
Qania sudah menunggu di dalam mobilnya sejak tadi, dia terus memantau mobil berwarna silver yang terparkir tepat di depannya. Bukan tanpa alasan dia menunggu berjam-jam seperti itu demi menunggu si pemilik mobil keluar.
Tok..tok..tok…
Seseorang diluar baru saja mengetuk jendela mobil Qania, melihat yang datang adalah Nisa lantas membuatnya langsung membuka kunci pintu mobilnya.
“ Ini data diri lengkap Tsania dok.” Ucap Nisa sambil menyerahkan resume milik Tsania yang di serahkan pada departemen bedah syaraf.
“ Sekarang ada apalagi dok? Kenapa tiba-tiba minta data diri anak itu.?” Tanya Nisa penasaran.
“ Tsania berani menuduhku selingkuh dengan Arkana, aku nggak tahu ada motif apa yang dia lakukan. Tapi sepertinya dia ingin membuat kondisi Jingga semakin memburuk.”
“ Kita harus kasih tahu dokter Arkana dok, biar dia kapok.”
“ Jangan, bisa bahaya kalau Arkana sampai tahu soal ini. Aku kenal sama Arkana, dia memang bisa menyelesaikan masalah ini dengan cepat tapi ada dampak yang lebih besar kalau Arkana yang menyelesaikannya.”
“ Jadi maksud dokter sekarang apa.?”
“ Aku mau cari tahu soal dia dulu, dan data diri ini sudah cukup buat aku tahu informasi tentang dia.”
“ Sebentar lagi pergantian shift, jadi dokter mau ngikutin dia nanti.?”
“ Iya, sekaligus aku mau bicara langsung sama dia.”
Perlahan namun pasti sosok Tsania keluar dari gedung rumah sakit, dan sekarang dia bergegas masuk ke dalam mobilnya. Nisa pun harus turun dari mobil Qania, dan sekarang tiba saatnya untuk Qania mengikuti pergerakan Tsania.
Di dalam resume data diri Tsania di sebutkan bahwa dia merupakan putri tunggal dari pasangan dokter yang bekerja di rumah sakit bakti husada. Ayahnya merupakan dokter spesialis jantung sedangkan ibunya merupakan dokter kandungan.
Mahasiswa koas dari universitas Indonesia memang akan melakukan magang di rumah sakit bintang harapan, itu artinya tidak ada niat aneh yang mungkin di pikirkan oleh Tsania.
Mungkin saja dia menyukai Arkana setelah dia bergabung menjadi mahasiswa koas disana, tak heran jika Tsania akan terpana oleh pesona Arkana yang tampan. Apalagi dia masih muda dan benih-benih cinta bisa saja timbul di lingkungan seperti itu.
“ Sial, aku kehilangan jejaknya.” Keluh Qania saat tidak lagi melihat mobil Tsania di depannya.
__ADS_1
“ Kalau begitu kita langsung ke rumahnya saja.” Qania melirik resume data diri Tsania dimana terdapat alamat rumah gadis itu.
**
Gadis itu telah selesai mandi dan berganti pakaian yang sederhana, dia hendak berbaring di atas tempat tidurnya hingga suara bel terdengar diluar sana. Tsania tidak tahu siapa yang datang di waktu ini, padahal ini adalah waktu untuk istirahatnya dan sama sekali tidak ingin menerima tamu.
Tsania mengabaikannya dan membiarkan suara bel itu terus berdering, karena dia tinggal sendirian tanpa ada pembantu alhasil dia pun lelah mendengarnya dan keluar untuk melihat siapa yang datang.
“ Siapa.?” Ucapnya saat pintu berhasil dia buka.
Tampak sosok Qania yang langsung masuk dan melihat-lihat keadaan ruang tamu Tsania, terlihat Tsania yang kaget dengan kedatangan Qania dan langsung masuk sebelum di persilahkan.
“ Aku tahu kamu tinggal sendirian, jadi langsung saja ku katakan tujuanku datang ke rumahmu.” Lontar Qania menatapnya dengan tatapan serius.
“ Apa maksud dokter.?” Tanya Tsania menatapnya bingung.
“ Kamu pikir aku nggak tahu semua yang kebohongan yang kamu katakan ke Jingga, kamu udah fitnah aku berselingkuh dengan Arkana. Aku bisa tuntut kamu ya karena fitnah palsu yang kamu sebar.” Kata Qania sambil berjalan mendekati Tsania sedangkan Tsania balas dengan melangkah mundur ke belakang.
Sudah tidak ada ruang baginya untuk mundur, dan sekarang Qania sudah berdiri tepat di hadapannya dengan tatapan yang penuh emosi.
“ Tapi memang benar kan kalau kalian berdua kembali dekat.” Balas Tsania.
“ Kenapa harus sama dokter Qania? Kan dokter lain banyak, dokter Arka bisa bertanya sama dokter Zakir bukannya kamu.”
“ Kamu emang cukup berani ya melawan senior kamu, belum jadi dokter aja udah begini gimana kalau nanti jadi dokter? Bintang harapan bakalan malu mendidik calon dokter dengan sikap yang tidak sopan seperti kamu.”
“ Dokter mending pergi dari rumahku, aku juga bisa laporin dokter ke polisi karena sudah masuk rumah orang tanpa izin.”
“ Tanpa kamu suruh pun aku akan pergi, tapi ingat. Ini peringatan terakhir buat kamu, kalau sampai aku dengar sesuatu yang lain. Siap-siap untuk angkat kaki dari rumah sakit.” Ancam Qania yang kemudian beralih meninggalkan rumah itu.
“ Baik, kita lihat saja siapa yang terlebih dulu keluar dari rumah sakit.” Gumam Tsania sambil menatap kepergian Qania dengan senyuman tipis.
**
Arkana baru saja menjatuhkan tubuhnya di samping Jingga, dia menarik tangan Jingga dengan lembut sambil menatapnya cukup lama. Si pemilik tangan melirik suaminya dengan bingung, sejak tadi Arkana lebih banyak diam dan belum mengatakan apapun.
__ADS_1
“ Maafin aku ya. Kemarin aku nggak bilang apa-apa ke kamu soal wajahku, sebenarnya aku nggak mau kasih tahu kamu biar kamu nggak kepikiran. Tapi ternyata aku salah, justru merahasiakannya akan semakin buat kamu kepikiran.”
“ Nggak apa-apa mas kalau memang kamu nggak bisa kasih tahu ke aku.”
“ Kemarin, aku sama Bima sedikit berdebat dan terjadi perkelahian kecil.” Ungkap Arkana seketika membuat Jingga terkejut.
“ Terima kasih karena kamu udah mau cerita ke aku, tapi kamu baik-baik aja kan.?” Tanya Jingga yang sekarang mengkhawatirkan Arkana.
“ Kamu khawatir sama aku.?” Arkana menatap Jingga tidak percaya.
“ Tentu saja, kamu kan suamiku.” Balas Jingga bingung dengan ekspresi yang di tunjukkan Arkana saat ini.
Arkana meraih Jingga ke dalam pelukannya, dia berpikir bahwa Jingga mungkin akan mengkhawatirkan Nawa, tapi ternyata dia salah. Arkana sangat senang sampai dia tidak mau melepaskan pelukan itu, kemudian Jingga meminta untuk melepaskannya karena kesulitan bernafas.
“ Mau jalan-jalan keluar.?” Ajak Arkana langsung di balas anggukan penuh semangat dari Jingga.
**
Jingga dan Arkana sedang berada di taman rumah sakit sore itu, Arkana duduk di bangku sedangkan Jingga di kursi roda. Hari-hari yang membosankan selama di rumah sakit membuat Jingga sangat senang dengan dirinya yang di ajak keluar mengirup udara segar oleh suaminya sendiri.
“ Kamu ingat nggak waktu itu aku sempat masuk rumah sakit, terus kita berdua duduk di taman seperti ini.” Sahut Jingga.
“ Kamu nggak usah ingetin aku masa lalu, aku jengkel sendiri kalau mengingatnya.” Balas Arkana memasang wajah cemberut.
“ Waktu itu meskipun hanya pura-pura, jujur aku senang.” Lontar Jingga seketika membuat perasaan Arkana menjadi lebih baik.
“ Mulai hari ini dan seterusnya, semua kenangan buruk yang pernah aku lakukan tolong jangan di ingatkan ya. Aku mau fokus dengan apa yang terjadi hari ini dan masa depan kita.” Pinta Arkana kemudian membuat Jingga tersenyum simpul.
“ Mas, aku mau tanya sesuatu boleh.?” Ucap Jingga sedikit berhati-hati.
“ Boleh dong, apapun boleh kamu tanyakan ke aku.” Jawab Arkana cepat.
“ Kamu masih cinta nggak sama Qania.?”
Ekspresi wajah Arkana mendadak berubah saat dia menengar pertanyaan Jingga, dia tidak menyangka kalau saat ini Jingga menanyakan hal seperti itu kepadanya.
__ADS_1
“ Untuk sekarang aku nggak bisa lihat wanita lain selain kamu, Qania itu masa lalu aku. Aku nggak akan kembali ke masa laluku, jadi percaya sama aku. Aku cinta sama kamu tulus dari lubuk hatiku, jangan pernah berpikir aku mencintai wanita lain selain kamu.” Ungkap Arkana yang entah mengapa membuat Jingga sangat terharu saat mendengarnya.