
Jingga sudah tiba di Grand ballroom balai Kartini untuk seminar yang akan dia hadiri bersama Arkana hari ini, namun Jingga tiba lebih dulu di tempat itu karena Arkana tiba-tiba mendapat panggilan darurat di rumah sakit.
Wanita itu menunggu di lobby sambil mengecek ponselnya sesekali, dia masih belum mendapat jawaban dari Arkana lagi. Namun dia tahu kalau Arkana hanya pergi untuk mengecek pasiennya saja, dan mungkin itu tidak akan memakan waktu yang lama.
“ Jingga.” Panggil seseorang yang membuatnya menoleh dengan cepat.
“ Gilang.”
“ Kamu datang sendiri? Suami kamu mana?”
“ Dia masih di rumah sakit, tapi dia pasti datang kok.”
“ Bagus deh, aku siapin seminar ini buat suami kamu. Jadi dia harus hadir, dan aku harap dia bisa mengikuti acara ini dengan baik.”
Gilang pun harus segera masuk ke dalam setelah selesai bertemu dengan Jingga, setelah itu Jingga kembali menghubungi Arkana untuk memastikan apakah dia benar-benar akan datang atau tidak.
Panggilan Jingga tidak di jawab sama sekali oleh Arkana, hal ini semakin membuatnya khawatir bahwa pria itu tidak bisa hadir. Acara sebentar lagi akan di mulai, suara panggilan seorang MC dari dalam terdengar sedang mengetes sound sistem sebelum acaranya benar-benar di mulai.
Seorang pria berlari ke arah Jingga dengan nafas yang terengah-engah, senyuman manis terlihat di wajahnya saat ini. Terlebih lagi ketika pria itu sudah berdiri di hadapannya, melihat Arkana yang akhirnya datang menepati janji membuat Jingga sangat senang.
“ Jalanan macet, jadi agak telat.” Ucapnya lirih.
“ Nggak telat kok, acaranya baru mau mulai.” Balas Jingga.
**
Spanduk dengan tulisan SEMINAR NASIONAL INNER CHILD : SOSOK KECIL YANG TERABAIKAN terpampang sangat jelas di atas sana, Jingga dan Arkana baru saja duduk di kursi barisan kedua denga santai.
__ADS_1
Pandangan Arkana tertuju pada spanduk yang ada di atas sana, Jingga menyadarinya dan mulai berpikir bahwa Arkana mungkin menyadari sesuatu bahwa tema ini menyangkut tentang dirinya.
Acara pun dimulai dengan sambutan-sambutan dari beberapa juru bicara termasuk Gilang yang merupakan juru bicara utama di acara ini. Selama pembukaan baik Arkana dan Jingga terlihat menyaksikannya dengan seksama, dan setelah beberapa saat inti dari acara tersebut pun di bahas.
“ Apa sih itu Inner child? Jadi, inner child adalah si kecil dalam diri kita yang berhubungan dengan pengalaman masa kecil kita semua.” Gilang membuka pemabahasan pertama yang membuat Jingga langsung melirik Arkana.
Gilang baru saja menyebutkan mengapa Inner child pada diri seseorang bisa mempengaruhi kehidupan seseorang setelah beranjak dewasa, dan saat membahas hal itu terlihat Arkana yang tampak memperhatikannya dengan ekspresi yang sendu dengan segala pemikiran yang ada di kepalanya.
“ Semua orang memiliki inner child dalam dirinya masing-masing, inner child bisa bahagia jika inner child masa kecil kamu bahagia, dia bisa sedih kalau masa kecil kamu juga sedih.” Lanjut Gilang kemudian.
Gilang kemudian memberikan satu contoh bagaimana inner child begitu mempengaruhi seseorang ketika dewasa, dia menjelaskan pada satu kasus seseorang yang selalu meminta perhatian kepada kekasihnya dan harus mendapat kabar darinya.
Dari kasus itu sosok yang selalu ingin di perhatikan akan merasa panik, sedih, dan khawatir yang luar biasa. Dan Gilang menjelaskan kembali bahwa kasus ini dapat terjadi akibat kurang perhatian dan kasih sayang seorang ibu, sehingga si inner child kecil itu haus akan kasih sayang.
Setelah Gilang selesai membawakan materinya hari itu, sesi tanya jawab pun di lakukan oleh sang moderator acara. Beberapa hadirin di persilahkan untuk melemparkan pertanyaan yang nantinya akan di jawab oleh Gilang sendiri.
“ Perkenalkan, nama saya Ferdi. Saya disini ingin bercerita sedikit tentang masalah saya dok. Sejak kecil saya tidak mendapatkan perhatian lebih dari orang tua saya, mereka selalu menuntut saya untuk melakukan apa yang mereka minta. Dan sekarang saya mendapat dampak dari semua itu, saya merasa selalu kesepian, tidak percaya diri, dan emosi yang berlebihan. Setelah mendengar penjelasan dokter barusan, saya bertanya-tanya siapa sebenarnya yang harus di terapi terlebih dulu? Apakah saya sebagai anak yang adalah korban, atau kedua orang tua saya yang sebagai pelaku sehingga saya mengalami masalah inner child ini? bagaimana tanggapan anda dok.?”
“ Baik, saya akan coba menjawab. Dalam kasus ini orang tua bisa ikut dalam proses pemulihan, tentu itu akan sangat lebih baik. Tapi tidak semua demikian, entah orang tua ikut atau tidak bukankah kita bertanggung jawab untuk memulihkan diri kita sendiri?”
“ Tapi mereka yang salah dok, kenapa harus saya yang jadi jalanin terapi.?”
“ Konsep inner child tidak untuk menyalakan orang tua atas apa yang terjadi di kehidupan kita saat ini, main salah-salahan tidak akan membuat kita lebih baik. Jadi disini kita bertanggung jawab lebih atas diri kita sendiri, meskipun bukan kita penyebab terjadinya inner child yang bermasalah tersebut.”
“ Jadi saya harus bagaimana dok.?”
“ Adapun hal yang dapat menangani inner child yang terluka adalah mengingat dan melihat kembali masalah yang pernah di alami saat masih kecil, kemudian mencoba untuk memahami sosok kecil kita, lalu lakukan meditasi sesering mungkin untuk membuat jiwa kita merasa lebih tenang, dan yang terakhir carilah bantuan psikolog untuk membantu kalian menyembuhkan inner child kalian yang terluka.”
Sekarang adalah waktu untuk mendengarkan audioterapi sebelum akhirnya acara berakhir, semua hadirin di minta untuk menundukkan wajah dan menutup kedua mata.
__ADS_1
Mendengarkan audioterapi merupakan salah satu metode terapi yang menggunakan musik sebagai media utama, terapi music ini bertujuan untuk membantu menenangkan pikiran yang berkaitan dengan kestabilan mental.
Arkana mengikuti semua ucapan yang di arahkan oleh Gilang, dia mendengarkan musik yang di putar dengan tenang. Satu persatu ingatan masa lalunya muncul di kepalanya, hal ini yang membuat Arkan mulai terbawa suasana.
FLASHBACK ON
Arkana mengingat satu kejadian yang membuatnya tidak bisa lupa sampai sekarang, saat itu dia berusia dua belas tahun dari baru saja pulang dari sekolah.
“ Bagaimana hasil ujiannya.?” Tanya mama Widya saat Arkana baru saja masuk ke rumah.
Arkana mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalam tasnya, ada tiga lembar kertas hasil ujian kemarin yang baru saja di berikan hari ini. Dari tiga kertas hasil ujian hanya satu yang membuat mama Widya melirik Arkana dengan tatapan yang menakutkan.
“ Hampir nilai sempurna ya.” Ucap mama Widya setelah dia melihat hasil ujian matematika Arkana.
“ Aku dapat 98 di kelas, guru bilang aku dapat nilai paling tinggi di ma. Jadi aku sudah boleh main kan ma.” Seru Arkana merasa puas dengan hasilnya.
“ Kenapa kurang 2 nilai? “ Tanya mama Widya.
“ Maafkan aku ma.” Ucap Arkana dengan tatapan tunduk ke bawah.
Mama Widya menyentuh kepala Arkana dengan tepukan yang cukup kuat, kemudian dia menyamakan tingginya dengan Arkana dan berkata.
“ Itu tidak menjawab pertanyaan mama.”
“ Mama tanya, kenapa nilainya kurang 2? Jawab.”
Arkana tidak menjawab karena takut, hal itu membuat mama Widya langsung menarik rambut Arkana berjalan masuk ke dalam. Arkana berteriak meminta maaf pada mama Widya dengan tangis yang pecah, namun hal itu tidak membuat mama Widya merasa kasihan padanya.
Arkana di lempar ke dalam kamar mandi, kemudian mama Widya menyiram tubuh Arkana dengan air dingin hingga membuatnya basah kuyup. Setelah itu dia meninggalkan Arkana di dalam kamar mandi, pintu di kunci sampai malam dan dia tak peduli pada Arkana yang memohon akan memperbaiki kesalahannya itu.
__ADS_1