
Jingga menatap sebuah palang yang bertuliskan ruang psikiater Gilang Ariyandra di atas sana, akhirnya dia memutuskan untuk datang ke tempat itu setelah sebelumnya banyak berpikir apakah ini adalah cara yang tepat atau tidak.
Sudah dua hari dia menunggu sampai ada kesempatan untuknya bertemu dengan Gilang, dan sekarang semua itu terwujud. Gilang menyuruhnya untuk datang hari ini, dan sekarang dia mulai merasa sangat gugup.
Jingga bisa datang ke tempat ini tentu tanpa sepengetahuan Arkana, dia pergi diam-diam dari rumah ketika Arkana masih di Solo. Semua orang di rumah sudah di ajaknya bicara agar mereka tidak memberitahu tentang kepergian Jingga hari ini.
Kemarin dia sudah mengatur janji terlebih dulu, dan siapa sangka hari ini memang tidak ada jadwal full sehingga Jingga adalah orang pertama yang akan masuk ke dalam ruangan tersebut.
Tok..tok..tok..
“ Masuk.” Terdengar suara dari dalam yang baru saja membuat Jingga menarik knop dan membiarkan dirinya masuk ke dalam.
“ Selamat datang Jingga.” Seru Gilang setelah melihat teman lamanya datang menjadi salah satu konsultannya hari ini.
Gilang beranjak dari tempatnya dan memilih duduk di sofa agar Jingga merasa lebih nyaman, keduanya duduk saling berhadapan saat ini dan sepertinya akan banyak pembahasan yang terjadi di antara mereka.
Gilang sendiri merupakan teman SMA Jingga dulu, dan sekarang pria itu sudah menjadi seorang dokter kejiwaan atau biasa di sebut psikiater. Alasan Jingga menemuinya jelas untuk mengetahui kondisi suaminya, dia merasa ini ada sangkut pautnya dengan kejiwaan yang akan mereka bahas.
“ Hai lang, kamu apa kabar.?”
“ Aku baik, kamu apa kabar? “
“ Aku baik juga kok.”
“ Soal Nawa, aku turut berduka cita ya. Dan pernikahan kamu, aku ucapkan selamat. Maaf waktu itu aku nggak bisa hadir.”
__ADS_1
“ Santai aja.”
“ Hmm, lang. Bisa langsung ke inti pembicaraan nggak.?” Pinta Jingga tiba-tiba.
“ Sure, silahkan. Aku akan menjadi pendengar yang baik buat kamu.” Balas Gilang mempersilahkan.
Jingga mulai menceritakan tentang Arkana yang dia samarkan sebagai kenalannya, dia memberitahu Gilang bahwa temannya itu memiliki sifat yang sangat aneh dan sering berubah-ubah tergantung kondisi yang dia alami.
Kemudian Jingga juga menjelaskan bahwa temannya itu senang berbohong di depan semua orang demi mendapatkan pujian, dan apabila dia merasa sedih atau marah dia hanya akan menyakiti kekasihnya dengan kasar tanpa rasa kasihan sama sekali.
Setelah itu Jingga juga menjelaskan kepada Gilang tentang kehidupannya ketika masih remaja, dimana dia selalu tak mendapatkan perhatian lebih dari kedua orang tuanya. Di tuntut untuk sempurna tanpa ada bentuk apresiasi, atau lebih tepatnya kehidupan temannya itu di atur oleh ibunya sampai sekarang.
“ Jadi bagaimana menurutmu? Apa temanku itu memiliki masalah mental?”
“ Tunggu dulu Jingga, sebenarnya aku sangat terkejut mengetahui kamu datang menemuiku untuk membahas soal kesehatan mental. Dan aku nggak nyangka kalau kamu jauh-jauh kesini hanya untuk membahas temanmu, kenapa bukan dia yang datang menemuiku? Itu akan jauh lebih membantu, kau harus tahu kalau psikiater dan pasien yang berinteraksi secara langsung akan lebih memudahkan kami dalam menanganinya.” Ucap Gilang menatap Jingga yang tampak kebingungan saat ini.
Jingga masih diam, dia bingung harus mengatakan apa. Dia tidak bisa memberitahu Gilang tentang masalah rumah tangganya, bahkan Diana yang merupakan sahabatnya sekali pun tidak di beritahu olehnya.
“ Baik, kalau kamu nggak mau kasih tahu aku nggak apa-apa. Dari apa yang kamu jelaskan barusan aku bisa bisa menarik satu kesimpulan.” Sambung Gilang kemudian.
“ Jadi apa yang terjadi padanya.?” Tanya Jingga penasaran.
“ Ini bisa jadi masalah inner child temanmu yang sudah terluka akibat masa lalunya, dari sikapnya yang terus berubah-ubah, haus validasi, emosian, merasa paling benar. Semua itu karena inner child dirinya yang terluka.” Jelas Gilang.
“ Inner child ?” Jingga terlihat menyimpulkan semua jawaban itu dan mulai percaya bahwa benar kalau Arkana memang terlihat begitu trauma pada masa lalunya.
“ Pembentukan kepribadian seseorang 20 % di tentukan oleh sifat yang diturunkan dan 80 % di tentukan oleh lingkungan atau pola asuh. Nah, pola asuh ini yang dapat mempengaruhi inner child seseorang. Kamu bilang kalau temanmu itu selalu di tuntut oleh orang tuanya sejak kecil sampai saat ini, dan sikap impulsif dan tempramen yang dia lakukan hanya di lampiaskan pada kekasihnya saja. pembentukan karakter temanmu ini masih belum berkembang, dia masih terjebak dengan masa lalunya sebagai seorang anak-anak. Itu yang kami sebut sebagai inner child dalam diri orang dewasa. “
__ADS_1
“ Jadi maksud kamu dia mengalami kondisi seperti itu karena masa lalu yang dulu dia alami?”
“ Tentu saja, hasil pengalaman masa lalu yang membentuk inner child dapat terlihat dalam beragam sifat. Inner child dapat bersifat baik dan buruk apabila dia merasa marah maka dia akan meluapkan emosinya tanpa berpikir panjang, sedangkan jika dia merasa senang biasanya mereka akan terlihat sangat bersemangat dan penuh enerjik.” Jelas Gilang lagi.
Jingga sekarang mengerti kenapa terkadang sikap Arkana berubah-ubah, seperti yang di katakan oleh Gilang bahwa Arkana memiliki inner child yang terluka karena masa lalunya.
“ Jadi bagaimana? Setelah kau mendengar jawabanku, apa itu bisa membantumu.?” Tanya Gilang.
“ Aku nggak tahu, tapi sekarang aku mengerti.” Jawab Jingga.
“ Kalau kamu benar-benar sayang sama temanmu itu, kamu bisa kok bawa dia konsultasi sama aku. Aku bisa bantu dia sembuh dari trauma masa lalunya, dengan kamu datang menemuiku seperti ini sebenarnya tidak akan bisa membantunya sembuh sama sekali.”
“ Aku jujur sama kamu boleh.?” Ucap Jingga yang akhirnya memutuskan untuk memberitahu Gilang.
“ Boleh, kamu boleh jujur sama aku. Justru itu juga akan baik untuk kamu, bukan hanya orang lain.” Balas Gilang kemudian.
“ Teman yang ku maksud barusan, sebenarnya adalah suamiku. Kami menikah karena perjodohan, dan aku nggak tahu kalau ternyata dia menikah denganku karena paksaan orang tuanya. Dia berubah semenjak kami menikah, itu sebabnya aku penasaran dengan sikapnya itu. Hingga akhirnya aku kepikiran sama kamu, dan menanyakan soal ini.”
“ Terima kasih karena kamu sudah mau jujur sama aku, aku janji masalah ini nggak akan sampai di tahu oleh orang lain. Dengan kamu jujur juga bisa mengatasi masalah dalam diri kamu sendiri, kita bisa sama-sama mencari cara untuk memperbaiki semuanya.”
“ Tapi bagaimana caranya lan? Apa suamiku bisa sembuh dari inner child yang di alaminya.?”
“ Tentu saja bisa, semua bisa di lakukan dengan cara mengajaknya untuk terapi.”
“ Tapi itu mustahil, dia pasti nggak akan mau.”
“ Aku ada ide, kita bisa pakai cara ini buat dia menyadari masalahnya terlebih dahulu.”
__ADS_1
“ Apa ide kamu lang.?”