
Tubuh Shanum di hempaskan ke lantai dengan cukup keras hingga dia merasakan sakit di sekujur tubuhnya, beberapa luka di tangan dan kakinya menimbulkan sensasi perih. Rasa lelah mulai menguasainya seiring nafas yang sesak serta jantung yang berdegup tak karuan.
Kemudian saat ia mendongak, sorot lampu yang terlihat cukup redup membuatnya mulai tersadar sepenuhnya. Shanum ingat betul bagaimana ada seseorang yang dengan paksa menariknya dan memukulnya hingga tak sadarkan diri.
“ Siapa kalian.?” Tanya Shanum dengan suara yang terdengar parau.
“ Akhirnya gadis nakal kaya kamu berhasil di tangkap juga.” Sahut seseorang yang sosoknya mulai terlihat di balik kegelapan.
Shanum sedikit mengenali suara itu, dan setelah sosoknya muncul dengan jelas di depan matanya. Shanum pun mulai bergetar hebat, dia adalah pak Anton yang waktu itu tertangkap basah melecehkan salah satu murid di sekolahnya.
Pak Anton terlihat berjongkok di hadapannya sambil mencengkram rahangnya dengan kasar.
“ Semua ini karena kamu saya di keluarkan dari sekolah. Mau kabur kemana lagi kamu, hah.?” Suara itu begitu dingin, sepasang mata coklat terang menyorotkan tatapan mematikan hingga membuat Shanum semakin ketakutan.
Pak Anton melepaskan cengkramannya lalu beranjak dan memerintah dua orang yang membantunya membawa Shanum ke tempat itu.
“ Ikat dia.” Titah pak Anton.
Seketika Shanum menegang, kemudian dua orang pria itu menarik dan menyeret tubuhnya untuk duduk di kursi dan di ikat menggunakan tali yang sangat kuat.
“ Lepasin, kalian nggak akan selamat kalau papaku sampai tahu hal ini.”
Dengan histeris, ia meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Tapi tubuhnya yang lelah dan lemah sama sekali tak bisa menolong. Shanum hanya bisa berteriak dan menangis kencang sampai seseorang membekap mulutnya hingga ia kembali tak sadarkan diri.
**
“ Bangun, hey…, bangun.”
Shanum mendengar suara seseorang yang begitu lembut di telinganya, perlahan namun pasti dia mulai membuka kedua matanya. Di lihatnya sosok yang tak asing sedang menatapnya dengan raut wajah yang khawatir.
“ Kamu nggak apa-apa kan.?” Tanya pria itu sekali lagi.
Shanum tidak tahu apakah dia sekarang sedang bermimpi atau tidak, jika ini kenyataan rasanya tidak mungkin pria yang di lihatnya di toko buku hari ini datang untuk menyelamatkannya.
“ Kamu dengar aku? Mereka sudah berhasil di tangkap, pria yang menculikmu sudah di bawa ke kantor polisi. Jawab aku kalau kamu nggak apa-apa.” Lanjut pria itu sekali lagi membuat Shanum tersadar dan percaya bahwa yang di lihatnya sekarang bukanlah sebuah mimpi.
__ADS_1
“ Dimana mereka? Tiga orang pria itu, salah satunya adalah mantan guru di sekolahku.” Ucap Shanum yang mulai bergetar saat dia mengingatnya dengan jelas.
“ Mereka sudah di tangkap, aku melacak nomor plat mereka dan menghubungi salah satu temanku yang berkerja di kantor polisi. Saat ini mereka sudah di tahan, diluar ada ambulans juga, kamu bisa jalan kan.?” Tanya pria itu dan membuat Shanum menggelengkan kepalanya.
“ Bawa aku ke rumah sakit bintang harapan.” Ucap Shanum lirih.
**
Saat Shanum sudah tiba di UGD, papa dan mamanya yang kebetulan berada di rumah sakit langsung datang melihat keadaannya. Mereka tampak sangat khawatir setelah mendengar kabar Shanum di culik oleh mantan guru yang telah di keluarkan dari sekolah putri mereka.
“ Mereka ngapain kamu? Kasih tahu ke papa, biar mereka dapat balasan yang lebih berat.” Ucap Arkana sangat emosi.
“ Mereka pukul aku beberapa kali, tangan dan kakiku di ikat, aku juga di bius. “ Jawab Shanum pelan.
Jingga yang mendengarnya tak bisa menahan air mata, dia menangis sambil memeluk putrinya. Sedangkan Arkana berjanji akan memberikan hukuman yang lebih dari itu kepada para pelaku.
“ Pa, Ma, kalian boleh berterima kasih sama dia. Dia yang sudah nyelamatin aku.” Ucap Shanum menunjuk Adera yang berdiri tak jauh dari tempat tidur.
Jingga dan Arkana melirik Adera yang saat ini menundukkan kepala kepada mereka berdua, Adera begitu sopan sampai mencium kedua tangan mereka.
“ Nama saya Adera tante.” Adera kemudian menjelaskan siapa dirinya kepada kedua orang tua Shanum, tampak Jingga dan Arkana terkesan mendengarnya dan mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Adera.
“ Maaf om, tante, saya sudah harus pulang. Mama saya barusan nelpon kalau dia masih menunggu di toko untuk di jemput.” Ucap Adera.
“ Silahkan nak, sekali lagi terima kasih karena telah menolong Shanum.” Balas Jingga.
“ Sama-sama tante, Shanum aku pamit ya.”
“ Iya, hati-hati.”
**
Shanum harus izin sekolah selama seminggu atas permintaan Arkana, dia tidak ingin membuat putrinya kembali bersekolah dengan keadaan seperti itu. Meskipun kondisi fisik Shanum sudah sembuh total, namun trauma yang di dapat Shanum masih harus di sembuhkan dengan bantuan Gilang.
Para pelaku yang menculik Shanum pun telah di jatuhi hukuman penjara selama dua puluh tahun, Arkana tidak tanggung-tanggung dalam menyelesaikan masalah itu agar para pelaku kapok.
Selama Shanum beristirahat di rumah, dia banyak menghabsikan waktunya dengan mencaritahu informasi tentang Adera. Sejak saat itu dia belum bertemu dengan Adera lagi, bahkan saat Shanum pergi ke toko bunga bersama Jingga waktu itu dia tidak melihat ada Adera disana.
__ADS_1
Katanya Adera sedang sibuk dengan kuliahnya, dia jadi tidak bisa membantu mamanya. Shanum tahu kalau Adera adalah anak tunggal dan dia hanya memiliki mamanya seorang.
Jingga dan Arkana yang mengetahuinya membantu toko bunga wanita itu dengan memberikan bantuan renovasi, mereka juga membantu pemasokan bunga premium dari tempat terbaik untuk di jual di toko bunga itu.
Walaupun semua itu tidak cukup untuk membalas kebaikan Adera dalam menyelamatkan Shanum, namun bagi mama Adera itu sudah lebih dari cukup membantu perekonomian dia dan putranya.
Shanum sudah memiliki nomor telepon Adera, tapi dia masih ragu untuk menghubunginya duluan. Sudah lama Shanum tidak merasakan perasaan mendebarkan seperti ini, dari sekian banyak pria yang telah di temuinya hanya Adera yang berhasil menarik perhatiannya.
Shanum percaya bahwa Adera berbeda, dia tidak seperti pria yang hanya mencari keuntungan lebih dari seorang perempuan. Adera sangat sopan, dia juga pintar, manis, dan baik hati. Siapa yang tidak akan jatuh hati pada pria seperti Adera.
“ Kak Shanum.” Suara Lingga terdengar memanggil diluar sana.
“ Hmm, ada apa.?”
“ Diluar ada tamu.”
“ Siapa.?”
“ Nggak tahu, aku cuma di suruh mama kasih tahu kamu.”
“ Cowok atau cewek.?”
“ Nggak tahu, kamu keluar aja. Aku sibuk mau belajar.”
Shanum kesal dengan jawaban Lingga yang tidak memuaskan, kemudian dia meletakkan ponselnya dan berjalan keluar kamar. Dia melihat Lingga baru saja memasuki kamarnya, dan Shanum bergegas turun ke bawah untuk menemui tamu yang di maksud oleh Lingga barusan.
“ Ada siapa ma.?” Kata Shanum yang baru saja turun dan tidak menyadari bahwa tamu yang sudah menunggunya sedang duduk di sebelah mamanya.
Shanum membeku di tempat sejenak, dia tidak bisa berkata-kata saat melihat sosok Adera disana. Sadar dengan penampilannya yang begitu sederhana lantas membuat Shanum memutar tubuhnya dan berkata bahwa dia ingin ke kamar kecil sebentar.
Shanum sudah berdiri di balik pintu kamar mandinya, dia beursaha mengatur jantungnya yang berdegup sangat cepat. Dia masih tidak menyangka bahwa Adera akan datang ke rumahnya, dia sampai menampar wajahnya berkali-kali memastikan bahwa ini bukanlah sebuah mimpi.
“ Aww sakit, jadi bukan mimpi ya.” Gumam Shanum pelan.
“ Dia beneran datang ke rumah.?” Ucap Shanum menatap wajahnya di depan cermin.
__ADS_1