
Wanita itu terlihat membuka kedua matanya secara perlahan, dia syok saat mengetahui dirinya berada di rumah sakit. Satu persatu ingatannya kembali, Jingga merasa tidak bisa mengontrol dirinya dengan benar.
Kepalanya terasa begitu sakit, sekitar ruangan menjadi buyar hingga dia mendengar suara seseorang yang tak asing. Dia adalah Arkana yang baru saja datang dengan raut wajah cemas melihat Jingga yang sedang meringis kesakitan.
Jingga meminta Arkana untuk memeluknya, dan dengan penuh kasih sayang Arkana memeluk istrinya itu. Dia membantu untuk menenangkan Jingga, namun tangis Jingga semakin keras dan membuat Arkana mengira bahwa dia merasa begitu kesakitan.
" Dimana yang sakit? Kita periksa dulu ya, aku nggak bisa lihat kamu kesakitan kaya gini. " Kata Arkana begitu cemas.
" Aku ingat semuanya sekarang, maafin aku mas kalau aku sempat lupa sama kenangan kita. " Isak Jingga masih dalam pelukan Arkana.
Arkana yang mendengarnya merasa begitu besyukur dan senang akhirnya Jingga bisa mengingat semuanya, namun di samping itu masih ada kabar yang buruk harus di dengar oleh Jingga.
Pertama-tama Arkana melepas pelukannya, di tatapnya wajah Jingga sambil menyibakkan rambut istrinya itu ke telinga.
" Kamu nggak perlu minta maaf, aku bisa terima semuanya asalkan kamu masih tetap sama aku. Dan aku mau kasih tahu kamu sesuatu, tapi tolong setelah mendengar ini, kamu jangan merasa kalau kamu bukan ibu yang baik. Bagiku dan Keenan, kamu adalah seorang ibu yang sempurna, penuh perhatian, dan bertanggung jawab. Kamu yang terbaik dari yang terbaik. "
" Ada apa mas? Sebenarnya kamu mau bilang apa.? " Tanya Jingga yang begitu penasaran.
" Kita kehilangan anak kita, dokter berkata kalau kamu hamil sebelumnya. Dan hari ini kamu mengalami keguguran, ini salahku karena tidak menyadari kehamilanmu. Kamu sedang amnesia dan tentu saja tidak akan ingat soal itu. Maafin aku. "
Saking syoknya Jingga tidak merespon apapun saat itu, dia hanya diam dengan tatapan kosong dan membuat Arkana kembali mendekap tubuhnya.
**
Beberapa hari setelah kehilangan anak keduanya, Jingga menjadi pendiam dan tidak banyak bicara. Dia jarang keluar kamar dan hanya keluar jika tiba waktunya mengurus Keenan pergi dan pulang sekolah.
Keguguran yang di alami oleh Jingga tidak membahayakan dirinya sama sekali, dokter berkata kalau dia masih bisa mengandung. Tapi untuk sementara waktu dokter menyarankan agar beristirahat yang cukup dan mengembalikan mental Jingga yang sedang terguncang saat ini.
Arkana sengaja mengambil cuti praktek selama satu minggu hanya untuk mengurus Jingga, dia tidak ingin meninggalkan Jingga sendirian di rumah dalam keadaan seperti itu.
__ADS_1
Pagi itu setelah mengantar Keenan ke sekolah, Arkana pulang dengan membawa makanan kesukaan Jingga. Arkana berjalan menuju kamar mencari keberadaan istrinya, namun setelah di cek di dalam kamar ternyata tidak ada sosok Jingga.
" Jingga? Kamu dimana.? "
Arkana terus mencari keberadaan Jingga hampir di setiap sudut rumah. Dia kemudian baru bisa menemukan Jingga yang ternyata sedang duduk termenung di pinggir kolam berenang.
Arkana mendekatinya dengan perasaan yang sedih, melihat Jingga yang melihat kolam berenang seperti itu mengingatkan Arkana saat Jingga harus kehilangan anaknya.
" Aku udah nyariin kamu di dalam, ternyata kamu disini." Ucap Arkana yang ikut menjatuhkan tubuhnya di sebelah Jingga.
" Aku belum sempat bilang ke kamu mas, alasan aku keguguran bukan karena aku jatuh ke kolam ini waktu itu. Aku jatuh di kamar mandi, kepalaku terasa sakit sebelumnya sehingga membuatku kehilangan keseimbangan. "
" Mike pasti merasa bersalah dan mengira semua ini terjadi karena aku menyelamatkan Daisy. " Lanjut Jingga dengan tatapan lurus ke kolam berenang.
" Gimana perasaan kamu sekarang? Kalau kamu sudah merasa lebih baik, mungkin kita harus bertemu Mike untuk meluruskan masalah ini." Lontar Arkana sambil merangkul Jingga.
" Aku baik-baik aja sekarang." Jawab Jingga menatap Arkana dengan tatapan yang sendu.
**
Malam harinya Jingga mendatangi kamar Keenan setelah Arkana selesai menidurkan anak itu, akhir-akhir ini Jingga jarang melihat anaknya sepulang sekolah.
Jauh di lubuk hatinya dia merasa bersalah kepada Keenan, dia gagal memberikan seorang adik untuk Keenan dimana Keenan sudah sangat menginginkan seorang adik di rumah itu.
Jingga melirik gambar yang di buat Keenan di sekolah, meskipun gambarnya masih jauh dari kata bagus. Tapi Jingga bisa tahu kalau gambar yang di buat Keenan adalah gambar dia, Arkana, Keenan, dan adiknya yang di beri sepasang sayap seolah-olah terbang meninggalkan mereka.
" Maafin mama ya nak. " Ucap Jingga mengecup kening Keenan dengan lembut.
" Mama. " Keenan terbangun di buatnya dan menatap Jingga dengan teduh.
" Kok bangun? Tidur lagi, mama nggak bermaksud bangunin kamu. "
__ADS_1
" Mama masih sedih ya.?" Tanya Keenan sambil meriah wajah Jingga dengan kedua tangannya.
" Mama baik-baik aja sekarang. Kalau kamu gimana.? "
" Aku juga ma. Mama nggak usah sedih lagi ya, aku nggak apa-apa belum di kasih adik. Aku ada Daisy dan Lily, mereka cukup buat jadi saudara aku ma. " Jawab Keenan yang membuat Jingga terharu mendengar pernyataan anaknya itu.
" Terima kasih ya nak, kamu memang anak yang baik. Mama bangga punya anak kaya kamu. " Jingga meraih Keenan ke dalam pelukannya.
" Mama temenin aku tidur ya. "
" Iya sayang, mama temenin kamu tidur malam ini. "
**
Di hari minggu, Jingga dan Arkana merencanakan piknik keluarga dan akan mengundang Mike berserta kedua putrinya kembali. Terakhir kali rencana mereka gagal untuk kumpul bersama karena kejadian yang tak di inginkan. Untuk mengulangnya kembali dan memberikan kesan manis yang tak terlupakan, Jingga menutuskan mengadakan piknik di sebuah lokasi yang sangat indah lengkap dengan rumput hijau dan sungai kecil dengan kedalaman sebatas mata kaki.
Tak hanya itu saja, Jingga juga turut mengajak karyawan di butiknya begitu pun dengan Arkana yang mengajak perawat yang bekerja di kliniknya. Lebih ramai lebih baik, karena Jingga hanya ingin melihat semua orang bahagia mulai sekarang.
Sudah cukup banyak kesedihan yang terjadi dalam hidupnya, dan dia ingin membuat kenangan manis seperti saat ini bersama semua orang terkasih.
Di lokasi piknik dimana semua orang sibuk dengan urusan mereka masing-masing, ada yang menyiapkan tenda untuk makan, menyiapkan bahan-bahan makanan, mengajak anak-anak bermain, dan sibuk ngobrol seru dengan tawa renyah mendominasi suasana.
Jingga tersenyum melihat keadaan saat ini, sambil menyentuh dadanya yang terasa penuh oleh kebahagiaan. Kemudian Arkana datang ke sampingnya dengan lembut berkata.
" Jangan sedih lagi ya, sama-sama kita buat kenangan yang indah. Aku, kamu, Keenan, dan semua yang ada disini akan selalu ada dan menyayangimu. " Bisik Arkana lembut.
Jingga kembali menyunggingkan senyum, sekarang dia harus lebih banyak tersenyum. Apalagi ketika anak-anak dengan kompak menarik lengan Jingga untuk bermain bersama mereka.
Piknik bersama kali ini berjalan dengan sukses, semua orang hampir menikmati suasana dan hidangan yang di siapkan. Tawa dan canda mendominasi suasana, Jingga bahagia, dan semua orang pun ikut bahagia merasakannya.
__ADS_1