Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Kembali Mesra


__ADS_3

Apa jadinya kalau ternyata bulan madu yang seharusnya di nikmati oleh berdua harus menjadi semenyedihkan ini? Jingga merasa tidak senang dengan bulan madu tanpa sosok Arkana, setibanya di Maldives dia hanya lebih sering menyendiri di kamar hotelnya.


Sebenarnya ini kali pertama Jingga datang ke Maldives, dia hampir tidak pernah menikmati waktu berjalan-jalan seperti ini karena fokus untuk menjadi seorang desainer.



Ternyata Maldives sangat indah, suasananya yang sejuk dan pemandangan pulau dengan lautan berwarna biru membuat siapa saja pasti senang berada disana.


Jingga sudah mencoba untuk menghubungi nomor Arkana namun sampai sekarang belum di jawab, padahal sudah satu minggu yang lalu dia datang ke tempat itu sendirian tanpa Arkana bahkan kabarnya sama sekali.


“ Kamu dimana mas? “ Benak Jingga sambil menatap layar ponselnya.


Jingga baru saja hendak duduk ketika ponselnya berbunyi, terdapat nama mama Widya disana. Lantas dia bingung harus menjawabnya atau tidak? Saat ini Arkana sedang tidak ada, dia tidak ingin bohong namun pesan Arkana waktu itu kembali membayanginya.


“ Halo ma.”


“ Gimana honeymoonnya? Kamu have fun kan sama Arka.?”


“ Iya ma, aku sama mas Arka have fun kok.”


“ Arka mana? Mama mau ngomong, mama telpon ke hpnya tapi nggak di jawab.”


“ Oh itu, mas Arka lagi keluar beli sesuatu buat aku.”


“ Kalau gitu kalau dia pulang, tolong suruh telpon mama ya.”


“ B-baik ma.”


Panggilan berakhir setelah itu, Jingga semakin merasa bersalah karena telah berbohong. Bagaimana dia bisa memberitahu Arkana jika di telpon saja dia tidak menjawab.


“ Maafin aku ya ma.” Benak Jingga menggenggam ponselnya dengan kuat.


**


Di bawah sebuah pohon rindang dengan menjatuhkan tubuhnya di sebuah kursi, Jingga mulai mengeluarkan buku dan pensilnya. Apalagi kalau bukan menggambar sketsa baju, di waktu luang seperti ini lebih baik menggambar untuk membuat dirinya tidak semakin bosan.

__ADS_1


Saat itu terdengar suara dari dalam kamar, Jingga menoleh dengan kaget dan mendapati sosok Arkana yang tengah berdiri menatapnya dengan tatapan sulit di artikan.


“ Mas, kamu datang.?” Seru Jingga meninggalkan buku sketsanya dan mulai menghampiri Arkana.


“ Kamu bilang apa sama mama.?” Tanya Arkana dengan nada yang ketus.


“ Aku nggak bilang apa-apa, kemarin mama telpon dan dia cari kamu tapi aku bilang ke mama kalau kamu lagi keluar.”


“ Mama tahu aku ke Singapur, dan yang tahu aku kesana itu Cuma kamu.”


“ Aku sumpah nggak kasih tahu mama soal itu mas.”\


Arkana tak melanjutkan ucapannya, dia kembali masuk ke dalam kamar dan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Jingga hanya melihatnya dengan tatapa yang bingung, Arkana memang sudah datang namun rasanya tetap aneh.


**


Sebenarnya bulan madu itu apa? Itulah yang terus di pikirkan oleh Jingga sampai saat ini, dia dan Arkana kembali bertemu setelah satu minggu melewatkan waktu untuk bulan madu berdua.


Tersisa dua hari lagi sampai mereka harus kembali ke Indonesia, sampai sekarang Arkana sibuk dengan ponselnya dan tidak pernah bicara dengan Jingga jika bukan hal yang penting.


“ Mas, makan dulu.” Panggil Jingga setelah makanan baru saja datang di kamar mereka.


“ ….”


Hening seperti biasa, Arkana tidak pernah sedikitpun menggubrisnya sejak saat itu. Jingga hanya bisa sabar menghadapi sikap suaminya saat ini, yang terpenting dia sudah bersamanya dan jika mama Widya menelpon pun dia tak harus berbohong tentang keberadaan Arkana.


Ponsel Jingga pun berdering, kali ini mama Widya melakukan panggilan video. Sebelumnya Jingga memberitahu Arkana bahwa mamanya menelpon, sontak Arkana langsung bangkit dan meraih ponsel Jingga.


“ Halo ma, ada apa nelpon malam-malam.?” Tanya Arkana setelah dia menjawab panggilan video tersebut.


“ Kok kamu yang jawab, Jingga mana.?”


“ Ada nih.” Arkana merangkul tubuh Jingga agar dia dapat tersorot oleh kamera ponselnya.


“ Jingga kok kamu kelihatan pucat.?” Tegur mama Widya.

__ADS_1


“ Nggak kok ma, aku nggak pakai make up makanya agak pucat aja.” Balasnya dengan cepat.


“ Mama jangan khawatir, aku sama Jingga baik-baik aja disini. Lagi pula kami berdua bentar lagi balik ke Indonesia kok.” Sambung Arkana.


“ Mama lega kalau Jingga baik-baik aja, ya sudah kalau begitu kalian boleh kembali istirahat disana sudah malam kan.” Lanjut mam Widya.


Begitu panggilan berakhir sikap Arkana kembali berubah, dia meletakkan ponsel milik Jingga di atas meja kemudian beralih keluar meninggalkannya.


“ Kamu mau kemana mas.?” Tanya Jingga namun tak di gubris oleh pria itu.


**


Pukul 02:00 dini hari dan Arkana belum kembali sejak tadi, Jingga yang tak bisa tidur masih setia menunggunya. Dia sudah mencoba menghubungi nomor suaminya namun tak di jawab sama sekali, alhasil Jingga memutuskan ingin keluar mencarinya sendiri.


Tepat saat dia keluar dari kamarnya, tampak dua orang pria sedang membantu Arkana berjalan. Keduanya adalah karyawan hotel yang bertugas membawa Arkana kembali ke kamarnya karena telah mabuk berat di saat bar baru saja tutup.


Jingga meminta kedua pria tersebut untuk membawa Arkana masuk ke dalam, dan setelah mereka berhasil meletakkan Arkana di atas tempat tidur barulah keduanya pamit undur diri.


“ Ya ampun mas, kamu kenapa harus mabuk-mabukan kaya gini sih.?” Jingga harus membersihkan tubuh Arkana dan mengganti pakaiannya karena baunya terlalu menyengat.


Jingga mengambil air hangat dan menyiapkan baju ganti untuk Arkana, sebelum itu dia harus melepas pakaian Arkana untuk dapat membersihkan tubuh dan mengganti pakaiannya.


Wajah Jingga mendadak merah merona menahan malu, meskipun Arkana adalah suaminya dia tetap merasa malu jika harus membuka pakaian suaminya sendiri.


“ Maafin aku mas.” Ucap Jingga perlahan melepaskan kancing baju Arkana.


Beberapa saat kemudian Jingga telah menyelesaikan semuanya, dia menarik selimut sampai ke dada dan membiarkan Arkana tidur dalam keadaan sudah bersih.


“ Aku kaya habis ngurus bayi besar.” Gumamnya lirih setelah menyimpan pakaian kotor di keranjang.


Kini Jingga ikut naik ke atas tempat tidur, akhirnya dia bisa tidur juga meskipun sekarang sudah pukul 3:00 pagi. Baru saja beberapa detik Jingga menutup kedua matanya, pelukan hangat dari belakang membuatnya kembali membuka kedua matanya.


“ Jangan tinggalin aku.” Isak Arkana memeluk tubuh Jingga dengan erat.


Jingga tidak bisa menoleh saat itu, namun dia bisa merasakan kalau Arkana masih dalam keadaan mabuk. Namun ucapan barusan di tujukan pada siapa? Kenapa terdengar begitu menyedihkan?

__ADS_1


__ADS_2