Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Memories Bring Back


__ADS_3


“ Kau ingat saat pertama kali kita bertemu di rumah mama? waktu itu kamu tiba-tiba menangis dan memelukku dan mengira aku adalah Nawa. Nggak tahu kenapa sejak hari itu aku terus kepikiran, siapa Nawa dan kenapa kamu menangis seperti itu.?”


“ Maaf kalau waktu itu udah buat mas Bima nggak nyaman, aku hanya kaget aja pas lihat wajah mas Bima mirip sama kenalan aku.” Jawab Jingga tak berani melirik Bima.


“ Kenalan? Aku baru pertama kali lihat respon seseorang kaya kamu hanya karena seorang kenalan, kenalan seperti apa yang sudah buat kamu kaya gitu.?” Tanya Bima lebih dalam.


“ Dia mantan aku mas. Tapi dia udah nggak ada, sebelum aku menikah dengan mas Arka lebih tepatnya.”


“ Maaf, aku nggak bermaksud mengungkitnya. Aku nggak tahu kalau dia udah meninggal.”


“ Nggak apa-apa mas, aku juga cukup kaget sampai sekarang pun masih nggak percaya kalau mas Bima mirip banget sama Nawa.”


Bima baru saja memberhentikan mobilnya di tepi jalan, Jingga yang bingung kemudian melirik Bima dengan tatapan penasaran.


“ Seberapa mirip aku sama Nawa.?” Tanya Bima sambil menatap wajah Jingga lurus.


Jingga kembali di buat terdiam, dia menatap wajah Bima kali ini dengan penuh teliti. Semua hampir terlihat mirip, yang membedakan hanya model rambutnya saja.


“ Mau lihat kemiripan kalian seperti apa.?” Tanya Jingga lalu di balas anggukan pelan dari Bima.


Jingga pun mencoba membuka isi galeri ponselnya, dia ingat masih menyimpan foto Nawa di satu folder sebelumnya. Karena dulu ponselnya hilang dan disana ada begitu banyak kenangan bersama Nawa, alhasil sekarang dia hanya memiliki beberapa foto saja.


“ Ini mas.” Jingga menunjukkan foto dirinya dan Nawa ketika SMA dulu, dan Bima terlihat memperhatikan foto itu dengan serius.



“ Kok bisa mirip banget ya? Aku aja sampai kaget.” Gumam Bima.


“ Sekarang mas Bima ngerti kan kenapa aku sangat emosional waktu lihat wajah mas Bima, aku sampai berharap kalau mas Bima itu adalah Nawa.” Kata Jingga lirih.


“ Sejak kapan dia meninggal? Dan kenapa kamu bisa melupakannya begitu cepat dan memilih menikah dengan adikku.?” Tanya Bima.

__ADS_1


“ Nawa meninggal dua bulan sebelum aku menerima perjodohan dengan mas Arka, karena aku udah nggak ada siapa-siapa lagi jadi aku terpaksa menerima perjodohan itu.” Jelas Jingga.


“ Kamu bahagia sama Arkana.?” Tanya Bima lagi.


“ Untuk saat ini cukup bahagia.” Jawab Jingga sambil tersenyum tipis.


“ Kamu bisa bantu aku nggak.?”


“ Bantu apa mas.?”


“ Kamu tahu kalau Arkana sama aku memiliki hubungan persaudaraan yang buruk kan? Kami berpisah selama dua puluh tahun tanpa komunikasi sama sekali, aku nggak pernah tahu masalah yang di alaminya begitu pun sebaliknya. Mungkin ini sudah terlambat, tapi aku mau kembali akur dengannya. Kamu bisa bantu aku bertemu dengannya kan? Ada banyak hal yang ingin ku tanyakan sama dia, tapi dia terus menolak mengobrol denganku.”


“ Pasti mas, aku akan bantu kalian berdua akur kembali.”


“ Terima kasih ya Jingga.” Kata Bima sambil menyentuh kepala Jingga yang membuat keduanya terkejut secara bersamaan.


Bima langsung meminta maaf dan segera melanjutkan perjalannnya, sementara Jingga ikut memalingkan wajah karena malu. Entah mengapa sikap yang di berikan oleh Bima barusan langsung membuatnya teringat pada Nawa lagi.


**


“ Padahal aku mau banget lihat wajahnya, aku bisa tahu kalau dia Nawa atau orang lain.” Ucap Diana terlihat antusias.


“ Tapi sepertinya dia memang orang lain, aku mau percaya bahwa dia Nawa tapi ada beberapa sikapnya yang tidak seperti Nawa.”


“ Waktu Nawa kecelakaan kamu nggak lihat jasadnya kan? Bagaimana kalau yang meninggal itu bukan Nawa, tapi orang lain.?”


Jingga kembali diam, saat Nawa mengalami kecelakaan dia sangat syok sampai masuk rumah sakit. Dia bahkan tidak hadir di acara pemakaman Nawa waktu itu, tapi bagaimana pun juga dia tahu kalau yang meninggal waktu itu adalah Nawa.


“ Kayaknya nggak mungkin dia Nawa deh, Nawa seusia kita kan? Sedangkan dia adalah kakaknya mas Arka, dan mas Arka sekarang usianya 31 tahun. Nggak mungkin kalau dia adalah Nawa, mungkin wajahnya saja yang sangat mirip.”


“ Jadi bagaimana denganmu? Kamu nggak merasa aneh dengan semua ini? kakak ipar kamu mirip dengan mendiang pacarmu, baying-bayang Nawa pasti akan selalu melekat setiap kamu melihatnya kan.?”


“ Aku masih belum terbiasa, tapi satu yang pasti untuk saat ini. Aku lebih mencintai mas Arka untuk sekarang, mungkin mas Bima mirip dengan Bima tapi perasaanku tidak akan sama.”

__ADS_1


“ Kamu beneran udah jatuh cinta banget ya sama suami brengsek kamu itu.?”


“ Suami tetaplah suami, seburuk apapun perlakuannya dia akan tetap menjadi sosok pemimpin dalam rumah tangga. Dia mungkin sudah bersikap buruk ke aku selama ini. Tapi melihatnya berjanji untuk memperbaiki semuanya membuatku sadar, aku harus menjadi istri yang baik untuk bisa mendapatkan surganya.”


**


Sambil menunggu Arkana datang menjemputnya, tampak Jingga kembali mendapat notifikasi khusus yang entah mengapa bisa masuk di ponselnya. Terlihat notifkasi itu berupa satu postingan yang di tujukan kepada orang-orang tertentu saja, dan postingan itu berasal dari akun milik Tsania.


Jingga melihat bagaimana Tsania sedang berada di dalam mobil dan dalam perjalanan entah kemana, Jingga bisa mengenali dasbor mobil itu yang merupakan mobil Arkana.


“ Ini maksudnya apa sih.” Benak Jingga merasa sedikit terganggu dengan postingan tersebut.


Postingan itu di unggah sekitar dua menit yang lalu, dan itu artinya Arkana sedang bersama Tsania. Jingga sedikit kesal karena sebelumnya Arkana bilang kalau dia akan segera tiba untuk menjemputnya.


“ Kamu kenapa.?” Tanya Diana yang sudah lelah mendengar helaan nafas Jingga.


“ Agak kesal aja dikit.” Jawab Jingga pelan.


“ Karena suami kamu belum datang jemput? Atau kamu mau aku yang anterin pulang.?” Tawar Diana.


“ Nggak usah, katanya dia yang mau jemput aku.” Tolak Jingga.


Suara klakson mobil milik Arkana sudah terdengar diluar sana, sudah tiba waktunya Jingga pamit undur diri pada sahabatnya itu. Diana pun ikuti menemaninya sampai keluar, dan sosok Arkana juga sudah turun dari mobilnya.


“ Terima kasih sudah menemani Jingga hari ini.” ucap Arkana pada Diana.


“ Sama-sama.” Balas Diana jutek.


“ Aku pulang dulu ya.” Sahut Jingga sambil melambaikan tangannya pada Diana.


Arkana membukakan pintu untuk Jingga dan tak lupa memasangkan sabuk pengaman kepadanya, Diana bisa melihat bagaimana Arkana begitu perhatian pada Jingga. Meski begitu dia masih perlu mewaspadainya, Diana tidak ingin mempercayai Arkana secepat itu.


__ADS_1


__ADS_2