Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
The Wedding Day


__ADS_3


“ Mas, cepetan. Kita udah telat banget, aku mau lihat proses ijab qabulnya.” Sahut Jingga yang tidak sabaran dan sudah mengajak Arkana sejak tadi.


Sudah hampir memasuki jam sepuluh pagi dan waktu ijab qabul pernikahan Diana di lakukan pada waktu itu juga, Jingga sampai kesal pada Arkana yang terlalu santai dan akhirnya membuat mereka sampai telat seperti itu.


Jingga dan Arkana hanya datang berdua sebab mereka telah menitipkan Keenan pada mama Widya, meski tanpa Keenan sekalipun tampaknya mereka masih tidak bisa datang tepat pada waktunya.


Setibanya di venue, Arkana kembali mendapat omelan Jingga sampai dia hanya bisa diam dan menerima semua ucapan yang di lontarkan istrinya itu. Mereka tiba di saat proses ijab qabul telah selesai, dan sekarang pengantin sudah berada di pelamin menyambut semua tamu undangan yang datang.


Ekspresi Jingga langsung berubah ketika dia memasuki tempat acara, dari kejauhan tatapannya sudah langsung tertuju ke atas pelaminan dimana sahabat terbaiknya sedang mengenakan gaun pengantin yang sangat indah dan membuatnya begitu cantik.


Diana terlihat tersenyum simpul setiap ada tamu undangan yang datang dan mengucapkan selamat kepadanya, Jingga bisa tahu senyuman itu bukanlah senyuman tulus dan bahagia yang di rasakan oleh seorang mempelai wanita.


Jingga kembali teringat akan dirinya yang menikah karena terpaksa waktu itu, dia bisa menerima Arkana sebagai suaminya karena sempat berpikir bahwa Arkana adalah pria yang baik. Dan sekarang nasibnya jatuh ke sahabatnya, sosok suami yang berdiri di samping sahabatnya itu masih membuat Jingga penasaran dan bertanya-tanya, apakah dia mampu membuat Diana bahagia ke depannya?


Kini Jingga sudah berdiri di depan Diana, keduanya saling menatap satu sama lain dan terdiam beberapa saat. Diana yang kemudian tersadar langsung memeluk Jingga, pada saat itu tangisnya pun pecah dan membuat beberapa orang di sekitar kebingungan.


“ Kamu yang sabar ya, semua akan baik-baik aja kok. Kamu hanya perlu percaya kalau pria yang kamu nikahi adalah pria yang baik, pun jika nantinya dia tidak bersikap baik ke kamu, aku yakin seorang Diana pasti bisa mengatasinya sendirian.” Bisik Jingga sambil mengusap punggung Diana dengan lembut.


Diana tidak membalas apapun, dia hanya menangis di pelukan Jingga. Sampai akhirnya mama Diana mendekat dan menyuruh putrinya untuk melepaskan pelukan itu, semua orang pasti akan bertanya-tanya jika Diana terus seperti itu dengan Jingga.


Setelah Diana melepaskan pelukannya, Jingga merasa sangat terpukul melihat raut wajah Diana yang tidak bahagia. Untuk pertama kalinya dalam hidup dia mengenal Diana, itu adalah raut wajah tersedih yang pernah dia tunjukkan.


Sekarang Jingga langsung menghadapi suami Diana, seorang pria yang langsung memberikan jabatan kepada Jingga dengan sopan dan menghargai Arkana yang berdiri di samping Jingga saat itu.


“ Kamu pasti sahabatnya Diana, aku paham bagaimana perasaan dia. Dan kamu pasti khawatir kepadanya, tapi kamu tenang saja. Aku akan menjaga Diana dan akan ku pastikan dia bisa merasakan kebahagiaan yang belum pernah dia dapatkan.” Ucap pria itu dengan sungguh-sungguh.


Awalnya Jingga merasa ragu pada pria yang menjadi suami Diana, tapi setelah mendengar ucapannya secara langsung entah mengapa langsung membuat hati Jingga luluh.

__ADS_1


Dan ketika Jingga turun dari pelaminan, dia tampak bengong dengan pikirannya sendiri. Sampai Arkana menegurnya dan membuat Jingga kembali melirik Diana dan suaminya.


“ Dia pasti laki-laki yang baik.” Gumam Jingga pelan.


Arkana tidak mengerti dengan pola pikir istrinya sekarang, dia tidak ingin bertanya lebih karena nantinya akan menyulut emosi Jingga. Arkana tahu kalau diam lebih baik jika Jingga sedang datang bulan.


Jingga kembali melirik sekitar dan mencari keberadaan sosok yang dia pikir mungkin akan datang, saat di cek melalui ponselnya untuk menghubungi nomor pria itu, tampaknya si pemilik ponsel tidak menjawab panggilannya.


“ Erwin pasti datang kan? Kalau dia terima dengan pernikahan ini, seharusnya dia datang.” Benak Jingga terlihat begitu gelisah mencari keberadaan Erwin.


Di tengah-tengah acara yang seharusnya berlangsung dengan khidmat, kini berakhir dengan keadaan mempelai wanita yang tiab-tiba jatuh tak sadarkan diri.


Semua orang pun panik melihatnya, Arkana yang merupakan seorang dokter langsung naik dan mengecek keadaan Diana. Setelah di cek ternyata Diana pingsan karena kelelahan, Arkana pun meminta beberapa orang untuk segera membawa Diana ke tempat yang lebih nyaman untuk berbaring.


**


“ Ya ampun, aku nggak habis pikir kalau Diana akan sampai pingsan seperti itu.” Ucap Qania khawatir.


“ Aku belum pernah melihat Diana pingsan, ini pertama kalinya bagiku.” Balas Jingga yang tak kalah khawatirnya.


Saat itu Jingga menangkap sosok yang tak asing sedang berdiri di dekat tiang aula, Jingga mengenali sosok itu meski dia menggunakan penyamaran sekalipun.


Jingga pun segera menghampirinya, namun sebelum itu dia memberitahu Qania dan Aizen untuk menyuruh Arkana menunggunya selagi dia pergi. Dan sekarang Jingga sedang menghampiri sosok yang dia yakini sebagai Erwin.


“ Akhirnya kamu datang juga.” Sahut Jingga sukses membuat pria itu terkejut dan bergegas untuk pergi.


“ Tunggu, kamu mau kemana.” Jingga berhasil menarik pakaian Erwin dan membuatnya terpaksa berhenti.


“ Lepasin aku, aku harus pergi.” Balas Erwin tanpa mau menatap wajah Jingga.

__ADS_1


“ Nggak, sebelum kamu ngomong sama aku.” Sahut Jingga ketus.


Erwin pun menoleh dengan mata yang sembab, Jingga tahu seberapa khawatirnya Erwin kepada Diana saat ini. Dia seakan mengerti apa yang di rasakan Erwin, untuk itu dia ingin mencaritahu lebih dalam agar jika dia kembali ke Singapura nanti, semua permasalahan di antara keduanya sudah berakhir dengan baik.


Akhirnya mereka berdua berpindah tempat menuju tempat yang lebih tertutup untuk mengobrol berdua.


“ Ini kan yang kamu mau Win? Diana menikah dengan pria itu? “ Sahut Jingga menatapnya tajam.


“ Benar, ini yang ku inginkan.” Jawabnya pelan.


“ Kamu nggak menyesal kan dengan keputusan kamu? Walaupun sekarang kamu menyesal, rasanya sudah sangat terlambat. Diana memang masih sangat berharap kamu yang berdiri di samping dia, tapi karena keegoisan kamu akhirnya kamu dan dia sama-sama terluka kan.?”


“ Ini hanya masalah waktu saja, semua akan kembali membaik seiring berjalannya waktu.”


“ Win, sekali-kali kamu melawan dong. Jangan pasrah dengan keadaan terus? Mana kamu yang dulu selalu tegas dalam segala hal? Kenapa sekarang kamu kaya lemah dan nggak bisa ngapa-ngapain.?”


“ Aku harus gimana? Kamu tahu sendiri aku sama Diana nggak bisa bersama, kamu tahu itu lebih dari apapun. Semua orang hanya bisa ngomong, mereka nggak akan pernah ngerti gimana rasanya ada di posisi aku.”


Jingga hanya bisa diam, melihat Erwin yang akhirnya menangis di depannya tak bisa membuat Jingga mengatakan apapun lagi. Karena semua sudah terjadi, dia hanya bisa menyuruh Erwin untuk tetap seperti itu dan kembali menjalani kehidupannya seperti semula.


“ Aku mau berhenti mengelola butikmu dalam waktu dekat ini.” Kata Erwin tiba-tiba.


“ Kamu mau kemana sampai ingin berhenti mengelolanya.?” Tanya Jingga penasaran.


“ Aku mau pergi dari Jakarta, kamu nggak perlu tahu kemana aku pergi. Jadi aku minta maaf kalau aku hanya bisa mengurus butik itu dalam waktu yang sebentar saja.”


“ Nggak apa-apa, kalau itu pilihan kamu, aku bisa mengerti. Terima kasih karena sudah membantuku selama ini Win.”


__ADS_1


__ADS_2