Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Istriku Tersayang


__ADS_3


Arkana mengajukan surat cuti selama satu minggu untuk fokus merawat Jingga, dia sudah cukup menyesal jarang berada di samping istrinya selama beberapa terakhir ini sehingga membuatnya merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Jingga kemarin.


Untuk menebus kesalahannya itu dia pun menjaga Jingga dan memberikan perhatian yang lebih untuknya, infus yang kemarin di pakai sudah dapat di lepaskan dan di ganti dengan mengonsumsi vitamin yang di berikan dari dokter.


Arkana bahkan melarang Jingga keluar dari kamar selama dia belum sehat dengan betul, apapun yang di butuhkan oleh Jingga akan selalu di berikan oleh Arkana.


Bahkan saat ini tampak Arkana sedang sibuk di dapur untuk membuatkan Jingga makanan, Jingga ingin makan pasta sehingga Arkana lah yang turun tangan untuk membuatnya langsung.


Bi Inah dan bi Salma di minta untuk menemani Jingga di kamar, mereka juga di perintahkan Arkana untuk memberikan pijatan pada Jingga yang mungkin membuat tubuhnya pegal-pegal karena telah berbaring cukup lama.


“ Tuan Arka sekarang jadi lebih romantis ya non.” Sahut bi Inah sambil memijit kaki Jingga.


“ Dulu dia nggak pernah ada di dapur, tapi sekarang bela-belain masak buat non Jingga.” Sambung bi Salma.


“ Jadi gimana perasaan non Jingga ke tuan Arka sekarang.?” Tanya mereka kompak.


Jingga tersenyum simpul mendengarnya, entah mengapa dia merasa malu untuk menjawab pertanyaan barusan. Sampai akhirnya Arkana muncul dengan pasta buatannya yang telah selesai dia buat, kini kedua pembantu itu pun harus keluar meninggalkan mereka berdua.


“ Aku sudah selesai membuatnya, jangan lihat bentuknya tapi rasa yang aku buat dengan penuh cinta khusus untuk wanita yang paling aku cintai.” Arkana menunjukkan pasta buatannya yang tampak sangat lembek dan pucat.


Jingga sedikit syok melihatnya karena jauh dari pasta pada umumnya, pasta yang di buat Arkana benar-benar tidak berselera untuk di makan. Tapi dia tidak ingin membuatnya tersinggung dan memilih untuk mencobanya dengan senyum yang merekah.


“ Aku coba ya.” Jingga mulai menyuapnya sedikit dengan perasaan sedikit takut dengan rasanya yang mungkin persis dengan bentuknya itu.


Rasanya tidak begitu buruk, hanya saja teksturnya sangat lembek hampir seperti bubur. Melihat Arkana dengan wajah penasaran dengan respon Jingga seketika membuat wanita itu memuji masakan Arkana.


“ Ini enak, tapi agak lembek. Mungkin kalau kamu cepat mengangkatnya dari air rebusan pastanya pasti akan sempurna.” Puji Jingga dengan memilih kata-kata yang sekiranya tidak akan membuat Arkana tersinggung.


“ Kalau begitu aku akan berusaha lebih keras lagi, aku mau belajar masak biar kamu bisa makan makanan enak buatan aku. Sama seperti kamu yang dulu terus belajar masak sampai masakan kamu benar-benar enak dan bikin nagih.” Kata Arkana sambil mengusap lembut rambut Jingga.


“ Kamu mau aku masakin lagi.?” Tanya Jingga lirih.

__ADS_1


“ Nanti aja kalau kondisi kamu sudah membaik, sekarang kamu harus lebih banyak istirahat.” Balas Arkana kemudian.


Jingga pun memakan setengah dari pasta buatan Arkana yang kemudian memberikan sisanya pada Arkana, setelah itu Jingga ingin berjalan-jalan di sekitar kompleks rumah karena merasa dirinya juga butuh menghirup udara segar.


“ Ya udah, kita jalan-jalan diluar.” Ujar Arkana yang dengan sigap membantu Jingga untuk turun dari tempat tidurnya.


**


Jingga dan Arkana saat ini sedang jalan-jalan santai di sekitar rumah mereka, untuk pertama kalinya semenjak mereka menikah keduanya melakukan hal tersebut. Sampai para tetangga yang tidak pernah melihat mereka seperti itu pun sampai membuat mereka terkejut.


Saat itu ada tetangga yang sedang mengajak anaknya jalan-jalan juga, ayah dan ibunya terlihat sangat gembira ketika anak mereka yang berusia dua tahun itu berlari kesana kemari dan di ikuti dari belakang untuk memastikannya tidak terjatuh.


“ Selamat sore pak dokter, lagi ajak istri jalan-jalan ya.” Tegur ayah dari anak itu.


“ Iya pak, istri saya mau jalan-jalan katanya bosan di rumah terus.” Balas Arkana.


Kemudian mereka saling mengobrol bersama, Jingga banyak membahas tentang anak dengan tetangganya itu. Dia juga gemas melihat anak perempuan tetangganya itu saat ingin menyentuh perut Jingga.


“ Dedek.” Ucapnya dengan suara yang sangat menggemaskan.


“ Sudah berapa bulan mbak.?”


“ Sudah enam bulan.” Jawab Jingga lirih.


“ Cowok atau cewek.?”


“ Kata dokter sih cowok.”


“ Wah, pasti nanti jadi tampan kaya pak dokter.”


Setelah mereka cukup mengobrol bersama, tiba saatnya untuk Jingga dan Arkana kembali melanjutkan langkah mereka. Tampak Jingga yang juga sudah mulai lelah, Arkana tidak ingin membuat istrinya itu semakin kelelahan dan memutuskan untuk pulang lebih cepat.


Setibanya di rumah, keduanya di hadapkan dengan kedatangan seseorang yang membuat mereka berdua diam di tempat. Arkana langsung menyuruh Jingga untuk masuk ke dalam selagi dia menghadapi Bima yang saat ini sudah menunggu kedatangan mereka.

__ADS_1


“ Kalau gitu aku masuk dulu mas.” Jingga terpaksa masuk ke dalam setelah menerima perintah dari Arkana.


“ Bukannya waktu itu sudah jelas kalau kamu nggak boleh datang ke rumah ini lagi.?” Sahut Arkana menatap Bima lurus.


“ Jangan galak-galak, kedatanganku kemari untuk memberitahu kalian kalau mama mengundang makan malam di rumah nanti malam.” Lontar Bima.


“ Kenapa bukan mama yang bilang ke aku langsung.?” Tanya Arkana heran.


“ Aku nggak tahu, aku hanya di kasih amanah untuk menyampaikannya langsung ke kalian. Tapi sayangnya kamu menyuruh adik iparku masuk duluan, padahal aku ingin bicara dengannya.”


Arkana mengabaikan ucapan Bima barusan dan segera masuk ke dalam, dia menyuruh pak Hasan untuk segera menutup pintu pagar. Sementara itu, Bima diluar sana kembali menyahut dengan menyuruh Arkana untuk datang bersama Jingga, dan terlihat Arkana yang kesal hingga membanting pintu dengan keras.


**


Jingga menoleh saat pintu kamar terbuka, tampak Arkana yang baru saja masuk ke dalam dengan ekspresi yang sulit di artikan. Jingga tahu kalau hubungan Arkana dan Bima tidak berjalan dengan baik, tapi dia tidak tahu pasti apa yang membuat Arkana sampai begitu membenci Bima.


“ Mas, barusan ada apa? Kenapa mas Bima datang ke rumah.?” Tanya Jingga penasaran.


“ Mama ngundang makan malam di rumahnya, tapi kita nggak perlu datang kesana.”


“ Kenapa mas.?”


“ Kamu kan lagi sakit, aku nggak mau bawa kamu keluar dengan keadaan kamu yang sekarang.”


“ Tapi aku udah sehat, nggak apa-apa kok kalau kita pergi kesana.”


Arkana menunduk sendu, sebenarnya bukan itu alasan dia tidak ingin pergi. Dia hanya tidak ingin mempertemukan Bima dengan Jingga, tapi melihat Jingga yang terlihat ingin pergi justru membuat hatinya sakit.


“ Aku boleh jujur nggak sama kamu.?” Lontar Arkana sambil menjatuhkan tubuhnya di samping Jingga.


“ Boleh, kamu boleh jujur apapun sama aku.” Balas Jingga mulai menatapnya penasaran.


__ADS_1



__ADS_2