
Wanita itu terlihat sedang sibuk dengan catatan pasien di tangannya, sampai seseorang masuk ke dalam ruangannya dengan membawakan segelas kopi untuknya.
“ Terima kasih ya.” Ucap Qania tersenyum tipis pada Aizen.
“ Sibuk banget, padahal sekarang jam istirahat loh.” Balas Aizen menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.
“ Aku mau pulang cepat hari ini, mau me time sama ibu aku.” Jawab Qania kemudian.
Ponsel Qania tiba-tiba berdering menandakan ada panggilan yang masuk, melihat nama Arkana di sana lantas membuatnya langsung mengabaikan panggilan tersebut.
“ Kenapa nggak di angkat.?” Tanya Aizen penasaran.
“ Itu Arkana, kamu tahu sendiri kan dia selalu aja nelpon aku walaupun sudah punya istri.” Jawab Qania.
“ Masa lalu kalian berdua kan belum selesai, nggak heran kalau dia masih sayang sama kamu.”
“ Tapi aku udah lupain dia, dan aku juga udah ikhlas dia menikah dengan Jingga.”
“ Kamu yakin ikhlas.?” Pertanyaan Aizen barusan membuat Qania terdiam dan langsung mengalihkan pandangannya.
Telpon dari Arkana masih saja berdering, sudah masuk panggilan kelima kali ini dan Qania masih menolak untuk menjawabnya. Sampai pada akhirnya Aizen lah yang menjawab panggilan tersebut, wajah Qania sempat berubah menatap pria itu yang menjawab panggilan Arkana.
“ Halo? “
“ Siapa ini? dimana Qania.?”
“ Ini saya Aizen, Qania sedang sibuk, memangnya ada apa dok?”
“ Tolong kasih ke Qania, ini penting.”
Aizen terlihat menatap ponsel Qania dengan ekspresi bingung, dari yang di katakan oleh Arkana barusan terdengar cukup serius dan dia segera memberikannya kepada Qania.
“ Halo Ar, ini aku.”
__ADS_1
“ Kenapa lama banget sih, aku udah telpon kamu dari tadi dan kamu malah sibuk sama pria itu.”
“ Maaf, kamu kenapa telpon aku.?”
“ Obat apa yang kamu kasih ke Jingga? Dan apa hasil tesnya kemarin.?”
“ Jingga? Dia kasih tahu ke kamu soal itu.?”
“ Kasih tahu aku sekarang Nia.?”
“ Baik..baik, aku lihat catatanku dulu.”
“ Berdasarkan hasil dari pemeriksaan waktu itu, aku menemukan kalau jantung Jingga mengalami lemah jantung. Dan untuk memastikan kondisi jantungnya lebih dalam, aku membutuhkan Jingga untuk melakukan Ekokardiogram jantung. Untuk itu kalian berdua harus segera kembali ke Indonesia.” Lanjut Qania.
“ Bagaimana dengan obat yang kamu kasih? Dia sedang hamil, kamu nggak kasih sembarang obat ke dia kan.?”
“ Nggak kok, dokter Nala sudah memberitahuku kalau obat itu aman di konsumsi Jingga. Itu adalah obat untuk mengurangi gejalanya saja, memangnya apa yang terjadi pada Jingga sekarang Ar.?”
“ Dia masuk rumah sakit, jangan beritahu siapapun soal ini.”
“ Aku minta maaf karena nggak kasih tahu kamu soal ini, Jingga melarangku memberitahu orang lain termasuk kamu.”
Qania tampak khawatir dengan kondisi Jingga sekarang, sementara Aizen yang sejak tadi berdiri di samping Qania jelas mendengar semua percakapan mereka berdua.
“ Arkana terdengar sangat marah, sepertinya dia sangat khawatir dengan kondisi istrinya.” Ucap Aizen.
“ Benar, aku pernah mendengarnya marah seperti ini sebelumnya.” Balas Qania.
**
Arkana pergi menemui dokter yang menangani Jingga dan memberitahu bahwa dia adalah seorang dokter bedah syaraf, dia pun menjelaskan kepada mereka tentang kondisi Jingga yang di ketahui olehnya untuk memudahkan pemeriksaan hari ini.
Karena sudah pernah melakukan tes darah dan hasilnya adalah lemah jantung, maka tindakan selanjutnya yang di ambil oleh rumah sakit adalah ekokardiogram atau USG pada jantung.
Hari itu juga Jingga melakukan serangkaian pemeriksaan pada jantungnya, di dalam ruangan itu hanya ada dia, satu dokter perempuan, dan dua perawat yang siap untuk membantu.
__ADS_1
Hal ini sama seperti melakukan USG pada kandungannya, namun yang di periksa kali ini adalah dada Jingga untuk mengecek keadaan jantungnya. Dokter itu sangat ramah dan mengajak Jingga berbicara menggunakan bahasa inggris, dan selama proses pemeriksaan terlihat Jingga yang cukup santai dan tidak takut sama sekali.
Setelah semua selesai, dokter dan dua perawat barusan meninggalkan ruangan Jingga. Dia di minta untuk istirahat lebih lama, sedangkan untuk hasil pemeriksaan akan di sampaikan langsung kepada Arkana nanti.
Arkana baru saja memasuki kamar itu sebelum dia pergi ke ruangan dokter untuk mendengar hasilnya, pria itu berdiri di samping Jingga dan menatapnya lekat.
“ Nggak usah takut sama hasilnya, kamu nggak akan kenapa-napa.” Ucap Arkana lirih.
Jingga hanya tersenyum sambil mengangguk pelan, kemudian Arkana keluar dari ruangan itu. Dia menitipkan Jingga pada Mike selama dia pergi, dan Mike pun masuk menemani Jingga di dalam.
“ Ibu beruntung punya suami kaya pak Arka.” Sahut Mike membuat Jingga menatapnya bingung.
“ Maksudnya.?”
“ Pak Arka langsung turun tangan membantu dokter mencaritahu penyakit bu Jingga, beliau seorang dokter dan suami yang keren ya bu.”
Jingga hanya tersenyum simpul, apa yang di lihat oleh Mike jelas hanya sebuah kepalsuan. Semua itu tidak akan membuat Jingga merasa senang, dan tiba-tiba saja Jingga teringat pada pertandingan hari ini dan menanyakannya pada Mike.
“ Kok suami saya bisa tahu saya masuk rumah sakit? Memangnya ada yang kasih tahu dia?”
“ Oh soal itu, waktu bu Jingga izin ke toilet dan pergi sangat lama, pak Arkana sudah kelihatan khawatir dan nggak fokus nonton pertandingannya. Kemudian pak Arkana pergi dari kursi penonton dan saya ikutin beliau dari belakang, saat kami keluar ada orang yang kasih tahu kita kalau tadi ada wanita hamil yang pingsan dan di bawa ke rumah sakit. Jadi begitu kronologi pak Arkana bisa sampai disini, dia benar-benar suami yang perhatian.”
Jingga merasa bersalah atas apa yang terjadi padanya sampai dia membuat Arkana harus melewatkan pertandingan itu, padahal ini adalah kesempatan yang sangat baik untuk membuat Arkana senang.
**
Arkana dan dokter yang menangani Jingga saat ini sedang membahas hasil dari pemeriksaan hari ini, Jingga di nyatakan mengidap penyakit kardiomiopati peripartum atau penyakit kelainan di otot jantung. Gejalanya bisa bervariasi, mulai dari tubuh mudah lelah, nafas pendek, pusing, hingga nyeri di dada.
Penyakit kardiomiopati peripartum sendiri dapat terjadi karena kelainan genetic atau penyakit tertentu, dan dokter memberitahu Arkana bahwa kardiomiopati ini akan sangat berpengaruh pada kehamilan Jingga.
Mungkin saat ini masih belum terlihat gejala yang lebih serius, usai kandungan Jingga juga masih sangat muda. Jika nanti usia kandungannya sudah besar maka gejalanya akan lebih sering timbul, dan bahaya lain yang mungkin akan terjadi adalah bayi atau ibunya mungkin saja tidak akan selamat saat proses persalinan nanti.
“ Apa sebelum berhubungan pasien tidak melakukan pemeriksaan kesehatan? Ini sangat fatal melakukan kehamilan dengan kondisi yang seperti ini.” ucap dokter.
“ Kami tidak melakukannya dok.” Jawab Arkana.
__ADS_1
“ Baiklah kalau begitu, untuk beberapa hari ini pasien akan melakukan terapi dan pemantauan lebih karena pasien sedang mengandung.” Ujar dokter lagi.
“ Terima kasih dok, saya akan menjaga istri saya sekarang.” Kata Arkana setelah semua hasil dari pemeriksaan Jingga selesai di bahas.