Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Berpisah


__ADS_3


Jingga menatap layar ponselnya dengan penuh keseriusan, semenjak Diana kembali ke Indonesia dia tak lagi mendengar kabar tentang wanita itu. Sedangkan kabar tentang Erwin masih dia dapat dari bi Salma, Erwin sendiri sudah sadar dan boleh keluar dari rumah sakit.


Ada perasaan khawatir yang terus mengganggunya setiap saat. Diana sulit di hubungi, untuk mengetahui keadaanya saja terasa sangat mustahil. Erwin juga tidak tahu keadaan Diana, mereka belum bertemu sampai saat ini.


“ Kamu masih nunggu kabar dari Diana.?” Tanya Arkana.


“ Iya mas, aku khawatir banget sama Diana.” Jawab Jingga.


“ Kamu mau kita ke Indonesia buat lihat keadaan dia.?” Kata Arkana sontak membuat Jingga langsung menatapnya tak percaya.


“ Kita nggak perlu ke Indonesia juga mas.”


“ Memangnya kenapa? kita bisa ke Indonesia buat jengukin mama dan papa, sekalian juga lihat keadaan Diana dan Erwin kan.?”


“ Kamu serius mas.?”


“ Aku emang pernah bercanda sama kamu.?”


Jingga tidak tahu harus berkata apa lagi, jika Arkana sudah berkata demikian maka tak ada alasan baginya untuk menolak. Dia juga sudah cukup merindukan Negara tempat dia lahir dan di besarkan itu.


**


Sesuai perkataan Arkana kemarin, dia membawa Jingga dan Keenan kembali ke Indonesia tanpa mengabari orang-orang rumah. Kedatangan mereka baru di ketahui oleh mama Widya saat mereka sudah tiba di rumah mereka beberapa jam yang lalu.


Mama Widya yang mendengar kabar tentang kedatangan Arkana langsung menyuruh pembantu di rumah untuk menyiapkan hidangan makan malam yang lezat, mala mini mama Widya akan mengadakan makan malam bersama menyambut kedatangan anak, menantu, dan cucunya.


Sebelum pergi ke rumah mama Widya, Jingga bersama Arkana dan Keenan datang ke rumah Erwin untuk melihat keadaannya. Disana, dia mendapat pengakuan yang tak terduga dari pria tersebut.


“ Papa Diana tidak setuju dengan hubungan kami berdua, aku tahu sekuat apapun aku berusaha untuk bersamanya, kami tetap tidak akan bisa bersama. Jadi aku memilih mundur, tapi setelah mendengar kabar kalau dia menghilang, aku pun merasa khawatir dan mencarinya dimana-mana.”


“ Tapi, papa Diana mengira kalau aku yang menyembunyikan putrinya. Dia menyuruh seseorang untuk menangkapku dan menyuruhku untuk jujur, karena aku tidak tahu tentang keberadaan Diana saat itu, alhasil mereka terus memukulku sampai aku bicara dengan jujur. “


“ Aku pasrah di keroyok oleh mereka semua, sampai akhirnya saat aku sadar ternyata aku sudah berada di rumah sakit.” Lanjut Erwin.

__ADS_1


“ Kau harus melaporkan semua itu ke polisi, dia seorang aparat tapi berani-beraninya melukai seseorang yang tidak bersalah.” Lontar Arkana kesal.


“ Percuma, aku bukan siapa-siapa untuk melawan seseorang seperti sersan mayor.” Jawab Erwin menunduk sedih.


“ Jadi sampai sekarang kamu nggak tahu dimana keberadaan Diana? “ Tanya Jingga.


“ Aku nggak tahu.”


Jingga dan Arkana saling melirik satu sama lain, setelah mendengar penjelasan Erwin sepertinya mereka harus bertemu dengan Diana besok. Dengan begitu berakhirlah pertemuan mereka hari ini, Jingga dan Arkana harus segera pergi ke rumah mama Widya.


**


Malam ini Jingga dan Arkana terpaksa harus tinggal di rumah mama Widya dan papa Hendra setelah selesai menyantap makan malam bersama, Keenan sudah tidur di kamar sedangkan Jingga dan Arkana akan pergi keluar untuk mengurus sesuatu.


Sebelum pergi Jingga menitipkan Keenan kepada mama Widya, dan dengan senang hati mama Widya akan menjaga Keenan dari apapun juga. Jingga dan Arkana pun bisa pergi dengan tenang, tujuan mereka tak lain adalah apartemen Diana.


Setibanya disana, Jingga dan Arkana mencoba menekan bel apartemen Diana sebanyak tiga kali. Mereka berharap Diana ada di dalam sehingga mereka bisa tahu keadaan wanita itu.


Setelah menunggu beberapa saat ternyata tidak ada panggilan, alhasil Jingga dan Arkana pergi menuju butik Diana. Hanya itu satu-satunya tempat yang mereka pikir ada Diana disana.


“ Coba kamu telpon lagi.” Ucap Arkana lirih.


Jingga pun mencoba untuk menghubungi nomor Diana sekali lagi, dan kali ini nomornya sudah dapat di hubungi. Panggilan pun tersambung, terdengar suara Jingga yang khawatir dan memanggil nama Diana berulang-ulang.


“ Aku ada di bawah, kamu turun dong. Kita bicara berdua, kamu baik-baik aja kan.?”


“….”


Tak ada suara dari di seberang sana, Jingga pun merasa lebih khawatir dari sebelumnya. Dia terus memanggil nama Diana, tapi tidak ada jawabana dari sana.


“ Gimana dong mas.?”


“ Kita rusak aja pintunya.”


Arkana pun mencoba merusak kunci pintu butik itu, dan setelah dia berhasil melakukannya, Jingga dan Arkana langsung berlari naik ke atas untuk melihat keadaan Diana.

__ADS_1


“ Diana.” Sahut Jingga yang terkejut ketika melihat Diana sedang terbaring di lantai sambil memegang ponselnya, panggilan Jingga masih terhubung tapi kesadaran Diana sudah tidak ada.


Arkana mengangkat tubuh Diana untuk membawanya ke atas sofa, kemudian dia mengecek keadaan Diana saat ini. Arkana merasa bahwa kondisi Diana cukup serius, dia harus mendapat cairan infus secepatnya.


Dan malam itu juga mereka membawa Diana ke rumah sakit, sepanjang jalan Jingga terus menangis menggenggam tangan sahabatnya. Dia merasa tidak berguna menjadi seorang sahabat melihat Diana yang menderita dengan masalah hidupnya dan tidak memiliki teman untuk berbagi kesedihannya.


**


Perlahan namun pasti wanita itu mulai membuka kedua matanya, dia merasa asing dengan suasana di sekitarnya. Terlihat cairan infus yang tergantung tepat di sebelahnya dan terhubung di tangan kirinya.


“ Kenapa aku bisa berada disini?” Benaknya bingung.


“ Diana.” Panggil suara yang tidak asing lagi di pendengaran wanita itu.


“ Erwin.?”


Erwin baru saja muncul dari balik pintu dan menghampirinya dengan ekspresi penuh khawatir, Diana merasa tidak bisa menatap wajah Erwin hingga akhirnya mengalihkan pandangannya dari pria itu.


“ Jingga dan Arkana yang bawa kamu ke rumah sakit, mereka menemukan kamu dalam keadaan tak sadarkan diri di butik. “


“ Kamu mau apa kesini? Kalau kamu datang hanya karena kasihan, sebaiknya kamu pergi.” Sahut Diana masih enggan menatap wajah Erwin.


“ Aku khawatir sama kamu.” Lontar Erwin hampir membuat tangis Diana pecah.


“ Kamu sebaiknya pergi, kehadiran kamu sekarang nggak bisa buat aku merasa lebih baik.”


“ Kamu mau aku bagaimana? Kamu mau aku bawa kamu pergi dari orang tua kamu? Kamu mau kita kawin lari? Aku nggak bisa, aku nggak mau bawa kamu pergi dari orang tua kamu tanpa restu dari mereka.”


“ Terus kamu setuju kalau aku nikah sama duda beranak satu itu.?” balas Diana akhirnya menatap Erwin dengan penuh amarah.


“ Aku nggak mau, tapi aku nggak bisa berbuat apa-apa.” Jawab Erwin pasrah.


“ Kamu pengecut tahu nggak, keluar dari sini. Aku nggak mau lihat wajah kamu lagi.” Lanjut Diana sekali lagi memutar tubuhnya membelakangi Erwin.


Terdengar suara langkah kaki yang semakin menjauh meninggalkannya, dan pintu ruangan itu yang akhirnya tertutup dengan rapat. Hati Diana langsung sakit mengetahui Erwin pergi tanpa ada usaha lain untuk meredakan emosinya, bukan ini yang di harapkan olehnya.

__ADS_1



__ADS_2