Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Sudah Punya Istri


__ADS_3


Rumah sakit bintang harapan sedang kedatangan beberapa lulusan jurusan kedokteran yang akan melakukan masa koas untuk menjalani praktik secara langsung di rumah sakit.


Semua dokter di rumah sakit itu telah di tunjuk sebagai pembimbing untuk para mahasiswa koas, dari departemen bedah syaraf yang merupakan dokter senior saat ini sedang keluar kota dalam beberapa bulan.


Arkana pun di tunjuk sebagai dokter pembimbing dari departemen bedah syaraf untuk menggantikannya, dan dia mendapat tiga orang mahasiswa koas yang akan dibimbingnya selama dua tahun ke depan.


Pintu ruangan Arkana baru saja terketuk, kemudian dia mempersilahkan tamunya untuk masuk. Dia sudah tahu kalau itu adalah mahasiswa koas yang datang menemuinya, dan sekarang dia benar-benar harus bersikap bijaksana di hadapan mereka semua.


“ Selamat datang, silahkan duduk.” Ujar Arkana pada mereka bertiga.


Mahasiswa koas yang akan di bombing oleh Arkana ada tiga orang, satu laki-laki dan dua perempuan. Ini adalah kali pertamanya dia membimbing, jadi dia merasa sedikit gugup di buatnya.


“ Pertama-tama saya akan memperkenalkan diri, nama saya Arkana Adyatama yang merupakan salah satu dokter bedah syaraf di rumah sakit bintang harapan.” Ucapnya dengan lantang.


Sekarang giliran ketiga mahasiwa koas itu yang memperkenalkan diri mereka pada Arkana. Di mulai dari yang laki-laki dan di akhiri dengan dua perempuan di sebelahnya.


“ Perkenalkan nama saya Gabriel, mohon bantuannya dok.”


“ Perkenalkan nama saya Wulandari, senang berkenalan dengan anda dok.”


“ Dan perkenalkan, nama saya Tsania Aulia usia 24 tahun dan sekarang ingin belajar menjadi seorang calon dokter yang baik, mohon bantuannya dok.” Ucapnya dengan penuh semangat.


“ Senang berkenalan dengan kalian semua, untuk mengawali hari ini kita akan mengunjungi pasien sekaligus saya akan memperkenalkan kalian dengan rumah sakit ini.” Ujar Arkana.


“ Baik dok, mohon bimbingannya.” Ucap mereka dengan kompak.


**


“ Banyak anak koas yang muda dan ganteng-ganteng sekarang.” Ucap salah seorang perawat.


“ Sayangnya kita sudah cukup tua buat mereka, mau ngejar para dokter tapi dokter di rumah sakit udah pada nikah semua.” Sambung yang lainnya.


“ Seandainya dokter Arkana belum nikah masih enak buat di deketin, udah ganteng kaya pula.”


“ Eh kalian salah, tapi masih ada yang jomblo loh.”


“ Siapa?”


“ Dokter Aizen, beliau masih 35 tahun dan belum menikah.”

__ADS_1


“ Tapi kelihatannya dia lagi dekat sama dokter Qania deh.”


“ Iya juga sih, selama dokter Arkana putus dari dokter Qania kayaknya dia lebih dekat dengan dokter Aizen sekarang.”


“ Emang benar ya kalau dokter pasti berjodohnya sama dokter juga.”


Karena sibuk membahas hal yang tidak ada kaitannya dengan urusan rumah sakit, tiga perawat itu mendapat teguran dari seorang kepala perawat. Mereka di minta untuk kembali fokus bekerja, hal itu di karenakan kepala perawat tersebut baru saja melihat Arkana dan beberapa mahasiswa koas yang baru saja lewat di dekat tempat itu.


**


Hari ini Arkana telah selesai menunjukkan beberapa tempat yang ada di rumah sakit pada tiga mahasiswa koas itu, dan setelah tugasnya selesai dia pun harus mengerjakan urusannya yang lain. Semua tugas selanjutnya di berikan kepada Nisa, adapun pertanyaan-pertanyaan yang belum puas di jawab nantinya akan di jelaskan oleh Nisa.


“ Kak Nisa, mau tanya sesuatu boleh.?” Tanya Tsania pada kepala perawat itu.


“ Boleh, silahkan.” Jawab Nisa lirih.


“ Tapi ini bukan tentang rumah sakit, tapi tentang dokter Arkana.” Sambungnya kemudian.


“ Memangnya kenapa dengan dokter Arkana.?”


“ Dokter Arkana udah punya pacar belum.?”


“ Bukan saya nggak mau jawab, tapi pertanyaan kamu itu kurang sopan. Kita lanjut periksa pasien di kamar bangsal aja ya.” Lanjut Nisa kemudian membawa mereka bertiga menuju kamar bangsal.


**


Sore itu hujan mengguyur kota Jakarta, Arkana sudah selesai dengan tugasnya dan akan segera pulang ke rumah. Dia memastikan apakah ada pesan dari Jingga atau tidak, ternyata tidak ada sama sekali dan entah mengapa itu membuat perasaannya dongkol.


Ketika hendak keluar dari rumah sakit, langkah Arkana terhenti saat dia melihat Qania dan Aizen baru saja keluar dari lift. Keduanya tampak sangat bersenang-senang, entah apa yang mereka bahas sampai membuat Qania tertawa dengan lepas.


Arkana tidak beranjak dari tempatnya untuk beberapa saat, dia bersyukur karena Qania dan Aizen tidak sempat melihatnya berdiri di sana. Seseorang tiba-tiba berdiri di sebelahnya, dengan ceria menegur Arkana yang membuat pria itu cukup terkejut.


“ Dokter kenapa.?” Tanya Tsania menatap Arkana penasaran.


“ Nggak kenapa-napa, kamu udah mau pulang juga.?” Arkana mencoba untuk mengalihkan pembicaraan segera mungkin.


“ Iya dok, dokter juga mau pulang kan? Bareng yuk ke parkiran.” Ajak Tsania.


“ Kamu bawa kendaraan sendiri.?” Tanya Arkana.


“ Rumahku cukup jauh dari rumah sakit, jadi harus bawa kendaraan sendiri biar nggak repot.” Jelasnya kemudian.

__ADS_1


Akhirnya mereka berdua berjalan bersama menuju parkiran, saat itu Arkana sudah siap untuk melaju namun tiba-tiba harus berhenti mengecek Tsania yang terlihat mengalami masalah dengan mobilnya.


Arkana keluar dari mobilnya menggunakan payung yang dia bawa sebelumnya, kemudian dia menghampiri Tsania sambil mengetuk jendela kaca mobil gadis itu.


“ Ada apa.?”


“ Kayaknya mobil saya nggak mau jalan dok.”


“ Kok bisa.?”


“ Nggak tahu.”


“ Rumah kamu emangnya dimana.?”


“ Cempaka putih dok.”


“ Kamu sama saya aja kalau gitu, mobilnya biar tinggalin di rumah sakit aja dulu.”


“ Benar nggak apa-apa dok.?”


“ Nggak apa-apa, rumah saya juga dekat dengan Cempaka putih kok.”


Tsania pun berakhir pulang bersama Arkana sore itu, hujan masih saja mengguyur ibu kota dan entah kapan akan berhenti. Mau tidak mau Arkana harus mengantar Tsania, bagaimana pun juga dia ingin terlihat seperti dokter pembimbing yang baik.


Saat di perjalanan terlihat Arkana yang lebih banyak diam, dia fokus mengendarai mobilnya karena hujan masih sangat lebat di luar sana. Kemudian Tsania yang pada dasarnya bukan anak yang pendiam akhirnya memulai obrolan di antara mereka.


“ Boleh nanya sesuatu nggak dok.?” Tanya Tsania pelan.


“ Silahkan.”


“ Saya dengar-dengar hari ini banyak banget perawat yang mengidolakan dokter Arkana, dan setelah saya perhatikan ternyata memang dokter Arkana ini orangnya selain ganteng ternyata baik hati ya.”


“ Kamu bisa aja.”


“ Pasti pacar dokter bangga punya dokter Arkana sebagai pasangannya.”


“ Saya nggak punya pacar.”


“ Hah? Eh.., maaf dok. Saya keceplosan kaget.”


“ Tapi ini seriusan dokter nggak punya pacar.?” Tanya Tsania sekali lagi dengan melirik ke arah Arkana.

__ADS_1


“ Saya nggak punya pacar, tapi saya punya istri. Saya udah nikah.” Jawab Arkana sambil menunjukkan jarinya yang tersemat oleh cincin pernikahan.


Tsania merasa malu di buatnya, dia pun meminta maaf karena telah lancang dalam bicara. Dia benar-benar tidak menyadari ada cincin di jari Arkana, yang dia pikir Arkana punya pacar ternyata aslinya sudah punya istri.


__ADS_2