
Jingga menoleh ke belakang dan terkejut melihat bahwa ternyata Arkana memergokinya saat ini, sekarang Jingga di tarik paksa oleh Arkana ke tempat tidur dan mendorongnya dengan kuat.
Arkana sampai ikut menahan kedua tangan Jingga hingga kedua mata mereka saling bertemu satu sama lain, Jingga begitu takut dengan Arkana yang sekarang mungkin akan memukulnya seperti kemarin-kemarin.
“ Aku minta maaf, aku minta maaf mas.” Kata Jingga dengan rasa ketakutan yang besar.
“ Bukan berarti aku ngizinin kamu tidur disini dan kamu seenaknya menggeledah kamarku, apa-apan dengan membuka kotak itu tanpa izin dariku hah.?” Ucap Arkana dengan penuh penekanan.
“ Aku minta maaf mas, aku hanya penasaran sama hubungan kamu dan Qania. Makanya aku mencoba caritahu semuanya, aku lihat kotak itu dan penasaran sehingga aku coba buka dan lihat isinya.” Jawab Jingga yang merasakan tubuhnya sudah bergetar hebat karena takut.
“ Penasaran dengan hubunganku? Kenapa.?” Tanya Arkana dengan ekspresi yang tiba-tiba berubah.
“ Aku mau tahu aja hubungan kalian berdua seperti apa.?” Kata Jingga pelan.
Arkana melepaskan tangannya dari sana yang membuat pergelangan tangan Jingga tampak memerah di buatnya, kemudian Arkana duduk di bibir tempat tidur sambil terdiam.
“ Memangnya Qania tidak pernah cerita sama kamu soal hubungan aku dan dia.?” Tanya Arkan saat ini terdengar sedikit lebih tenang.
“ Qania hanya bilang kalau kalian berdua hanya teman, tapi aku lihat hubungan kalian bukan seperti itu.” Jawab Jingga.
“ Qania bilang seperti itu.?”
“ Iya mas.” Jingga melirik Arkana yang terlihat sedikit kecewa mendengarnya.
Arkana tidak menjawab apapun lagi, dia beranjak dari sana menuju sofa. Malam itu dia akan melanjutkan tidurnya di sofa sedangkan Jingga akan menggunakan tempat tidurnya.
Jingga merasa bersyukur karena Arkana tidak menyakitinya lebih dari ini, dia pun mulai memperbaiki posisi tidurnya dengan baik. Jingga melirik ke arah Arkana yang sudah menutup matanya dengan perasaan bingung, bahkan Arkana sendiri tidak menjawab seperti apa hubungannya dengan Qania dulu.
**
Keesokan harinya sebelum keluar menuju meja makan, Arkana memberitahu Jingga agar bisa bersikap lebih mesra dengannya. Arkana tidak ingin mama Widya berpikir bahwa mereka tidak mesra setelah melewati hari-hari bersama sebagai sepasang suami istri.
__ADS_1
Kini Jingga dan Arkana keluar dari kamar sambil rangkul-rangkulan, setibanya di ruang makan dan bertemu mama Widya mereka pun kompak mengucapkan selamat pagi pada wanita itu.
“ Kalian kelihatan nempel banget pagi ini.” Komentar mama Widya menatap mereka lurus.
“ Iya ma, mas Arka emang suka nempel semenjak aku hamil.” Balas Jingga di akhiri dengan senyuman kecil.
Mereka bertiga kini memulai sarapan pagi bersama, saat itu Arkana terlihat berdiri dan hendak mengambil sesuatu yang ada di dekat Jingga. Namun respon Jingga yang refleks takut membuat mama Widya melihatnya dengan tatapan bingung.
“ Kamu mau apa mas? Sini biar aku yang ambilin.” Jingga menutupi perasaan barusan dengan memilih membantu Arkana.
Mama Widya meyaksikan keduanya sambil menikmati sarapan paginya, respon Jingga tadi masih membuat mama Widya penasaran. Tidak mungkin seseorang akan berespon seperti itu jika dia tidak sering mendapatkan pukulan, ini benar-benar menarik perhatian mama Widya sekarang.
**
Saat ini Jingga sedang di dalam ruangannya melanjutkan jahitan bajunya, tiba-tiba saja mama Widya masuk ke dalam membawa nampan berisikan minuman dan cemilan khusus untuk Jingga.
“ Mama nggak usah repot-repot bawain aku, aku bisa ambil sendiri kok.” Ucap Jingga merasa tidak enak di buatnya.
Mama Widya melirik jahitan baju yang di buat oleh Jingga dengan penasaran, meskipun belum terlihat selesai dengan sempurna namun baju buatan Jingga memiliki desain yang sangat indah.
“ Kamu hebat banget ya, mama suka sama desain kamu ini.” Komentar mama Widya.
“ Terima kasih ma.”
“ Kamu juga buat untuk prianya? Couple sama Arka ya.?”
“ Hehe iya ma, aku sengaja buat dua pasang buat mas Arka satu.”
“ Hebat, mama bangga banget sama kamu.”
Kemudian Jingga menyudahi jahitannya sebentar untuk dapat menikmati cemilan yang di bawa oleh mama Widya barusan, sekarang mereka berdua duduk santai di salah satu sofa di ruangan itu.
“ Jingga, mama mau tanya hal serius sama kamu.” Lontar mama Widya sontak membuat Jingga meliriknya dengan tatapan gugup.
__ADS_1
“ Boleh ma, silahkan.”
“ Kamu sama Arkana baik-baik aja kan? Dia nggak pernah nyakitin kamu kan? Atau kamu pernah lihat dia melakukan sesuatu diluar sana sama wanita lain selain kamu? Mama sayang sama kamu makanya mama bertanya seperti ini.” Lanjut mama Widya kembali membuat Jingga bingung harus memilih kata yang tepat untuk menjawabnya.
“ Mas Arka baik ma.”
“ Kamu nggak usah bohong sama mama, bilang ke mama kalau Arkana tidak memperlakukan kamu dengan baik selama kalian menikah.”
“ Aku nggak bohong ma.”
“ Kalau begitu tatap mata mama saat kamu menjawabnya, kenapa menunduk seperti orang ketakutan.?”
Jingga menunduk bukan karena dia tidak berani menatap mama Widya, melainkan dia tidak ingin mama Widya melihat matanya yang sudah berkaca-kaca menahan tangis.
Mama Widya kemudian menyentuh wajah Jingga dan menariknya agar dapat melihat wajah itu. Dan benar saja setelah itu Jingga langsung menangis, mama Widya tidak perlu jawaban lagi atas pertanyaannya sebab tangisan itu sudah memberikan jawaban yang cukup.
“ Maafin Arkana ya, mama nggak tahu kalau selama ini dia bersikap jahat sama kamu.” Mama Widya pun memeluk Jingga dan membiarkan wanita itu menangis di pelukannya.
Jingga menangis seperti seorang anak kecil dan sulit untuk berhenti, semua yang dia pendam selama ini akhirnya di keluarkan dalam sebuah tangisan. Mama Widya tidak banyak bicara setelah itu, dia hanya membiarkan Jingga menangis sampai dirinya benar-benar merasa puas.
“ Ma, mama jangan kasih tahu mas Arka. Hubungan aku sama mas Arka memang nggak sebaik yang orang lain pikir, tapi aku juga nggak mau orang lain tahu yang sebenarnya.” Ucap Jingga parau.
“ Kenapa? memangnya kamu sanggup menerima perlakuan Arkana ke kamu.?”
“ Aku yakin mas Arka bisa berubah, aku akan bersabar menghadapinya dan buat hatinya luluh.”
“ Kamu yakin nggak mau mama bantu.?”
“ Nggak usah ma, terima kasih atas perhatian mama. Aku senang akhirnya ada yang tahu tentang aku sama mas Arka, mama cukup dukung hubungan kami berdua dan bantu doa buat mas Arka bisa berubah.”
“ Ya sudah kalau itu mau kamu, mama akan selalu berada disisi kamu sayang.”
“ Terima kasih banyak ma.”
__ADS_1