
Arkana menatap wajah Jingga yang saat ini masih menggunakan selang oksigen untuk membantu pernafasannya, dokter berkata bahwa untuk sementara waktu Jingga tidak boleh lepas dari bantuan benda tersebut.
Sudah dua hari dan Jingga masih belum sadarkan diri, para dokter sudah memantau kondisinya dan tidak di temukan sesuatu yang serius pada kondisinya saat ini.
Dokter Zakir menyarankan Arkana untuk selalu mengajak Jingga bicara, pada dasarnya seseorang yang mengalami koma masih dapat mendengar sekitarnya sehingga hal itu juga mampu memberi rangsangan untuknya segera siuman.
“ Kamu kapan mau bangun? Kamu bahkan belum lihat anak kita seperti apa, bukannya kamu nggak sabar pengen ketemu dia.?”
“ Setiap hari aku datang ke ruangan anak kita, dia sangat kecil dan menggemaskan. Wajahnya masih belum terlihat seperti aku atau kamu, tapi dia sangat tampan kalau kau ingin tahu.”
“ Dia sangat kuat minum susu, tapi dokter bilang kalau asi akan sangat bagus untuk pertumbuhannya. Tapi kamu masih tidur disini, jadi cepat bangun ya supaya kamu bisa memberikan asi untuk anak kita.”
“ Dan juga, aku sudah memutuskan nama yang tepat untuknya. Aku memberi nama Keenan Arshakalif Sandyakala, Keenan berarti kepemilikan, Arshakalif yang berarti bijaksana, dan Sandykala memiliki arti senja yang ku ambil dari arti nama kamu.”
Arkana merasa begitu sedih sekarang, dia sudah berusaha tegar dan menunggu Jingga siuman dengan hati yang lapang. Tapi tetap saja masih ada rasa ketakutan yang berlebih, untuk pertama kalinya dia ingin memberikan hidupnya kepada seseorang dari pada harus mengalami hal seperti ini setiap hari.
**
Pria itu berlari dari koridor ke koridor hingga dia berhasil menemukan ruang NICU, dirinya langsung masuk ke dalam ruangan itu saat dia mendengar bahwa ada seseorang yang datang melihat putranya.
“ Apa yang mama lakukan disini? Selain ayah dari si bayi, tidak boleh ada yang menengoknya.” Sahut Arkana yang menatap mama Widya di depan box bayi Keenan yang sedang tertidur dengan pulas.
“ Kamu lupa kalau mama adalah nenek dari bayi ini.?”
“ Mama keluar sekarang sebelum aku pakai cara kasar ke mama.”
__ADS_1
“ Oh, kamu berani sama mama sekarang.?”
Tanpa basa basi lagi Arkana langsung menarik tangan mama Widya keluar dari ruangan itu, mereka sudah berada di tempat yang sepi untuk melanjutkan percakapan mereka.
“ Aku nggak akan biarin mama mengambil bayi itu, aku tahu niat mama selama ini hanya untuk harta kan? Aku akan kasih apa yang mama mau kecuali anakku.”
“ Tahu apa kamu soal itu? siapa yang kasih tahu kamu ? Papa tiri kamu ya? “
“ Nggak penting siapa yang udah kasih tahu aku, tapi sekarang aku akan tetap melindungi apa yang menjadi milikku.”
“ Mama hanya Cuma mau kamu serahin bayi itu ke mama, atau bercerai dengan Jingga.”
Arkana begitu terkejut mendengar ucapan mamanya sendiri, ada rasa emosi yang meledak di dalam dirinya. Untuk pertama kalinya Arkana tidak akan membiarkan hal itu terjadi, bahkan di antara dua pilihan itu pun tidak akan pernah dia lakukan.
“ Aku nggak akan membiarkan hal itu terjadi, dan mama harus ingat kalau kita sudah bukan ibu dan anak lagi. Aku akan pergi dari kehidupan mama setelah Jingga siuman, dan kalau mama sampai mengusik kehidupan kami, aku nggak akan segan-segan memberitahu semua orang siapa mama sebenarnya.” Ancam Arkana.
“ Berani sekali kamu,” baru saja mama Widya hendak menampar Arkana, tiba-tiba saja suara Bima yang memanggil membuat tangannya terhenti.
“ Mama nggak lakuin apa-apa, mama hanya ingin melihat cucu mama saja. kamu kenapa datang kemari?” Tanya mama Widya berusaha mengalihkan pembicaraan.
“ Ar, kamu ke kamar Jingga sekarang. Aku mau ngomong sama mama, kamu nggak usah khawatir.” Kata Bima sambil menatap kedua bola mata Arkana seakan memberitahu bahwa mama Widya tidak akan menyentuh keenan sama sekali.
Dan Arkana pun kembali ke kamar Jingga setelah dia mempercayakan mama Widya kepada Bima, saat itu Arkana sempat menoleh dan melihat bagaimana sikap lembut dan perhatian mama Widya kepada Bima dan tidak kepadanya.
“ Ini keputusan tepat, aku sudah tidak membutuhkan sosok mama seperti itu lagi.” Benak Arkana sambil mengepal kedua tangannya dengan kuat.
**
__ADS_1
Mama Widya sudah tidak pernah datang ke rumah sakit sejak hari itu, Arkana mendengar dari Bima bahwa saat ini mama Widya sedang sibuk dengan bisnis barunya.
Jingga masih belum sadarkan diri sampai sekarang, dia pun masih harus di rawat di ICU sampai waktu yang tidak dapat di tentukan. Sampai sekarang belum ada yang melihat Jingga dan Keenan, semua atas perintah Arkana untuk tidak membiarkan siapapun masuk menemuinya.
Sore itu Arkana mendapat kabar dari NICU bahwa Keenan menangis sangat keras dan sulit untuk berhenti, dokter Nala memanggil Arkana untuk segera menemuinya di NICU.
Ketika Arkana tiba disana, dia langsung mendapati dokter Nala yang sedang menggendong Keenan dengan penuh kelembutan. Lalu dokter Nala memberikan Keenan kepada Arkana untuk segera di gendong.
Arkana menerima Keenan dengan ekspresi terkejut, kemudian tangisan Keenan yang begitu keras perlahan berhenti saat dia berada di gendongan Arkana.
“ Ini di sebut pelukan seorang ayah yang menenangkan jiwa anaknya, terkadang ada bayi yang ingin mendapatkan kehangatan dari kedua orang tuanya. Karena Keenan belum pernah di gendong oleh Jingga, dia bisa merasakan kenyamanan dari gendongkan kamu Ar.” Ujar dokter Nala.
Arkana menatap wajah Keenan yang mulai tertidur dengan tatapan haru, dia mendadak menjadi emosional mendengar penjelasan dokter Nala barusan. Bahkan sampai saat ini, dia masih merasa bahwa kenyataan dirinya sudah menjadi seorang ayah terasa seperti mimpi di siang bolong.
“ Keenan merasa nyaman berada di gendongan kamu Ar, tetap seperti itu selama beberapa saat. Dia mungkin akan kembali menangis kalau di letakkan ke dalam incubator.”
“ Baik dok, saya akan tetap menggendongnya untuk sementara waktu.”
“ Bagaimana dengan Jingga? Apa sudah ada tanda-tanda bahwa dia akan segera siuman.?”
“ Belum dok, saya pun sudah memeriksa sarafnya barang kali ada sesuatu yang terjadi ketika operasi. Tapi saya tidak menemukan apapun, saya berharap dia bisa segera siuman dan melihat wajah anaknya.”
“ Jingga sangat menantikan kehadiran keenan sejak dulu, dia pasti sangat bahagia melihat putra pertamanya lahir dalam keadaan yang sehat.”
Arkana kembali menatap wajah putranya yang sangat tampan, satu kecupan lembut mendarat di wajahnya dan Arkana kembali tersenyum hanya dengan melihat wajah malaikat kecilnya itu.
“ Saya tinggal dulu ya Ar, nanti ada suster yang membantu kamu mengembalikan Keenan ke dalam inkubatornya.” Kata dokter Nala yang sudah harus pergi dari ruangan itu.
__ADS_1
“ Terima kasih dok.” Ujar Arkana yang terus menimang putranya dengan penuh kasih sayang.