
“ Apa? Periksa jantung.?” Qania jelas di buat kejut dengan permintaan Jingga barusan.
Saat ini mereka berdua sedang berada di ruangan Qania, dan Jingga meminta bantuan Qania untuk memeriksakan keadaanya sesuai apa yang di katakan oleh dokter Nala barusan.
“ Tapi kamu emang ada gejala soal penyakit jantung sebelumnya.?” Tanya Qania.
“ Selama ini aku nggak pernah sadar, tapi semenjak hamil aku suka pusing dan sesak di dada. Tadinya aku pikir mungkin itu Cuma bawaan hamil, tapi dokter Nala bilang sebaiknya aku periksa ke dokter spesialis jantung. Kamu bisa kan periksa keadaan aku, tapi tolong jangan kasih tahu siapa-siapa.” Pinta Jingga sekali lagi.
“ Baiklah, aku akan coba periksa. Sebaiknya kamu berbaring dulu, semoga saja apa yang di katakan dokter Nala hanya kesalahan.” Qania sendiri tampak khawatir jika apa yang di katakan oleh dokter Nala benar adanya.
Saat ini Jingga sedang berbaring, kemudian Qania mulai mengeluarkan stetoskop untuk mengecek detak jantung Jingga terlebih dulu. Tak lama setelah itu banyak hal yang di lakukan, hingga terakhir Qania mengambil sampel darah Jingga untuk di bawa ke laboratorium.
“ Untuk hasilnya mungkin bisa di lihat sekitar dua atau tiga hari, tapi kamu tenang aja. Aku bakal rahasiain semua ini dari siapapun.” Ujar Qania membuat Jingga merasa jauh lebih baik sekarang.
Jingga menunduk galau di buatnya, dia tidak pernah merasa sepertini sebelumnya. Sampai Qania datang memberikan semangat, waniat itu tampak tak ingin membiarkan Jingga sampai kepikiran hingga membuat kandungannya terganggu.
“ Kamu harus kuat, apapun hasilnya kamu pasti bakal baik-baik aja. Sekarang fokus untuk merawat kandungan kamu, jangan biarkan dia kenapa-napa, oke.” Kata Qania di balas senyuman manis oleh Jingga.
“ Terima kasih ya Qania, aku nggak tahu bagaimana jadinya kalau nggak ada kamu.” Lontar Jingga.
“ Kita kan udah jadi bestie, jadi jangan sungkan ya.” Kata Qania lagi.
“ Nia, yuk makan siang.” Pintu baru saja terbuka dan membuat Jingga dan Qania kompak menoleh pada seorang pria yang baru saja masuk.
“ Maaf..maaf, aku nggak tahu kalau ada pasien.” Kata Aizen merasa malu.
“ Udah selesai kok dok.” Sahut Jingga.
__ADS_1
“ Dia istrinya dokter Arkana.” Kata Qania memperkenalkan Jingga pada Aizen.
“ Hai, saya Aizen dokter baru di sini.” Lontar Aizen.
“ Karena kita udah selesai ngobrol, aku pamit dulu ya.” Lanjut Jingga merasa sudah waktunya untuk pergi.
Saat itu Jingga yang baru saja keluar sempat melirik ke dalam beberapa saat, sebagai seorang wanita jelas Qania bisa melihat tatapan Aizen yang berbeda dan nada yang sangat lembut di tujukan pada Qania.
Jingga pun kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan tempat itu, ketika dia hendak keluar dari rumah sakit, tiba-tiba saja sosok papa Hendra menegurnya sehingga mereka saling menyapa satu sama lain.
“ Gimana keadaan kamu? Arkana dimana.?” Tanya Papa Hendra.
“ Katanya lagi sibuk pa, jadi aku pergi sendiri.” Jawab Jingga lirih.
“ Kamu kelihatan pucat, benar kamu baik-baik aja.?”
“ Syukurlah kalau kamu baik-baik aja, sudah makan? Papa mau keluar makan siang, mau ikut sekalian? kita bisa lanjut membahas masalah waktu itu sekarang.” Ujar papa Hendra.
“ Aku mau pa.” Seru Jingga sangat bersemangat.
**
Jingga dan papa Hendra mengobrol di sebuah restoran dekat rumah sakit, mereka memilih ruang private agar obrolan mereka tidak sampai di dengar oleh orang-orang.
Papa Hendra memulainya dengan alasan mengapa dia menikah dengan mama Widya, banyak hal yang menjadi penghalang mereka terutama hati mama Widya yang saat itu sulit untuk di dapatkan.
Butuh tiga tahun papa Hendra menunggu sampai akhirnya mama Widya setuju untuk menikahinya, namun semua itu tidak mudah tentunya. Ada kesepakatan yang harus di buat, dan papa Hendra menjelaskan bahwa mama Widya menikah hanya untuk membuat kehidupannya lebih baik lagi.
Pasca perceraiannya dengan suami pertama dia tidak mendapatkan apa-apa, itu karena suami pertamanya bukan dari kalangan orang berada. Mama Widya yang pergi dari rumah orang tuanya pun harus hidup dalam kesulitan, sampai pada akhirnya dia mendengar kabar pernikahan suami pertamanya dan saat itulah mama Widya memiliki keinginan untuk menikah lagi.
__ADS_1
Papa Hendra juga menceritakan masa lalu Arkana yang tidak mudah karena tuntutan mama Widya, semua papa Hendra ceritakan yang membuat Jingga sampai terkaget-kaget mendengarnya. Jingga mengira bahwa Qania sudah menceritakan semuanya dengan detail, ternyata papa Hendra lah yang membuatnya tahu kehidupan Arkana di masa lalu sangat sulit sehingga dia menjadi seperti sekarang.
“ Sampai saat ini papa masih belum mengerti tujuan mama Widya memperlakukan Arkana seperti sebuah robot, bahkan papa sempat melakukan tes DNA untuk mengetahui apa benar mereka memiliki hubungan darah atau tidak.”
“ Lalu apa hasilnya pa.?”
“ Mereka jelas adalah ibu dan anak, tapi papa tidak mengerti kenapa mama Widya sangat membenci Arkana. Yang papa tahu, Arkana selalu di salahkan atas perceraian orang tuanya tapi sepertinya bukan hanya itu, masih ada yang lain dan sampai saat ini belum di ceritakan oleh mama Widya.”
“ Jadi selama ini papa sama mama nggak pernah akur? Kedekatan kalian sebelumnya, apa Cuma sandiwara saja.?”
“ Maaf ya, papa nggak bermaksud buat kamu nggak nyaman. Tapi inilah kenyataannya, meski begitu papa sangat menyayangi mama Widya.”
“ Kisah kita sama ya pa, kita sama-sama nggak di akui sama pasangan kita.” Ucap Jingga merasa ini adalah kebutalan yang sangat lucu.
“ Kamu masih belum terlambat, Arkana masih bisa berubah kalau kamu bisa mendapatkan hatinya. Berbeda dengan mama Widya, papa nggak tahu apa masih bisa buat dia jatuh cinta sama papa.”
“ Papa jangan menyerah, kita sama-sama berjuang. Walaupun sekarang aku belum memiliki rasa cinta sama mas Arka, tapi aku juga mau berusaha menjadi istri yang baik buat dia.”
“ Maafin papa ya Jingga, masih ada satu rahasia lagi yang papa nggak bisa kasih tahu ke kamu.” Benak papa Hendra sambil tertunduk sendu.
“ Oh iya pa, tiga hari lagi aku ulang tahun. Aku punya ide buat bisa dekat sama mas Arka, dan aku juga butuh bantuan papa sebelumnya.” Pinta Jingga.
“ Apa itu? “ Tanya papa Hendra penasaran.
“ Kasih tahu aku apa aja yang mas Arka suka, selama ini papa pasti sudah melihatnya dan aku Cuma bisa berharap dari papa sekarang.”
“ Arkana tidak pernah ingin menjadi seorang dokter, yang papa tahu dia sangat ingin menjadi pemain bola. Kamu bisa mengajaknya bermain bola atau menonton pertandingan bola, papa yakin dia akan sangat senang.”
“ Bola ya.” Jingga kemudian tersenyum kecil di buatnya.
__ADS_1