
Suara pintu bergeser baru saja membuat seorang wanita yang sedang terbaring di tempat tidur langsung menoleh, beberapa detik yang lalu dia mengira bahwa yang datang adalah sosok yang dia harapkan, tapi kenyataannya bukan.
“ Akhirnya kamu sadar juga, aku tuh khawatir banget tahu lihat keadaan kamu semalam.” Sahut Jingga yang baru saja mendaratkan tubuhnya di atas sebuah kursi.
“ Kamu kenapa jauh-jauh datang kesini? “ Tanya Diana mengalihkan ucapan Jingga barusan.
“ Aku khawatir sama keadaan kamu, jadi aku memutuskan untuk datang dan lihat keadaan kamu. Dan kebetulan mas Arka juga setuju kalau kita ke Indonesia.
Diana diam sejenak dengan tatapan lurus ke langit-langit kamar, perasaannya sedang campur aduk begitu pun dengan pikirannya. Sekarang dia sadar kenapa dulu Jingga sangat sulit untuk membagi masalah hidupnya, Diana pun mengalaminya dimana dia tak ingin Jingga tahu sehingga membuat sahabatnya itu menjadi khawatir.
“ Semalam Erwin datang karena kami yang memanggilnya, apa kamu sudah bertemu dengannya.?” Tanya Jingga lirih.
“ Sudah, aku mengusirnya pergi.”
“ Kenapa?”
“ Nggak ada gunanya dia datang kemari kalau alasannya masih sama, dia tetap nggak mau mempertahankan hubungan kita. “
“ Jadi apa yang akan kamu lakukan setelah ini?”
“ Aku nggak tahu, menerima pria yang papa pilih masih sulit buat aku bisa menerimanya. Aku butuh waktu, aku mau menyendiri dulu.”
Jingga merasa ikut sedih dengan nasib sahabatnya itu, tidak di sangka jika seorang Diana akan mendapati kehidupan yang cukup berat ini. Sebagai sahabat dia hanya bisa terus berada di sisinya, mendengarkan setiap keluh kesahnya, serta memberikan sedikit nasehat yang tidak menyudutkannya sama sekali.
**
Jingga dan Arkana memutuskan untuk tetap di Indonesia selama dua bulan lamanya, hal itu karena menyusul kabar pernikahan Diana yang akan di langsungkan bulan depan.
Kabar pernikahan ini tentu membuat Jingga terkejut, padahal satu minggu yang lalu dia masih mendengar kalau Diana belum bisa menerima perjodohan yang di lakukan oleh papanya.
Sampai saat ini Jingga sulit menghubungi Diana, dia hanya bisa menghubungi Erwin yang dimana pria itu sangat terpuruk mendengar kabar pernikahan mantan kekasihnya itu.
__ADS_1
Erwin jarang keluar rumah sejak saat itu, dia tidak pergi bekerja dan cenderung menutup diri dari siapapun juga. Sesekali Jingga dan Arkana datang mengecek keadaannya hanya untuk memastikan dia baik-baik saja.
“ Mas, aku kasihan sama Erwin dan Diana.” Ucap Jingga sambil memeluk tubuh Arkana yang sedang duduk di atas tempat tidur.
“ Mau gimana lagi, keputusan sudah bulat, bulan depan Diana sudah harus menikah dengan duda itu.”
“ Papanya jahat banget sih, kalau cowoknya bukan duda nggak masalah. Tapi dia duda beranak satu pula, Diana masih perawan dan masih sangat muda.”
“ Kita doakan yang terbaik aja, nggak mungkin orang tuanya Diana ngejodohin dia dengan laki-laki nggak baik. Walaupun dia duda beranak satu, mungkin saja dia laki-laki yang bertanggung jawab dengan keluarganya.”
“ Diana sempat bilang ke aku, mantan istrinya si cowok itu pisah karena istrinya selingkuh dengan laki-laki lain. Si duda ini hanya tinggal berdua dengan anak laki-lakinya yang sekarang berusia lima tahun kalau nggak salah.”
“ Kalau anaknya sudah berusia lima tahun dan selama ini hidup dengan papanya, itu artinya pria itu memang pria baik dan bertanggung jawab. Hanya saja sangat di sayangkan kalau Diana yang masih gadis menikah dengan seorang pria sudah menikah dan punya anak, padahal di dunia ini masih banyak laki-laki lain yang mungkin lebih pantas untuk dia dapatkan.”
Jingga dan Arkana hanya bisa menarik nafas panjang dan pasrah dengan keadaan, mereka juga tidak bisa berbuat banyak sebab ini bukan masalah yang bisa di anggap enteng.
**
Hari ini Jingga dan Arkana pergi ke sebuah pusat perbelanjaan bersama Keenan yang selalu berada di tangan Arkana, usia Keenan yang sekarang memang sudah bisa berjalan, namun Arkana masih takut melepaskannya dan ingin menggendongnya agar lebih aman.
Mereka tidak pergi bertiga saja, ada sepasang suami istri yang sedang menunggu kelahiran anak pertama mereka juga. Siapa lagi kalau bukan Qania dan Aizen, keduanya sepakat untuk bertemu di pusat perbelanjaan untuk sekedar mengobrol seputar pernikahan Diana lusa.
“ Qania, aku kangen banget sama kamu.” Seru Jingga sambil memeluk Qania dengan lembut yang kemudian mengelus perut besar Qania.
“ Sama, aku juga kangen banget sama kamu tahu. Udah setahun kita nggak ketemu.” Balas Qania lirih.
“ Gimana kabarnya dok.?” Tanya Aizen pada Arkana.
“ Baik, dokter sendiri gimana.?” Jawab Arkana.
“ Baik juga, saya sama istri baik-baik aja kok selama ini.” Kata Aizen sambil merangkul tubuh Qania.
“ Jadi kapan nih babynya launching? Keenan udah mau ketemu sama dede bayi.” Lontar Jingga melirik perut Qania.
__ADS_1
“ Masih ada dua minggu lagi sampai waktu melahirkan tiba.” Jawab Qania.
“ Bayinya cewek atau cowok.?”
“ Cewek.”
“ Wahh, Keenan ada teman ceweknya nanti.” Seru Jingga lantas membuat Keenan tampak kegirangan meskipun anak itu masih belum mengerti dengan betul apa yang baru saja di ucapkan oleh mamanya.
Mereka pun pindah ke sebuah restoran Jepang atas permintaan Qania yang tiba-tiba ngidam ingin makan sushi, dan karena Jingga juga ingin memakannya maka mereka pun memutuskan tempat itu sebagai tempat pertemuan obrolan mereka hari ini.
“ Kamu kasih apa ke Diana buat pernikahannya nanti.?” Tanya Qania.
“ Aku sama mas Arka sepakat kasih uang aja sih, kita nggak tahu mau kasih apa di saat dia sendiri tidak mengharapkan pernikahannya itu.” Balas Jingga.
“ Loh, emang kenapa? “ Tanya Qania bingung.
“ Kamu nggak tahu masalah dia?”
“ Aku nggak tahu apa-apa, udah lama juga aku nggak kontekan sama dia.”
Jingga pun menceritakan semuanya kepada Qania, sepanjang Jingga menjelaskan tampak terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dia dengarkan barusan.
“ Ya ampun aku nggak tahu soal ini, bahkan aku sempat kirim ucapan selamat ke dia.” Kata Qania seakan menyesali apa yang telah dia lakukan waktu itu.
“ Sampai saat ini aku juga penasaran dengan calon suaminya, pasti dia pria tua yang sudah berumur dan jauh dari kata tampan.” Kata Jingga lirih.
“ Kamu sama-sama bernasib di jodohkan, tapi sayangnya dalam keadaan yang berbeda. Aku nggak yakin apa Diana bisa sanggup seperti kamu dulu.”
“ Diana sangat keras kepala, dia mungkin tidak akan menerima pria itu masuk di hatinya walaupun keduanya sudah menikah nanti.”
Arkana dan Aizen hanya menyimak dua istri mereka masing-masing yang sedang membahas pernikahan Diana, keduanya tidak begitu tertarik dan hanya fokus menyantap makanan mereka dalam diam.
__ADS_1