Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Bima Adalah Nawa


__ADS_3


“ Siapa Nawa yang kalian sebutkan barusan.?” Tanya Arkana.


“ Kamu nggak tahu Nawa siapa.?” Lontar papa Aidan pada Arkana.


Zara langsung angkat bicara saat itu, dia mengatakan seolah-olah Revan salah menyebut nama sebelumnya. Namun Arkana tidak bodoh, sejak awal dia sudah merasa curiga namun hari ini semuanya kembali mengembalikan rasa penasarannya.


“ Kak Zara, sudah cukup. Aku ingin tahu yang sebenarnya, siapa Nawa yang kalian maksud barusan.?” Tanya Arkana terdengar sangat serius.


“ Nawa itu Bima.” Jawab papa Aidan sontak membuat Arkana terkejut bukan main.


Nawa yang di sebutkan oleh mereka tak mungkin adalah Nawa yang dulu pernah bersama Jingga kan? Arkana tidak ingin percaya bahwa Nawa yang di maksud benar adalah Bima, ketakutannya akan hal itu juga kembali merasukinya.


“ Nggak mungkin dia kan? Nawa yang itu sudah meninggal kan? Tapi kenapa, kenapa ini menjadi sangat jelas.?” Arkana terlihat tidak baik-baik saja sekarang, sehingga membuat semuanya cemas dan menghampirinya.


“ Kamu nggak apa-apa kan? Memangnya kenapa dengan Nawa, maksud papa, Bima.”


“ Sejak kapan Bima mengganti namanya menjadi Nawa.?” Tanya Arkana.


“ Kenapa kamu menanyakan hal itu.?”


“ Sejak kapan pa? aku perlu tahu, ini penting.”


“ Sejak dia SMA, Bima mengalami banyak masalah di sekolahnya sampai dia sering di DO dari sekolah, dan akhirnya kami sepakat mengubah nama dan identitasnya agar bisa melanjutkan sekolahnya.” Jawab papa Aidan.


“ Dimana terakhir kali dia sekolah.?”


“ Jakarta Internasional high school.”


“ Lulusan tahun berapa.?”

__ADS_1


“ Seharusnya dia sudah lulus di tahun 2005 tapi karena masalah yang terus dia perbuat akhirnya dia harus lulus di tahun 2010.”


Semua sudah jelas bahwa Bima adalah Nawa yang pernah menjadi bagian dari hidupnya, saking syoknya Arkana sampai tidak bisa berkata-kata lagi. Dia melirik Zara yang tampak kebingungan seperti sudah tahu dengan jelas bahwa hal ini tidak boleh sampai terbongkar.


“ Tahun lalu, apa dia pernah mengalami kecelakaan.?” Tanya Arkana yang ingin mengetahuinya lebih banyak.


“ Bima tidak pernah mengalami kecelakaan.” Jawab papa Aidan yang membuat Arkana semakin bingung.


“ Kalian nggak bohong kan.?” Arkana menatap mereka satu persatu dengan penasaran.


“ Sebenarnya tiga tahun yang lalu Bima sudah lama meninggalkan rumah, dia hidup sendirian di Jakarta. Dia benar-benar menutup diri dari siapa pun kecuali Zara, dan dari Zara kami bisa mengetahui kabar dari Bima.”


“ Kak Zara, tolong jawab. Apa tahun lalu Bima mengalami kecelakaan? Kasih tahu aku kak, ku mohon.” Pinta Arkana dengan sangat.


“ Sebenarnya ada apa ini? kenapa jadi kaya gini sih.?” Tanya papa Aidan yang masih belum mengerti dengan situasi yang di buat oleh Arkana.


“ Kita bicara diluar, ada sesuatu yang hanya aku dan kamu aja yang boleh tahu.” Ajak Zara menarik tangan Arkana.


“ Zara.” Panggil papa Aidan.


**


“ Sekarang jelasin semuanya kak, jangan ada yang di tutup-tutupi lagi. Ini sudah jelas kalau kak Zara tahu semua tentang Bima itu Nawa yang dulu dekat dengan Jingga.” Ucap Arkana ketika mereka sudah berada diluar lagi.


“ Benar, Bima itu adalah Nawa masa lalunya Jingga. Ceritanya sangat panjang kenapa dia bisa menghilang dan kembali dengan kebohongan yang dia rencanakan sekarang.” Jawab Zara akhirnya.


“ Nawa yang dulu hampir menikah dengan Jingga mengalami kecelakaan dan meninggal, kalau itu bukan Nawa lalu siapa yang meninggal itu.?” Tanya Arkana penasaran.


“ Aku tidak tahu soal kecelakaan itu, Bima meninggalkan rumah selama tiga tahun. Aku sibuk dengan pekerjaanku sampai aku tidak pernah memperhatikannya lagi, tapi waktu itu aku di telpon pihak rumah sakit karena dia masuk rumah sakit. Tapi bukan karena kecelakaan, dia hanya sakit biasa.”


“ Kau harus tahu Ar, kalau sebenarnya Bima di rumah ini lebih pendiam dan tertutup, bahkan aku yang selalu mendapat kabar tentangnya pun masih penasaran dengan dirinya yang sekarang.” Lanjut Zara kemudian.

__ADS_1


“ Ini menyebalkan, dia bohong dengan semua ini.” Arkana mengepal kedua tangannya mengingat bagaimana Bima yang dulu selalu ingin melihat Jingga.


Rasa marah dan cemburu menjadi satu yang membuatnya semakin kacau, belum selesai kasus pencarian Jingga dan sekarang dia di hadapi dengan kenyataan yang menyakitkan ini.


Arkana lebih takut bahwa Bima mengaku pada Jingga bahwa dia adalah Nawa, dan perasaan Jingga kepada Nawa akan kembali sehingga melupakan dirinya yang sekarang.


“ Tapi kamu jangan khawatir Ar, Bima yang sekarang tidak akan merebut Jingga dari kamu. Dia bilang ke aku kalau kebahagiaan kamu jauh lebih penting, dan itu artinya dia mengikhlaskan kamu dengan Jingga untuk tetap bersama.” Kata Zara sekali lagi setelah melihat ekspresi putus asa di wajah Arkana.


“ Kak Zara nggak akan pernah ngerti, mungkin Bima bisa melupakan Jingga, tapi bagaimana dengan Jingga? Aku dan Jingga memiliki masa lalu yang cukup buruk, aku sangat takut sekarang.”


“ Jangan beprikir seperti itu, sekarang kita lebih fokus mencari Jingga saja. Karena sekarang kamu sudah mengetahuinya, tolong jangan bertengkar dengan Bima ya. “


“ Aku nggak yakin soal itu kak, aku nggak bisa menjamin apapun kalau aku sampai ketemu sama dia.”


**


Pria itu terlihat menatap dirinya di depan cermin sambil memasang jas berwarna hitam di tubuhnya, dia menatap wajahnya lama dengan tatapan sayu sambil mengingat sesuatu yang mengganggunya sejak kemarin.


Suara pecahan kaca baru saja terdengar yang membuat Bima langsung menoleh, karena panik dia pun beranjak keluar dari kamarnya. Bima terus berlari sampai akhirnya dia tiba di kamar mamanya.


“ Mama.” Sahut Bima yang langsung menghampiri mamanya dan menahan wanita itu untuk tidak merusak semua barang yang ada di dalam kamarnya.


“ Lepasin mama.” Berontak mama Widya namun tak membuat Bima melepaskannya.


Bima yang memiliki kekuatan lebih besar akhirnya berhasil membawa mamanya dari kamar, kini mereka berada di satu ruangan di sebelah kamar mamanya. Bima menyuruh bi Ijah untuk membawakan air dan memberikannya kepada mama Widya.


“ Mama jangan begini, kalau ada masalah jangan melampiaskannya dengan cara seperti ini.” Ucap Bima sambil menggenggam kedua tangan mamanya.


“ Mama nggak mau ada perceraian lagi, mama nggak mau sendirian.” Isak mama Widya.


“ Kalau mama memang nggak mau berpisah sama om Hendra, seharusnya mama berubah, bukan bersikap seperti ini. Masih belum terlambat, kalau mama bisa berubah pasti om Hendra bisa memahami mama dan perceraian ini nggak akan berakhir.”

__ADS_1


Mama Widya menangis sesegukan di hadapan Bima, untuk menenangkan mamanya Bima pun meraih mama Widya ke dalam pelukannya. Keberadaan Bima seakan menjadi obat terbaik untuk mama Widya, setelah beberapa saat menenangkannya kini mama Widya sudah tidak se emosi barusan.



__ADS_2