Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Jatuh Ke Dalam Jebakan


__ADS_3


“ Tsania.”


“ Tsania.”


Untuk ketiga kalinya Tsania tidak mendengar kalau namanya sedang di panggil, dia fokus dengan lamunannya sampai pada akhirnya Wulan menyentuh pundaknya sehingga membuat gadis itu langsung tersadar.


“ Tsania, kamu di panggil sama dokter Arkana.” Ucap Wulan sontak membuat Tsania langsung bangkit dengan penuh semangat.


Ketika Tsania hendak keluar dari ruangan itu, dia dan Gabriel sempat berpapasan di depan pintu. Namun Tsania tidak menghiraukannya dan pergi begitu saja meski Gabriel sempat menyapanya.


Langkah Tsania semakin di percepat saat dia tahu kalau Arkana yang memanggilnya, dia berpikir bahwa Arkana mungkin merasa bersalah padanya karena sandwitch itu sehingga dia ingin meminta maaf kepadanya secara langsung.


Sekarang Tsania sudah tiba di ruangan Arkana, dia mengetuk pintunya terlebih dulu sebelum dia masuk ke dalam. Suara seseorang dari dalam lantas membuatnya segera membuka pintu tersebut.


“ Dimana dokter Arkana.?” Tanya Tsania kaget saat yang dia lihat di dalam ruangan itu bukanlah Arkana, melainkan Aizen.


“ Yang ingin bicara denganmu bukan Arkana, tapi saya.” Balas Aizen mulai menatapnya serius.


“ Apa masud dokter? Saya nggak ada urusan dengan dokter ya.” Sahut Tsania.


“ Duduk dulu, ada sesuatu yang ingin saya bahas dengan kamu.” Lontar Aizen mempersilahkan.


Tadinya Tsania menolak untuk mendengar perintahnya, tapi karena dia sudah terlanjur datang akhirnya dia duduk dan menatap Aizen dengan tatapan penasaran.


“ Saya tahu kalau yang memposting rumor itu bukan Nisa, tapi kamu kan.?” Ucap Aizen melirik Tsania dengan tatapan lurus.


“ Bukannya sudah jelas kalau yang melakukannya itu kak Nisa? Id penggunanya jelas milik dia kan.”


“ Memang benar, tapi seseorang yang memiliki bukti rekaman itu hanya kamu. Kau lupa ya waktu itu sempat ingin menunjukkannya padaku?”


Tsania terkejut saat mendengarnya, dia melupakan bagian itu kalau sebelumnya dia ingin merusak hubungan Qania dan Aizen. Waktu itu Aizen memang menolak melihat rekaman itu, dan dia juga lupa soal dirinya yang pernah mengobrol dengan Aizen.

__ADS_1


“ Bagaimana? Kau masih mau mengelak lagi.?” Sahut Aizen.


“ Kalau iya memangnya kenapa? kalaupun saya mengakuinya toh dokter nggak ada bukti apapun, dan saya ingatkan sekali lagi ya dok. Saya punya bu Widya yang bisa melindungi saya, jadi dokter Aizen harus berhati-hati karena bisa saja dokter Aizen yang nantinya akan keluar dari rumah sakit ini juga.”


“ Memang benar kalau saya tidak punya bukti di hari itu, tapi kamu tidak tahu kan kalau di ruangan ini ada Arkana yang juga mendengar pengakuanmu barusan.”


Tsania kembali di buat terkejut dengan ucapan Aizen, kemudian sosok Arkana muncul dari balik dinding pemisah antara ruang kerja dan tempat praktiknya.


“ Jadi kamu dan mamaku ternyata sudah bekerja sama selama ini, kenapa aku sama sekali tidak mengetahuinya?” Arkana terus mendekati Tsania yang membuat gadis itu terlihat ketakutan.


Arkana langsung mencengkram kedua lengan Tsania dengan kuat sampai membuat gadis itu meringis kesakitan, Aizen berusaha merelai karena tak ingin sampai terjadi sesuatu yang lebih parah dari masalah kemarin.


Tapi Arkana tidak mendengarnya, dia seperti di rasuki oleh sesuatu yang membuatnya sangat marah dan ingin meluapkannya pada Tsania saat ini. Cengkraman Arkana semakin kuat dan dia berteriak di depan wajah Tsania untuk membuatnya mengakui semua kesalahannya selama ini.


“ Arkana cukup, kau bisa melukainya.” Aizen terus merelai mereka sampai menarik tubuh Arkana, namun sayangnya kekuatan Arkana jauh lebih besar sehingga Aizen gagal melakukannya.


“ Aku sudah tahu juga kalau kau sering mengirimkan pesan pada Jingga, kau tahu dia sedang dalam kondisi tidak baik tapi kau berusaha membuat kondisinya memburuk.”


“ Tidak, sebelum kau jelaskan semuanya dengan baik.”


“ Saya akan menjelaskannya, tolong lepaskan saya dok.”


Perlahan namun pasti Arkana melepaskan tangannya dan terlihat melangkah mundur, dia duduk tepat di depan Tsania dan menyuruh gadis itu untuk menjelaskan semuanya dengan jujur.


**


Wanita itu terlihat menunggu di parkiran sambil mendengar percakapan Arkana, Aizen, dan Tsania di ruang kerja Arkana. Sebelumnya mereka sudah melakukan panggilan tersebut agar Nisa bisa merekam percakapan mereka dan mendapat lebih banyak bukti.


Kemarin mereka semua sepakat untuk menjebak Tsania dengan pertemuannya bersama Aizen, dan dari percakapan sebelumnya kini dia sudah mengetahui bahwa ternyata yang berada di balik Tsania selama ini tak lain adalah mamanya Arkana.


“ Ini bahkan lebih membuatku kaget, kenapa bu Widya bisa di peralat dengan Tsania? Dan juga waktu itu ada yang aneh, aku nggak ngerti kenapa bu Widya lebih berwenang dari dokter Hendra? Sebenarnya apa yang terjadi di keluarga dokter Arkana.?” Ucap Nisa penasaran.


“ Aku melihatnya, tapi aku diam.”

__ADS_1


“ Sama, aku juga melihatnya di ruang istirahat waktu itu.”


Nisa mendengar suara yang tak asing di dekatnya, saat dia menoleh ternyata ada Wulan dan Gabriel sedang membicarakan sesuatu yang menarik perhatian Nisa.


“ Tsania sudah kelewatan, aku nggak tahu harus bagaimana lagi supaya dia berhenti melakukan kejahatannya.” Ucap Wulan.


“ Perjalanannya masih panjang, kita sebaiknya tetap diam supaya dia bisa menyelesaikan masa koasnya.” Sambung Gabriel.


“ Apa yang kalian sembunyikan.?” Sahut Nisa yang akhirnya muncul di hadapan mereka berdua.


“ Kak Nisa.?” Ucap Wulan kaget.


“ Katakan semuanya ke aku, atau kalian akan dapat masalah karena terus menyembunyikannya.” Ancam Nisa menatap mereka serius.


**


Wanita itu berlari dengan ear phone yang masih menempel di telinganya, dia mendengar penjelasan palsu dari Tsania setelah dia mendengar semua kesaksian Wulan dan Gabriel.


Nisa berlari dengan tergesa-gesa sampai beberapa kali hampir terjatuh, ruangan Arkana berada di lantai tiga dan dia harus naik lift yang ternyata full oleh orang-orang.


“ Halo, dokter Aizen. Dok…, dengarkan saya.” Nisa berusaha memanggil Aizen namun tak ada jawaban dari sana.


Terpaksa Nisa harus naik tangga darurat, dia kembali berlari secepat yang dia bisa. Penjelasan Tsania di sana semakin di buat-buat, meski begitu dia masih bisa mendengar kalau Arkana tidak mempercayainya sama sekali.


Nisa berdecak kesal setiap menaiki anak tangga, rasanya dia ingin segera berada disana dan memberitahu semua yang dia tahu. Tentang medication error yang terjadi pada Jingga, mungkin hal ini akan membuat Arkana sangat emosi sampai tidak bisa mengontrol dirinya lagi.


Sedikit lagi Nisa hampir tiba di lantai tiga, nafasnya sudah memburu dengan cepat tapi dia tidak menyerah untuk segera sampai di ruangan Arkana.


Pintu tangga darurat baru saja terbuka, Nisa menoleh ke kanan dimana ruangan Arkana berada di pojok koridor itu. Dia kembali berlari, sampai akhirnya dia sampai dan membuka pintu ruangan itu dengan cepat.


“ Dokter.., dia berbohong… semua yang…, dia katakan barusan adalah kebohongan.” Ucap Nisa dengan nafas yang tersengal-sengal.


__ADS_1


__ADS_2