
Seorang pria tinggi dengan jas putihnya baru saja masuk ke dalam sebuah ruangan dan menyapa beberapa orang yang dia temui, sampai akhirnya dia berdiri di tempat resepsionis untuk membawakan gelas kopi pada asistennya.
“ Malam ini kita sedikit lembur, jadi semangat ya.” Kata Gilang.
“ Siap dok.” Jawab dua perawat yang bertugas membantu Gilang di tempat prakteknya itu.
“ Oh iya dok, di dalam sudah ada tamu.” Ucap perawat itu.
“ Kita bahkan belum mulai, siapa yang datang di jam segini.?” Tanya Gilang penasaran.
“ Bukan pasien dok, tapi tamu. Namanya tuan Arkana Adayatama, dia dokter dari rumah sakit bintang harapan.” Jawabnya lagi.
Gilang terkejut mendengar nama barusan, tanpa menunggu waktu lama dia segera menuju ruangannya. Dan ketika pintu terbuka, dia bisa melihat seorang pria duduk di atas sofa menunggu kedatangannya.
“ Aku terkejut dengan kedatanganmu kemari, ada yang bisa ku bantu.?” Tanya Gilang setelah dia duduk di hadapan Arkana.
“ Aku datang kemari sebagai tamu di depan asistenmu, tolong rahasiakan ke mereka kalau aku datang sebagai pasienmu.” Ujar Arkana.
“ Tentu saja, ini akan menjadi rahasia di antara kita berdua. Jadi ada apa? Kenapa tiba-tiba datang.?”
“ Di seminar yang dulu kau lakukan, aku berpikir untuk mencaritahu masalahku. Aku tidak suka bertemu dengan psikiater, itu mengingatkan ku dengan masa lalu. Tapi aku percaya sama kamu, dan aku berharap kamu bisa membantuku.” Ucap Arkana terlihat begitu berharap pada Gilang.
**
Jingga yang sedang berada di halaman rumah tiba-tiba saja mendapat kiriman bucket bunga mawar yang besar dari Arkana, dia menerima bunga itu dan menatapnya sebentar. Ada sepucuk surat yang tersimpan di atasnya, Jingga kemudian meraihnya dan mencoba untuk membacanya sebentar.
“ Bunga yang cantik untuk wanita yang cantik, aku nggak akan menyerah sampai kamu kembali ke pelukanku.” ARKANA.
Setelah truck LED, sekarang adalah kiriman bucket, dan entah besok apalagi. Jingga tidak tahu harus bagaimana lagi untuk menghentikan aksi Arkana ini, mungkin dia akan membiarkannya sampai Arkana merasa bosan dan berhenti sendiri.
“ Ini pak, Bunganya kalau bisa di tanam aja.” Jingga menyerahkan bucket bunga itu pada tukang kebun di rumah.
“ Siap non.” Balasnya segera melakukan perintah Jingga.
Dan Jingga pun beranjak menuju kamarnya, dia merasa lelah setelah mencoba berjalan-jalan santai di halaman rumah. Ketika dia tiba di kamar, ponselnya baru saja berdering menandakan ada panggilan yang masuk.
“ Halo lang, ada apa ya? Tumben nelpon.?”
__ADS_1
“ Kamu pasti bakal terkejut dengan ini.”
“ Ada apa sih? Jadi penasaran.”
“ Suami kamu kemarin datang menemuiku, dia ingin menjalani terapi. Dan hari ini hasil kuesioner yang dia isi baru saja masuk, aku cukup terkejut dengan hasilnya.”
“ Mas Arka datang ke tempat kamu?”
“ Yup, karena dia orang sibuk jadi kami sulit untuk sering-sering bertemu. Minggu ini adalah hari pertama dia menjalani terapi, kamu memang hebat bisa buat dia datang dengan sendirinya.”
“ Halo? Jingga? Kok kamu diam.?” Tegur Gilang di seberang sana.
“ Oh maaf, aku kaget aja soalnya aku nggak tahu kalau dia kesana.”
“ Sama, aku juga sempat kaget. Tapi sekarang kamu tenang aja, aku pasti bisa bantu dia keluar dari masalahnya.”
“ Terima kasih ya Lang, kalau gitu aku tutup dulu.”
Jingga terlihat masih syok di buatnya, semua terjadi secara tiba-tiba. Sampai kapan Arkana akan berhenti melakukan hal yang tiba-tiba ini, namun di samping itu dia merasa lega karena akhirnya Arkana sadar akan kondisinya dan ingin menyembuhkan luka dalam dirinya.
**
Jingga berdiri di depan sebuah pintu yang terus dia perhatikan sejak kemarin, dia menyentuh pintu itu dan memikirkan bagaimana keadaan di dalam sana.
“ Kamarnya terkunci, kuncinya mungkin ada sama mas Arka.” Jawab Jingga.
“ Bibi punya kuncinya, sebentar ya non.” Bi Ijah kemudian pergi mengambil kunci dan setelah itu kembali lagi.
Bi Ijah menjelaskan bahwa kamar itu sudah lama terkunci karena Arkana yang memintanya, bi Ijah adalah satu-satunya orang yang boleh masuk ke dalam sana itu sebabnya dia memegang kunci kamar itu.
“ Silahkan masuk non.” Bi Ijah mempersilahkan Jingga untuk masuk ke dalam.
Sekarang Jingga sudah berada di dalam kamar itu, kondisi kamar terlihat sangat bersih dan rapih. Semua di jaga oleh bi Ijah dengan baik, dan Jingga yang penasaran pun ingin mengetahui seperti apa kamar Arkana di rumah ini.
Jingga duduk di atas tempat tidur Arkana, kemudian dia melihat sekitar ruangan itu sambil membayangkan Arkana juga ada disana. Kamar yang menjadi tempat Arkana menyendiri dan memendam semuanya tanpa ada satu orang pun yang tahu.
“ Sejak pak Hendra menikah dengan nyonya, mereka semua tinggal di rumah ini. Saya sudah lama bekerja dengan mereka, dan saya tahu bagaimana den Arka selalu berada di kamarnya setiap saat.” Jelas bi Ijah.
“ Dan disini ada semua rahasia den Arka, nggak ada yang tahu kecuali saya. Bahkan nyonya Widya sendiri pun nggak tahu apa-apa, karena non Jingga adalah istrinya den Arka, jadi saya rasa nggak apa-apa kalau non melihat isi dari brangkas ini.” Lanjut bi Ijah.
Jingga beranjak dari tempatnya dan mendekati sebuah berangkas di dekat tempat tidur, dia melihat ada kode yang harus di masukkan sebelumnya. Jingga mencoba memasukkan tanggal lahir Arkana, namun sayang gagal.
__ADS_1
“ Saya tinggal dulu ya non, sebentar lagi nyonya pulang.” Ucap Bi Ijah yang keluar meninggalkan Jingga sendirian.
**
Pria itu baru saja selesai mandi, dia keluar dari kamar mandi dengan mengenakan boxer dan handuk yang melingkar di lehernya. Dia mendengar suara ponsel berdering dan segera melihatnya, ada nama Jingga disana yang membuat Aizen segera mengenakan pakaiannya terlebih dulu sebelum menemui istrinya.
Aizen keluar dari kamar mencari keberadaan Qania, rupanya wanita itu sedang sibuk di dapur dan menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Aizen memberikan ponsel Qania padanya, dan Qania menerima ponsel itu dengan tatapan bingung.
“ Jingga barusan nelpon, aku nggak jawab karena mau kasih ke kamu, eh sampai sini udah nggak ada panggilan lagi.” Jelas Aizen.
“ Kamu lanjut masaknya ya, aku telpon balik Jingga dulu.” Ucap Qania di balas anggukan pelan dari Aizen.
Qania sedang menelon balik ke Jingga, setelah beberapa saat kemudian akhirnya panggilan itu tersambung.
“ Kamu kenapa nelpon?” Tanya Qania yang mengira bahwa Jingga menelpon untuk membahas masalah kesehatannya.
“ Aku mau tahu tanggal ulang tahun kamu.” Sahut Jingga di seberang sana.
“ Iya, bisa tolong sebutkan.”
“ Aku ulang 2 juli 1988.”
“ Kalau tanggal jadian kamu sama Arkana.?”
“ Kamu kenapa tiba-tiba nanya hal ini.?”
“ Aku Cuma mau tahu aja.”
“ 14 April 2016.”
“ Oke, terima kasih ya.”
“ Tunggu Jingga, ada apa memangnya.?”
“ Nggak ada apa-apa, kamu nggak usah khawatir. Udah dulu ya, aku ada urusan lain soalnya.”
Jingga mengakhiri percakapannya dengan cepat dan masih membuat Qania terlihat kebingungan, kemudian Aizen muncul dan menegurnya.
“ Jingga kenapa.?” Tanya Aizen.
“ Nggak tahu, dia tiba-tiba tanya tanggal lahir sama tanggal jadian aku dan Arkana.” Jawab Qania.
__ADS_1
“ Makanan udah jadi, kita makan dulu yuk.” Ajak Aizen lirih.
Qania meraih tangan Aizen dan mereka berdua langsung menuju meja makan, malam ini mereka pulang cepat dari rumah sakit sehingga bisa menikmati makan malam bersama.