Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami

Surga Di Bawah Telapak Kaki Suami
Qania Dan Pilihannya


__ADS_3


Arkana baru saja meletakkan semangkuk soto ayam di hadapan Jingga, dia juga memberikan air minum untuk wanita itu meskipun dia tidak memintanya sama sekali.


“ Terima kasih mas.” Kata Jingga tersenyum simpul.


Arkana kemudian duduk di hadapan Jingga, dia menatapnya dengan lurus yang membuat Jingga merasa sedikit canggung di buatnya.


“ Kenapa kamu masih disini? Aku bisa kok makan sendirian.” Sahut Jingga.


“ Berisik, makan aja nggak usah peduliin aku ada disini.” Balas Arkana ketus.


Jingga pun menikmati soto ayam di hadapannya dalam diam, setelah beberapa saat dia merasa kenyang padahal masih tersisa sangat banyak di mangkuknya saat itu.


“ Kamu mau ngapain.?” Tanya Arkana menegur Jingga yang saat itu hendak ke dapur.


“ Aku udah kenyang, sekarang mau makan yang manis-manis.” Jawabnya pelan.


“ Itu kan masih banyak, mubazir tahu.”


“ Ya mau gimana lagi, aku udah kenyang.”


“ Sini, biar aku yang habisin.”


“ Kamu yakin mau bekas aku.?”


“ Udah sini, cerewet banget.” Arkana merebut mangkuk yang ada di tangan Jingga dan kembali di kursinya.


Selagi Arkana menghabiskan soto sisanya, Jingga ke dapur untuk mengambil beberapa cemilan yang manis. Jingga kembali duduk dan memperhatikan Arkana yang menghabiskan soto itu dengan sangat cepat, melihatnya membuat Jingga tersenyum lucu.


“ Ngomong-ngomong sekarang kamu udah nggak pernah ngerasain morning sickness lagi ya mas.” Sahut Jingga.


“ Bagus dong, kamu yang hamil kok aku yang menderita.” Balas Arkana.


“ Kalau aku bilang anak ini adalah anak kamu, kamu percaya nggak.?” Tanya Jingga menatap Arkana lurus.


“ Pertanyaan kamu ngaco tahu nggak, jelas-jelas aku nggak pernah melakukan hubungan apapun sama kamu. Ya jelas itu bukan anakku, kamu kenapa sih kayanya berharap banget aku ngakuin anak itu adalah anak aku.” Semprot Arkana.

__ADS_1


“ Aku ngantuk, kamu udah selesai kan? Aku ke kamar duluan ya.” Jingga mengabaikan ucapan Arkana barusan karena baginya mengakhiri pembicaraan barusan adalah keputusan yang tepat.


**


Satu rumah sakit sudah mendengar kabar bahwa Aizen akan datang ke rumah Qania untuk melamarnya minggu depan, semua orang di rumah sakit sudah mendapat undangan untuk menghadiri acara lamaran mereka nantinya.


Ketika Arkana datang tak sedikit dari mereka yang menggodanya, bagaimana pun juga hubungan Arkana dan Qania dulu cukup terkenal dan sekarang mereka sudah berpisah dan menemukan pasangan masing-masing.


Arkana tidak terlalu menggubrisnya, dia lebih banyak diam saat di goda oleh rekan kerjanya. Bahkan ketika di tanya apakah dia akan datang atau tidak, Arkana tetap diam sampai dia mengurung diri di dalam ruang kerjanya.


Tok…tok…tok


Suara ketukan pintu baru saja membuat Arkana bergeming, dia pun mempersilahkannya untuk masuk ke dalam ruangan itu.


“ Tsania? Ada apa? Bukannya hari ini kamu sama dua teman kamu ada tugas di bangsal?” Sahut Arkana menatapnya bingung.


“ Ini dok, saya bawa sandwitch isi daging. Saya buat banyak, dan ini khusus untuk dokter.” Tsania menyodorkan sebuah kotak berukuran sedang yang berisikan empat potong sandwitch di dalamnya.


“ Terima kasih, lain kali kamu nggak perlu melakukan hal ini lagi ya.” Balas Arkana.


“ Iya dok, saya permisi dulu kalau begitu.” Sambung Tsania berlalu meninggalkan ruangan Arkana.


“ Nisa. Ini buat kamu.” Kata Arkana sambil memberikan kotak sandwitch barusan kepada Nisa.


“ Apa ini dok.?”


“ Sandwitch, kamu bagi-bagi aja ke perawat yang lain.”


“ Ini buatan bu Jingga dok.?”


“ Oh bukan, kamu ambil aja soalnya aku masih kenyang.”


“ Baik dok, saya ambil kalau begitu.”


Nisa pun keluar membawa sandwitch itu pergi, Arkana tiba-tiba teringat saat pertama kali Jingga membuatkannya sarapan sandwitch. Selama ini dia tidak pernah makan sandwitch, setiap orang lain memberikannya dia pasti akan selalu membagikannya kepada perawat ataupun pasien yang dia kenal.


**

__ADS_1


Siang itu Jingga datang ke rumah sakit untuk memeriksa kondisinya saat ini, dia juga akan sekalian memeriksa kandungannya pada dokter Nala. Karena janji temunya duluan bersama Qania, maka Jingga segera menuju ruangan wanita itu.


Jingga baru saja masuk ke dalam ruangan Qania setelah dia di persilahkan untuk masuk, kemudian mereka duduk saling berhadapan dimana Jingga mulai menyebutkan beberapa keluhan terkait yang dia alami beberapa hari ini.


Setelah menyebutkan keluhannya, Qania pun membawa Jingga untuk melanjutkan pemeriksaan. Beberapa saat setelah pemeriksaan, Jingga di minta untuk duduk dan menunggu hasilnya.


“ Semenjak minum obat dari dokter di Madrid, aku merasa jauh lebih baik. Tapi obatnya sebentar lagi habis, kamu bisa kan meresepkan obat yang baru.?” Tanya Jingga.


“ Sebaiknya kita hentikan untuk minum obat, aku takut kondisi bayimu terganggu nantinya. Kita bicarakan pada dokter Nala soal ini, aku tidak menyarankan untuk lanjut mengkonsumsi obat seperti itu sekarang.” Jelas Qania.


“ Oh oke, kalau memang harus seperti itu aku nurut apa kata kamu aja.” Balas Jingga.


Pemeriksaan hari ini sudah selesai, Jingga tampak ingin membahas masalah kemarin dengan Qania. Tapi melihatnya sangat sibuk dia pun mengurungkan dirinya saat ini.


“ Jingga.” Panggil Qania.


“ Hmm.?”


“ Aku tetap akan menerima Aizen sebagai calon suamiku, kalau pun nanti kamu dan Arkana akan berpisah, aku nggak akan pernah kembali sama dia. Itu jawaban aku.” Sambung Qania dengan penuh penegasan.


**


Jingga terlihat jalan sambil menundukkan wajahnya menelusuri koridor rumah sakit, setelah mendengar jawaban dari Qania barusan entah mengapa dia merasa sangat frustasi.


Karena tidak memperhatikan jalan dengan baik, Jingga tak sengaja menabrak seseorang yang membuat dirinya juga hampir terjatuh. Beruntung pria yang di tabraknya segera menahan tubuh Jingga dan membuatnya kembali berdiri dengan baik.


“ Jingga.?” Ucap pria itu setelah melihat wajahnya.


“ Kamu.?” Jingga juga mengenal pria itu, tapi dia lupa dengan namanya.


“ Kamu sekarang sudah hamil? Suami kamu?” belum sempat pria itu melanjutkan ucapannya, Jingga langsung menariknya ke tempat yang lebih sunyi.


“ Ssttt,,, jangan berisik. Ini rumah sakit tempat suamiku bekerja, kamu jangan rebut.” Ucap Jingga dengan suara yang sangat hati-hati.


“ Sorry..sorry, aku nggak tahu. Aku kaget aja lihat baby bump kamu, nggak nyangka kalau akhirnya kamu beneran hamil anak suami kamu.” Lanjut Erwin.


Jingga menyentuh perutnya dengan lembut sambil mengingat kejadian waktu itu, berkat Erwin dia bisa selamat dari niat jahat Arkana. Meskipun sedang hamil dan tidak di akui oleh suaminya sendiri, Jingga tetap tidak merasa senang dan juga tidak begitu sedih.

__ADS_1


“ Kamu kenapa? kok kelihatan sedih? Bukannya sekarang kamu itu happy karena sudah hamil. Atau jangan-jangan, bayi itu bukan anak dia.?” Tebak Erwin.


“ Ini anaknya mas Arka, tapi dia tahunya kalau anak ini adalah anak kamu.” Kata Jingga sukses membuat Erwin terkejut bukan main.


__ADS_2