
Pagi keesokan harinya, Jingga terbangun lebih awal dan mendapati sosok Arkana yang masih tertidur dengan pulas sambil memeluknya tubuhnya. Hal itu sudah di lakukannya sejak semalam, Arkana seakan tak ingin melepaskan Jingga meskipun dia sedang tidur.
“ Mas, bangun. Kamu nggak kerja.?” Bisik Jingga tepat di telinga Arkana.
Perlahan namun pasti pria itu terlihat mulai menggeliat dalam tidurnya, kedua matanya terbuka dan mendapati sosok wanita cantik di hadapannya. Arkana tidak akan pernah merasa bosan melihat pemandangan seperti itu setiap hari, kemudian dia meraih wajah Jingga dan mengusap pipi istrinya dengan lembut.
“ Aku masih belum selesai cuti, kamu tidur lagi aja di samping aku.” Gumam Arkana.
“ Tapi kita nggak lagi di rumah kita mas, kita harus pergi dari rumah ini kan.?” Ujar Jingga sukses membuat kesadaran Arkana kembali sepenuhnya.
Arkana hampir lupa kalau dia tidak sedang berada di rumahnya sendiri, lantas dia bangkit dari tempat tidurnya dan bersiap-siap untuk pergi dari sana.
Begitu mereka berdua telah siap dan hendak meninggalkan rumah, tampaknya di rumah itu hanya ada papa Hendra saja karena mama Widya sudah berangkat ke perusahaan sementara Bima sudah pergi entah kemana sejak semalam.
“ Kalian sudah mau pulang ya.?” Tanya papa Hendra.
“ Iya pa, papa nggak apa-apa kami tinggal sendiri.?” Lontar Jingga.
“ Nggak apa-apa, lagipula papa mau ke rumah sakit sebentar lagi.” Jawab papa Hendra kemudian.
Jingga hampir tidak mengerti dengan posisi papa Hendra yang sebenarnya, dia bahkan bukan direktur utama yang asli tapi terkadang dia harus ke rumah sakit jika mama Widya sibuk dengan urusannya yang lain.
“ Ayo kita pergi.” Ajak Arkana menarik lengan Jingga.
“ Kamu harus pamit sama papa dulu.” Jingga menahan langkah Arkana untuk mereka bisa berpamitan dengan baik pada papa Hendra.
Arkana tidak begitu tertarik untuk melakukannya, namun karena permintaan Jingga dia pun mulai berpamitan dengan papa tirinya itu.
“ Papa senang melihat kalian berdua sudah akur, semoga kalian tetap seperti ini.” Ucap papa Hendra tersenyum tipis.
__ADS_1
Jingga ingat bahwa dia belum memberitahu papa Hendra tentang keputusannya yang telah berubah, terakhir kali dia bahkan memberitahu papa Hendra bahwa anak yang ada di dalam kandungannya itu bukanlah anak Arkana.
Jingga kemudian menyuruh Arkana untuk keluar lebih dulu, dia ingin bicara dengan papa Hendra hanya berdua saja. Dan Arkana kembali menuruti apa kata Jingga dengan pergi meninggalkan mereka berdua.
“ Pa, maafin aku. Waktu itu aku bohong kalau anak ini bukanlah anaknya mas Arka. Sebenarnya aku sengaja mengatakan hal itu supaya bisa terlepas dari keluarga ini, tapi karena sekarang mas Arka sudah berubah dan mau bertanggung jawab, aku pun harus merubah keputusanku sebelumnya.” Jelas Jingga kemudian.
“ Apapun keputusan kamu papa akan senang mendengarnya, dan juga papa mau berterima kasih karena kamu telah merubah Arkana menjadi lebih baik. Papa bisa melihat dia tidak seperti Arkana yang dulu papa kenal, kamu memang istri yang tepat untuk Arkana.”
“ Papa juga harus berusaha buat mama Widya berubah.” Ucap Jingga namun terlihat membuat ekspresi wajah papa Hendra mendadak berubah.
“ Kamu harus segera pergi, Arkana sudah menunggu diluar.” Papa Hendra seakan ingin mengakhiri percakapan dengan cepat dan menyuruh Jingga untuk segera keluar menemui Arkana.
“ Papa jaga diri ya, aku pamit dulu.” Seru Jingga perlahan meninggalkannya dengan perasaan cemas.
**
“ Kamu ngobrol soal apa sama papa.?” Tanya Arkana saat mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah.
“ Rahasia.” Jawab Jingga sambil tersenyum simpul.
“ Bukan begitu mas, ini memang nggak bisa aku kasih tahu ke kamu. Pokoknya bukan hal yang aneh, jadi jangan di pikirin.”
“ Gimana bisa aku nggak pikirin, istriku diam-diam ngobrol sama papa tiriku? Aku penasaran tahu kalian bahas apa.”
Jingga langsung mengecup pipi Arkana untuk membuatnya berhenti merajuk, aksi Jingga itu cukup membuat Arkana terkejut sampai hampir kehilangan konstentrasi dalam menyetir.
“ Oh iya mas, aku penasaran dengan sesuatu. Aku pikir akan lebih baik kalau kamu yang memberitahuku, selama ini aku hanya tahu dari orang-orang dan bukan dari yang bersangkutan. Kamu keberatan nggak kalau kamu cerita masa lalu kamu sama aku.?” Tanya Jingga sontak membuat Arkana tidak bisa berkata-kata banyak.
**
Arkana belum berani menceritakan kisahnya langsung pada Jingga sejak hari itu, kehidupan kembali berjalan seperti biasanya. Arkana akan pergi kerja dan Jingga menunggu di rumah, kondisi Jingga saat ini sudah cukup membaik dan boleh untuk melakukan berbagai macam aktifitas lainnya.
__ADS_1
Merasa bosan terus berada di rumah, Jingga pun meminta izin pada Arkana untuk pergi menemui Diana. Dia juga akan menyempatkan sedikit waktu untuk bertemu Erwin dan mengecek keadaan butiknya yang dalam proses pembangunan.
Untungnya Arkana memberikan izin kepada Jingga untuk bisa pergi keluar, meskipun nanti ketika dia hendak pulang harus Arkana yang menjemputnya.
Dan karena sudah mendapat izin dari Arkana, Jingga pun sudah siap untuk pergi menemui Diana. Ketika dia baru saja keluar dari pintu rumah, sosok yang tak terduga muncul dengan senyum yang merekah di bibirnya.
“ Mas Bima ngapain kesini.?” Tanya Jingga bingung.
“ Aku sengaja datang kesini buat ketemu sama kamu.” Jawabnya semakin membuat Jingga kebingungan.
“ Kamu mau keluar ya? Mau kemana.?” Tanya Bima yang baru sadar dengan penampilan Jingga yang cukup rapih hari ini.
“ Aku masih penasaran dengan sesuatu, apa sebaiknya aku membawa mas Bima ketemu sama Diana? Pasti Diana juga akan berpikir kalau dia dan Nawa sangatlah mirip.” Benak Jingga terus menatap wajah Bima.
“ Halo? Kamu nggak dengar aku ya.?” Sahut Bima berhasil membuat lamunan Jingga buyar.
“ Mas Bima ada urusan apa ketemu sama aku? Aku mau ke rumah temanku, kebetulan aku belum pesan taksi jadi mas Bima bisa sekalian antar aku kesana. Kalau boleh, kita bisa membahasnya di perjalanan, gimana.?”
“ Boleh, silahkan naik ke mobil.”
Saat ini Jingga dan Bima sudah berada di dalam mobil pria itu, sejak tadi Jingga terus memperhatikan Bima secara diam-diam dan setiap kali dia melihatnya kenangan bersama Nawa pun selalu muncul.
“ Dia sangat mirip, tidak ada satu perbedaan yang terlihat dari wajahnya.” Benak Jingga sambil mengepal kedua tangannya.
“ Kenapa lihatin aku terus kaya gitu? Kamu berpikir kalau aku mirip sama pria yang bernama Nawa itu lagi ya.?”
“ Nggak kok, aku nggak lihat mas Bima.”
“ Sebenarnya tujuanku menemuimu untuk menanyakan soal Nawa.”
Jingga menoleh dengan tatapan yang terkejut, dia bingung kenapa Bima tiba-tiba datang menemuinya hanya untuk membahas soal Nawa.
__ADS_1
“ Maksud mas Bima apa.?” Tanya Jingga penasaran.