Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Special Chapter 35


__ADS_3


Selama hampir dua jam lamanya Shanum berdiam diri di tepi pantai tanpa melakukan apapun, dia hanya diam menatap senja yang perlahan pamit undur diri. Seketika itu juga dia sadar bahwa langit sudah mulai berubah menjadi gelap, dia melirik arloji di tangannya dan langsung panik.


“ Gawat, kok aku bisa nggak sadar waktu sih.?” Ucapnya sambil menepuk kening dengan pelan.


Shanum merogoh isi tasnya untuk segera mencari ponselnya, dan dia ikut terkejut ketika melihat ponselnya dalam keadaan nonaktif. Shanum baru ingat bahwa dia memang sengaja melakukan itu dan setelah di aktifkan kembali, ada begitu banyak pesan yang masuk di ponselnya.


Semua orang rumah mencarinya dengan khawatir, dan salah satu pesan masuk adalah pesan dari Adera. Untuk membuat keluarganya tenang, dia membalas pesan suara di sebuah pesan grup, Shanum memberitahu kabarnya dan dimana dia sedang berada sekarang.


Kemudian Shanum membuka pesan dari Adera yang terlihat sangat khawatir, ada begitu banyak pesan dari pria itu yang menanyakan keberadaan Shanum.


Baru saja ingin di balas, tiba-tiba panggilan telpon dari Adera mendadak masuk dan membuat Shanum terkejut. Shanum kebingungan harus menjawabnya, dan dia pun tidak ingin membiarkan Adera menunggu, sampai akhirnya dia menjawab panggilan telpon tersebut.


“ Halo kak.?”


“ Kamu dimana? Aku kaget tahu pas kamu menghilang tiba-tiba di toko buku, tanpa ngasih kabar apapun. Dan barusan aku udah ke rumah kamu, tapi kamunya nggak ada.”


“ Oh itu, aku lagi di pantai sekarang.”


“ Hah? Pantai, ngapain disana? Sama siapa.?”


“ Cuma mau ke pantai aja, aku sendiri.”


“ Ya udah share lokasi, aku kesana sekarang.”


“ Buat apa? Aku udah mau balik ke rumah.”


“ Tunggu aku disana, kita pulang sama-sama. Aku udah janji sama mama kamu buat bawa kamu pulang dengan selamat.”


“ Ya udah, aku share lokasinya.”


Panggilan berakhir dengan Shanum yang mengirimkan lokasi keberadaannya sekarang kepada Adera. Dia kembali merasa bingung, sikap Adera yang seperti ini membuatnya sedikit berharap kepadanya lagi.


**


Adera datang sekitar dua puluh menit kemudian, disana sudah gelap namun masih ada sedikit penerangan dari lampu jalan yang menemani kesendirian Shanum.


Adera berlari ke arah Shanum dari tempatnya memarkir kendaraan, dia tampak kelelahan sambil mengatur nafasnya sebelum bicara di hadapan Shanum.


“ Lain kali, kalau kamu ngajak aku pergi dan ngilang gitu aja, aku nggak akan maafin kamu.” Ucap Adera sambil menunjuk-nunjuk Shanum.


“ Maaf ya kak, aku benar-benar lupa ngasih tahu kakak.” Jawab Shanum berusaha tersenyum manis.


Adera kemudian mendaratkan tubuhnya di sebelah Shanum, sekarang nafasnya sudah kembali normal. Dia bisa bicara dengan santai, namun masih ada rasa kesal karena sikap Shanum yang aneh hari ini.


“ Sebenarnya ada apa sih? Kok kamu tiba-tiba aja ngilang.?” Tanya Adera.


“ Nggak ada apa-apa.”


“ Bohong, nggak mungkin nggak ada apa-apa.”

__ADS_1


“ Serius, aku cuma mau pergi aja.”


“ Kamu tahu nggak khawatirnya aku pas tahu kamu ngilang gitu aja? Aku tuh takut kamu di culik sama orang jahat lagi, papa dan mama kamu sudah percaya sama aku dan aku nggak mau merusak kepercayaan mereka.”


“ Kak Dera bisa jangan kaya gini nggak.?” Tanya Shanum tiba-tiba.


“ Maksud kamu.?” Adera tampak kebingungan dengan ucapan Shanum barusan.


Shanum menunduk berusaha mengatur emosinya, dia hampir menggila mendengar ucapan Adera bahwa dia sangat peduli dan khawatir kepadanya. Namun di samping itu juga rasanya seperti ada bom waktu yang siap untuk meledak, Shanum tidak tahu bagaimana cara mengatasinya.


“ Apa maksud kamu barusan? Aku kenapa nggak boleh gitu.?” Ulang Adera melirik Shanum.


Kemudian Shanum beranjak dari kursinya dan berjalan lima langkah ke depan, dia menoleh ke arah Adera sekali lagi sambil berkata.


“ Lupain aja, sekarang antar aku pulang ya kak.” Lontar Shanum yang kemudian hanya membuat Adera mengangguk dengan pelan.


**


Cowok itu baru saja keluar dari kamarnya sambil membawa gelas kosong di tangannya, dia hendak ke dapur untuk mengambil air minum. Kemudian langkahnya tiba-tiba terhenti ketika mendengar suara kakaknya di dalam kamar, Lingga melirik kamar Shanum yang tidak tertutup dengan rapat.


Pelan-pelan Lingga mendekat dan mengintip ke dalam sana, terlihat Shanum yang sedang uring-uringan di kamarnya. Alhasil Lingga mengurungkan niat untuk ke dapur dan memilih masuk ke dalam kamar kakaknya.


“ Ada apa lagi sih kak.?” Tegur Lingga sukses membuat Shanum berhenti mengeluh.


“ Aku kurang cantik ya.?” Tanya Shanum tiba-tiba.


“ Iya.” Jawab Lingga asal.


“ Aku udah jujur, kamu emang kurang cantik.”


Shanum kembali memasang wajah sendu seperti ingin menangis, Lingga sudah hafal betul dengan gelagat kakaknya yang satu itu. Shanum yang mempertanyakan tentang dirinya biasanya sedang merasa insecure pada dirinya sendiri.


“ Nggak, aku bercanda. Kamu cantik kedua setelah mama.” Jawab Lingga seketika membuat senyum Shanum langsung mengembang.


“ Lebih dari Sabrina.?” Tanya Shanum lagi.


“ Oh iya aku lupa, pertama mama, kedua Sabrina, dan ketiga kamu.” Ulang Lingga yang kembali membuat Shanum kesal.


“ Sebenarnya ada apa sih? Kenapa tiba-tiba tanya soal itu.?” Sahut Lingga yang kembali di buat penasaran.


Shanum kemudian memperlihatkan sebuah foto di ponselnya kepada Lingga.


“ Cantikan mana dia sama aku.?” Tanya Shanum sambil memperlihatkan foto seorang wanita di ponselnya.


“ Dia siapa.?”


“ Jawab aja, cantikan mana.?”


“ Cantikan kamu kak.”


“ Serius? Lebih cantik aku dari pada dia.?”

__ADS_1


“ Dia cantik sih, tapi kamu lebih cantik.”


Jawaban Lingga benar-benar membuat Shanum puas, yang tadinya merasa insecure sekarang sudah berkurang karena jawaban dari adik laki-lakinya itu.


“ Ya udah gih, kamu pergi.” Shanum mendorong Lingga sampai ke depan pintu kamarnya dan mengunci pintu setelah Lingga berhasil di bawa keluar olehnya.


“ Pasti karena si cowok UI itu lagi.” Gumam Lingga pelan.


**


Minggu sore Shanum dan Jingga pergi ke pusat perbelanjaan, Shanum menemani Jingga yang sedang mencari kain untuk membuat busana baru yang akan di gunakan untuk fashion week Jakarta dua bulan ke depan.


Shanum yang sudah memantapkan diri untuk mengikuti jejak mamanya semakin berusaha mengenal dunia fashion lewat Jingga. Sedikit demi sedikit dirinya sudah bisa membuat beberapa baju meskipun hanya untuk boneka saja.


Keduanya telah selesai belanja dan memilih sekitar sepuluh jenis kain yang berbeda, Jingga sedang sibuk membayar biaya kain sedangkan Shanum menunggunya di sebuah kursi yang tersedia untuk pengunjung mall.


“ Shanum ya.” Tegur seseorang berhasil membuat Shanum menoleh dengan cepat.


Shanum yang melihat wajah sosok yang memanggilnya mendadak diam di tempat, Shanum menegenali wanita itu dan hanya bisa mengangguk pelan menjawab ucapan wanita di hadapannya.


“ Aku Kikan temannya Adera.” Ucapnya lagi sambil menyodorkan tangan kepada Shanum.


“ Iya, aku udah sering lihat kak Kikan di toko buku.” Jawab Shanum membalas jabatan tangan dari Kikan.


“ Kamu ngapain disini.?” Tanya Kikan.


“ Nemenin mama belanja.”\ Balas Shanum.


“ Oh kirain kamu bareng Adera lagi.”


“ Nggak kok kak.”


“ Habisnya Adera jarang ada di kampus akhir-akhir ini, dan setelah ku cari tahu ternyata dia sering jalan sama kamu.”


“ Maksud kak Kikan, kak Dera bolos kuliah.?”


“ Nggak, biasanya dia ada di kampus dari pagi sampai sore, tapi akhir-akhir ini rada jarang gitu.”


“ Oh iya, kamu tahu kan kalau Adera punya pacar.?” Sambung Kikan sontak membuat Shanum terkejut.


“ Loh, bukannya kak Kikan pacarnya kak Dera ya.?” Sahut Shanum.


“ Hah, aku? Bukan aku. Dia temanku, namanya Gea dan mereka udah pacaran sejak awal-awal kuliah.” Jawab Kikan yang membuat Shanum semakin gelisah di buatnya.


Kikan yang ternyata memiliki kesibukan lain pun pamit undur diri, Shanum yang tadinya masih ceria mendadak berubah murung. Dia tidak bersemangat lagi ketika Jingga sudah kembali dan mengajaknya ke tempat lain.


“ Kamu kenapa.?” Tanya Jingga.


“ Nggak kenapa-napa ma, kita langsung pulang aja ya.” Balas Shanum lirih.


__ADS_1


__ADS_2