
Sebuah kafe yang ada di mall itu menjadi tempat untuk mereka berempat mengobrol bersama, ini merupakan keputusan Arkana untuk mendengar penjelasan Qania dan Aizen tentang pertunangan mereka berdua yang sangat mendadak ini.
Aizen menjelaskan kepada Jingga dan Arkana bahwa dia sudah lama menyimpan perasaan pada Qania, dan setelah mereka akhirnya kembali di pertemukan perasaan itu semakin besar dan membuatnya memberanikan diri untuk melamar Qania.
Aizen menjadi satu-satunya yang menjelaskan semua itu pada Jingga dan Arkana, sebaliknya Qania hanya diam menunduk membiarkan semuanya di jelaskan oleh Aizen.
“ Jadi selama ini kalian berdua sudah berpacaran.?” Tanya Arkana.
“ Kami tidak berpacaran, hanya berkomitmen. Dan mungkin ini waktu yang tepat untuk melamar Qania, minggu depan keluargaku akan bertemu dengan keluarganya. Pastikan kalian berdua hadir di acara lamaran kami berdua.” Ungkap Aizen.
“ Qania kelihatan nggak senang, kamu kenapa diam aja dari tadi?” tegur Arkana sukses membuat Qania mengangkat wajahnya dengan terkejut.
“ Kata siapa aku nggak senang? Aku senang karena akhirnya Aizen akan datang melamar.” Jawab Qania kemudian.
“ Munafik, aku nggak percaya sama ucapan kamu.” Lontar Arkana tersenyum sinis.
“ Aku ke toilet dulu.” Ucap Qania yang langsung beranjak dari tempatnya.
Beberapa saat kemudian Jingga pun ikut mengundurkan diri dari sana, dia ingin menyusul Qania dan menanyakannya beberapa hal. Sementara itu baik Arkana dan Aizen tidak melakukan pembicaraan apapun semenjak kedua wanita itu pergi, keduanya hanya diam dengan pikiran masing-masing.
Jingga sudah tiba di toilet, dia melihat Qania sedang termenung di depan wastafel. Kedatangan Jingga berhasil membuat Qania sadar dan menoleh dengan tatapan yang sendu.
“ Kamu yakin dengan keputusan kamu memilih dokter Aizen.?” Tanya Jingga.
“ Aku sudah yakin.” Jawab Qania lirih.
“ Kamu udah nggak ada perasaan apapun sama mas Arka lagi?”
Qania menoleh menatap Jingga, dia menatap wanita itu lekat dan berkata.
“ Arkana dan kamu sudah menikah dan sebentar lagi akan memiliki seorang anak, aku nggak akan berharap apapun dari Arkana sekarang.”
“ Tapi mas Arka masih sayang sama kamu.”
__ADS_1
“ Kamu pernah dengar istilah cinta tak harus memiliki kan, aku sama Arkana sudah berakhir cukup lama. Dan sekarang itu giliran kamu dan Arkana yang melanjutkannya.”
“ Mas Arka nggak akan pernah cinta sama aku kaya perasaan dia ke kamu.”
“ Kata siapa.?” Sahut Qania tersenyum mendengarnya.
“ Memang kenyataannya seperti itu.” Balas Jingga menundukkan wajahnya.
“ Arkana sudah mulai tertarik sama kamu, dan aku yakin hanya menunggu waktu saja sampai dia mengakui perasaannya ke kamu.” Lanjut Qania membuat Jingga mengangkat wajah dan menatapnya bingung.
“ Itu hal yang mustahil, kami sudah janji untuk berpisah. Perasaan seperti itu tidak akan ada.” Kata Jingga.
“ Kalian mau berpisah? Kenapa.?” Qania semakin penasaran di buatnya.
“ Setelah anak ini lahir, aku dan mas Arkana akan berpisah. Maka dari itu kamu tidak perlu menerima dokter Aizen, kamu dan mas Arka bisa bersama kembali setelah itu.” Ujar Jingga bersungguh-sungguh.
“ Aku sudah memikirkannya sejak dulu, setelah hubunganku dan Arkana berakhir, aku nggak akan pernah mau balikan sama Arkana lagi. Dan mungkin ini adalah jalan yang tuhan kasih ke aku, kehadiran Aizen yang akan mengisi hatiku dengan begitu tidak ada celah lagi untuk aku dan Arkana akan kembali bersama.” Jelas Qania.
“ Tapi Nia, Arkana masih sayang sama kamu.”
“ Jingga cukup, kamu jangan paksa aku buat kembali sama Arkana lagi. Kamu seharusnya lebih fokus dengan hubungan kalian berdua dari pada memikirkan orang lain, sekarang aku tanya sama kamu. Kamu sayang sama Arkana juga kan.?” Tanya Qania menatap Jingga lurus.
“ Aku harus pulang, tolong pikirkan lagi ucapanku barusan.” Kata Jingga sebelum akhirnya meninggalkan Qania.
**
Sore hari di sebuah bukit dengan pemandangan yang sangat indah, terlihat sepasang manusia duduk di atas rerumputan hijau sambil menikmati cemilan manis di tangan mereka.
“ Kamu kenapa Nia? Setelah dari toilet tadi kamu diam dan terus merenung, sebenarnya ada apa.?” Tanya Aizen yang ikut galau melihatnya.
“Jingga dan Arkana akan berpisah setelah anak mereka lahir. Jujur, aku nggak mau mereka berpisah. Walaupun aku tahu sikap Arkana buruk ke Jingga, tapi aku percaya kalau Arkana akan tulus mencintai Jingga suatu hari nanti.”
“ Lalu masalahnya apa sekarang.?” Aizen masih di buat bingungnya dengan ucapan Qania barusan.
Qania menepuk wajahnya dua kali hingga membuatnya sadar, kemudian dia meminta maaf pada Aizen karena sudah bersikap seperti barusan.
__ADS_1
“ Aku nggak apa-apa, kita masih akan tetap melanjutkan rencana kita. Aku sudah memutuskan untuk memilihmu sebagai pasanganku, dan aku percaya kamu orang yang tepat untuk mengisi hatiku.” Ungkap Qania.
Aizen tersenyum mendengarnya, dia kemudian meraih kepala Qania dan mengusapnya dengan lembut. Perasaan Aizen pada Qania benar-benar tulus, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan selalu menjaga dan melindungi Qania apapun yang akan terjadi.
**
Malam itu Jingga terbangun setelah dia merasa lapar, sekarang jam sudah menunjukkan pukul 12:00 malam. Dia tidak akan membangunkan pembantunya untuk menyiapkan makanan, dia ingat kalau di kulkas masih ada sisa makanan semalam yang bisa dia hangatkan kembali.
Jingga mendapati Arkana sedang menyendiri di ruang makan dengan keadaan lampu yang di biarkan gelap, Jingga menyalakan lampu itu dan membuat Arkana mengangkat wajahnya melirik Jingga.
“ Kamu kenapa ada disini mas.?” Tanya Jingga yang baru saja berdiri di sebelah Arkana.
“ Terserah aku mau ada dimana aja.” Ketus Arkana.
“ Ya sudah kalau begitu.” Jingga beranjak menuju dapur untuk segera menghangatkan makanan.
“ Kamu mau ngapain.?” Tanya Arkana penasaran.
“ Aku tiba-tiba lapar, di kulkas masih ada makanan sisa semalam yang bisa aku angetin.” Jawab Jingga kemudian.
“ Kenapa kamu yang kerjain? Bangunin pembantu kita, mereka di bayar untuk itu.”
“ Nggak usah, aku bisa sendiri kok. Kasihan bi Salma sama bi Inah udah kerja seharian pasti capek.”
Jingga terkejut saat Arkana menarik lengannya menjauh dari dapur, kemudian Arkana mendudukkan Jingga di salah satu kursi di ruang makan. Jingga terus menatapnya bingung, dan ternyata Arkana yang akan mengerjakannya untuk Jingga.
“ Kamu emangnya bisa angetin makanan.?” Tanya Jingga melirik Arkana yang sibuk berkutat di dapur.
“ Kamu pikir aku manusia primitif yang nggak tahu pakai microwave.?”
“ Habisnya aku nggak pernah lihat kamu ada di dapur, makanya aku nanya.”
“ Jangan remehin aku ya, bagaimana pun juga aku jago masak.”
“ Oh ya? Aku nggak percaya kalau kamu jago masak.”
__ADS_1
“ Kamu nantangin aku.?”
Atmosfer yang terjadi saat itu mendadak berubah, Jingga bisa melihat rautan wajah Arkana tidak sendu seperti sebelumnya. Jingga tidak menyangka kalau ucapannya barusan mampu membuat Arkana menjadi lebih baik.