
Arkana meraih kedua tangan Jingga dan menatapnya dengan penuh keseriusan, Jingga balas menatapnya dengan rasa penasaran yang tinggi. Suasana di kamar itu terasa berbeda sejak Arkana masuk, sepertinya Arkana akan mengatakan sesuatu yang begitu sulit untuk dia ungkapkan.
“ Aku tahu aku banyak salah selama ini, aku bukan suami yang sempurna untuk kamu. Tapi kamu tahu kan kalau sekarang aku lagi berusaha menjadi yang sempurna untuk kamu, apapun akan ku lakukan supaya kamu bahagia sama aku. Jadi aku mohon sama kamu, tolong jangan pergi dari hidupku. Aku sayang banget sama kamu Jingga.”
“ Kamu mau ngomong apa mas? Bilang kalau ada sesuatu yang lain, kamu sudah sering mengatakan hal ini ke aku. Dan aku merasa kalau sebenarnya bukan itu tujuan kamu, jangan takut untuk mengatakannya.”
“ Aku nggak mau kamu ketemu sama Bima.”
Jingga tidak terkejut mendengarnya, sebenarnya dia sudah curiga akan hal itu sejak awal. Dia bisa tahu kalau Arkana cemburu pada Bima jika dia dekatnya, tapi sebenarnya bukan hanya itu saja.
“ Kamu takut aku suka sama mas Bima karena dia mirip dengan mendiang mantanku.? ” Tanya Jingga membuat Arkana menundukkan kepalanya dengan berat.
“ Mas, lihat aku.” Jingga meraih wajah Arkana untuk bisa saling menatap satu sama lain.
“ Mas Bima mungkin mirip dengan Nawa, tapi mereka orang yang berbeda. Aku tahu setiap melihat mas Bima selalu buat aku teringat dengan Nawa, tapi bukan berarti aku juga menyukai mas Bima. Kalau alasan kamu nggak mau datang ke rumah mama karena masalah itu, kamu nggak usah khawatir. Hatiku Cuma untuk kamu sekarang, aku juga sayang sama kamu mas.”
Arkana merasa begitu bahagia sampai membuat hatinya ingin meledak mendengarnya langsung dari Jingga, sekarang dia merasa jauh lebih tenang karena ternyata Jingga tidak akan melirik Bima seperti dia melirik Nawa dulu.
“ Peluk.” Kata Arkana sambil merentangkan kedua tangannya.
“ Kamu makin kaya anak kecil ya, nggak malu sama calon anak kamu.” Balas Jingga sambil menerima pelukan dari suaminya itu.
“ Karena anak itu belum lahir jadi aku yang harus manja-manja sama kamu.” Ucap Arkana merasa begitu nyaman berada di pelukan Jingga.
**
Malam itu Jingga dan Arkana datang di kediaman mama Widya untuk memenuhi panggilan makam malam bersama. Mereka saling bergandengan tangan sampai masuk ke dalam rumah, dan keduanya di sambut oleh mama Widya yang menyuruh mereka untuk segera bergabung di meja makan.
Para pembantu di rumah itu sibuk menghidangkan makanan di atas meja selagi semua orang yang duduk mendengar kabar tentang Jingga yang kemarin sakit, dan Jingga pun menjawabnya dengan baik yang membuat semuanya merasa lega karena sekarang dia sudah sehat.
“ Mas Arka yang merawatku ma, aku bisa sehat seperti sekarang karena dia.” Sahut Jingga dan mendapat tanggapan yang biasa dari mama Widya.
__ADS_1
“ Bagaimana kondisi bayinya? Tidak ada masalah yang serius kan.?” Tanya Papa Hendra.
“ Nggak ada kok pa, bayinya sehat.” Jawab Jingga kemudian.
Jingga mencium ada aroma yang tidak asing, ternyata di salah satu menu makanan ada yang berbahan seafood dan tatapan Jingga langsung tertuju pada Bima saat itu.
Mama Widya terlihat menuangkan seafood itu ke dalam piring Bima, Jingga langsung teringat dengan Nawa dimana Nawa alergi dengan makanan berbahan seafood.
“ Kamu suka sama seafood kan.?” Ucap mama Widya di balas anggukan pelan dari Bima.
Perhatian Jingga terfokus pada Arkana yang juga memperhatikan keduanya, Jingga tahu apa yang harus dia lakukan untuk membuat perasaan Arkana menjadi lebih baik.
“ Ini mas, kamu suka ini kan.” Jingga juga menuangkan makanan di atas piring Arkana sehingga membuat fokus Arkana sekarang hanya tertuju kepadanya.
“ Terima kasih.” Balas Arkana terlihat begitu senang dengan perhatian Jingga.
Setelah itu Jingga kembali melirik Bima, dia terlihat menyantap makanan itu dengan lahap. Jingga kembali di hadapi oleh kenyataan bahwa ternyata memang benar kalau mereka adalah orang yang berbeda.
“ Nawa alergi dengan seafood, dia bukan Nawa sehingga dia tidak akan alergi.” Benak Jingga yang sekarang fokus dengan makanannya.
Bima menghentikan suapannya sebentar, dia melihat semuanya satu persatu sebelum akhirnya terfokus pada mama Widya.
“ Soal itu nanti aku kasih tahu yang bersangkutan ma, soalnya dia sibuk jadi aku nggak bisa atur waktu buat bawa dia ketemu kalian semua.” Jawab Bima kemudian.
“ Mama penasaran sama calon kamu, semoga dia wanita baik yang bisa buat kamu bahagia ya.” Ujar mama Widya lagi.
“ Iya ma, semoga.”
**
Arkana sedang duduk di atas tempat tidur mantan kamarnya di rumah itu, dia menatap sebuah bingkai foto dimana hanya ada dia dan mama Widya di foto itu. Foto masa lalu sekitar dua puluh tahun yang lalu, dia masih sangat muda dan mama Widya terlihat hanya memiliki dirinya saja.
Kemudian dia meletakkan bingkai itu di atas meja sambil menatap keluar jendela dimana hujan turun dengan lebat, karena hujan itu dia dan Jingga tidak bisa pulang. Mungkin malam ini mereka akan tinggal di rumah mamanya, dan besok pagi-pagi sekali akan meninggalkan tempat itu.
Saat Arkana menoleh dia sudah melihat sosok Jingga yang baru saja masuk di dalam kamar itu, Jingga terlihat menghampirinya dengan senyum yang selalu membuat Arkana merasa lebih baik.
__ADS_1
“ Kamu habis dari mana.?” Tanya Arkana setelah Jingga menjatuhkan tubuhnya di sebelahnya.
“ Aku barusan ngobrol sama mama, dank arena di luar sedang hujan dia bilang kalau kita tinggal di sini untuk malam ini.” Jawab Jingga lirih.
“ Baru aja aku mau kasih tahu kamu soal itu, walaupun kita naik mobil aku nggak mau mengambil resiko.” Ucap Arkana sambil menyibakkan rambut Jingga ke belakang telinganya.
“ Kamu nggak apa-apa kan.?” Tanya Jingga menatap wajah Arkana lurus.
“ Aku nggak apa-apa selama ada kamu di samping aku.”
Jingga meraih wajah Arkana dan mengusap wajah tampan itu dengan penuh kelembutan, tampak Arkana yang sangat menikmati perhatian yang di berikan Jingga saat ini.
“ Aku tahu perasaan kamu bagaimana mas, nggak apa-apa kok kalau kamu menunjukkan apa yang kamu rasakan sekarang.” Kata Jingga dan saat itu membuat Arkana tak bisa lagi menutupinya.
“ Aku mau melupakannya, bersikap masa bodo mungkin akan lebih baik untuk sekarang. Dia juga janji nggak akan pergi kemana-mana, dulu aku nggak punya siapa-siapa tapi sekarang aku punya dia.” Benak Arkana yang kemudian memeluk Jingga dengan penuh kasih sayang.
“ Aku sayang banget sama kamu. Terima kasih karena mau bertahan sama aku.” Ungkap Arkana tanpa sadar menitihkan air mata.
“ Aku juga sayang sama kamu mas.” Balas Jingga merasa lega karena Arkana sudah bersikap cukup dewasa sekarang.
Setelah melepaskan pelukan yang cukup lama itu, tampak Arkana memandang wajah Jingga cukup lama sampai membuat Jingga merona menahan malu.
“ Istriku cantik banget.”
“ Kamu jangan ngomong gitu tiba-tiba dong, aku malu.”
“ Tapi emang kenyataannya begitu, kamu cantik banget.”
Arkana mulai jahil dengan meraih wajah Jingga berniat untuk menciumnya, Jingga yang merasa malu berusaha untuk menyingkir. Tiba-tiba saja mereka terkejut setelah mendengar suara pintu tertutup, keduanya menoleh dengan heran siapa yang baru saja menutup pintu itu.
“ Mungkin bi Ijah, lupain aja. Sekarang kasih aku ciuman selamat malam.” Ucap Arkana kembali menggoda Jingga.
__ADS_1