Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Belanja Keperluan Baby


__ADS_3


Qania sedang sibuk merapihkan barang-barangnya, dia tidak menyangka setelah bekerja selama beberapa tahu di rumah sakit itu akhirnya dia harus meninggalkan tempat tersebut. Ada begitu banyak kenangan yang sulit untuk di lupakan, dalam kondisinya yang sedang hamil dan kurang enak badan itu dia harus tetap berfikiran lurus.


Pintu ruangan Qania baru saja terbuka, dan yang datang ternyata Aizen. Pria itu baru saja kembali dari memeriksa pasien, sebelumnya dia sudah menunggu Qania kembali tapi tiba-tiba saja dia harus pergi.


Aizen sudah mengetahui kabar tentang pencabutan SIP Qania, dia langsung memeluk istrinya itu dengan penuh kelembutan sambil menenangkannya.



“ Aku disini, kamu nggak sendirian.” Ucap Aizen yang akhirnya membuat tangis Qania pecah.


Wanita itu menangis di pelukan suaminya dengan isak tangis yang membuat Aizen ikut sedih mendengarnya, Aizen tahu bagaimana Qania sangat senang dengan profesinya sebagai dokter dan bagaimana dia sangat senang bekerja di rumah sakit ini.


Aizen membiarkan Qania menangis sampai dia puas, dia mengelus pundak dan kepala Qania dengan sangat lembut. Meskipun dia tidak tahu apakah hal ini bisa membuatnya merasa lebih tenang.


“ Aku punya sesuatu untuk kamu, ini sudah lama aku siapkan tapi aku masih belum punya kesempatan untuk kasih tahu kamu.” Ucap Aizen setelah mereka selesai berpelukan.


“ Apa mas.?” Tanya Qania sambil menyeka air matanya di bantu oleh Aizen.


“ Aku buat tempat praktek sendiri buat kita, pembangunannya sudah hampir selesai dan aku akan mengurus izin prakteknya segera. Jadi setelah keluar dari rumah sakit ini kamu bisa istirahat dan menunggu sampai tempat itu bisa di gunakan.” Ungkap Aizen sukses membuat Qania terkejut bukan main.


“ Kamu serius mas? Kapan kamu menyiapkan semuanya.?”


“ Sudah lama, bahkan sebelum kita menikah aku sudah berpikir untuk membuat tempat praktek sendiri. Dan aku juga sudah membuatnya atas nama kamu, anggap sebagai hadiah karena kamu sudah memberikan malaikat kecil untukku.”


Qania kembali menangis mendengarnya, dia menangis bukan merasa sedih melainkan merasa bahagia. Kehadiran Aizen benar-benar mampu membuat perasaan sedihnya menghilang, sekarang dia tidak lagi memikirkan masalah ini dan akan fokus ke depan.


**


Arkana dan Jingga sedang asyik menikmati makan siang mereka bersama, hari ini Jingga merequest masakan khas Padang pada bi Inah yang merupakan orang Padang asli.


Jingga terlihat sangat menikmati makanan itu, dia bahkan sampai tambah beberapa kali dan mengaku puas dengan masakan bi Inah. Selama di rumah sakit dia bahkan tidak boleh makan-makanan luar, hanya makanan rumah sakit yang terasa sangat hambar.


“ Ingat ya, kamu boleh makan apapun yang kamu mau tapi nggak boleh keseringan. Aku harus pantau kesehatan kamu selama kamu rawat jalan.” Sahut Arkana.

__ADS_1


“ Iya mas, jangan cerewet gitu ah.” Keluh Jingga yang justru membuat Arkana gemas mendengarnya.


“ Btw, kamu nggak ke rumah sakit.?” Tanya Jingga tiba-tiba.


“ Aku cuti selama seminggu, aku mau fokus jagain kamu dulu.”


“ Karena kamu cuti, kita boleh jalan-jalan keluar kan.?”


“ Nggak boleh.”


“ Tapi aku mau beli perlengkapan bayi, kita bahkan belum pergi belanja sama sekali. Satu bulan lagi bayinya lahir, dia mau pakai apa nanti.?”


Arkana bahkan tidak sempat memikirkan hal itu karena terlalu fokus dengan kesehatan Jingga, melihat istrinya yang terus merengek ingin pergi akhirnya membuat Arkana mengiyakan permintaan Jingga barusan.


**


Mengunjungi toko perlengkapan bayi untuk pertama kalinya membuat Arkana terkejut dengan semua yang di jual di toko itu, dia langsung gemas sendiri ingin segera melihat anaknya mengenakan pakaian yang imut dan menggemaskan itu.



Bahkan sekarang terlihat Arkana yang jauh lebih antusias dari pada Jingga, padahal Jingga yang mengajaknya datang untuk berbelanja. Keduanya sibuk melihat-lihat keperluan apa saja yang akan mereka beli, namun sebelum itu keduanya membagi tugas dimana Arkana akan belanja perlengkapan bayi sedangkan Jingga lebih ke pakaian dan produk bayi yang sekiranya akan dia gunakan untuk anaknya nanti.



Biasanya calon ibu akan kesulitan memilih pakaian yang akan di berikan kepada bayinya, tapi bagi Jingga dia hanya memilih sesuai bahan dan kenyamanan yang nantinya akan membuat si bayi merasa tetap nyaman dengan pakaiannya.


“ Mas, aku udah. Kamu habis beli ap..” Jingga menggantung ucapannya saat terkejut melihat semua yang di beli Arkana untuk anak mereka nanti.


“ Ya ampun mas, kamu beli apa aja ini.?” Tanya Jingga melihat ada stroller dan juga sebuah car seat.



Arkana menunjukkan semua yang dia pesan dari toko itu, mulai dari box bayi, stroller, car seat, table food, ayunan, sofa bayi, dan beberapa furniture lainnya yang akan di kirim dalam waktu dua minggu ke depan.


“ Ini nggak kebanyakan apa.?”

__ADS_1


“ Menurut aku kurang, kita belum persiapkan kamar bayinya. Aku akan suruh seseorang untuk mendekor kamar kamu sebelumnya, jadi kita bisa menyimpan semua barangnya disana.”


Jingga hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Arkana saat ini, dia benar-benar tidak sabar untuk memberikan semuanya kepada calon anaknya nanti.


Setelah semua selesai di bayar, Arkana menyuruh pemilik toko untuk menyewa kurir dan membawa semua belanjaan mereka ke alamat rumah yang di berikan. Selanjutnya, mereka berdua akan lanjut menikmati waktu berdua sebelum pulang ke rumah.


Jingga dan Arkana berjalan bersama sambil bergandengan tangan, keduanya masuk ke dalam sebuah restoran Korea dimana Jingga berkata ingin makan makanan Korea sore itu.


“ Kita sudah belanja beberapa keperluan bayi, tapi masih ada satu lagi yang belum kita siapkan.” Seru Arkana saat mereka sudah duduk masing-masing di kursi mereka.


“ Apa mas.?”


“ Namanya, masa kita nggak mempersiapkan nama untuk si kecil?”


“ Kalau nama aku serahin ke kamu aja mas.”


“ Hmm…, sejujurnya aku masih belum memikirkan nama yang cocok. Karena dia laki-laki mungkin namanya harus keren, sama seperti papanya.”


“ Bagaimana dengan nama belakangnya nanti mas? Adyatama bukan dari papa kandung kamu kan? Apa kamu mau memberikan nama itu juga ke anak kita.?”


“ Tentu tidak, dia mungkin papa tiri yang baik. Tapi aku ingin memberikan nama khusus untuk anakku, tidak masalah kan kalau nama belakangnya nggak harus kaya nama aku.?”


“ Nggak masalah kok, aku ikut apa kata kamu aja mas.”


“ Hmmm, bagaimana kalau kita kasih nama Arshakalif. Untuk nama belakangnya nyusul, nggak tahu kenapa nama Arsyakalif tiba-tiba terlintas di kepalaku. Menurut kamu gimana.?”


“ Bagus mas, tapi artinya apa.?”


“ Bentar aku cari di google dulu hehe.”


Arkana kemudian membuka aplikasi google dan langsung membuka nama pencarian Arshakalif, setelah menemukannya dia memberitahu Jingga bahwa arti nama tersebut adalah orang yang bijaksana. Dan Jingga pun semakin setuju jika anaknya nanti di beri nama Arshakalif oleh suaminya sendiri.


“ Aku benar-benar nggak sabar lihat anak kita nanti, kamu bisa nggak cepat-cepat melahirkan.”


“ Usianya kan masih 30 mingguan mas, butuh beberapa minggu lagi buat bayinya lahir.”

__ADS_1


Arkana hanya bisa memelas mendengarnya, kemudian pesanan mereka datang dan keduanya pun menikmati makanan yang di hidangkan dengan perasaan gembira tanpa memikirkan satu masalahpun.



__ADS_2