Dan sekarang adalah waktunya untuk membaca isi surat tersebut.
" Sudah siap.? " Tanya Lingga melirik Sabrina ketika dia sudah berhasil menggali tempat surat itu di kubur.
" Siap. " Jawab Sabrina mantap.
Surat itu sudah terlihat sangat usang, namun tulisan di atasnya masih dapat terbaca. Lingga membaca surat yang di tulis oleh Sabrina, begitu pun dengan Sabrina yang membaca surat dari Lingga.
From Sabrina to Lingga :
Hi ganteng, kalau kamu udah baca tulisan ini artinya janji kita waktu itu sudah di tepati. Dan sekarang aku cuma mau bilang, perasaan aku ke kamu nggak pernah berubah. Kamu akan selalu menjadi my favorite person di hidup aku, terima kasih karena sudah membuat janji untuk kembali bertemu di tempat ini.
Jadi sekarang kita ini apa.?
Lingga to Sabrina
Maaf ya, maaf kalau aku telat suka sama kamu. Aku terlalu bodoh dan mengulur-ulur waktu sampai akhirnya kamu pergi. Tapi sekarang aku sudah memutuskan untuk menyukaimu hari ini dan seterusnya, biar surat ini yang menjadi bukti perasaan aku ke kamu.
Dan juga, kamu sudah berhasil menjadi diri kamu sendiri yang ku sukai. Dulu aku pernah bilang kalau kamu harus kaya mamaku, tapi ku pikir itu nggak perlu. Soalnya aku lebih suka kamu yang menjadi diri kamu apa adanya.
Kalau kamu udah baca surat ini, kamu mau kan jadi pacarku?
Lingga dan Sabrina saling menatap satu sama lain, keduanya tersenyum yang kemudian tertawa penuh makna. Hubungan mereka sudah bisa di mulai sekarang, keduanya sudah cukup dewasa untuk memikirkan hubungan seperti apa yang akan mereka jalani.
" I will always love you unconditionally. " Ucap Lingga sambil mengusap lembut pipi Sabrina.
" Aku juga, love you as always Ga. " Balas Sabrina denagn senyum yang merekah di bibirnya.
**
Awal pernikahan Jingga dan Arkana dapat di katakan sebagai sebuah cobaan yang begitu berat, Jingga yang kehilangan sosok Nawa dan mengikhlaskan kepergian pria itu dengan menikahi pria lain.
Jingga tahu dia bisa saja mengakhiri semuanya di akhir, dengan sikap Arkana yang mungkin orang lain tidak akan sanggup untuk menghadapinya. Tapi dia masih bertahan mendampingi Arkana sebagai sosok istri yang tangguh dan memiliki hati seputih salju, selalu melihat sisi baik seseorang saja.
Ia rela merawat, menjagai, dan tetap mengasihi suaminya yang sudah menyakiti dia, dan merusak perkawinan mereka. Dia sungguh adalah wanita yang luarbias, dan Arkana sangat beruntuk memiliki Jingga dalam hidupnya.
Jingga dan Arkana sudah menjadi pasangan setia sejak saat itu, kini dan nanti akan terus bersama dan biarkan waktu yang memisahkan mereka berdua. Dan benar apa kata orang, bukan anak-anak yang menemani ketika tua, tapi pasangan.
Sudah empat puluh tahun sejak mereka menikah, ketiga anaknya sudah menikah dengan pilihan mereka masing-masing tanpa ada campur tangan dari keduanya. Karena Jingga dan Arkana ingin kehidupan pernikahan anak-anak mereka haruslah mereka yang menentukan, orang tua hanya boleh memberikan restu saja.
Sejak Papa Hendra dan Mama Widya meninggal dunia karena sakit, Arkana dan Jingga kembali ke Singapura untuk menikmati masa tua berdua. Meski begitu, setiap tiga bulan sekali anak-anak, menantu, dan cucu mereka akan datang berkunjung ke rumah.
Arkana baru saja menghampiri Jingga sambil memakaikan sweeter pada istrinya yang sudah cukup berumur itu, dan Jingga melirik Arkana dengan senyuman yang menurut Arkana tidak pernah berubah sejak awal.
" Diluar dingin, kamu kenapa berdiri disini.? " Tanya Arkana.
" Aku nggak sabar besok cepat tiba, anak-anak akan datang ke rumah. Kita semua akan berkumpul lagi. " Jawab Jingga lirih.
" Benar juga, sudah lama kita tidak kumpul lengkap. " Ujar Arkana.
Arkana kemudian menarik lembut tangan Jingga untuk duduk di atas sofa, setelah itu Arkana meraih tangan Jingga dan menggenggamnya dengan lembut.
" Aku sudah menepati janjiku untuk selalu bersamamu, menjagamu, dan membuatmu bahagia. Apa sekarang kamu senang dan merasa cukup dengan semua itu.? " Tanya Arkana lirih.
" Tentu saja, aku sangat, sangat, sangat bersyukur dan bahagia dengan semua kebahagiaan yang kamu berikan selama ini. " Jawab Jingga dengan senyum yang merekah.
" Umur kita sekarang sudah tidak muda lagi, jika suatu saat di antara kita ada yang pergi terlebih dulu, aku mau itu adalah aku. " Ucap Arkana seketika membuat Jingga terkejut.
" Kenapa ngomong gitu? Aku nggak mau kehilangan kamu. " Balas Jingga sedikit kesal.
" Aku hanya nggak mau terluka, jadi semoga yang pergi duluan nanti itu aku dulu, biar aku tunggu kamu di surga. " Sambung Arkana.
" Kita harus sama-sama ke surga, aku mau hidup dengan kamu lagi, karena aku sudah janji sejak awal. Kamu adalah pria yang akan selalu ku pilih untuk menemani hidup dan matiku." Ungkap Jingga yang kali ini justru berhasil membuat Arkana terharu.
" Aku mencintaimu, Jingga." Ucap Arkana sambil memeluk lembut tubuh istrinya itu.
__ADS_1
" Aku juga, aku mencintaimu mas Arka." Balas Jingga ikut membalas pelukan hangat dari suaminya itu.