
Tiba di Thailand atau lebih tepatnya di kota Bangkok untuk pertama kalinya membuat Jingga merasa sangat senang, dan alasan mengapa dia ingin mengajak Arkana ke Negara itu tak lain adalah untuk dapat bersenang-senang.
Jingga pernah dengar dari Qania kalau Arkana suka makanan Thailand, dan katanya dulu Arkana pernah ingin ke tempat ini tapi karena dia sibuk makanya hal itu tidak pernah terjadi.
Keduanya menginap di salah satu hotel bintang lima yang telah di pilih langsung oleh mama Widya, karena mama Widya yang memilihnya maka tidak ada pilihan lain untuk mereka tidur di kamar yang sama.
“ Kamu mau istirahat mas.?” Tanya Jingga pada Arkana yang baru saja menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.
“ Aku ngantuk, kamu jangan pergi jauh-jauh dulu.” Sahut Arkana di balas anggukan pelan dari Jingga.
Karena Arkana memutuskan untuk tidur, Jingga pun ingin istirahat juga. Dia merasa kurang enak badan saat tiba di Bangkok, entah karena sekarang dia mulai merasa sesak akibat kehamilannya ini.
Keduanya tidur bersebelahan dengan satu guling yang membatasi mereka, Jingga menghadap ke kanan sedangkan Arkana menghadap ke kiri. Mereka tidak saling berhadapan dan tidur dengan pulas.
**
Jingga dan Arkana tidur sampai lupa waktu, sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 05:00 sore. Mereka melewatkan waktu untuk berkunjung ke tempat wisata terbaik hari itu, tak ingin waktu terbuang sia-sia Arkana pun mencoba mencari tempat yang bagus di kunjungi di sore hari.
Arkana menemukan satu tempat yang bagus, dia pun mencari Jingga untuk menyuruhnya segera bersiap-siap. Anehnya Arkana tidak melihat keberadaan Jingga di kamar saat itu, dia mencoba mencari di beranda pun tidak ketemu.
“ Jingga?”
“ Jingga, kamu dimana.?”
Pintu kamar mandi baru saja terbuka dan memunculkan Jingga yang baru saja selesai mengganti baju, Arkana lupa mengecek kamar mandi saat itu sehingga dia sempat berpikir bahwa Jingga telah meninggalkannya.
“ Jadi kita mau kemana mas.?” Tanya Jingga lirih.
“ Sungai Chao Phraya.” Jawabnya sambil menunjukkan gambar dari sungai tersebut.
“ Memangnya masih beroperasi sampai sekarang.?”
__ADS_1
“ Di sini tertulis masih buka sampai malam.”
“ Ya udah, kamu siap-siap aja.”
“ Aku udah siap, kamu aja yang belum.”
“ Aku juga udah siap kok.”
Keduanya langsung meninggalkan hotel sore itu, mungkin mereka baru bisa tiba di sana sekitar pukul 7:00 malam di karenakan macet yang mereka alami selama perjalanan menuju sungai tersebut.
**
Liburan ke negeri gajah putih terasa kurang lengkap tanpa menyusuri aliran sungai Chao Phraya di Thailand, dengan menaiki perahu yang akan membawa wisatawan menelusuri sungai dengan menyaksikan pemandangan indah yang di sajikan sepanjang aliran sungai.
Untuk transportasinya sendiri ada berbagai macam jenis untuk di sewakan, pertama perahu kayu, kedua adalah kapal ferry, kemudian kapal ekor panjang, dan yang terakhir pesiar untuk melengkapi perjalanan wisatawan.
Arkana jelas memilih pesiar sebagai transportasi yang di pilihnya, selain pelayanannya yang lebih bagus dia juga bisa menunjukkan kepada semua orang betapa pedulinya dia pada istrinya.
Di kapal pesiar Chao Phraya princess dinner cruise juga menyediakan makan malam mewah khusus untuk tamu VIP seperti mereka. Sebelum makan, keduanya pergi ke deck atas untuk melihat keindahan malam kota Bangkok yang di hiasi oleh lampu warna warni.
“ Kamu kenapa sih kaya nggak senang gitu? Kan kamu yang ajak aku kemari.” Tegur Arkana pada Jingga yang saat itu terus menundukkan kepalanya.
“ Aku sedikit mabuk kalau naik kapal mas.” Jawab Jingga sambil menutup mulutnya menahan mual.
“ Minum obat anti mabuk kalau gitu.”
“ Tapi aku lagi hamil, nggak apa-apa emangnya.?”
“ Aku nggak tahu, bentar aku tanya dokter Nala dulu.” Arkana beranjak untuk menghubungi dokter Nala, sementara itu Jingga sudah merasa sedikit pusing dengan perjalanannya kali ini.
__ADS_1
Tak lama berselang Arkana kembali dengan membawa obat anti mabuk yang dia dapat dari orang yang bekerja di kapal itu, dia sudah mendapatkan jawaban dari dokter Nala bahwa Jingga boleh mengkonsumsi obat anti mabuk dengan dosis yang normal.
“ Kalau kamu masih nggak enak badan masuk ke kamar aja.” Ucap Arkana setelah membantu Jingga minum obat.
“ Kamu gimana.?” Tanya Jingga menatapnya lurus.
“ Tanpa kamu aku juga bisa menikmati waktuku.” Balasnya dengan cuek.
“ Maaf ya mas, kalau gitu aku kembali ke kamar.” Jingga pun beranjak dari sana, dia melirik Arkana sebelum masuk ke dalam.
“ Have fun ya mas.” Benak Jingga dengan senyum yang merekah.
**
Jingga sudah berada di kamar saat ini, dia duduk di atas tempat tidur sambil menyentuh dadanya yang terasa sesak. Kejadian ini sudah di rasakan saat tiba di Bangkok tadi pagi, dia mengira semuanya akan teratasi setelah dia istirahat ternyata tidak.
Dia merasakan detak jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya, kemudian kepalanya terasa sangat pusing, dan rasa mualnya pun masih sangat terasa meskipun dia sudah minum obat.
“ Mungkin istirahat sebentar bisa membuatku lebih baik.” Jingga kemudian meluruskan tubuhnya di atas tempat tidur, kemudian dia mulai menutup kedua matanya dan tidur dengan tenang.
Sementara itu di atas sana, Arkana terlihat sangat bersenang-senang sendirian. Dia sibuk berpesta sambil menikmati minuman yang di sediakan oleh pelayan di kapal tersebut.
Hal ini dia lakukan sampai kapal yang mereka tumpangi akhirnya kembali ke dermaga awal, sudah waktunya untuk turun setelah menikmati waktu berlayar selama 4 jam lebih.
Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 11:00 malam, Arkana segera menuju kamar untuk memanggil Jingga. Setibanya di kamar dia melihat istrinya itu masih tertidur, Arkana benar-benar tidak habis pikir dengan yang di lakukan Jingga sekarang.
“ Bangun, sudah waktunya kembali ke hotel.” Ucap Arkana sambil menyenggol lengan Jingga.
Perlahan namun pasti Jingga mulai membuka kedua matanya, dia melihat sosok Arkana yang berdiri di sampingnya. Kesadaran Jingga pun kembali sepenuhnya, dia bangun dari tempat tidur dan mulai merasa jauh lebih baik dari sebelumnya.
“ Maaf ya mas aku nggak bisa nemenin kamu.” Lontar Jingga menatap Arkana dengan tatapan yang sayu.
“ Nggak masalah, aku happy kok tanpa kamu sekalipun.” Balasnya tanpa balas menatap wajah Jingga.
__ADS_1
“ Baguslah, aku senang mendengarnya.” Ucap wanita itu dengan senyum yang merekah.
Arkana menatap Jingga bingung, bahkan dengan ucapannya yang cukup sarkas tadi masih bisa membuat Jingga tersenyum. Dan setelah itu, keduanya pun beranjak meninggalkan kapal, tour guide yang mereka sewa sejak tiba di Bangkok memandu mereka turun hingga sampai di kamar hotel dengan selamat.