
Daisy POV
Daisy membuka kedua matanya dengan kaget setelah dia sadar bahwa dirinya baru saja ketiduran, dia melirik ke arah sofa tempat dimana Keenan sebelumnya ada disana.
“ Dia kemana?” Benak Daisy bertanya-tanya.
Tidak ada keberadaan siapapun di dalam ruangan itu, sampai Daisy mengira bahwa dirinya sedang bermimpi kalau sebelumnya Keenan datang ke tempat itu.
“ Atau jangan-jangan dia udah pulang.?”
“ Aku nggak pulang.” Suara yang baru saja keluar dari kamar mandi berhasil membuat Daisy terperanjat kaget.
Ketika dia menoleh ternyata benar kalau Keenan memang datang menemuinya, dan pria itu ternyata baru saja keluar dari kamar mandi dengan pakaian baru yang jelas kalau sebelumnya dia tidak mengenakan pakaian itu.
“ Kamu kenapa masih disini?” Tanya Daisy bingung.
“ Papa kamu nugasin aku buat jagain kamu, jadi malam ini yang akan jagain kamu adalah aku.” Jawab Keenan mantap.
“ Kamu nggak perlu repot-repot jagain aku, lagi pula aku nggak sakit parah.” Balas Daisy tak mau melihat wajah Keenan.
“ Sakit parah atau nggak, itu urusan aku mau tetap disini. Jadi sekarang mending kamu tenang, barusan ada petugas yang bawain makanan buat kamu. Yuk makan dulu.” Keenan menarik trolley makanan yang sudah tersedia ke tempat tidur Daisy.
“ Aku nggak lapar.” Tolak Daisy.
“ Kamu harus tetap makan, suster bilang mereka akan datang dua puluh menit setelah kamu makan buat kasih kamu obat. Kamu nggak mau tetap disini lama-lama kan.?” Lontar Keenan menatap lurus ke arah Daisy.
Daisy pun menurut apa kata Keenan malam itu, dia menghabiskan makanannya dengan bantuan Keenan. Tanpa dia sadari dia mulai luluh dengan sikap Keenan, padahal sejak tadi dia sudah mencoba membangun tembok pertahanan agar tidak jatuh ke dalam perasaannya itu.
Setelah menemani Daisy makan, Keenan segera memberitahu suster untuk segera memberikan obat kepada Daisy. Suster yang datang merawat Daisy mengira bahwa Keenan adalah kekasihnya, saat itu Keenan dengan penuh senyuman tidak menyangkalnya. Sedangkan Daisy menyangkalnya dengan penuh penegasan.
“ Kalian berdua cocok kok.” Ucap suster itu sebelum dia meninggalkan ruangan itu.
Setelah suster itu pergi, terlihat Keenan yang membantu Daisy dalam memperbaiki posisi tempat tidurnya agar gadis itu dapat merasa nyaman untuk bersandar.
“ Kamu padahal nggak perlu berbuat seperti ini sama aku.” Kata Daisy lirih.
“ Kenapa? aku melakukan ini untuk gadis yang ku sayang, memangnya salah.?” Balas Keenan sontak membuat Daisy terkejut.
“ Jangan mempermainkan kata sayang seperti itu, aku nggak suka.”
“ Alasan kamu menolakku waktu itu bukan karena kamu nggak suka sama aku kan?” Sahut Keenan tiba-tiba.
“ Apa maksudmu.?”
“ Kamu sudah salah paham kalau mengira yang ku suka adalah Lily, aku menyukaimu lebih dari apapun. Sudah lama dan aku baru bisa mengatakannya sekarang, memangnya kamu nggak merasakan apapun selama kita komunikasi hampir lima tahun? “ Tanya Keenan mulai serius.
“ Kamu salah Nan, aku nggak pernah menganggap kamu lebih dari itu. “
“ Coba kamu bilang kalau kamu nggak suka sama aku dengan lihat mataku langsung.” Ucap Keenan yang sadar bahwa sejak tadi Daisy selalu menghindari kontak mata dengannya.
Perlahan namun pasti Daisy mengikuti apa yang Keenan katakan, mereka sudah saling menatap satu sama lain cukup lama. Sampai akhirnya Daisy berkata.
__ADS_1
“ Aku nggak pernah memiliki perasaan lebih ke kamu Nan, kamu puas sekarang.?” Lontar Daisy yang membuat Keenan tampak percaya pada apa yang di ucapkannya.
“ Oke, kalau memang seperti itu. Aku akan berusaha untuk lupain perasaan aku ke kamu.” Jawab Keenan juga membuat Daisy terkejut mendengarnya.
“ Kenapa semudah itu? kenapa sih kamu selalu bertindak sesuka kamu dan tidak mau berusaha lebih? Aku bahkan ragu kalau kamu serius suka sama aku.” Benak Daisy.
“ Malam ini aku nggak akan pergi, aku tetap akan jagain kamu sesuai pesan papa kamu. Jadi jangan khawatir, aku nggak bakalan gangguin kamu kok. Besok pagi pun aku akan pergi sebelum kamu bangun, jadi jangan khawatir.” Kata Keenan sambil berjalan menuju sofa.
Daisy hanya bisa menatap pergerakan Keenan dengan perasan yang kacau, ini bahkan lebih menyebalkan dari pada dia harus berkata bahwa dia tidak menyukai Keenan.
**
Pagi-pagi sekali sebelum Daisy bangun dari tidurnya, Keenan benar-benar pergi meninggalkannya. Dengan hati yang berat dia pergi dan tidak akan kembali lagi, dia berusaha kuat menerima kenyataan bahwa dirinya tidak akan bisa bersama dengan gadis yang dia cintai.
Keenan baru saja keluar dari kamar Daisy, dia berjalan melewati koridor menuju lift. Hingga akhirnya dia sudah tiba di lantai satu, langkahnya pelan dan pandangannya hanya lurus ke bawah saja.
“ Keenan.?” Panggil seseorang yang membuat Keenan menatap sosok di depannya secara perlahan.
“ Kebetulan, ada yang ingin ku katakan.” Ucap Keenan dengan sorot mata yang tak bersemangat.
Dan akhirnya Keenan mengajak Lily ke satu tempat dimana mereka bisa mengobrol dengan bebas.
“ Kamu mau ngomong apa Nan.?” Tanya Lily.
“ Aku Cuma mau bilang kalau aku suka sama Daisy, bagaimana menurutmu? Apa aku pantas dengannya? Apa Daisy pernah bilang kalau dia juga suka sama aku.?”
“ Kenapa kamu tanya aku Nan? Harusnya kamu tanya ke Daisy langsung.”
“ Sudah. Tapi dia nggak mau jujur ke aku. Kamu saudar kembarnya kan, sudah pasti kamu tahu semua tentang Daisy. Jadi aku mau tahu langsung dari kamu.”
“ Kamu nggak bohong kan.?”
“ Aku nggak pernah bohong. Kalau kamu mau tahu satu kebohongan aku, aku bisa kasih tahu kamu sekarang.”
“ Nggak perlu. Sudah cukup sekarang, aku mengerti harus berbuat apa selanjutnya.”
Keenan merasa sudah cukup membahas hal itu kepada Lily, dengan mengatakan bahwa dirinya menyukai Daisy adalah pilihan yang tepat. Kalau benar Lily menyimpan rasa padanya, dia sudah bisa mundur setelah mengetahui langsung dari Keenan.
**
Pria itu baru saja tiba di rumah dalam keadaan diam seribu bahasa, dia bahkan mengabaikan pertanyaan mamanya dan tetap melangkah menuju kamarnya. Sampai suara berat yang terdengar menakutkan berhasil membuat langkah Keenan berhenti.
“ Sejak kapan kamu jadi anak yang kurang ajar begitu sama orang tua.?” Sahut Arkana kesal dengan sikap Keenan kepada Jingga.
“ Keenan capek pa.” Jawabnya pelan.
“ Seenggaknya kamu jangan abaikan pertanyaan mama kamu, dia khawatir semalam karena kamu nggak pulang, nomor susah di hubungi, kamu mau jadi apa dengan bersikap seperti itu.?” Tegas Arkana sekali lagi.
“ Udah mas, jangan marahin Keenan.” Jingga tak tega jika Keenan di marahi meski dia tahu anaknya berbuat salah.
“ Keenan minta maaf, Keenan capek mau istirahat.” Balasnya dengan pelan dan meninggalkan kedua orang tuanya tanpa penjelasan lebih.
Arkana sampai tidak tahu harus mendidik anaknya seperti apalagi, Keenan semakin sulit di mengerti semenjak dia hidup sendiri di Amerika selama lima tahun.
__ADS_1
“ Ini salahku mas, aku nggak seharusnya ikut campur dengan urusan Keenan waktu itu.” Ucap Jingga merasa bersalah.
“ Tetap saja, dia nggak boleh bersikap begitu ke kamu. Dia nggak tahu seberapa sulit kamu membesarkan dia dulu?”
“ Aku mau bicara berdua sama Keenan, aku ibunya dan aku tahu dia hanya ingin di mengerti sekarang.”
“ Terserah kamu saja, tapi aku nggak mau tahu kalau dia sampai meninggikan suaranya ke kamu lagi.”
“ Iya mas, aku ngerti kok.”
**
Malam harinya, Jingga memutuskan untuk mengobrol berdua dengan putra pertamanya itu. Meski di awal sempat mendapat penolakan, namun pada akhirnya Keenan luluh dan mempersilahkan mamanya masuk ke dalam kamarnya.
Keenan berbaring di atas tempat tidurnya sedangkan Jingga duduk di bibir tempat tidur sambil melirik Keenan, tampaknya Keenan masih belum mau menatapnya sampai sekarang.
“ Mama minta maaf ya nak, mama sadar telah melakukan kesalahan. Tapi mama benar-benar tidak menginginkan hal ini terjadi. Mama khawatir dengan kamu setiap saat, mama ingin sekali membantu memperbaikinya. Jadi tolong beri mama kesempatan untuk memperbaikinya.”
Ucapan Jingga yang terdengar begitu tulus mampu menggerakkan hati Keenan untuk bergerak dari tempatnya. Pria berusia dua puluh empat tahun itu segera menghadap ke Jingga dan mulai menatap mamanya dengan sayu.
“ Keenan juga minta maaf ma, Keenan salah karena terlalu terbawa emosi. Seharusnya Keenan nggak marah ke mama, Keenan minta maaf ya ma.”
“ Mama akan selalu maafin kamu, jadi kali ini di antara kita udah nggak ada masalah kan.?”
“ Iya ma, terima kasih sudah jadi mama yang baik dan pengertian. Aku akan lebih peduli lagi sama mama, maafin ya ma.”
Keduanya saling berpelukan melepas emosi yang telah berlalu, Keenan benar-benar sadar bahwa dia telah melakukan kesalahan dengan menyalahkan Jingga sebelumnya. Kini hubungan ibu dan anak itu telah terselesaikan, dan sekarang Keenan terlihat dalam mode manjanya.
“ Btw, dulu mama sama papa gimana bisa ketemu? Siapa yang duluan jatuh cinta?” Tanya Keenan lantas membuat Jingga langsung memasang wajah bingung.
“ Ceritanya panjang dan drama banget, kamu pasti bosan kalau mama cerita semuanya.” Jingga bukan tidak mau menceritakannya, dia hanya tidak ingin masa lalunya dan Arkana dulu sampai di ketahui oleh anak-anaknya.
“ Menurut mama, papa itu orangnya kaya gimana? “
“ Papa itu baik, tegas, lembut, dan cemburuan.”
“ Oh ya? “
“ Papa kamu itu setia banget sama mama, dia kalau suka sama satu wanita akan tetap setia sampai akhir. Itu yang membuat mama yakin kalau papa kamu nggak akan pernah melirik wanita lain.”
Keenan menyadari satu hal bahwa ternyata dirinya tidak bisa seperti papanya, tingkat kepercayaan dirinya kurang untuk berjuang. Mungkin juga dia masih terlalu muda dan belum bisa mengontrol emosinya dengan baik, urusan cinta memang tidak melulu menjadi yang utama di usianya yang sekarang.
“ Ma, aku mau tinggal di Indonesia sama kakek dan nenek boleh nggak.?” Pinta Keenan tiba-tiba.
“ Kok tiba-tiba mau tinggal di Indonesia.?”
“ Aku mau jadi sutradara di Indonesia aja, aku udah lama nggak kesana juga. Nggak apa-apa kan.?”
“ Kamu yakin? Bagaimana dengan Daisy.?”
“ Kalau jodoh nggak akan kemana ma, untuk sekarang aku nggak mau mengganggunya. Biarkan dia mengejar impiannya dan menjadi model sukses, aku juga mau fokus dengan impianku sebagai sutradar film.”
“ Baiklah kalau kamu mau seperti itu, mama akan bicarakan dengan papa kamu.”
__ADS_1
“ Terima kasih ya ma.”