Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Ayah Dari Anak Itu


__ADS_3


“ Saya mencari pria yang bernama Erwin, sekitar tujuh bulan yang lalu saya pernah menyewanya di tempat ini.” Jelas Arkana.


“ Tentu saja saya ingat kalau anda yang menyewa Erwin waktu itu, wajah tampan anda tidak pernah lepas dari ingatan saya loh pak.” Seru madam Jeji sukses membuat Arkana bergidik di buatnya.


“ Saya ingin bertemu dengannya, boleh panggilkan dia sekarang.?” Pinta Arkana.


“ Sayang sekali Erwin sudah tidak bekerja di tempat ini lagi, padahal dia merupakan pria tertampan di tempat ini.”


“ Lalu dimana dia sekarang.?”


“ Soal itu kami tidak bisa memberitahu anda pak, identitas Erwin di rahasiakan meskipun dia sudah keluar dari tempat ini.”


Arkana melempar sebuah amplop tebal berisikan uang kepada madam Jeji, pria itu langsung mengambil dan melihat isinya. Melihat begitu banyak uang di dalam sana, lantas membuat madam Jeji langsung memberikan alamat Erwin kepadanya.


“ Datang lagi ya pak, kami punya stok pria tampan lagi disini.” Sahut madam Jeji.


“ Nggak akan pernah, istriku lebih menggoda dari pada laki-laki.” Balas Arkana sontak membuat madam Jeji terkejut karena ternyata Arkana adalah pria yang lurus.


**


Pria itu baru saja bangun dari tidurnya, dia melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 2:00 siang. Sudah waktunya untuk pergi melihat keadaan di tempat kontruksi pembangunan, Erwin pun bangun dari tempat tidurnya dan berada di kamar mandi selama empat menit.


Setelah dia selesai dengan semuanya, dia pun meninggalkan kost tempatnya tinggal selama ini. Panggilan dari Jingga membuatnya tampak bersemangat untuk menjawab panggilan tersebut, semenjak Jingga mempekerjakannya sebagai penanggung jawab pembangunan butik, hidupnya menjadi lebih tenang dan menyenangkan.


“ Aku lagi jalan kesana, nanti aku foto suasana disana ya.”


Erwin berhasil mengunci pintu kost, kemudian menerima telpon Jingga sambil berjalan keluar menuju tempat parkir. Dia memarkir motornya disana, untuk dapat ke tempat pembangunan membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit dengan sepeda motor.


“ Kamu serahin aja sama aku, jangan…” Erwin menggantung ucapannya saat melihat sosok tak asing sedang berdiri di samping mobil berwarna hitam.


“ Suami kamu ada disini.” Ucap Erwin dengan nada yang pelan.


Tampak Arkana yang mulai mendekati Erwin, saat itu juga Erwin mengakhiri panggilannya dengan Jingga. Melihat Arkana yang sudah berdiri di depannya lantas membuat Erwin bertanya-tanya.


“ Apa yang membuatmu datang kemari, pak dokter.?” Tanya Erwin penasaran.

__ADS_1


“ Ada hal penting yang ingin aku tahu dari kamu.” Balas Arkana terlihat serius.


**


Jingga menatap layar ponselnya dengan penasaran, dia sudah mengirimkan begitu banyak pesan pada Erwin sejak tadi setelah dia mendengar bahwa Arkana datang menemui Erwin hari ini.


Sampai sekarang belum ada balasan dari Erwin, Jingga mencoba tenang dan tetap menunggu balasan dari pria itu. Namun tiba-tiba saja dia mendengar suara mobil Arkana yang baru saja datang, kemudian Jingga beranjak dari sana dan menemui Arkana di pintu masuk.


Jingga baru saja membuka pintu dan sekarang dia sedang berhadapan langsung dengan Arkana, terlihat Arkana yang sedikit terkejut melihat Jingga membukakan pintu kepadanya.


Arkana langsung memeluk Jingga yang membuatnya ikut terkejut, sikap Arkana saat ini sangat berbeda dan dia tidak banyak mengatakan apa-apa. Jingga membiarkannya tetap seperti itu, sampai akhirnya Arkana berkata dengan lembut di telinganya.


“ Aku minta maaf.”


“ Kamu udah sering minta maaf mas, kenapa harus minta maaf terus.?”


“ Selama ini kamu menanggungnya sendirian, begitu banyak kata-kata jahat yang ku lontarkan selama ini. Belum lagi tindakanku yang keterlaluan, semuanya.., aku minta maaf untuk semua yang telah ku lakukan sama kamu.”


Arkana tak kuasa menahan tubuhnya hingga dia terjatuh ke lantai, Jingga merunduk untuk menyamakan tinggi mereka. Tampak Arkana yang menangis sesegukan meminta maaf di hadapan Jingga, bahkan dia sampai menampar wajahnya beberapa kali karena menyesali perbuatannya selama ini.


“ Aku suami yang buruk, aku telah banyak melakukan kejahatan sama istriku sendiri. Bahkan untuk anak yang tidak berdosa itu telah menjadi korbannya, aku suami dan ayah yang buruk. Semua orang memang benar kalau kamu terlalu baik untuk aku yang brengsek ini, seharusnya kamu mendapatkan suami yang lebih baik, nggak kaya aku.”



“ Masih belum terlambat, kalau memang kamu tetap ingin berpisah. Aku akan mengabulkannya, Aku nggak masalah kalau harus menanggung dosa yang telah aku perbuat. Aku nggak mau buat kamu lebih menderita lagi dengan memaksa kamu untuk tetap ada buat aku.”


Jingga tidak tahu kenapa Arkana tiba-tiba bersikap seperti ini, entah apa yang membuatnya mengatakan hal barusan yang dimana Jingga tahu butuh keberanian untuk mengatakan semua itu.


“ Kamu kenapa kaya gini mas? Kasih tahu aku ada apa? “ Tanya Jingga sambil menyentuh wajah Arkana agar pria itu mau menatap wajahnya.


“ Aku ingat semuanya, aku juga sudah memastikan kalau anak itu bukanlah anak Erwin. Dia adalah anakku, tapi aku dengan bodohnya melupakan kejadian itu. Aku nggak pantas buat kamu, aku nggak pantas jadi ayah buat anak itu.”


“ Jadi sekarang kamu sudah ingat.” Jingga merasa lega mendengarnya, tapi mengetahui Arkana yang bersikap ini justru membuatnya tidak merasa senang.


“ Kamu janji mau berubah jadi lebih baik lagi? Untuk aku dan anak kita.?” Jingga meraih tangan Arkana dan meletakannya di atas perutnya.


Arkana kembali menangis sambil menganggukkan kepalanya, dia kesulitan bicara tapi Jingga sudah tahu kalau Arkana akan berjanji untuk menjadi lebih baik lagi ke depannya.

__ADS_1


**


Malam ini ada yang berbeda dari malam sebelumnya, Jingga dan Arkana memutuskan tidur bersama bukan karena alasan menemani Arkana saja. Sekarang mereka akan menggunakan kamar itu bersama-sama, layaknya sepasang suami istri yang sebenarnya.


Arkana baru saja naik di atas tempat tidur dengan perasaan canggung yang sejak tadi menghantuinya, setelah mengingat kejadian itu entah mengapa dia merasa malu dan canggung pada Jingga.


Sementara itu, terlihat Jingga yang sudah berbaring sejak awal sambil membelakangi tubuh Arkana. Setahu Arkana, Jingga sudah tidur sejak beberapa saat yang lalu.


Jingga mendengar Arkana sudah berbaring di sampingnya, dia juga mulai merasakan bahwa Arkana sudah berada di tepat di belakangnya saat dia menyadari ada sentuhan lembut pada helai rambutnya.


“ Kamu udah tidur.?” Tanya Arkana dengan suara yang lembut.


“ Belum mas.” Jawab Jingga yang akhirnya mengaku belum tidur.


Arkana melingkarkan tangannya pada perut Jingga,dia bisa merasakan kehangatan yang begitu nyaman dengan pelukan tersebut.



“ Lihat aku.” Sahut Arkana kemudian.


Jingga pun memutar tubuhnya ke belakang, dia cukup terkejut karena langsung mendapati wajah Arkana yang berjarak hanya beberapa centi saja dengan wajahnya.


Keduanya saling menatap satu sama lain, bola mata Arkana tampak menatap Jingga dengan penuh cinta. Dia sangat cinta dan sayang pada wanita yang ada di hadapannya, dia bahkan berjanji pada dirinya sendiri untuk terus menjaga dan melindunginya sampai kapan pun.


“ Tolong cintai aku.” Pinta Arkana lembut.


“ Aku, mencintaimu mas.” Jawab Jingga namun entah mengapa tidak membuat Arkana puas mendengarnya.


“ Kamu sangat berharga buat aku, sampai aku ingin menyimpanmu di hatiku selamanya. Tapi ku pikir aku nggak ada di hatimu saat ini.”


Jingga meraih wajah Arkana dan mulai menelusuri wajah tampan suaminya itu, dari mata yang terlihat tajam dan penuh keseriusan. Dari hidung mancung yang sangat kokoh, kemudian bibirnya yang terlihat sangat seksi setiap saat Jingga melihatnya.


“ Kamu ada di hatiku mas.” Jawab Jingga yang mulai menyadari bahwa Arkana memang sudah berhasil mencuri hatinya, dan mungkin itu sudah ada sejak dulu sekali.


Arkana meraih wajah Jingga dan menciumnya dengan penuh cinta, Jingga mulai melingkarkan tangannya pada leher Arkana dan menikmati perlakuan lembut yang di berikan Arkana saat ini. Perasaan keduanya semakin menggebu-gebu setelah mereka sadar kalau mereka sudah saling mencintai.


__ADS_1



__ADS_2