
Pemeriksaan telah selesai di lakukan, Jingga juga sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Para dokter masih belum bisa memutuskan apakah harus melakukan operasi Caesar dengan keadaan Jingga yang sekarang, jadi mereka akan menunggu sampai Jingga siuman baru menentukan keputusan mereka ke depannya.
Arkana masih setia menemani Jingga seperti janjinya barusan, dia bahkan tidak melepaskan tangan Jingga barang sedetik pun. Bima dan Zara baru saja memasuki ruangan itu, keduanya masih belum meninggalkan rumah sakit karena merasa khawatir dengan kondisi Jingga.
“ Ar, kamu yang kuat ya. Jingga pasti baik-baik aja, dia wanita yang kuat dan pasti bisa melewati semua ini.” Ucap Zara lirih.
“ Sebentar lagi kamu akan jadi papa muda, jangan terlihat sedih seperti itu.” Sambung Bima sambil menepuk pundak Arkana pelan.
“ Terima kasih karena sudah menolong Jingga, aku nggak tahu gimana jadinya kalau nggak ada kalian. Jujur saat kak Zara bilang kalau Jingga mengalami kontraksi disitu aku langsung ngeblank dan nggak tahu harus ngapain saking paniknya.” Ungkap Arkana.
“ Santai aja, kita kan keluarga. Jadi jangan ada rasa nggak enak begitu.” Lontar Bima sambil tersenyum simpul.
Bima dan Zara pun pamit undur diri begitu mereka selesai melihat keadaan Jingga, sekarang hanya ada Arkana di ruangan itu dan dia sedang menatap wajah Jingga yang terlihat begitu pucat sambil berkata.
“ Sekarang aku hanya punya kamu, jadi jangan pernah tinggalin aku ya. Aku janji, selama kamu disini aku nggak akan pernah pergi, aku janji sama kamu.”
**
Wanita itu mulai membuka kedua matanya secara perlahan, kemudian dia menggerakkan pupil matanya ke kanan dan ke kiri. Hingga akhirnya dia bisa melihat sesosok pria di sampingnya dengan ekspresi penuh khawatir.
“ Mas, kamu disini.” Ucap Jingga parau.
“ Aku senang banget akhirnya kamu udah sadar, gimana perasaan kamu? Apa masih ada yang sakit?” Tanya Arkana pelan-pelan.
“ Nggak ada yang sakit mas.” Jawabnya pelan.
“ Tetap aja, kita harus periksa lagi. Aku panggil dokter sebentar.” Lanjut Arkana segera keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Ketika Arkana keluar, Jingga mencoba mengingat apa yang telah terjadi kepadanya. Perlahan namun pasti dia mulai ingat, saat di rumah tadi dia merasakan sakit perut yang teramat sangat sakit. Dia juga merasakan basah di bagian bawahnya, tapi sekarang semua itu sudah tidak ada lagi dan dia merasa baik-baik saja sekarang.
“ Nak, kamu sabar yaa. Belum waktunya kamu keluar, tunggu sedikit lagi saja.” Ucap Jingga sambil menyentuh perutnya dengan penuh kelembutan.
Tak lama setelah itu Arkana pun datang bersama dokter Nala, kemudian beliau langsung memeriksa keadaan Jingga. Terlihat Arkana yang berdiri di sisi lain tempat tidur Jingga sambil menatap wajah istrinya dengan rasa khawatir.
Beberapa pertanyaan di lontarkan oleh dokter Nala kepada Jingga, dan Jingga menjawabnya dengan sangat baik. Setelah itu dokter Nala menjelaskan bahwa kontraksi yang sempat di alami oleh Jingga adalah kontraksi palsu, dan pendarahan yang di alaminya memang cukup berbahaya jika tidak segera di larikan ke rumah sakit.
Semua telah teratasi dengan baik oleh para dokter, meskipun sekarang Jingga tidak merasakan kontraksi lagi tidak menutup kemungkinan satu atau dua jam dia akan kembali merasakannya.
Untuk itu dokter Nala menyarankan agar Jingga di rawat untuk sementara waktu, dan tak ada pilihan lain lagi selain mengiyakannya. Arkana pun mengucapkan rasa terima kasihnya kepada dokter Nala atas bantuannya selama ini.
**
Jingga baru saja membuka kedua matanya saat mendengar suara ketukan pintu, dia melihat kehadiran mama Widya saat ini yang membuatnya langsung segera duduk di tempat tidurnya.
“ Jangan duduk, kamu berbaring aja.” Kata mama Widya sambil membantu Jingga untuk kembali membaringkan tubuhnya.
“ Dimana Arkana.?” Tanya mama Widya.
“ Mas Arka lagi menemui dokter Zakir ma.” Jawabnya lirih.
“ Mama kaget waktu dengar kamu udah mulai kontraksi, jadi mama cepat-cepat menyelesaikan urusan kantor dan datang menemui kamu disini.”
“ Mama tahu dari mana aku masuk rumah sakit.?”
“ Dari Bima, dia yang kasih tahu mama kalau kamu mengalami kontraksi dan dilarikan ke rumah sakit.”
“ Kata dokter hanya kontraksi palsu, usia kandungannya baru berusia 35 minggu. Masih ada sekitar dua minggu lagi sampai waktu lahiran tiba.”
__ADS_1
“ Gimana keadaan kamu? Arkana nggak pernah jahatin kamu lagi kan.?”
“ Aku baik kok ma, mas Arka baik banget dan perhatian sama aku.”
“ Arkana sudah banyak menimbulkan masalah akhir-akhir ini, jadi mama pikir kondisi kamu ngedrop itu karena ulah dia.”
“ Maksud mama apa.?”
“ Loh, kamu nggak tahu ada banyak masalah di rumah sakit karena Arkana.?”
Jingga menggelengkan kepalanya dengan pelan, dia sama sekali tidak mengerti apa yang di maksud oleh mama Widya. Tapi dia sudah curiga sebelumnya, dari sikap Arkana yang sangat berhati-hati dan saat dimana dia sibuk sampai tidak pernah memberitahu soal kesibukannya waktu itu.
**
Arkana baru saja keluar dari ruangan dokter Zakir, wajahnya terlihat pucat dan tidak bersemangat. Semua itu karena dia telah mendengar penjelasan dokter Zakir tentang kesehatan jantung Jingga, ada banyak resiko yang di alami Jingga di akhir-akhir persalinannya nanti.
Dan semua resiko tersebut sebisa mungkin harus di atasi sebelum terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Hanya memikirkannya saja sudah membuat Arkana merasa ketakutan, dia tidak bisa berpikir dengan jernih untuk sementara waktu.
“ Dokter.” Suara itu berhasil membuat Arkana menoleh.
Ada beberapa perawat yang bekerja di departemen tempat Arkana dulu bekerja, mereka semua menghampiri Arkana dengan ekspresi yang membuat Arkana kebingungan.
“ Dokter, kami minta maaf atas sikap kami selama ini. Jujur, selama dokter nggak ada kami merasa kerepotan. Kami butuh dokter Arka buat kembali praktik di rumah sakit ini, dan soal rumor waktu itu. Kami percaya sepenuhnya sama dokter, kami nggak pernah berpikir kalau dokter adalah suami yang jahat. Untuk itu kami minta maaf, jadi tolong untuk kembali dok.” Mereka semua kompak menundukkan kepala di hadapan Arkana, hal itu sampai membuat Arkana semakin kebingungan di buatnya.
“ Angkat kepala kalian, jangan bersikap seperti ini.” Sahut Arkana menyuruh mereka satu persatu untuk kembali berdiri tegap.
“ Saya minta maaf sebelumnya, tapi saya sudah memutuskan untuk meninggalkan rumah sakit. Saya yakin kalian bisa mengatasi semuanya dengan dokter baru, kalian semua kan perawat hebat di departemen kalian.”
Semua perawat itu merasa terharu bahkan menangis mendengar kata-kata Arkana barusan, dan sekali lagi mereka mengucapkan terima kasih kepada Arkana atas jasa-jasanya selama ini.
__ADS_1
Arkana merasa ada yang lain dari perasaan ini sebelumnya, dulu dia sangat haus akan pujian dari semua orang hingga selalu berpura-pura dalam melakukan segala sesuatu. Namun ternyata bersikap apa adanya dan lebih jujur jauh lebih menyenangkan, satu pelajaran hidup yang telah Arkana peroleh meskipun sedikit terlambat.