Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Tangisan Khawatir


__ADS_3


Bima berjalan keluar dari kamar tempat Arkana di rawat, dia terus berjalan sampai ke lantai satu demi mencaritahu keberadaan mamanya. Tadinya dia mengecek ke kamar mamanya namun tidak ada, dan bi Ijah juga bilang kalau mama Widya belum pulang lagi sejak tadi siang.


“ Bi, barusan ada orang-orang asing ke rumah mau ngapain ya? Mereka siapa? Apa mereka ada hubungannya dengan kondisi Arkana sekarang.?”


Terlihat Bi Ijah yang hanya bisa diam sambil memainkan kukunya, Bima sadar bahwa saat ini bi Ijah tidak berani mengatakan apapun karena dia tahu kejadian hari ini dan tidak ingin memberitahu semuanya.


“ Bi, jangan khawatir. Saya janji bibi nggak akan berada dalam masalah kalau bibi jujur sama saya.” Kata Bima sambil menyentuh kedua pundak bi Ijah hingga akhirnya wanita setengah baya itu mau menatap wajah Bima.


“ Den Bima tolong jangan kasih tahu nyonya ya.”


“ Iya bi, saya nggak akan kasih tahu.”


“ Nyonya panggil beberapa orang ke rumah ini buat pukulin den Arka, tapi sayan nggak tahu ada masalah apa karena saya di larang mendekati ruangan itu den.”


“ Ini pasti ada kaitannya dengan kejadian di rumah sakit seperti yang di bilang om Hendra.” Benak Bima.


“ Ya udah, terima kasih banyak ya bi.” Dan Bima pun segera beranjak dari sana, dia kembali ke ruangan dimana dia menemukan Arkana hari ini.


Bima masih sangat ketakutan saat memasuki ruangan itu, baying-bayang Arkana yang tergeletak dengan luka dan darah masih terbayang yang membuatnya merasa bersalah karena terlambat datang.


“ Mama kenapa jadi orang yang jahat seperti ini sama kamu Ar? Padahal kamu adalah darah dagingnya sendiri, bahkan papa saja selalu nanyain keadaan kamu dan mau banget ketemu sama kamu.”


Suara dering ponsel yang asing membuat Bima menoleh kesana kemari, dia mendengar suara ponsel itu ada di bawah meja yang membuatnya merunduk untu segera meraihnya.


Bima berhasil menemukan sebuah ponsel berwarna hitam, terdapat nama Qania yang melakukan panggilan sehingga membuat Bima langsung menjawabnya setelah mengingat siapa pemilik nama tersebut.


“ Halo Ar? Kamu dimana aja sih? Jingga udah nyariin kamu dari tadi, dia khawatir sama kamu.”


“ Maaf ini bukan Arkana.”

__ADS_1


“ Bukan Arka? Terus siapa.?”


“ Saya Bima, kakaknya.”


“ Maaf kak, saya nggak tahu. Tapi Arka dimana ya kak? Boleh saya bicara sama dia sebentar.?”


“ Arkana mengalami sedikit kecelakaan, dia belum sadarkan diri sampai sekarang. Bisa tolong beritahu Jingga kalau hari ini dia sedang lembur di rumah sakit? Ku dengar Jingga tidak boleh sampai banyak pikiran, dia pasti akan sangat khawatir kalau tahu yang sebenarnya.”


“ Arkana kecelakaan apa kak? Terus dimana dia sekarang.?”


“ Dia di tempat yang aman, cukup beritahu Jingga kalau dia sedang lembur ya.”


“ Baik kak, nanti akan saya kasih tahu ke Jingga.”


Percakapan mereka pun berakhir, Bima menatap layar ponsel Arkana dimana terdapat foto Jingga yang sedang tersenyum disana. Bima terus menatapnya dengan tatapan sayu, kemudian dia menyimpan ponsel itu ke dalam saku celananya dan segera keluar dari ruangan itu.


**


Sudah lama dia tidak pernah tidur sendiri, siapa yang sangka kalau malam ini tidak ada Arkana yang menemaninya. Dia bahkan sudah mencoba untuk tidur tapi tetap saja tidak bisa, ada perasaan khawatir yang terus di rasakannya,


Qania memang sudah menjelaskan bahwa Arkana sedang lembur di rumah sakit, tapi tetap saja dia rindu dan ingin berada di samping ruaminya. Ponselnya tidak sedang di tangannya jadi dia tidak bisa menghubungi Arkana untuk saat ini.


Saat itu Jingga merasakan tendangan bayinya yang cukup kuat hingga beberapa saat, hal itu jarang terjadi sampai membuatnya kebingungan. Perasaan Jingga sudah mulai kacau, dia sedih dan menitihkan air mata saat itu juga.


Pintu kamar baru saja terkuak, terlihat Qania dan Diana masuk ke dalam melihat keadaan Jingga. Mereka sampai terjaga dan setiap saat mengecek keadaan Jingga, keduanya tidak menyangka kalau Jingga bangun dan menangis seperti itu.


“ Hey, ada apa? Kamu kenapa nangis.?” Tanya Qania sambil memeluknya dengan lembut.


“ Mas Arka baik-baik aja kan? Dia nggak kenapa-napa kan? Kok aku terus merasa khawatir mikirin dia? Kamu bisa kan telpon dia sekarang? Aku mau mastiin dia baik-baik aja.” Pinta Jingga.


Qania menatap Diana bingung harus berkata apalagi, sekarang jam sudah menunjukkan pukul 2:00 dini hari. Qania tidak tahu apakah Arkana sudah siuman atau belum, dan bagaimana dia memberitahu Jingga supaya Jingga bisa sedikit lebih tenang.

__ADS_1


**


“ Anak tidak berguna, mama menyesal telah melahirkan kamu.”


“ Kamu sebaiknya mati saja.”


Arkana terlihat gelisah setelah bermimpi buruk, dia membuka kedua matanya dengan cepat dan bangkit dari sana. Nafasnya berburu begitu kuat di sertai keringat dingin yang membasahi wajahnya.


Secara bersamaan dia merasakan rasa sakit yang begitu kuat sampai dia sadar bahwa wajahnya di tutup oleh beberapa plester, Arkana mencoba mengingat apa yang terjadi dan saat dia mengingatnya dia pun merasa sedih sampai menutup kedua wajahnya.


Perlahan namun pasti dia mulai sadar sedang berada di suatu tempat yang asing, Arkana tidak mengenali kamar itu sampai pada akhirnya dia teringat dengan Jingga dan bergegas turun dari tempat tidur.


Ketika Arkana keluar dari kamar itu dia menemukan sosok Bima yang sedang duduk di sebuah sofa, Arkana bingung dan bertanya-tanya mengapa dia bisa berakhir di tempat asing bersama Bima.


“ Jangan banyak bergerak dulu, om Hendra bilang lukanya tidak parah tapi kamu jangan kemana-mana dulu.” Sahut Bima yang langsung menghampirinya dengan khawatir.


“ Dimana ini? kenapa aku bisa disini.?” Tanya Arkana penasaran.


“ Kita di apartemenku, dua jam yang lalu aku membawamu dari rumah mama. Mungkin lebih bagus kalau kau di rawat disini untuk sementara waktu.” Jelas Bima.


“ Pintu keluar? Dimana pintu keluarnya.?” Tanya Arkana yang sekarang tidak peduli lagi selain segera pulang menemui Jingga.


“ Kau menemuinya dengan kondisi seperti itu?” Sahut Bima berhasil membuat langkah Arkana terhenti.


Di samping Arkana berdiri terdapat cermin yang cukup besar dan memperlihatkan keadaan wajahnya saat ini, di lihat dari berbagai macam sudut pun pasti akan membuat siapa saja terkejut melihatnya.


“ Dia sedang sakit kan? Kalau kamu muncul dengan keadaan seperti itu yang ada dia akan sangat syok dan membuat kesehatannya semakin terganggu.” Sambung Bima membuat Arkana tidak tahu harus berbuat apalagi.


“ Tapi dia belum tahu kabarku, dia pasti akan sangat khawatir.”


“ Aku sudah menghubungi Qania, kebetulan dia menemani Jingga saat ini. Aku sudah bilang kalau kamu lembur jadi nggak bisa pulang ke rumah, untuk sementara waktu kamu disini saja dan obati lukanya dengan benar.”

__ADS_1



__ADS_2