Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Keputusan Sepihak


__ADS_3


Hari demi hari Widya semakin berubah, dia terus menerus menuduh Aidan berselingkuh. Sampai pada akhirnya Aidan sudah tidak tahan dengan sikap Widya dan sering pergi sampai berhari-hari, dia hanya kembali untuk memberikan uang yang entah dari mana asalnya.


Hubungan pernikahan Widya dan Aidan tidak berjalan dengan baik meskipun sudah memasuki usia pernikahan yang ke lima belas tahun, puncak permasalahan itu terjadi saat Bima sudah berusia lima belas tahun dan Arkana yang berusia sepuluh tahun.


Aidan merasa bahwa rumah tangganya bersama Widya sudah tidak sehat lagi, dia pun menjatuhi talak kepada Widya dengan tegas meskipun Widya menolak untuk berpisah.


Aidan juga ingin memperjuangkan hak asuhnya, dia berharap bisa mendapatkan hak asuh keduanya agar dia bisa membesarkan mereka dengan baik. Bagi Aidan, Widya bukanlah sosok orang tua yang bisa membesarkan anak dengan baik dan benar.


Namun sayangnya setelah perceraian terjadi, hanya Bima yang bisa ikut dengan Aidan. Mungkin Arkana memang bukan anak kandungnya, tapi dia sudah menyayangi anak itu seperti rasa sayangnya untuk Bima.


Hingga di hari terakhir mereka berpisah, Aidan memeluk Arkana dengan sangat erat dan berharap bisa bertemu dengan Arkana jika di beri kesempatan kedua.


*


“ Jadi seperti itu, Arkana bukanlah anak kandung kami berdua. Dan pernikahan kami pun berakhir karena Widya terus menuduh saya selingkuh, padahal selama itu saya tidak pernah berselingkuh darinya.” Ungkap Aidan pada Hendra.


“ Selama dua puluh tahun menikah dengan Widya, saya pun belum pernah merasakan yang namanya menjadi seorang suami yang sesungguhnya. Atau lebih tepatnya, dia tidak pernah menjadi istri yang melayani suaminya dengan baik. Widya masih terjebak di masa lalunya dengan anda pak Aidan, saya berani mengatakan hal ini karena dia masih menyimpan kenangan kalian bersama.”


“ Kenangan apa kalau boleh saya tahu.?”


“ Di dalam kamar kami ada sebuah box coklat dimana isinya terdapat foto-foto kalian saat bersama, ada begiti banyak foto dan kenangan lainnya. Saya pikir jika Widya benar-benar sudah melupakan anda, mungkin sampai sekarang semua benda itu tidak akan ada di rumah kami.”


“ Saya benar-benar tidak tahu soal itu, hubungan saya dan Widya pun sudah lama berakhir. Terakhir saya ingin bertemu dengan Arkana, tapi dia melarang saya menemuinya. Jadi sejak saat itu saya tidak pernah lagi berusaha untuk menemui Arkana.”


Obrolan Hendra dan Aidan terus berlanjut dengan Hendra yang menceritakan keadaan Arkana dan Widya saat ini, keduanya saling bertukar cerita hingga menemukan jawabannya masing-masing.


Aidan yang sudah mendengar tentang Arkana pun merasa begitu ingin menemuinya, terlebih lagi mendengar bahwa istri Arkana sedang menghilang dan meninggalkan Arkana dan bayinya yang baru lahir.


“ Saya akan membantu pak Aidan untuk bertemu dengan Arkana, kita bisa menyelesaikan kesalahpahaman antara kalian berdua. Selama ini mamanya sudah mendoktrin Arkana sehingga dia banyak mengalami masalah selama hidupnya.”

__ADS_1


“ Terima kasih pak Hendra, saya sangat senang mendengar anda mau membantu saya untuk bertemu dengan Arkana.”


**


Wanita itu terlihat menatap sebuah bingkai foto yang selalu dia lihat saat malam sebelum tidur, foto-foto kenangan di masa lalu yang membuatnya ingin kembali pada masa itu.


Widya menyentuh foto tersebut dengan lembut, dia menatap wajah seorang pria disana dengan senyuman manis yang sampai saat ini selalu membuat perasaannya berdebar.


Suara pintu baru saja terbuka membuat Widya menyimpan kembali bingkai tersebut, dia menoleh ke samping dan mendapati suaminya baru saja masuk ke dalam kamar.


Tak ada percakapan yang terjadi di antara mereka berdua, Hendra sudah mendiami Widya sejak beberapa hari terakhir dan itu membuat Widya bingung. Padahal selama ini Hendra tidak pernah diam, dia akan selalu mengajaknya mengobrol meski bukan pembahasan yang penting.


“ Kamu dari mana hari ini? kok nggak kelihatan di rumah sakit.?” Tanya Widya saat dia ikut naik ke atas tempat tidur.


“ Bukan urusan kamu.” Balas Hendra yang memutar tubuhnya membelakangi tubuh Widya.


Untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka, Hendra bersikap sangat dingin kepadanya. Hal itu tentu membuat Widya bertanya-tanya, namun dia berhenti untuk mengusik suaminya dan memilih untuk tidur.


**


Widya keluar dari kamar masih dengan piyama yang dia kenakan, dia melilit tali piyama itu sambil menuruni anak tangga. Dia tidak melihat keberadaan suaminya dimana-mana, sampai pada akhirnya dia bertemu dengan bi Ijah dimana wanita itu menjelaskan bahwa Hendra sudah pergi beberapa saat yang lalu.


“ Dia bilang mau kemana nggak.?”


“ Nggak nyonya, tuan kelihatan rapih kayaknya mau ke rumah sakit.”


Widya pun segera berlalu kembali ke kamarnya, namun tiba-tiba dia kembali berhenti saat Bima memanggilnya. Melihat putranya yang juga bangun pagi dan langsung menghampirinya membuat Widya terlihat begitu penasaran.


“ Ada apa nak.?”


“ Bima mau kembali ke rumah papa Aidan besok.”

__ADS_1


“ Apa? Kenapa? kamu nggak betah disini.?”


“ Bima sudah cukup lama tinggal sama mama, sekarang Bima hanya ingin kembali. Nanti Bima balik lagi kok kalau Bima sudah tinggal disana selama beberapa hari.”


Mama Widya tampak memikirkan permintaan Bima sebelum menyetujuinya, dia tahu dimana Aidan tinggal sekarang dan jaraknya dari kediamannya cukup jauh.


“ Baiklah kalau kamu mau kembali, tapi ingat untuk pulang kesini ya. Mama nggak bisa jauh dari kamu.”


“ Iya ma.”


**


Pengumuman orang hilang, selebaran yang menunjukkan foto Jingga, hingga hadiah yang di dapat jika berhasil menemukannya sudah tersebar di berbagai tempat. Arkana sudah menyewa seseorang untuk menyebarkan berita tersebut baik secara langsung maupun melalui social media.


Sudah hampir dua minggu dan Jingga masih belum di temukan, kepolisian hampir menyerah mencarinya karena tidak ada bukti yang di temukan bahwa Jingga hilang karena di culik oleh seseorang.


“ Kamu dimana Jingga? Kalau kamu masih dalam keadaan tidak sadar, tolong cepat bangun dan kembali ke rumah. Kalaupun kamu nggak suka sama aku nggak apa-apa, tapi jangan tinggalin anak kita dengan cara seperti ini.” Benak Arkana yang saat itu duduk di sebuah kursi taman setelah seharian mencari Jingga.


Langit terlihat mulai gelap yang menandakan sebentar lagi akan turun hujan, Arkana bahkan tidak segera beranjak dari sana karena masih ingin mencari Jingga sebentar lagi.


Ponselnya tiba-tiba berdering menandakan ada panggilan yang masuk, melihat nama Qania disana lantas membuatnya langsung menjawab panggilan tersebut.


“ Kamu dimana Ar? Keenan terus menangis, kamu bisa pulang dulu nggak.?”


“ Aku pulang sekarang.”


Arkana langsung berlari menuju mobilnya untuk segera pulang, mendengar telepon Qania yang menangkap suara Keenan sedang menangis lantas membuat Arkana langsung panik.


Sesibuk apapun dia diluar dalam mencari Jingga, jika mengetahui putranya menangis terus menerus tetap akan membuat Arkana pulang. Jingga memang penting, tapi Keenan juga sangat penting untuknya saat ini.


__ADS_1


__ADS_2