Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Semua Salah Kamu


__ADS_3


Hari ini Jingga kebetulan di undang oleh mama Widya untuk minum teh bersama di belakang halaman rumah keluarga besar Adyatama, Jingga datang di antar oleh Jefri karena Arkana sibuk di rumah sakit.


Jingga di sambut dengan sangat baik oleh mama Widya, keduanya langsung menuju halaman belakang dimana semua telah tersedia dengan lengkap. Mulai dari minuman hingga cemilan yang akan menemani obrolan mereka hari ini.


“ Sayang sekali ya kamu baru bisa main ke rumah, padahal kemarin ada kakaknya Bima loh. Dan dia juga mau banget ketemu sama kamu.” Ucap Mama Widya.


“ Oh ya? Memangnya kak Bima sekarang dimana ma.?” Tanya Jingga menatap mama Widya penasaran.


“ Bima sudah tidak tinggal disini lagi, dia mengurus pertambangan sekarang dan akan tinggal di rumah yang ada di sana.” Jelas mama Widya.


“ Jadi sekarang mama nggak ada kerjaan dong kalau pertambangan di urus sama kak Bima.”


“ Sebenarnya mama sudah lama ingin memberikan pertambangan untuk Bima, tapi kamu tahu sendiri kan kalau Bima lebih memilih papanya waktu itu dari pada mama.”


“ Untungnya mama punya dua anak laki-laki yang bisa mengurus semuanya ya.”


“ Ya begitulah, mama jadi merasa lebih tenang sekarang.”


“ Oh iya, bagaimana dengan perusahaan keluarga kamu? Om sama tante kamu bisa ngurus semuanya.?”


“ Soal itu aku nggak pernah tahu ma, perusahaan aku serahkan kepada mereka semuanya. Dan soal pembagian hasil, mereka bilang akan menyimpannya di tabungan untukku kelak.”


“ Begitu, sayang sekali ya. Seharusnya kamu yang menghandle semua itu, bagaimana pun juga kamu kan putri satu-satunya mendiang orang tua kamu.”


“ Mau bagaimana lagi ma, aku nggak pandai dalam urusan perusahaan kecuali dunia fashion.”


“ Bagaimana kalau kamu investasi ke perusahaan mama aja? Kamu tahu kan kalau mama sudah lebih dulu berada di dunia perbisnisan apalagi soal pertambangan.” Usul mama Widya.


“ Nanti aku coba tanya ke om dan tante ya ma.” Balas Jingga tersenyum tipis.


Mama Widya terlihat mengangkat cangkir tehnya sambil menyesapnya secara perlahan, setelah dia meletakkan kembali cangkir itu di atas piring kecil dirinya kembali bergumam.

__ADS_1


“ Kamu sama Arkana sudah menikah dua bulan, mama kok nggak pernah dengar ada kabar gembira dari kalian berdua.”


“ Maksud mama apa.?”


“ Kamu sama Arkana sudah melakukan hubungan suami istri kan.?”


Jingga terkejut saat mendengarnya meskipun dia sudah menduga kalau pembahasan ini tentu saja akan di ungkit. Dan sebelumnya Jingga sudah diberitahu Arkana bagaimana cara menghadapi mama Widya jika membahas masalah tersebut.


“ Aku sama mas Arkana sudah mencoba ma, tapi aku belum bisa hamil.” Ungkap Jingga.


“ Belum bisa hamil? Maksudnya apa? Kamu nggak mandul kan.?”


“ Aku sehat ma, mungkin belum saatnya aja.”


“ Mama nggak percaya, kalau belum ada buktinya.”


Jingga membawa hasil pemeriksaan palsu yang diberikan oleh Arkana kemarin, dia kemudian menyerahkannya kepada mama Widya. Menerima kertas itu membuat mama Widya benar-benar tidak menyangka bahwa Jingga memang belum bisa hamil sekarang.


“ Iya ma, aku ngerti.” Balas Jingga terpaksa harus tersenyum setelah mengatakan kebohongan kepada mama Widya.


**


Sepulang dari rumah mama Widya hari ini, Jingga langsung terjun ke dapur membantu dua bibi yang sedang sibuk menyiapkan makan malam. Awalnya kehadiran Jingga membuat mereka menolak untuk di bantu, namun Jingga tetap ingin melakukannya agar skil memasaknya semakin baik.


“ Non Jingga kalau nggak salah kerjanya tukang jait baju ya.” Sahut bi Salma.


“ Bukan tukang jahit, tapi DESAINER. Kaya Dian Pelangi sama Ivan Gunawan itu loh.” Sahut Bi Inah membenarkan kalimat Bi Salma barusan.


“ Desainer juga kan bahasa indonesianya tukang jahit baju bi. Nggak apa-apa kok di bilang kaya gitu juga.” Balas Jingga.


“ Nggak keren atuh Non, jaman sekarang semua orang pakai sebutan dari bahasa Inggris biar makin keren.” Ungkap Bi Inah sukses membuat Jingga merasa terhibur hari ini.


“ Pokoknya kaya gitulah, terus koleksi baju buatan non Jingga ada dimana? Butiknya maksud saya.” Sambung Bi Salma penasaran.

__ADS_1


“ Butiknya kebakaran bi, tapi mas Arka janji mau cari butik baru buat gantinya kok.” Ucap Jingga dengan senyuman.


“ Sayang banget, jadi semua koleksi baju-baju non Jingga ikut habis kebakar.?” Lontar Bi Salma turut sedih mendengarnya.


“ Gitu deh bi, namanya musibah siapa yang akan menduga sih.”


“ Untungnya keluarga non Jingga kaya raya, jadi bisa buat yang lebih besar.” Imbuh bi Inah.


“ Sebenarnya bukan masalah kaya atau nggaknya, tapi di butik itu ada banyak kenangan yang nggak bisa di beli pakai uang.” Ucap Jingga dengan tatapan tertunduk ke bawah.


Kedatangan Arkana saat itu membuat obrolan mereka harus terhenti, Jingga di paksa oleh Arkana ikut dengannya ke dalam kamar. Semua orang di rumah tidak bisa ikut campur jika Arkana sudah menunjukkan sisi kejamnya, dia bahkan mengancam semua orang untuk tidak mendekat di kamar utama untuk sementara waktu.


**


Jingga di lempar ke atas tempat tidur oleh Arkana dengan paksa, ini bukan hal baru untuk Jingga dan sekarang dia tampak ketakutan dan berusaha untuk melindungi dirinya jika Arkana kembali menyakitinya seperti terakhir kali.


Arkana terlihat melepaskan jasnya dan membuangnya ke lantai, kemudian dia membuka dua kancing bajunya yang membuatnya terlihat begitu keren hanya dengan melepaskan dua kancing baju saja.


Arkana diam di tempat sambil menutup wajah dengan satu telapak tangannya. Entah apa yang ada di pikiran Arkana saat ini yang jelas dia terlihat kebingungan dengan apa yang ingin dia lakukan.


“ Aku salah apalagi mas?” Tanya Jingga yang menatap Arkana dengan penasaran.


“ Kenapa mama menjadi sangat begitu peduli padamu sedangkan aku yang anaknya sendiri selalu di perlakukan berbeda? Kenapa.???” Teriak Arkana tepat di depan Jingga yang hanya dapat menatapnya dengan ekspresi takut.


“ Aku nggak ngerti kenapa kamu marah sama aku hanya karena mama peduli sama aku? Harusnya kamu tanya itu sama mama kamu mas, ini bukan salah aku.” Balas Jingga.


“ Ini salah kamu. Semuanya salah kamu, semuanya.” Arkana menggantung ucapannya dan terlihat begitu frustasi sekarang.


“ Kamu harus mengandung secepatnya, kasih mama cucu biar aku nggak pusing.” Ucap Arkana tiba-tiba.


“ Aku nggak keberatan jika harus mengandung, sejak awal aku nggak pernah mau menunda kehamilanku mas.” Sahut Jingga.


“ Kamu harus hamil, tapi bukan dengan aku.” Ucap Arkana sekali lagi membuat Jingga yang mendengarnya sangat terkejut.

__ADS_1


__ADS_2