Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Panggilan Introgasi


__ADS_3


Arkana kini sudah berdiri di depan sebuah kamar vip, dia mencoba untuk tenang dan tidak bertindak gegabah. Tujuannya datang hanya untuk memastikan bukan untuk menimbulkan keributan dan ketidaknyamanan pasien.


Perlahan namun pasti Arkana pun mulai mengetuk pintu kamar tersebut, cukup lama dia melakukanya dan tidak ada respon apapun dari dalam sana. Sampai pada akhirnya dia mencoba untuk membuka pintu itu sendiri.


Arkana berjalan memasuki kamar itu hingga dia melihat ada seorang wanita yang terbaring dengan alat rumah sakit yang terpasang di tubuhnya.


Tubuh Arkana langsung bergetar hebat dan mulutnya terasa kaku dan sulit untuk bicara, jantungnya berdebar lebih cepat dari sebelumnya dengan menyimpan sebuah harapan yang sangat besar.


Setelah Arkana berdiri di samping tubuh wanita itu, dia pun dapat melihat seluruh wajahnya dengan jelas. Dan ternyata wanita tersebut bukanlah Jingga.


" Kamu siapa.? " Sahut seseorang yang baru saja masuk dan mendapati Arkana sedang merenung.


" Maaf, saya pikir kamar ini milik teman saya. Saya salah kamar, sekali lagi maaf." Arkana pun mencoba untuk pergi, namun dia di tahan oleh pria barusan.


" Boleh saya tahu kamu sedang mencari siapa? Kebetulan saya seorang dokter disini, dan wanita yang berbaring disana adalah istri saya." Jelas pria itu pada Arkana.


" Namanya Nitaria Jingga, sebenarnya dia bukan teman tetapi istri saya. Dia sudah menghilang selama lebih dari dua minggu, padahal dia baru saja melahirkan anak pertamanya." Ungkap Arkana.


" Boleh jelaskan kronologi awalnya kenapa dia bisa menghilang begitu saja.? "


Arkana merasa tidak harus menjawabnya, dia tidak yakin apakah pria itu dapat membantunya atau tidak. Akhirnya Arkana mengakhiri pertemuannya dengan pria itu dan berlalu meninggalkan ruangan tersebut.


Kini Arkana sudah keluar dari kamat itu, dia berdiri sejenak di depan pintu kamar sambil menunduk putus asa.


" Arkana.?" Suara itu membuat si pemilik nama langsung menoleh.


Melihat sosok yang baru saja memanggilnya lantas membuat Arkana langsung menghampiri pria itu, dengan sekuat tenaga Arkana menarik kerah baju Bima dan mendorongnya ke dinding.


" Katakan dimana Jingga sekarang.? " Ucap Arkana dengan penuh penekanan.


" Apa maksudmu? Kau menuduhku yang menyembunyikan Jingga. ?" Balas Bima menatap Arkana dengan bingung.

__ADS_1


" Aku sudah tahu kalau kamu adalah Nawa, sejak awal kau sudah berbohong jadi nggak ada alasan buatku bisa percaya kalau bukan kamu yang melakukannya. "


" Kau sudah salah mengira kalau aku yang melakukannya. "


Arkana muak dan langsung menghajar wajah Bima hingga terpuruk ke lantai, kemudian dia kembali menarik kerah baju Bima dan memaksanya untuk berkata jujur.


" Jawab, dimana Jingga sekarang.!!! " Gertak Arkana semakin murka.


Bima yang tidak terima pun langsung membalas Arkana dengan menyingkirkan tangannya terlebih dulu, kemudian dia mendorong Arkana namun Arkana tak mau menyerah dengan kembali menyerangnya.


Perkelahian mereka sempat terjadi selama beberapa menit sampai pada akhirnya ada perawat dan dokter yang datang merelai mereka. Keduanya langsung di bawa paksa menuju ruang keamanan untuk di introgasi.


" Jadi kalian berdua saling bersaudara? Kenapa sampai membuat keributan di rumah sakit.? " Tanya kepala keamanan pada mereka berdua.


" Hanya sedikit masalah keluarga pak, sekarang kami sudah baikan kok. " Balas Bima sambil berusaha merangkul Arkana agar mereka dapat bebas secepatnya.


" Benar, kalian sudah baikan? Kenapa adeknya keliahatan nggak senang gitu.? "


Bima melirik Arkana dan memberikan kode pada Arkana untuk mengikuti arahannya, dan Arkana pun mulai tersenyum paksa sambil mengangguk mengiyakan ucapan Bima bahwa mereka telah berbaikan.


**


Arkana dan Bima melanjutkan obrolan mereka di luar dan jauh dari rumah sakit, Arkana masih belum percaya pada Bima dan akan melakukan apapun yang akan membuat Bima angkat bicara.


" Dimana Jingga sekarang? Dia sudah bukan milikmu lagi sehingga kamu bisa menyembunyikannya dariku. " Ucap Arkana sedikit lebih tenang dari sebelumnya.


" Aku sudah bilang kalau bukan aku yang menyembunyikannya, harus berapa kali lagi aku bilang ke kamu Ar.?" Balas Bima tampak frustasi.


" Lalu kenapa selama ini kamu berbohong kalau kau bukanlah Nawa? Kau membodohi kami semua, sebenarnya apa tujuanmu melakukan ini kalau memang tidak ada motif lain sejak awal.? " Tanya Arkana melirik Bima tajam.


" Aku punya alasan sendiri, sejujurnya sejak awal aku tidak tahu kalau kau menikah dengan Jingga. Aku pun terkejut saat mengetahui semuanya, tapi satu yang pasti sekali pun aku datang dengan membawa nama Nawa, aku yakin sudah tidak ad aku di hatinya. "


" Aku masih tidak percaya kalau bukan kamu pelakunya, tunggu sampai ada yang datang mengintrogasimu. " Arkana beranjak dari tempatnya dan merasa harus pergi, namun tiba-tiba dia kembali berhenti dan melirik Bima.

__ADS_1


" Apa yang kau lakukan di rumah sakit tadi? " Tanya Arkana lirih.


" Aku hanya datang berobat, kau sudah tahu kan kalau dulu aku yang sebagai Nawa pernah mengalami kecelakaan. Rumah sakit yang tadi adalah tempatku di rawat selama ini. " Jawab Bima.


Arkana kembali melangkah meninggalkan Bima seakan tak peduli padanya lagi, sementara itu Bima terlihat menatap kepergian Arkana dengan tatapan memelas.


**


Kediaman Adyatama saat ini sedang kedatangan beberapa orang dari kantor polisi, Arkana selaku pelapor telah melaporkan tuduhan penculikan Jingga pada Bima. Dia melakukan semua itu untuk membuat Bima berkata yang sejujur-jujurnya, dan beberapa kecurigaan yang sekiranya banyak mengarah kepada Bima.


" Ada apa ini.? " Sahut mama Widya yang baru saja muncul dari kamarnya.


" Kami dari kepolisian bu, kami ingin menyerahkan surat panggilan pada suadara Abimana untuk segera ikut bersama kami ke kantor dan melakukan proses introgasi. " Jelas salah satu dari mereka.


" Nggak ada yang boleh membawa putraku pergi, kalian keluar dari rumah ini sekarang. " Lontar mama Widya yang tak terima dengan kedatangan mereka.


Bima juga baru saja keluar dari kamarnya, dia bingung dengan semua orang yang berkumpul di ruang tamu. Kemudian mama Widya menghampirinya dan memaksa Bima agar masuk ke dalam kamarnya kembali.


Salah satu kepala kepolisian memberitahu Bima akan tujuannya datang kemari, dan Bima pun terlihat serius mendengarkannya.


" Silahkan bawa saya pak, saya bersedia memberikan kesaksian yang sebenarnya. " Ucap Bima dengan pasrah.


" Kamu ngomong apa sih, mama nggak terima kamu pergi dengan mereka. " Tolak mama Widya.


" Justru kalau Bima nggak pergi, itu artinya Bima yang udah nyembunyiin Jingga selama ini. Jadi biarin Bima pergi ma, mama nggak perlu khawatir soal itu.?" Ungkapnya kemudian.


" Siapa yang mengajukan laporan ini.? " Tanya mama Widya pada para polisi itu.


" Pak Arkana Adyatama bu. " Jawab mereka.


" Berani sekali anak itu melaporkan kakaknya sendiri. "


" Sudah ma, jangan salahin Arkana. Lagi pula aku hanya di panggil untuk introgasi saja, jangan terlalu berlebihan seperti itu. " Sahut Bima berusaha menenangkannya.

__ADS_1


Bima pun di bawa oleh mereka semua dengan suka rela, kecuali mama Widya yang masih tidak terima dengan perlakuan Arkana pada Bima.



__ADS_2