
Kabar kehilangan Jingga sudah menyebar di rumah sakit, banyak yang berspekulasi bahwa Jingga melarikan diri dari Arkana sesuai perjanjian yang dulu mereka buat.
Nampaknya masih ada beberapa dari mereka yang mempercayai rekaman yang tersebar waktu itu, perjanjian Arkana dan Jingga yang akan bercerai setelah putra mereka lahir.
Mendengar kabar tersebut, mama Widya langsung pulang ke Jakarta menemui Arkana yang sudah menunggunya sejak tadi. Mama Widya datang bersama Bima sore itu, dan mereka semua berkumpul di ruang direktur utama.
“ Apa yang sudah terjadi? kenapa Jingga bisa menghilang.?” Tanya mama Widya.
“ Ini pasti karena kamu kan, dia pergi karena kamu nggak becus jadi suami.” Sambung mama Widya menyalahkan Arkana.
Arkana menggebrak meja dengan sangat keras dan mulai melirik mamanya dengan tatapan yang tajam, Arkana kemudian berdiri dari tempatnya dan mulai menghampiri mamanya.
“ Jingga nggak akan pergi dari aku dan Keenan, dia sudah janji kalau kita bertiga akan hidup bahagia. Justru sekarang aku curiga sama mama, pasti mama kan yang udah bawa Jingga pergi dari sini.” Lontar Arkana menatap kedua mata mamanya dengan penuh percaya diri.
“ Kamu tuduh mama yang melakukannya.?”
“ Yang punya kekuasaan disini hanya mama, dan mama satu-satunya orang yang ingin menyingkirkan Jingga dari kehidupanku selama ini.”
“ Jaga ucapan kamu Ar, mama nggak pernah berpikir untuk melakukan itu.”
“ Kalau begitu buktikan, buat Arkana percaya kalau bukan mama yang melakukannya.”
Suasana di ruangan itu menjadi sangat serius, semua mata tertuju pada mama Widya. Kemudian wanita itu langsung menyentuh kepalanya yang terasa sakit dan hampir terhuyung ke lantai.
“ Kamu nggak apa-apa.?” Tanya papa Hendra yang berusaha membantunya untuk duduk di atas sofa.
__ADS_1
“ Jawab ma, jangan berpura-pura sakit sekarang.” Sahut Arkana semakin kesal.
“ Ar, cukup. Kondisi mama sedang nggak baik sekarang, tunggu sampai tenang dulu.” Lontar Bima.
“ Aku nggak bisa tenang, istriku nggak tahu kemana? Dia sedang sakit, anakku pun masih membutuhkannya. Kalian semua egois, ini benar-benar membuatku muak.” Arkana menundukkan kepalanya sambil mengepal kedua tangannya dengan kuat.
“ Terserah, aku nggak butuh penjelasan apapun lagi. Aku akan cari tahu semuanya sendiri, kalau kalian memang tidak bisa membantu tidak apa-apa. Tapi kalau aku sampai tahu kalau ternyata semua ini adalah ulah mama, aku nggak akan segan-segan ma. Tidak, kamu bahkan nggak pantas di panggil mama. Saya permisi, bu Widya Adyatama.” Ucap Arkana dengan penuh penekanan dan pergi dari ruangan itu.
**
Arkana kembali ke ruang ICU dan duduk di atas tempat tidur yang di tiduri oleh Jingga beberapa hari terakhir ini, dia menatap tempat tidur itu dengan tatapan sayu. Dia bahkan masih bisa membayangkan kehadiran Jingga disana, dan ternyata jauh lebih sakit melihat ketiadaan Jingga disana dari pada harus melihatnya berbaring tak sadarkan diri.
“ Kamu kemana? Kamu nggak kasihan sama aku dan Keenan? Kami sangat membutuhkan kamu sekarang, jangan pergi seperti ini.” Isak Arkana yang kembali menitihkan air matanya.
Selama sepuluh menit Arkana menangis sesegukan membayangkan nasibnya tanpa Jingga, sampai pada akhirnya dia teringat pada surat yang dia temukan di atas tempat tidur beberapa saat yang lalu.
Dear Mas Arka
Mas, aku sudah memutuskan keputusan terakhirku setelah melewati semua ini bersamamu. Aku berpikir bahwa kehidupanku dengan kamu tidak membuatku merasa bahagia, aku sering mendapatkan kesedihan dan rasa sakit itu buat kondisiku semakin memburuk, mungkin sekarang kamu sedang berusaha menjadi yang terbaik buat aku. Tapi nyatanya, kamu masih sama seperti mas Arka yang dulu, kasar dan pemarah, aku nggak bisa lihat kamu lebih dari itu. Sesuai perjanjian kita waktu itu mas, setelah anak kita lahir kita berdua akan berpisah. Dan aku ingin kita berpisah, kamu jaga anak kita dan tolong jangan cari aku. Jingga
Arkana merasa ada yang menusuk di dadanya, rasanya begitu sakit sampai tak tertahankan. Air matanya kembali mengalir, dia menangis seperti seseorang yang telah kehilangan belahan jiwanya.
“ Jangan pergi, kamu janji kalau kita akan hidup bersama terus. Kenapa kamu.., Jingga.., aku minta maaf, aku minta maaf, maafin aku hiks.”
**
Satu minggu telah berlalu sejak hari itu, kabar kehilangan Jingga masih sedang dalam penyelidikan oleh kepolisian. Bahkan sekarang mama Widya ikut membantu mencari Jingga dengan mengerahkan beberapa orang suruhannya, dia sempat ingin bertemu dengan Arkana dan menjelaskan kepadanya bahwa dia tidak terlibat dalam masalah ini. Tapi sayangnya Arkana tidak membiarkan siapapun masuk ke rumahnya, dia benar-benar menutup diri dari siapapun.
__ADS_1
Keenan masih harus mendapat pemantauan lebih dari ruamh sakit sehingga dia masih berada di rumah sakit, sementara Arkana selama seminggu ini masih berada di rumah dan mengurung diri di dalam kamarnya.
Bi Inah dan bi Salma sudah berusaha menghibur Arkana, namun sayangnya mereka juga tidak bisa melakukan hal tersebut. Makanan yang selalu mereka bawa untuk Arkana hanya di makan sedikit, tubuhnya sudah mulai kurus dan tak terawat akibat depresi berat kehilangan Jingga.
Kepergian Jingga membuat Arkana benar-benar kehilangan jati dirinya, dia memang tidak menyakiti siapapun dan memilih untuk mengurung diri seperti itu selama satu minggu terakhir.
Setiap hari dia melirik ponselnya berharap ada informasi yang dia dapat dari Jingga, namun sayangnya sampai sekarang pun tidak ada informasi apapun.
Sementara itu diluar rumah sudah ada Qania dan Diana yang datang untuk melihat kondisi Arkana, Diana yang dulunya sangat membenci Arkana merasa kasihan dan khawatir pada pria itu.
Baik Qania dan Diana pun sama-sama tidak percaya bahwa Jingga pergi meninggalkan Arkana, untuk itu mereka ingin menemui Arkana dan mengetahui apa yang di tinggalkan Jingga sebelum pergi.
Semua orang mengetahui bahwa Jingga hanya meninggalkan surat di ruang ICU sebelum pergi, tapi tidak ada yang tahu apa isi dari surat itu. Kedatangan keduanya di sambut oleh bi Salma saat itu, bi Salma mempersilahkan mereka untuk masuk meskipun tanpa persetujuan dari Arkana terlebih dulu.
“ Gimana keadaan Arkana bi.?” Tanya Qania.
“ Tuan nggak mau keluar kamar non, udah seminggu begitu terus.” Jawab bi Salma.
“ Dia mau makan nggak?”
“ Dikit non, dia lebih banyak minum air putih selama ini.”
“ Saya mau periksa keadaannya ya bi, dia mungkin seorang dokter tapi dia nggak bisa merawat dirinya sendiri dengan baik.”
“ Silahkan non, saya persilahkan walaupun tuan bilang jangan ada yang boleh masuk. Saya khawatir kalau dia begini terus.”
__ADS_1